
Cahaya putih menyilaukan mata tiba di tengah lapang taman istana yang luas. Hembusan angin yang semula berhembus pelan kini agak kencang menerpa dedaunan dan menggoyangkannya.
Sebuah segel berbentuk lingkaran dengan ukiran yang indah tercipta di tengah-tengah lapang, saat itu kondisi semua orang di sana panik, sambil menangis melihat keluarga atau orang dekatnya yang menjadi korban.
Semua mayat yang sudah tertutup rapat oleh kain kini kain itu tertiup angin dan membuat beberapa kain itu terbuka.
Tepat saat itu datanglah dua orang yang sangat dikenal di tempat itu, Pangeran Kenn dan tunangannya Lavender Kethzie barusaja selesai melakukan teleportasi dari Arrenthia ke negri asal mereka.
Pangeran Kenn membulatkan matanya dengan sempurna saat melihat pemandangan itu. Sedangkan ada beberapa orang yang sibuk menangis kini mengalihkan perhatiannya pada mereka.
"Itu Pangeran Kenn yang selama ini pergi, kemana saja dia bahkan tidak kesini untuk menyelamatkan keluarga dan rakyatnya!" ucap seseorang tidak bisa menahan emosinya.
"Pangeran Kenn?! Kita dialah yang pantas bertanggung jawab karena lari menghindari kejadian seperti ini, dia harus dihukum menggantikan posisi Pangeran ketiga!!"
"Pangeran itu tidak harus dihukum, dia hanya harus mengganti rugi dan bertanggung jawab atas kejadian ini!" Ucap merek yang mulai mengerumuni Pangeran Kenn.
Pangeran Kenn tidak bisa membalas perkataan mereka karena dia murni tidak mengetahui apa-apa tentang penyerangan semalam.
Akhirnya Pangeran Kenn membopong tubuh Lavender dan berusaha untuk keluar dari kerumunan itu tapi tidak bisa. Mereka menarik lengannya, bajunya hingga menghadang langkah Pangeran Kenn.
"Kau harus bertanggung jawab atas kejadian ini, kami kehilangan seseorang yang berharga bagi kami!!" Teriak seorang wanita dengan kesal.
Pangeran Kenn tersentak. Mengapa dia harus bertanggung jawab? Padahal dia sendiri adalah korban seperti mereka, Semua keluarga bahkan telah dibantai kenapa harus dia yang bertanggung jawab?!
Tetapi orang itu tetap bersikeras meminta Pangeran Kenn harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Pangeran Kenn menghela nafas berat kemudian memutuskan untuk sedikit meladeni ucapan mereka.
"Hump naif sekali kalian, bukankah sudah jelas? Kami juga adalah korban, keluargaku, ayahku,ibuku dan kakakku semuanya mereka telah kehilangan nyawanya tapi kalian masih menuntut kami?? Tidakkah kalian berfikir!!" Teriak Pangeran Zio tiba-tiba sambil memejamkan matanya. Dia mengusap kasar air mata yang keluar itu dengan lengan bajunya.
Kemudian berlari meninggalkan mereka. Pangeran Kenn terdiam, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam kemudian mengambil nafas panjang, dia tidak boleh terlihat lemah dihadapan rakyat Arrenthia terutama adiknya.
Dia sangat senang... Walaupun sedikit tapi jauh di dalam hatinya dia sangat bersyukur kalau adikknya itu masih hidup.
"Sukurlah," gumamnya sambil memukul dadanya pelan, hatinya merasa sangat sakit tetapi dia memaksakan untuk tersenyum.
"Tenanglah, aku akan membantu menyelidikinya, aku, kau dan kita semua disini adalah korban, yang harus kita lakukan sementara ini hanyalah bersabar menunggu perintah dari pihak kerajaan," kata Pangeran Kenn sambil menunjuk wanita yang tadi memarahinya.
Wanita itu menatapnya sambil berkaca-kaca kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Maafkan saya Pangeran telah menuduh anda... Bagaimana aku bisa bertingkah lancang dihadapan Pangeran terhormat seperti anda... Padahal anda juga adalah korban, maaf..." Kata wanita itu sambil jatuh terduduk.
Beberapa orang disamping mereka pun ikut melakukan hal yang sama seperti wanita itu, "Maafkan kami Pangeran, tolong jangan hukum kami," kata mereka semua secara bersamaan.
Pangeran Kenn tersenyum kecil menahan haru dibenaknya kepada mereka. Dia menggelengkan kepalanya pelan sebagai bentuk tanggapan dari permohonan maaf mereka, "Tidak apa-apa, aku mengerti perasaan kalian, meskipun begitu kita semua tidak boleh larut dalam kesedihan, kalian harus bangkit, meskipun sebagian keluargaku telah pergi tetapi kalian juga adalah keluarga besar ku, kita harus saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain, aku percaya dengan itu mereka yang mati untuk membela kerajaan Frost ini juga akan bahagia disana,"
Mereka semua mengangguk hormat kepada pangeran Kenn. Mereka sungguh tidak pantas menjadi rakyatnya karena suka menghakimi sendiri padahal Pangeran mereka bahkan tidak tahu menahu sama sekali.
"Hohoho sepertinya ini menarik," ucap seseorang yang datang dengan beberapa pengawal istana.
"Pa-paman Claoudie..."
Claoudie tersenyum sinis kemudian melirik ke arah lavender Kethzie yang masih tidak sadarkan diri.
"Berapa lama kau sudah menggendongnya? Apakah kau tidak merasa keberatan?" Tanya Claoudie santai.
"Ehh...iya yah tapi kalau diingat-ingat gitu kok malah tambah berat Ehhhhhhhhh....," kata Pangeran Kenn kemudian langsung terjatuh.
"Uhh memalukan," kata Pangeran Kenn sambil mencoba bangkit tapi sayangnya tubuhnya ditindih oleh lavender sekarang.
Pangeran Kenn menghela nafas singkat, "Tidakkah kau lihat putrimu sedang terluka sekarang apakah kau tidak khawatir?" Tanya Pangeran Kenn.
Duke Kethzie mengangkat tangannya mengisyaratkan agar beberapa orang yang masih mengerumuni mereka bubar, setelah mereka menghilang Duke Kethzie mulai fokus menatap Pangeran Kenn dengan tajam.
"Apakah aku harus repot-repot mengkhawatirkan hal yang tidak berguna?" Balasnya membuat mata Pangeran Kenn terbelalak.
"Cepat bawa dia ke istana," titah Duke Kethzie sambil menunjuk Lavender kepada pengawalnya yang langsung dipatuhi tanpa berkata sepatah katapun.
"Aku tidak mengerti paman, dia adalah anakmu kenapa kau berkata tidak perlu mengkhawatirkannya?" Tanya Pangeran Kenn.
"Aku tidak pernah membesarkan mereka dengan kasih sayang jadi itu berlaku juga sampai sekarang,"
"Kau tidak pantas disebut ayah," gumam Pangeran Kenn sambil memalingkan wajahnya dari Duke Claoudie.
"Yah kau benar, aku memang bukanlah ayah mereka," kata Duke Claoudie sambil menekan setiap perkataannya. Dia agak kesal karena mengingat sosok yang sangat dibencinya, Claire.
"Hah?!"
__ADS_1
"Sudahlah, malam ini kita adakan rapat darurat di istana, kau tidak punya waktu untuk berduka atau memikirkan orang lain," jawab Duke Kethzie kemudian beranjak pergi.
"Cih apa-apaan perkataan itu!" Decak Pangeran Kenn.
.
.
.
"Pangeran Zio, Nona Alexa mencari anda, sepertinya dia terlihat sangat khawatir kepada anda, temuilah dia jika anda berkenan," kata Ren kepada pangeran Zio.
Pangeran Zio tidak menghiraukan ucapan Ren, dia tetap dalam posisinya, duduk diam sambil menatap dengan pikiran kosong ke arah sungai kecil yang sudah membeku.
Ren mengulangi perkataannya sekali lagi tetapi tidak juga mendapatkan jawaban, Ren menghela nafas panjang kemudian memutuskan untuk pergi, sepertinya Pangeran Zio sekarang ini tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Alexa.
"Baiklah jika kau ingin sendirian maka jangan berlama-lama di luar, karena walaupun siang tetapi ini adalah musim salju, tidak baik berada terlalu lama diluar," kata Ren sebelum pergi.
Tidak lama setelah Ren pergi Pangeran Zio menatap cincin yang dikenakan olehnya, ya itu adalah cincin pertunangannya dengan Alexa, tetapi dari dulu Alexa bahkan tidak pernah sekalipun terlihat menggunakannya. Apakah sebegitu tidak sukanya Alexa terhadapnya? Apakah wanita itu membencinya?.
Trakkk...
Sebuah retakan membuat permukaan air sungai itu mulai terlihat.
Pangeran Zio melepaskan cincin tunangannya itu dan bersiap menjatuhkan ke air sungai yang jernih yang sudah tercipta dihadapannya.
Tiba-tiba dia teringat perkataan Alexa bahwa Leca akan melindunginya, menyayanginya sama seperti kakakknya memperlakukannya.
Pangeran Zio tersenyum miring, "Kau jelas berbohong," Ucapnya kemudian melepaskan cincin itu dari genggamannya.
Cincin itu jatuh ke dalam air dan tenggelam ke dalam dasar sungai. Setelah itu permukaan air sungai itu mulai membeku kembali dengan cepat.
"Aku selalu merasa sedikit terhibur dan tetarik jika melihat Alexa tetapi perasaan itu tidak ada sekarang, aku bahkan tidak bisa merasakan sedih dihatiku, hanya ada perasaan kesal dan dendam yang terus menghantuiku... Apakah ini tandanya kalau hatiku sudah mati?" Kata Pangeran Zio pelan sambil menengadahkan kepalanya ke langit.
.
.
.
"Kau sudah bangun rupanya,"
"Pangeran Kenn?!"
"Iya ini aku, Hmm kata dokter istana kau telah kehilangan banyak darah, cobalah minum obat ini agar kondisimu cepat stabil," kata Pangeran Kenn sambil menuangkan segelas air dan sebutir obat.
Lavender meraih obat itu kemudian dia meminumnya setelah itu dia hanya terduduk sambil terus menatap Pangeran Kenn. Saat Pangeran Kenn membalasnya dia malah menundukkan pandangannya.
Dia menggigit bibir bawahnya,"Aku ingin hubungan pertunangan ini berakhir," ucap lavender mengejutkan Pangeran Kenn.
"Kenapa?"
"Aku tidak layak berada di sampingmu tidak seperti harapan kakakmu memilihku hanya karena aku penyihir hebat yang mungkin saja bisa membantu kalian, tapi bahkan menyelamatkan mereka saja aku tidak bisa, itu membuatku malu terhadap diriku sendiri" kata Lavender.
Pangeran Kenn tertegun, bagaimana bisa dia tahu, tujuan kakakknya dan keluarganya memilihnya sebagai tunangan adalah demi memperkuat keluarga kerajaan?. Rupanya dia benar-benar bukan wanita biasa. Dia sangat cerdik dapat mengetahui rahasia yang sangat dijaga itu, tapi mengapa dia justru tidak marah kalau dirinya dimanfaatkan?.
"Untuk sekarang, tetaplah bersamaku jangan berkata hal yang aneh seperti itu kecuali kamu memang benar tidak menyukai keputusan mereka melakukan pertunangan itu,"
Lavender menggeleng, "Bukannya aku tidak menyukainya hanya saja...aku tidak pantas,"
"Kenapa tidak pantas? Kau pintar, kuat dan pemberani hanya saja citramu di masyarakat begitu buruk, tapi selain itu kamu benar-benar pantas menjadi ratuku,"
Wajah cantik lavender Kethzie kini merona, tetapi dia tidak langsung menjawabnya melainkan membiarkan Pangeran Kenn melanjutkan perkataannya.
"Ada kemungkinan besar bahwa aku akan menjadi raja selanjutnya kerajaan Frost, tetapi aku masih sangat muda dan labil, tapi mungkin itu akan dilengkapi oleh sifatmu yang pintar dan angkuh, kita berdua bisa menjadi rekan yang sangat hebat bukan?"
"Kurasa begitu,"
"Raja sebelumnya....dia adalah raja yang hebat walaupun singkat, sebenarnya menjadi raja bukanlah keinginan aku dan dia, hanya saja saat itu dia mengajukan diri sebagai putra mahkota untuk menggantikan posisiku, dia adalah penguna elemen es biasa, kekuatannya tidak sehebat Zio tetapi dia sangat berani untuk melindungi orang-orang yang disayanginya, dia akan melakukan apapun termasuk memanfaatkan kekuatan keluarga Kethzie,"
Lavender terdiam, dia tidak menyangka akan langsung mendengar perkataan itu dari mulut Pangeran Kenn langsung, kalau pertunangan mereka selama ini adalah demi keuntungan mereka. Tapi tidak masalah sih jika dia tetap diperlakukan dengan baik terlebih lagi dia ditunangkan oleh seseorang yang selama ini dia sukai.
"Nona lavender Kethzie," panggil Pangeran Kenn mantap.
__ADS_1
"Ya?"
"Maukah kau menjadi ratuku saat aku naik tahta nanti, aku membutuhkan bantuanmu, sebagai balasan aku akan mengabulkan semua permintaan mu selama itu bisa aku lakukan," ucap Pangeran Kenn lagi.
Lavender Kethzie tiba-tiba menyeringai jahat kemudian menunjuk ke arah Pangeran Kenn, "Mudah, aku hanya ingin kau memberikan semua perasaanmu padaku seorang," Kata lavender Kethzie sambil tersenyum puas.
Dengan begitu keinginan apapun yang kumau nantinya akan dapat terkabul jika dia mencintaiku. Batin lavender.
Pangeran Kenn terdiam sejenak, keinginan lavender cukup setimpal dengan apa yang dia ajukan, kemudian tersenyum simpul, "Baiklah, aku akan memberikan seluruh hati dan jiwaku padamu," katanya sambil melipat bersimpuh sambil mencium punggung tangan Lavender Kethzie.
"Baiklah pertama-tama jelaskan kronologis malam itu padaku," ucap Pangeran Kenn sambil menatap tajam kearah Lavender Kethzie.
Lavender tersenyum sinis, "Baiklah jika kau cukup bernyali untuk itu," jawab lavender.
Pangeran Kenn menelan salivanya kasar. "Tidak masalah, ceritakan saja,"
.
.
.
"Baiklah dalam rapat petinggi malam ini kami menetapkan bahwa Duke Claoudie Kethzie akan menjadi raja sementara kerajaan Frost,"
"Hah kau bercanda?!" Bantah Claoudie tidak setuju.
"Santai tuan Duke, kami hanya menginginkan kau untuk memimpin sementara, selama masa kekosongan jabatan ini, beberapa petinggi bangsawan kerajaan banyak yang meninggal dalam kejadian itu, tetapi kami yakin dengan kemampuanmu, kau bisa memulihkan kembali kondisi itu dengan cepat,"
Duke Claoudie mendengus kesal, "Lalu apa yang akan kalian berikan sebagai upah padaku?" Tanya Duke Claoudie.
"Kami akan memberikan buku yang selama ini kau cari dan dua ratus ribu pasukan militer kerajaan untuk anda,"
"Heh bercanda kah? Hanya itu?"
Pangeran Kenn mengembuskan nafas panjang. "Tuan Duke, bukankah itu sudah cukup sebagai kompensasi kami? Saya mohon agar kau menggantikan posisiku sementara saja selama beberapa bulan dan aku akan usahakan dalam jangka waktu maksimal satu tahun sebelumnya aku siap menerima gelar itu," ujar Pangeran Kenn.
Duke Claoudie menatap Pangeran Kenn dengan mata elangnya,"Baiklah," jawabnya sepakat.
Huh buang-buang waktu saja, lagian aku bisa melanjutkan penelitianku demi memperkuat kekuatanku daripada berbuat hal percuma seperti ini, batin Duke Claoudie.
"Terimakasih," Ucap Pangeran Kenn sambil tersenyum tipis.
.
.
.
"Darah... Aku ingin darah..." ucap seseorang sambil berjalan lemah ke semua ruang yang ia temui.
"Ehh kau sudah sadar rupanya,"sambut seorang pria yang terlihat tua.
"Dimana wanita itu, aku ingin darahnya..."
"Ohh dia, dia sudah lama pergi dari sini ke istana Arrenthia," Jawab pria itu.
"Sial, mengapa dia melupakanku! Awas saja nanti akan kuberi dia pelajaran!!" Umpatnya kesal.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1