
Setelah beberapa jam kami singgah di Mansion Keluarga Florist akupun berpamitan kepada mereka.
Aku sempat menanyakan kepada Kecha apakah dia akan berangkat ke kerajaan dan dia menjawabnya dengan tidak yakin.
Hari juga sudah mulai menggelap dan hujan salju sudah mulai menutupi seluruh jalanan.
Dinginnya udara disini menusuk hingga menembus tulang sumsum ku. Aku bersyukur karena gaunku ini cukup tebal dan tertutup sehingga rasa dingin ku sedikit berkurang.
Ku berikan busur panah yang terus ku pegang kepada Chaser karena aku lelah terus membawanya. Alasan aku terus membawanya karena sewaktu-waktu bila Chaser sangat merepotkan maka aku akan memukulnya dengan panah itu lagi, selain itu aku juga sedikit waspada pada keselamatan seseorang di dalam istana.
Kemudian ku tengadahkan wajahku ke langit, dan melihat awannya yang benar-benar berwarna kelabu pekat. Ini bukanlah pertama kalinya aku melihat hujan salju secara langsung seperti ini sejak aku berada disini.
Aku jadi teringat sesuatu, bagaimana jika kakakku menghawatirkan aku saat aku pergi tanpa berpamitan kepadanya? tetapi, apakah aku bisa berpamitan selama ada makhluk menyeramkan disisinya?!
"Leca, ayo masuk kedalam," ajak pangeran Shun. Kemudian tanpa menjawab ajakannya aku langsung masuk ke dalam kereta kuda.
"kita akan tepat sampai di kerajaan bila hanya menggunakan ini?" Tanya Chaser ragu.
Aku menggelengkan kepalaku, tentu saja jawabannya akan terlambat.
"Tidak apa-apa, aku bisa melakukan sihir teleportasi," Kata pangeran Shun menenangkan sedikit kegusaran kami.
Suara ringkikan kuda mulai terdengar dan kereta kuda yang kami naiki pun mulai bergerak.
"Bersiap yah, aku akan melakukan teleportasi," Pangeran Shun memberi tahuku.
Aku pun mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian sebuah cahaya indah berwarna warni seperti aurora menghiasi sekitar kami. Kamipun tiba di pintu masuk istana yang sangat megah dan luas dengan tepat waktu.
"Kakakku pasti sudah berada di dalam istana, karena dia sering datang paling awal kalau ada pesta seperti ini," Gumamku sembari turun dari kudanya disambut oleh tangan Chaser yang akan menuntun ku masuk.
"Kereeenn!" Ucapku karena melihat begitu banyak makanan enak disana yang siap ku santap.
"Kereeenn bangetttt!" Kata Chaser lagi karena melihat begitu banyak daging yang tersedia.
"Kalian ini yah, kalau makan cepat banget!" Imbuh Natte yang datang tanpa diundang.
"Wah Leca kau sangat cantik!" Imbuh Natte.
"Hehehe," Aku cengengesan saja mendengar perkataannya serta pujiannya itu.
"Nanti lihat yah pertunjukan sihir ilusi dariku yang sangat hebat!" Kata Natte sambil membusungkan dadanya.
"Palingan cuma kembang api lagi," Ucapku tidak berminat.
"0oh tidak dong, kali ini aku menunjukkan sesuatu yang berbeda,"
"Iyaa iya aku percaya.."
"Ngomong-ngomong Kecha masih belum datang yah, kemana dia, biasanya dia akan cepat datang kalau ada festival seperti ini,"
"Sebenarnya Kecha masih belum siap, sepertinya dia tidak akan hadir, kalau hadirpun kayaknya bakal terlambat,"
"Ohh begitu,.. lalu keenapa kau terlihat tidak bersemangat?" Tanya Natte kepadaku, dia sangat mudah membaca perasaan ku hanya dari raut wajahku karena kami sudah berteman cukup lama.
"Sebenarnya aku dari tadi memikirkan sesuatu yang terus mengganggu pikiranku, tetapi sepertinya aku terlalu berlebihan memikirkannya," kataku lemas.
Natte membulatkan mulutnya ketika mendengarkan jawaban dariku.
"Wah wahh... bertemu lagi Nona Alexa Kethzie, ini pertemuan kita yang ketika kalinya," Sapa seorang wanita berparas cantik.
Aku menoleh ke arahnya dan terkejut.
"Li-lina..." Ucapku terpatah patah.
Dia tersenyum licik melihat respon ku yang sepertinya panik dan ketakutan.
Dia adalah Lina Arzetty yang merupakan putri dari negeri yang bahkan tidak aku ketahui.
Menurut rumor yang ku dengar dia sangat pintar memukau perhatian banyak pria sekaligus pesaing yang menakutkan bagi para wanita namun ku dengar sifatnya juga sangat buruk dan tidak ramah.
"Be- benarkah itu, tetapi aku tidak mengingatnya..." Lirinku sambil mengalihkan pandangan ke arah Natte berharap dia menolong ku dan menyeretku pergi dari situ.
Natte sendiri malah kipas-kipas wajahnya yang berkeringat seakan-akan hawa pada malam itu sangatlah panas.
Chaser menatap tajam ke arah wanita itu namun malah dibalas senyuman manis darinya sehingga dia langsung luluh seperti anak anjing.
"Bagaimana kabar kedekatan mu dengan pangeran Shun?" Tanyanya dengan nada yang mengejek.
"Bu-bukan urusanmu!"
"Hee padahal aku dengar bahkan kau sudah tidak berkomunikasi sama sekali dengannya.. menyedihkan sekali," ejeknya sambil tersenyum sinis.
Aku berpaling ke arah Natte yang diam-diam kabur meninggalkan aku sedangkan Chaser sibuk dengan makanannya. Hanya pangeran Shun yang terlihat sedang menyimak dengan khusu percakapan kami.
Aku mendengus sebal, kenapa coba aku punya teman-teman yang tidak bertanggung jawab seperti ini.
"Bahkan pangeran Zio sudah memutuskan pertunangan kalian,.. buruk banget citramu yah dasar anak kecil.."
Mataku seketika terbelalak, sebenarnya siapa orang ini yang langsung datang-datang menghampiri ku dan mengoceh yang tidak-tidak.
"Emang apa urusannya dengan mu!" Bentak ku langsung karena sebal, aku sekarang sedang banyak pikiran karena pangeran Shun, dan langsung di pancing dengan makian seperti itu oleh cabe pedas didepanku.
PLAAKKKK!!
Semua orang tersentak termasuk aku saat mendengar suara tamparan itu, aku pun seketika langsung jatuh tersungkur ke lantai.
Tamparan itu begitu keras dan tiba-tiba, aku salah apa? Aku hanya sedikit membentaknya dan dia sudah bermain tangan.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau membentakku dasar anak kecil!" Teriaknya lantang.
Aku mendongakkan wajahku keatas dan meratap tajam ke arahnya.
Suara disekitar mulai ricuh karena mereka mulai membicarakan ku dan wanita dihadapanku. Namun aku yakin benar di pihak itu akulah yang menang karena citra ku sedang baik sekarang.
"Itu anak Duke Claoudie?! Siapa wanita itu berani-beraninya menampar anak itu?!
"Iya mungkin dia akan langsung dipanah dengan senjata yang dia punya pfftt.."
Aku tersenyum miring kemudian bangkit dari posisi ku.
"Kau duluan yang salah sudah mengejekku dan menyindir ku dengan sesuatu yang buruk,"
"Aku hanya bertanya dan kau malah membentak!" Elaknya.
"Pfft Lina Arzetty, kau sudah salah malah ngotot, bukanlah itu akan menambah citramu yang buruk semakin memprihatinkan," sindirku.
"Kau-" Geramnya sambil menahan amarah. Kemudian dia berbalik karena kesal dan pergi begitu saja.
Aku menghela nafas lega, untung saja tidak terjadi keributan yang lebih dari ini.
Pangeran Zio tiba-tiba sudah berada di belakang ku dan itu membuatku terlonjak kaget saat berbalik.
Dia terlihat lebih pendek dariku tetapi sebenarnya usia kami sama. Maklum lah, pertumbuhan wanita itu lebih cepat dibandingkan dengan pria.
"Aku mendengarnya, percakapan kalian tadi,"
"Ohh terus?"
"Hm... Tidak ada..." katanya sambil meraih tanganku pergi dari sana. Aku tidak menolak ajakannya sama sekali, karena aku memang sedang tidak ingin berdebat.
Sebenarnya anak ini membuat ku dongkol, semakin hari semakin berusaha terlihat lebih dekat denganku, meskipun aku terus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya.
"Aku tidak ingin kau melewatkannya meskipun hanya sedikit," ujarnya memberi tahu ku.
Aku bertanya-tanya sebenarnya apa yang ingin dia tunjukkan padaku.
Dia terus membawaku berjalan menjauh dari yang lainnya, aku terpisah dari Chaser yang seharusnya setia mengawalku dan tidak memilih peduli dengan makanannya.
Aku melirik atas kanan dan ke kiri melihat pangeran Shun yang masih terbang mengitari kami.
Aku dan Zio berhenti di sebuah lapangan yang berwarna putih karena terkena cahaya bulan dan tertutupi oleh banyaknya salju.
Di pinggir-pinggirnya ada beberapa orang yang terus melihat kami dari kejauhan.
Mereka pasti akan menggosip lagi, sungguh menyebalkan.
"Kita tunggu sebentar lagi yah..." Katanya memberi tahu.
Aku menjawabnya dengan anggukan malas.
"Ngomong-ngomong malam ini kamu terlihat sangat imut Alexa,..." Ucap Pangeran Zio yang membuatku langsung tertegun.
Mengapa bukan pangeran Shun yang mengatakannya? kenapa harus pangeran Zio??
"Tumben kok familiar mu gak cerewet?" Tanyanya yang menyadarkan ku dari lamunanku.
"Ohh itu dia abis keselek,"
Zio tertawa kecil mendengar jawaban konyol dari mulutku sehingga dapat terlihat sebelah gigi gingsulnya yang terlihat sangat imut. Itu adalah ekspresi yang sangat jarang di keluarkan oleh orang berhati es dan berwajah datar ini.
Aku menelan salivaku.
Masih imutan sebelah lesung pipi pangeran Shun..please..
Kumohon kuatkan iman wahai Alexa, apalagi sekarang pangeran Shun lagi di dekatmu...
"Haha iya lucu yah," kataku tertawa garing.
Pangeran Zio terlihat ceria saat melihat Pangeran Dylan datang ke lapangan tersebut.
Kemudian dia terdiam lalu tiba-tiba menggenggam tanganku lagi, kali ini ia genggam dua-duanya dengan erat.
"Nona Alexa... Maukah kau berdansa bersama ku?" Tanyanya dengan muka serius.
"Tidak... Ummh... tidak dapat kutolak..." Jawabku kemudian, tentunya dengan sangat terpaksa, karena sepertinya semua orang kini telah berkumpul di lapangan untuk menyaksikan kami.
Pangeran Zio tersenyum puas kemudian mulai mengajakku berdansa dan aku hanya mengikuti gerakan kakinya saja.
Suara alunan musik yang sumbernya entah darimana mulai berbunyi memberi kesan romantis pada suasana seperti ini.
Beberapa pasangan pun mulai banyak yang ikut berdansa seirama dengan musik yang dimainkan.
Aku terdiam sambil tersenyum menatap pangeran Zio. Tidak kusangka dia benar-benar hebat dalam berdansa, dulu aku selalu menolaknya karena takut dia menginjak kakiku.
Aku sedikit terkejut ketika merasa sesuatu yang berbeda dari pangeran Zio.
"Tanganmu tiba-tiba terasa sangat dingin pangeran.." Ucapku padanya.
Dia hanya tersenyum mendengar perkataan ku kemudian tidak lama sebuah cahaya kebiruan bersinar, ternyata sebuah lantai yang terbuat dari es lengkap dengan ukiran bunga salju mulai tercipta dibawah pijakan ku.
Aku menghentikan kegiatan dansaku dan berdecak kagum melihat sihir yang dilakukan Pangeran Zio.
Sihirnya merambat luas hingga ke seluruh wilayah lapangan, membuat semuanya menjadi bercahaya dan sangat indah.
"Leca kemarilah," katanya sambil menjulurkan tangannya kepadaku.
"Ehh?" Pekikku heran namun aku tetap menyambut tangannya.
__ADS_1
Pangeran Zio menyentuh beberapa titik lantai es kemudian tercipta lah sebuah tiang lampu dari es yang memancarkan cahaya membuat suasana disini makin terang.
Setelah itu dia menciptakan aksesori bunga salju di setiap tiang hanya dengan menyentuhkan jarinya.
Aku hanya terus berdecak kagum, aku tidak memahami maksudnya dia membawaku apakah dia ingin pamer? Ataukah hanya iseng.
Setelah itu dia menciptakan sebuah menara es yang cantik dan menjulang tinggi ke langit dan itu semakin membuatku terpana, seumur-umur aku tinggal disini tidak ada seseorang yang berelementary es dapat menciptakan menara es setinggi itu.
"Sudah.. selesai" kata pangeran Zio sambil membungkuk hormat kepada semua orang yang melihat keajaiban itu.
"Bagus-bagus.." raja Dylan menghampiri kami sambil bertepuk tangan dengan senyuman bangga diwajahnya.
Sebenarnya aku cukup heran, aku tidak pernah melihat raja yang satu ini mengeluarkan sihir elementary nya. Sehingga kebanyakan orang lebih suka kalau pangeran Zio yang menjadi putra mahkota kerajaan Frost.
"Sekarang kalian boleh bermain menciptakan sebuah boneka salju, aturannya hanya sederhana, cari pasangan kalian kemudian tidak boleh menggunakan sihir," Jelas raja Dylan kepada yang lainnya.
"Yang paling bagus dan unik maka dia akan mendapatkan hadiah tersendiri dariku," imbuhnya.
Aku mengangguk kemudian berbalik hendak mencari Chaser untuk menjadi pasangan ku, karena aku tidak betah kalau pangeran Zio yang terus bersamaku.
"Kau mau kemana?" Tanya Pangeran Zio sedang raut wajah sedih.
Aku menghela nafas panjang.
"Cari pasangan bermain," jawabku santai.
"Kau dengan pangeran Zio saja nona Alexa," bujuk raja Dylan.
Aku terdiam kemudian mengangguk mengiyakan.
Kami berdua pergi ke tempat yang agak jauh supaya menghindari kecurangan orang yang iri, dan memberi keleluasaan kami untuk berfikir.
Pangeran Zio langsung mencari salju yang berada di dekat kami kemudian mengumpulkannya dalam satu pusat. Aku pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehnya.
Beberapa menit kemudian jadilah sebuah boneka salju yang belum ada mata hidung, serta tangannya.
"Aku akan mencari hidung dan matanya," ujarku sambil berlalu pergi. Sedangkan pangeran Zio sudah menemukan kayu yang akan digunakan sebagai tangan.
Aku berhasil memetik sebuah biji pohon Pinus yang kurasa dapat dijadikan sebagai matanya kemudian aku beralih mencari wortel di dapur istana dan aku mendapatkan nya dengan usaha penuh karena dapur istana sangatlah jauh.
"Ziooo! Lihatlah aku mendapatkannya!" Teriakku senang pada pangeran Zio yang terlihat sedang menaruh syal dan topi pada boneka salju itu.
Dia melirik kearahku sambil kemudian tersenyum sumringah.
Tetapi ketika aku sudah mendekat kearahnya tiba-tiba saja kakiku tergelincir karena lantai es ini begitu licin.
Aku tersentak kemudian menahan nafasku bersiap untuk terjatuh.
"Ahh hati-hati!" Pekik pangeran Zio padaku dia berhasil meraih tanganku tetapi dia juga kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
BUGGHHHH!
Aku terjatuh menimpanya dan kepala kami berhantukkan. Rasanya sangat sakit sampai rasa sakitnya merambat ke hidungku.
Pangeran Zio juga terlihat meringis kesakitan, kemudian dia hanya terduduk sambil memegangi dahinya.
Kemudian aku berusaha untuk berdiri dan menaruh hidung pada boneka salju, tetapi kepalaku semakin pusing dan malah terjatuh lagi hingga merusak bola salju yang kami buat.
Aku memejamkan mataku merasa sangat bersalah, terlebih lagi waktu yang diberikan kepada kami sepertinya sudah benar-benar habis karena aku tadi kelamaan mencari bahan-bahan.
Ku balikkan badanku ke arah langit-langit sambil menangis karena merasa sangat bersalah telah mengecewakan rekanku.
Sedangkan pangeran Zio yang panik hanya menanggil-manggil namaku sambil mencoba mengguncangkan bahuku pelan.
"Tidak apa-apa, jangan menangis..." Katanya sambil menyeka air mataku yang sudah keluar.
Dengan cepat tangisanku langsung terhenti... Aku merasa seluruh dunia ini berputar begitu cepat, membuat ku tidak bisa melihat dengan jelas sesuatu yang berada di dekatku.
"Ahh rasanya seperti ada burung yang berterbangan diatas kepalaku..." Gumamku sembari memegangi kepalaku.
"Ehh burung?!!!" Kataku sambil tersentak.
Seketika aku tersadar sesuatu yang penting....saat ini aku menyadari bahwa pangeran Shun sudah tidak berada disisiku lagi.
"Kau baik-baik saja?" Tanya pangeran Zio heran karena melihat perubahan di raut wajahku.
"Pangeran... Menghilang!"
"Hah maksud mu apa? Aku tidak mengerti, aku ada disini," jawabnya sambil memegang tanganku.
"Pangeran..." Lirihku dengan panik sambil melihat ke kanan dan ke kiri karena tidak berhasil aku pun hanya menundukkan kepalaku dengan lemas.
"Sepertinya penglihatan mu bermasalah?" Pangeran Zio terlihat cemas kemudian menyibakkan poniku ke samping untuk memastikan, dan dia sangat terkejut ketika melihat aku masih menangis hingga hidungku berwarna kemerahan.
"Pangeran Shun.. jangan tinggalkan aku lagi... hiks hikss..." Ucapku disela-sela tangisku.
Pangeran Zio tersentak matanya menatap kosong kearahku, kemudian menatapku dengan sorot mata penuh kecewaan. Dia hanya dapat diam tak bergeming dari tempatnya membiarkan ku menangis sejadi-jadinya.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...