Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 32 : Pertukaran Sesuatu Yang Berharga


__ADS_3

Kalau aku pergi dari sini bagaimana dengan nasib kakakku yang tinggal dikelilingi bahaya?...'batinku ditengah keputusanku.


Gemercik air hujan pun mulai kembali turun dari langit yang sedari tadi berwarna hitam pekat, hingga perlahan membasahi pakaian ku.


Sepertinya cuaca juga ikut menangis bersamaku tapi apakah langit bisa merasakan kepedihan yang kurasakan saat ini?


Sekarang bahkan aku masih tidak beranjak dari tempat dimana aku terduduk lesu. Aku merasakan tubuhku mulai melemah, bahkan sulit untuk sekadar duduk hingga kini aku terbaring lesu dilantai sambil mencengkram erat gaunku. Aku merasa sekelilingku dipenuhi kabut putih dan telinga ku berdenging sangat keras hingga akhirnya aku kehilangan kesadaran.


.


.


***


.


.


"Alexa! Apa yang terjadi?!" Pekik


Lavender tampak terkejut melihat tubuh Alexa yang mungil itu terkapar lemah tak berdaya dengan gaun yang berlumuran darah. Ia pun memapah Alexa dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Dingin!" Ucapannya pelan saat ia menyentuh tubuh Alexa. Ia merasa tubuh gadis kecil itu benar-benar digin seperti es dan terlihat pucat. Lavender menghela nafas ketika ia masih mendengar detak jantung yang lemah dari Alexa.


"Ayahanda! Dimana kau!!" Teriak lavender dengan emosi.


"Nona tuan Duke sedang beristirahat" jawab salah satu pelayanan ketika mendengar teriakan lavender.


"Apa-apaan ini? Ayahku mana?! AKU TANYA DIMANA DIA SEKARANG!!CEPAAATT!!!!" Lavender pun menatap tajam ke arah pelayan itu sehingga membuat orang itu takut.


Mereka sebelumnya tidak pernah melihat tuan putri yang dilayaninya itu dipenuhi dengan api amarah karena terlihat selalu dingin dan tidak peduli dengan orang lain, namun kini mereka tak menyangka bahkan dia bisa terlihat begitu mengerikan sama seperti ayahnya.


"Ada dikamarnya nona, sebaiknya anda tidak menemuinya.." Jawab pelayanan yang lain.


Levender segera menaruh tubuh Alexa di sofa panjang dan menyelimuti dengan jaket bulu yang ia kenakan.


"Bersihkan dia!" Titahnya.


"Ta tapi_"


Lavender kembali menatap pelayan itu dengan pandangan sinisnya.


"Anda siapa ya? berani-beraninya menentang perintahku!"


Pelayan itu tersentak namun hanya dapat diam tak berkutik. Akhirnya Lavender menatap lekat ke arah mata 2 orang pelayan itu hingga warna pupil mata mereka menjadi merah menyala seperti matanya.


"Bersihkan dia! lalu segera antar kekamarnya! Obati dia!"


"Baik nona" jawab mereka dengan tunduk.


Setelah melakukan sihir hipnotis itu lavender segera pergi menghampiri ayahnya.


BRAAK!!


Terdengar suara pintu terbuka dengan kasar hingga membuat telinga siapa saja yang mendengarnya pasti akan berdengung. Ya pelakunya itu adalah Lavender yang masuk dengan mendobrak pintu kamar ayahnya sendiri.


"Hmm santai putriku" ucap ayahnya setelah menoleh singkat ke arah putrinya, dia adalah Duke Claoudie kethzie yang sedang duduk santai sambil mengelus kucing hitam kesayangan nya.


Bagaimana dia bisa santai setelah menyiksa anaknya sendiri? Apakah dia benar-benar manusia?!. Batin Lavender.

__ADS_1


Lavender mencoba untuk menetralkan emosinya kemudian kembali berbicara saat perasaannya sudah semakin membaik.


"Ayah! Kau menyiksa leca kan?" Tanya Lavender penuh dengan penekanan.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," jawab Duke dengan tatapan tidak peduli.


"Ayah Mengusirnya?!" Tanya Lavender yang mulai meninggi.


"Menurutmu?"


Duke Claoudie itu malah terlihat menantang Lavender dengan membuatnya berfikir hal yang seharusnya sudah pasti, dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dia memang adalah orang yang melakukan hal keji itu pada anaknya sendiri.


Lavender menggertakan giginya. Ia menjadi sangat benci terhadap orang yang disebutnya ayah itu. "Cih, kalau begitu aku juga akan pergi!" Ucap lavender dengan ketus.


Saat lavender hendak memalingkan tubuhnya untuk berbalik. Namun tiba-tiba ia merasakan tubuhnya tidak dapat digerakkan.


Sejak kapan dia melakukan sihir ini?! Kenapa aku tidak menyadarinya?!


"Sialan!" Gerutunya.


Duke Claoudie Kethzie pun tertawa penuh kemenangan.


"Dasar licik!"


"Hemm? Seperti putriku semakin sopan saja."


"Aku benci ayah!"


Lavender tahu betul bahwa ayahnya itu pasti tidak akan membiarkannya pergi bersama Alexa, karena nama baiknya akan tercemar, sedangkan dia sangat menjaga perihal yang satu itu.


Selama ini Lavender juga adalah salah satu penyebab keluarga kethzie menjadi terkenal seperti ini jadi ayahnya pasti benar-benar tidak akan melepasnya, dan sepertinya Alexa diperlakukan buruk sebab ayahnya sudah tahu kabar bahwa Alexa itu tidak memiliki potensi sihir, sehingga dianggap bukan keluarga asli duke Kethzie, lagipula ayahnya itu tidak membutuhkan orang lemah sepertinya, karena citra Alexa yang buruk seperti itu, wajar saja bila dia dimusnahkan dengan mudah tanpa mencemari nama baik keluarganya.


Sejenak Claoudie tersentak namun kemudian tersenyum sarkas.


"Ternyata putriku sudah dewasa ya, kamu semakin mirip saja dengan ibumu"


Claudie mencengkeram kuat rahang Lavender dengan lengan kanannya, mendongakkan pandangan anak gadisnya itu ke atas lalu kemudian melepaskannya dengan kasar.


"Ayah bicik sekali! Jangan samakan aku dengan orang hina itu!"


"Ahhh iya iya, bagaimana aku bisa melupakan nya...bahwa kamu lebih kejam daripada dia"


'jangan bilang kalau dia sudah tahu tentang itu?!' batin lavender seketika. Dia sepertinya menyadari sesuatu yang aneh.


"Nahh putriku, aku sudah memiliki rahasia yang kamu sembunyikan selama ini, jadi bagaimana jika kamu bekerjasama dengan ku untuk tetap tinggal di rumah ini dan biarkan adik kecil mu itu pergi, lagian itu juga bukan adik kandung mu kan."


Lavender memalingkan mukanya dengan tatapan jijik. Ternyata dugaannya benar bahwa ayahnya itu memiliki maksud lain.


"Bagaimana kalau aku menyebarkan rahasiamu ke publik? Dan kamu tentunya akan dihukum dan dianggap penyihir gelap hooh?"


"Itu sama saja menurunkan citra mu sendiri karena aku adalah anakmu ayah!" Lavender tidak mau kalah.


"Ha ha ha ternyata kamu memiliki pemikiran yang cukup cerdik."


"Atau kalau kamu tidak mau, bisa saja aku melenyapkan nya sekarang juga" Imbuh Claoudie sambil tersenyum kecil. Tentunya senyuman itu adalah senyuman yang mengisyaratkan bahwa dia memiliki niat buruk terhadap Alexa.


"JANGANN!" Cegah lavender langsung.


"Hoooh apakah kamu memiliki sesuatu yang menarik ? Agar aku bisa mempertimbangkan nya"

__ADS_1


Claudie kembali dengan posisi duduk santainya, sepertinya dia mulai berhasil memancing putrinya itu, sekarang ia hanya tinggal menonton tindakan apa yang akan dilakukan anak kesayangannya tersebut.. apakah dia akan mau memberikan sebuah jawaban menarik yang sangat ditunggu-tunggu olehnya?.


Sementara itu lavender menggigit bibir bawahnya berkali kali sebelum membuat keputusan hingga akhirnya ia memutuskan angkat bicara.


"Aku memiliki benda pusaka, benda itu merupakan mustika yang diberikan kakek kepadaku.. ayah, ayah dapat menggunakannya kapanpun ayah mau, tetapi tidak bisa membunuhku yang merupakan pemiliknya."


Claoudie terseyum tipis penuh dengan arti kemenangan yang besar. Ternyata jawabannya itu seperti yang diharapkannya.


"Cukup menarik" Claoudie beralih menatap Lavender dengan senyum manisnya yang sadis.


"Bagaimana? Apakah ayah akan membiarkan dia tetap tinggal disini? Namun ayah harus berjanji tidak membunuh nya." Lavender berbicara sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah jika itu adalah keinginan putriku tersayang,"


"Tetapi jangan lupa atas apa yang barusan kamu ucapkan"


Lavender pun mengangguk kemudian ayahnya itu melepaskan sihir yang ia gunakan tadi, akhirnya Lavender segera melangkah keluar dari kamar ayahnya itu.


Di kamar Lavender kethzie:


Ia menjatuhkan dirinya di lantai dengan perasaan bimbang saat berhasil menemukan benda yang akan dijadikan bahan pertukaran itu.


Lavender mengingat jelas siapa pemilik benda pusaka ini sebelumnya, dia adalah kakeknya. Kakeknya begitu menyayangi anak itu sebelum meninggal dunia berbeda jauh dengan almarhum ibunya yang sangat membenci dirinya.


Karena alasan itulah, dia sangat menghargai pemberian kakeknya, dia juga berhasil menaklukkan roh pedang miliknya dengan susah payah di umurnya yang masih belia dulu. Sangat disayangkan jika benda satu-satunya yang ia jaga itu tiba-tiba diserahkan begitu saja ke orang lain yang sepertinya memiliki niat jahat dibaliknya.


"Kenapa? Kenapa aku menyerahkan nya begitu saja aghhhh!" Sesal lavender sambil memeluk pedang bermata satu kesayangannya itu.


Ia tidak tahu apakah menyerahkan hal seperti ini kepada ayahnya adalah hal yang benar. Tetapi ia sudah tidak peduli lagi dengan pemikirannya tersebut karena kini ada yang lebih penting.


Ia tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi nanti, meskipun di luar akan kacau sekalipun, selama Alexa tetap aman bersamanya dia akan merasa tenang.


"Yasudah lah, nyawa Alexa lebih penting." Lavender pun bangkit untuk menyerahkan benda itu kepada ayahnya. Namun beberapa pemikiran lainnya terus mengganggu benaknya hingga ragu terhadap tindakannya.


"Bagaimana jika dia menghianati ku dan membunuh Alexa?"


"Tidak! sekejam apapun ayahku pasti menepati janjinya,"


"Terserah mau berbuat jahat seperti apapun, asal jangan Alexa!"


"Maafkan aku kakek,... Izinkan aku melindungi seseorang kali ini..."


Lavender kethzie terus bergumam sendiri hingga akhirnya memantapkan dirinya untuk memberikan benda pusaka berharga itu.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2