Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 39 : Frustasi


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku karena sesuatu mengusik penghilahatanku. Itu adalah cahaya matahari yang berlomba masuk menembus gorden putih di dalam kamarku.


Masih dengan mata yang terpejam, aku pun membalikkan posisi tidur ku berlawanan arah dengan sumber cahaya agar bisa kembali tidur dengan posisi nyaman. Namun aku merasa tidak bisa tidur lagi dan akhirnya memutuskan untuk duduk di kasur sambil mengucek mata sembabku yang masih dipenuhi dengan rasa kantuk.


Kepalaku masih terasa agak sakit namun ini tidak seperti sebelum-sebelumnya. Dengan perlahan aku membuka mataku yang sempat terpejam, setelah merasa pandangan mataku sudah mulai beradaptasi dengan ruangan ini, segera kualihkan pandanganku ke samping kanan untuk mengambil sesuatu yang ku rasa masih tertera di atas nakas.


Namun aku tiba-tiba saja terperanjat dan langsung jatuh ke bawah ranjang tempat tidur ku. Aku cepat-cepat menutup mata ku agar tidak melihat sesuatu yang menyeramkan seperti tadi. Ku genggam keras selimut yang tadi ikut tertarik bersamaku.


"Kau..sudah ku bilang berapa kali supaya tidak dekat dengan seorang saint? Apalagi aroma sihirnya masih melekat kuat di tubuhmu, kau habis melakukan apa dengannya hah." Katanya dengan nada bengis.


"Maaf...maaf aku-"


"Alasan apa lagi yang kau akan ucapkan?"


Aku merasa sudah tidak bisa mengelak lagi. Aku juga lelah harus terus bersembunyi. Aku lelah harus terus berlari dan aku tidak sanggup untuk melakukannya lagi. Apalagi itu menyangkut dengan Pangeran Shun.


Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, kakakku pun menarik paksa selimut yang ku gunakan untuk menutupi wajah ku. Dia menatapku dengan tatapan mata yang tajam, matanya merah menyala seperti permata yang bersinar dan itu membuat tubuhku bergetar hebat tanpa bisa berkata-kata.


"Katakan siapa orang itu? Apakah dia Shun Errent!" Tanyanya dengan ekspresi yang menyeramkan seakan-akan terselip niat yang kuat untuk membunuh.


Aku hanya dapat terdiam seribu kata mendengar pertanyaannya, bisa saja dia jika ku beri tahu setelahnya nanti akan mengejar Pangeran Shun dengan sihir teleportasinya yang katanya sebanding dengan milik Pangeran.


"Katakan!" Bentaknya padaku.


Aku tersentak kemudian mengangguk meskipun aku tidak ingin melakukannya tapi tubuhku ini bergerak sendiri tanpa ada persetujuan dariku. Dia tersenyum sinis kemudian meletakkan tangannya dileher milikku dan mencengkram dengan kuat. Tatapannya begitu menohok hatiku sangat dalam dan itu sangat menakutkan.


"Ukhh-" pekikku ketika aku sudah merasakan sesak di dadaku akibat tidak bisa menghirup oksigen.


"Dengarkan! aku lebih sudi jika kau mati di tanganku daripada di tangan ayah iblis itu!"


Mendengar perkataan itu air mata di pelupuk mataku pun mulai berlomba keluar dari tempatnya dan aku hanya dapat pasrah sambil terus berkeringat dingin. Satu kata yang sekarang ada di pikiranku saat ini. Aku takut aku mati, dan aku tidak bisa mencapai tujuanku berada disini.


Jika melihat kakaku yang seperti ini kelihatannya tidak ada bedanya dengan sosok yang selama ini di benci olehnya, mereka terlihat sama, sama-sama kejamnya. Padahal beberapa waktu lalu aku merasa hatinya sudah mulai mencair. Ternyata dugaan ku salah, aku bukanlah matahari yang akan memberikan cahaya padanya dan mencairkan hati beku miliknya.


"Kak,..uhhk uhuk.. kenapa? Kenapa segitunya kau membenci saint? Uhkk... Apakah dia pernah melakukan sesuatu terhadapmu.." Lirihku sambil mencoba untuk melepaskan genggaman kuat tangannya, sesekali aku membuka mulutku untuk mencoba mengambil udara. Namun sia-sia saja, aku butuh lebih banyak!.

__ADS_1


Aku merasa benar-benar akan terbunuh saat ini! Aku sangat kesulitan bernafas.


"Tidak." Jawabnya tegas.


Kini aku mulai menangis dengan isakan yang agak keras.


Aku benci ini, aku benci terus diperlakukan seperti ini.. aku benci kekerasan dalam rumah ini.. Apakah aku harus menjadi jahat untuk bisa diperlakukan dengan baik dan dihormati?.


Kakakku memalingkan wajahnya dariku, ia mulai melepaskan genggamannya lalu berbalik membelakangiku. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini yang jelas aku lega aku tidak jadi mati.


Meskipun aku terus terbatuk, aku tetap mencoba mengatur nafasku. Setelah merasa respirasiku mulai stabil, akupun beranjak untuk berdiri dan memberanikan diri mendekatinya.


"Kenapa kau juga tidak bisa tidak mendekatinya?" Tanya kakakku dengan tatapan mata dingin namun pandangannya tetap lurus ke depan. Dia memberikan penekanan yang kuat pada kata 'tidak bisa tidak'.


"A-aku merasa dia berharga, dia adalah temanku yang menghormati dan menyayangiku, dia juga penyelamat ku disaat aku dalam bahaya, dia bukanlah orang jahat, lalu kenapa kakak membencinya?."


"Diam!" Lavender menutup telinganya dengan kedua tangannya. Dia terlihat seperti tidak ingin mendengar alasan ku sama sekali. Itu membuat ku merasa agak kecewa.


Kenapa dia 'sangat' menghindarinya dan tidak mau mendengarkan ku??. Batinku. Aku pun merasa kesal.


"Aku tidak pernah mengerti kakak! Kakak tidak pernah peduli terhadap ku! Aku tidak mau punya kakak seperti mu yang selalu egois, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain dan kakak belum pernah memiliki seseorang yang berharga bagi kakak, jadi kakak tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan ku! Aku ingin melindunginya lebih dari apapun!!."


"Diammm!!!"


"Ya! kau bukanlah diriku jadi kamu tidak tahu dan mengerti apa masalahku!" Tukasnya lagi kemudian berlalu meninggalkan ku sendiri. Meninggalkan suara hentakan pintu yang sangat keras.


Habislah sudah, aku merasa tidak akan pernah bisa berbaikan dengannya lagi. Padahal dia adalah orang yang paling ku kagumi dalam keluarga ku.


Aku menundukkan kepalaku membiarkan air mata terjun ke bawah menyentuh lantai yang kini ku pijak. Tubuhku lemas dan aku mulai terduduk lemas di alas sambil terisak, aku benci, benar-benar benci kehidupan dunia ini, aku ingin kembali ke duniaku yang sebelumnya, aku ingin memeluk ibu dan ayahku yang selalu menyayangiku.


Kupikir saat awal hadir di dunia ini semuanya akan berjalan lancar. Namun pada akhirnya semua tak sesuai harapan ku. Bahkan saat di jalan pulang kemarin, aku tak henti-hentinya menangis. Aku benar-benar merasa sangat menyedihkan.


Perasaan yang sengsara yang kurasakan kini


Aku sudah muak merasakannya dan ingin membuangnya. Sesuatu yang menjadi penyesalan bagiku pun terus menghantuiku kalbuku tanpa ku sadari.

__ADS_1


Mungkin tidak masalah jika aku menyerah dengan semua ini, tapi aku merasa... jika itu ku lakukan maka aku akan terus kehilangan.


Ku lipat bibir bawahku, kini aku benar-benar merasa bahwa aku juga egois karena selama ini selalu memikirkan perasaanku sendiri, aku selalu mementingkan kesenangan ku dan tidak memperhatikan orang lain.


Mungkin kak Lavender juga begitu, mungkin dia juga memiliki luka yang selama ini dia pendam dalam diam. Aku yakin setiap orang pasti punya penderitaan mereka sendiri, namun aku bukanlah orang yang mudah untuk mengerti.


Aku ingin mengetahuinya tapi aku takut.. Aku takut kematian... Aku tidak ingin mati lagi dan tidak ingin melihat orang yang kusayangi mati.. aku memang egois melebihi siapapun.


Aku lelah...


Bisakah aku beristirahat?


Bisakah aku tidak menunggu?


Aku ingin lari dari semua ini..tapi kemana? Percuma saja,...


Aku merasa benar-benar terjatuh ke dalam jurang kegelapan saat ini...


Elissa, Pangeran dan kak Lavender sudah tidak berada disisi ku sebagai cahayaku...


Padahal aku ingin mereka, aku ingin merasakan kebaikan mereka sedikit saja saat ini...


'Jangan pernah pergi tinggalkan aku', aku sangat ingin berkata seperti itu pada mereka... tapi aku tidak bisa.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2