
"Jadi... Hachiuuu!"
"Tuh kan bersin!" Kata Chun meledek.
Aku terdiam sambil mengusap hidungku, sepertinya aku akan terkena flu tapi aku tetap akan melanjutkan penyelidikan ku, kalau aku sudah bertekad maka aku akan nekat.
"Yooshh semangat Alexa!" Teriakku keras untuk menyemangati diriku, membuat mereka berdua menutup telinga mereka, kecuali Chun karena tidak punya telinga.
"Jadii aku tadi membaca buku ini, dan menemukan lambang-lambang aneh seperti ini," ucap ku sambil menunjukan ukiran dibuku itu.
"Apakah kalian tahu?"tanyaku.
"Tentu saja! kurasa..." jawab Chaser ragu.
"Hemm saya hanya tahu beberapa saja Nona Alexa," imbuh lily
"Kalau begitu coba sebutkan yang kalian tahu,"
Secara bersamaan berdua pun menunjuk lambang keluarga Kethzie terlebih dahulu. Kemudian lambang kerajaan Frost dan tidak ada lagi yang mereka tahu setelah itu.
"Benar-benar tidak berguna... Kalau itu sih aku juga tahu!" Cibirku.
"Chun tahu ini, ini adalah lambang saint dan kerajaan Arrenthia mirip sekali dengan milik Pangeran Shun," kata Chun sambil menginjakkan kakinya di dua lambang itu.
"Kalau yang ini?"
"Tidak tahu, Chun belum pernah lihat, tapi diantara mereka semua yang merupakan lambang keluarga bangsawan hanya dua simbol ini yang menunjukkan simbol kekuatan yaitu sihir ruang hampa dan..."
"Magise, aku tahu mungkin ini adalah tanda yang dimiliki oleh putri Magise,"
"Entahlah tapi yang ini adalah saint," kata Chun.
"Aku tidak mengerti tapi apakah mengetahui kenapa simbol-simbol ini digambarkan dihalaman ini..."
"Hemm coba kau selesai kan bacaanmu itu budak"
"Tapi aku sudah selesai membacanya!"
"Belum, pasti belum, buku setebal itu masa cepat banget selesainya!"
"Udah!"
"Belummm!!" Kukuh Chun.
"Aku yang baca aku yang tahu, memang benar aku belum baca semuanya tapi setengah buku dari ini jelas-jelas masih kosong!" Elakku lagi.
"Huh coba liat aja sendiri di halaman belakang,"
Karena kesal, akupun membuka halaman paling belakang buku itu dengan kasar, "Eeee... iya sih ini ada dijelasin beberapa keterangan, mitos dan fakta yang sudah dia dapatkan,"
"Coba baca aja salah satunya,"
"Magise merupakan putri alam titisan dewi bulan,"
"Seorang Magise dicintai oleh mana, para mahluk mitologi, dan Rukh, dia dapat memerintah Rukh dan mahluk itu untuk mengabulkan setiap keinginannya tanpa menguras mana, dan usia, berbeda dengan saint yang menggunakan mana, energi dan setiap sihir yang dia gunakan dibantu oleh Rukh dengan konsekuensi masa hidupnya digunakan sebagai energi bagi para Rukh untuk melakukan sihir,"
"Seorang Magise lahir dengan potensi sihir yang amat besar tapi tidak bisa melakukan sihir, namun lain halnya ketika dia sudah bisa mengendalikan Rukh, maka setiap perkataannya adalah sihir,"
__ADS_1
"Satu hal lagi, ciri-ciri Magise adalah memiliki tanda lahir yang berbentuk seperti bulan sabit yang akan bersinar bila melakukan kontrak dengan sang pelindung,"
"Woaah keren banget ada yah orang sehebat ini," decakku kagum sambil bertepuk tangan.
"Dia bodoh atau B O D O H ?" Tanya Chun kepada yang lain.
Elissa menggengkan kepalanya tidak tahu-menahu berbeda dengan Chaser yang sudah menatapku dengan wajah piasnya.
"Itu Nonaaa! Kau adalah seorang Magise," kata Chaser sambil mengambil buku itu dari tanganku.
"Aaa Chaser aku masih pengen baca yang lain," rengekku.
"Sebaiknya aku simpan buku ini nona, mungkin belum saatnya anda mengetahuinya karena pengetahuan anda masih pendek dan bantat, bisa-bisa disalah artikan,"
Aku memanyunkan bibirku lantaran kesal. Bisa-bisanya dia bilang otakku bantat!.
"Menurut Chun kesimpulannya... budak adalah seorang Magise dan 5 simbol tadi adalah simbol Dewi alam, saint si pelindung sucinya dan sisanya lambang keluarga Kethzie, kerajaan Arrenthia serta kerajaan Frost, mungkin itu menunjukkan darimana asal mula cerita itu terbentuk,"
"Yapss.. karena itu adalah cerita fiksi jadi jangan dipercaya, lagian aku yang sudah hidup ribuan tahun tidak pernah mendengar cerita aneh tentang Magise," tambah Chaser.
Aku mencibiir kesal, "Lagian kenapa Chun bisa lebih tau dari aku sih!" Gerutu ku.
"Chun itu punya kekuatan sihir Pangeran Shun, karena itu Chun bisa langsung tahu isi bukunya hanya dari sampulnya," jawab Chun langsung.
"Wow! pantas aja si Pangeran Shun pintar," kataku dengan kesal.
"Tapi bila isi buku ini benar, kemungkinan besar budaklah yang disebut-sebut sebagai Magise itu," kata Chun.
"Langsung aja kalau mau buktiin lihat aja tanda lahirnya," imbuh Elissa dengan mata berbinar.
"Budak belum tahu karena mungkin saja itu ada di titik butamu," kata Chun lagi.
Aku menggelengkan kepalaku sekuat tenaga. Memang benar, tidak ada tanda lahir apapun disana. Huh mereka tidak percaya'an.
"Bukaaa bajunya ya sayang..." Kata Elissa mendekat kerahku membuat wajah Chaser langsung semerah tomat.
"Jangan disini juga woeee!!" Protes Chaser.
Sejurus kemudian Elisa menarikku pergi dari situ, "Tolong huaaaa... aku bukan Magise sudah kubilang aku bukan Magise! Apalagi titisan Dewi bulan, itu bohong gak mungkin ada!!!" Teriakku sambil berontak tapi anehnya wanita itu sangat kuat, tenagaku bahkan tidak berarti hiks... sepertinya dia adalah keturunan Hulk.
.
.
15 minutes later...
.
.
"Gimana ada gak tanda lahirnya?" Tanya Chaser sambil duduk menaruh sebelah kaki kanannya diatas kaki kiri lalu menyeruput segelas kopi hangat.
Dengan wajah cemberut aku duduk didepan laki-laki tua itu.
"Tidak ada," jawab Elissa sambil tersenyum.
"Tuh kan gak percaya'an!"
__ADS_1
"Hehe maafkan saya Nonaaa," ucap Elissa sambil tersenyum kikuk merasa bersalah.
"Jadi dapat kita simpulkan kalau itu hoax," jawab Chaser santai.
"Hemmm ini aneh... Selain tanda lahir memang budak Leca lah yang terlihat cocok sebagai Magise, lagian nama penulis yang tertera di buku itu adalah Clarene Kethzie atau yang biasa disebut dengan nona Claire,"
"Whaatttttt?? Uhuk uhuk..." ucapku sambil terbatuk-batuk saat meneguk segelas teh.
"Itu artinya yang menulisnya adalah ibunya nona Alexa?" Tanya Elissa.
"Iya pik pik, kemungkinan besar cerita anak kecil itu adalah budak sendiri tapi budakku ini sungguh bodoh sampai tidak menyadarinya" jawab Chun.
"Jadii kalau nona Alexa ingin tahu lebih banyak tentang Magise kita bisa menemui ibunya Nona," kata Chaser.
Elissa menggelengkan kepalanya, "Menurut yang kudengar nona Claire sudah meninggal,"
"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk..." Aku semakin merasa tersedak.
Tidak mungkin! aku jadi teringat kata-kata Pangeran Zio kalau orang mati hanya bisa dihidupkan oleh seorang saint dan saint itu hanya ada satu. Lalu siapa lagi saint selain Pangeran Shun?, apa hubungannya dia dengan ibuku? aghhhhh semakin dipikirkan rasanya isi pikiranku langsung dikelilingi oleh Chun yang terbang mengelilingi kepalaku.
"Tapi nona Claire jelas masih hidup, artinya kemudian besar kalau dia dihidupkan kembali oleh seorang saint," jawabku yakin.
"Masalahnya emang ada saint selain Pangeran Shun?" Tanya Chun.
"Tidak ada," jawab kami semua sambil menggelengkan kepala kami.
"Kalau begitu ayo kita temui wanita itu saja untuk meminta penjelasan," ajak Chaser.
"Tidak semudah itu, dia pasti ada dalam genggaman seseorang, kemungkinan paling buruknya dia bahkan bekerjasama dengan pangeran ke 3 untuk menyerang kerajaan Frost, jadi kita tidak boleh gegabah sebelum bertindak bisa-bisa kita menjadi mayat seperti yang lain mengingat bahkan Lavender Kethzie si penyihir terhebat saja terbantai seperti nyamuk," Ujar Chun.
"Jadi kita harus ngapain," tanyaku pasrah.
"Menemui nona Claire dan meminta penjelasan, namun sebenarnya sebelum itu kita harus banyak-banyak menggali informasi kepada beberapa orang seperti Pangeran Kenn, Pangeran Zio dan yang paling penting adalah pangeran Shun," jawab Chun dengan santai.
"Itu pasti akan sangat susah apalagi Pangeran Shun tidak ada disini sekarang," Imbuh Chaser.
"Yahh artinya kita tunda saja sampai menunggu kepulangan Pangeran Shun beberapa tahun lagi," balas Chun lagi.
Aku meneguk salivaku kasar.
Hufft lama... Haruskah aku menahan rasa penasaranku selama itu. Padahal aku sedikit menaruh harap... walaupun rasanya tidak mungkin. Jika saja itu benar, bahwa aku adalah seorang Magise. Maka tentunya aku akan bisa menyelamatkan Pangeran Shun dengan kekuatan yang sebesar itu. Tapi... itu hanya harapanku.
.
.
.
***
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1