Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 107 : Bertemu Calon Mertua (End)


__ADS_3

Setelah beberapa hari perjalanan kami akhirnya sampai di perbatasan Arrenthia. Disana terlihat sangat ramai dan juga cantik, tidak seperti rumornya yang katanya Arrenthia sedang terjadi kudeta dan terror ini itu.


Pangeran Shun membawaku dan Erdwan ke sebuah pasar yang ramai orang.


"Silahkan beli apapun yang kalian mau, aku yang bayar," kata pangeran Shun lalu mengambil sebuah apel dari penjual buah di dekat kami lalu membayarnya.


"Pangeran yang terhormat, saya menggeratiskan semua makanan ini untuk anda dan teman-teman anda," ucap seorang gadis pelayan saat kami sampai di sebuah restoran makanan yang cukup besar.


Aku menelan salifaku kasar, makanan di Arrenthia kelihatannya sangat lezat. Aku tidak akan melewatkan semua makanan ini sedikitpun, aku pasti akan memakannya.


Dengan cepat aku langsung memasukkan empat tusuk sate telur puyuh ke dalam mulutku tanpa memperhatikan sekitar.


Erdwan berdehem lalu aku menatapnya heran.


"Pangeran Shun belum mempersilahkan kita makan tapi kau bahkan sudah memakan banyak makanan ke mulut kecilmu itu," kata Erdwan.


"Ohh iya hehehehe maaf pangeran,"


Pangeran Shun menggelengkan kepalanya lalu mempersilahkan kami semua makan. Aku baru tahu di Arrenthia ada tradisi orang besar dulu yang makan baru semuanya ikut makan.


Setelah kenyang kami lalu melanjutkan perjalanan, sepanjang perjalanan menuju ibu kota aku melihat berbagai hal yang menarik, meski begitu tetap saja ada kejanggalan dalam senyuman di bibir mereka.


Apakah orang-orang Arrenthia selalu memperlihatkan senyum terpaksa seperti itu? Pikirku.


Setelah sampai kami hanya di sambut oleh beberapa prajurit tanpa perayaan seperti di kerajaan Frost. Tapi ku akui kerajaan Arrenthia terlihat sangat indah, megah dan cantik dibandingkan kerajaan Frost.


"Selamat datang pangeran," ujar beberapa para pelayan menyambut kami di koridor.


Pangeran Shun pun melewati pelayan-pelayan itu tanpa senyum di bibirnya, dengan cepat dia berjalan ke istana utama lalu membuka pintu dengan pelan.


"Selamat datang pangeran," ucap mereka bersamaan.


Aku tidak mengenali mereka tapi sepertinya dia adalah raja dan ratu saat itu. Aku langsung membungkuk untuk menghormat kepada mereka.


Tidak lama setelah itu mereka mempersilahkan kami duduk.


"Jadi calon ratu kita adalah putri dari keluarga Kethzie yang terkenal itu ya," ujar raja Arrenthia sambil menatap tajam kerahku.


Aku mengangguk pelan.


"Dia sangat imut yaa," gumam seorang pra berwajah tampan dan bertampang polos.


"Pangeran Orion, kau iri yaa," rayu Erdwan.


"Tidak, aku sudah punya blee, tidak sepertimu yang jomblo abadi,"


"Kau benar-benar!" balas Erdwan jengkel.


Tidak kusangka ternyata keluarga mereka sangat akrab.


"Kau memiliki keistimewaan apa sehingga layak untuk dipersunting oleh pangeran Shun? Jika tidak sebaiknya kau mundur saja karena kami tidak menerima wanita yang lemah," ujar Raja Arrenthia.


Aku tersentak lalu menunduk dalam.


"Dia adalah seseorang yang berharga bagiku, walaupun gak istimewa, aku tetap menyukainya," kata pangeran Shun santai.


"Wahh anakku sudah semakin besar," ujar sang ratu sambil mencubit telinga pangeran Shun.


"Setidaknya tunjukkan kalau kamu itu keren!" titah ratu.


"Baiklah ibunda," kata pangeran Shun sambil tersenyum simpul.


Raja Arrenthia lalu menepuk pundakku pelan, "Santai saja nak Kethzie, anggap saja kami sebagai keluarga barumu, mungkin kau tidak akan mudah terbiasa hidup disini tapi kehidupan disini akan lebih keras daripada kehidupanmu yang sebelumnya, mungkin saja kamu akan berpetualang ke desa-desa kecil untuk menyelesaikan perselisihan yang ada, atau mungkin juga kamu akan sangat lama tidak bertemu dengan suamimu, jadi kuncinya kamu harus bersabar,"


Aku menatap pangeran Shun dan pangeran Shun mengangguk meyakinkanku sambil tersenyum.


"Ba-baiklah aku akan terima apapun itu!" Jawabku gagap.


"Jadi..." Kata mereka semua bersamaan sambil menatapku penuh dengan tatapan aneh, ini menakutkan.


"Kapan kau berencana menikah?"


"Kalian ingin punya anak berapa?"


"Kalian mau punya anak di usia berapa?"


"Kalian pengen punya cucu?"


"Kalian pengen punya cicit?


"Kalian berdua sudah pernah berciuman?"

__ADS_1


"Kalian berdua sudah pernah berhubungan?"


"Kau sudah punya pacar?"


"Kenapa kau bisa jatuh cinta pada orang sepertinya?"


"Apa yang kamu suka darinya?"


Tanya mereka semua secara beruntun membuatku diam dan membatu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sudah kuduga, ini sangat mengerikan.


Pangeran Shun langsung menarik tanganku keluar dari mereka.


"Ayah, ibunda, aku ingin memakainya sebentar saja, nanti ku kembalikan yah," ujar pangeran Shun sopan.


"Memakainya? emang aku ini benda?" Kesalku sambil menatap ke arah pangeran Shun.


Pangeran Shun tertawa kecil. Namun tiba-tiba langkah kami terhenti karena kami bertemu dengan Elaine.


Elaine juga tampak tertegun melihat pangeran Shun sudah tiba di Arrenthia.


Elaine menghela nafas panjang kemudian berjalan melewati kami.


"Aku harap kalian bahagia, walaupun sebenarnya aku ingin jadi pelakornya," kata Elaine terus terang dan itu membuatku kesal.


"Dia yang merebut first kissmu kan pangeran, pengen banget ku oseng-oseng tuh orang!" Kesalku.


Pangeran Shun memiringkan kepalanya.


"Firkis? oseng-oseng? apatuh?" tanyanya dengan raut wajah kebingungan.


"Tidak apa-apa, lupakan itu," kesalku lagi.


Pangeran Shun membawaku ke sebuah bukit yang dipenuhi dengan rumput hijau dan bunga.


Dari bukit ini aku bisa melihat dengan jelas seperti apa ibu kota Arrenthia, dan pemandangan langit yang begitu indah.


Pangeran Shun berbaring terlentang di sampingku lalu dia menatap langit biru dengan lekat.


"Menurutmu seperti apa keluargaku?"


"Keluarga yang harmonis," jawabku langsung.


"Iya kelihatannya memang begitu," kata pangeran Shun.


"Yah kelihatannya dia memang seperti itu," kataku ragu.


"Leca..."


"Mmm?"


"Apapun yang terjadi kamu tetap ada di sisiku kan?"


"Iyaa, aku juga akan melindungimu pangeran,"


Pangeran Shun tertawa geli. "Aku yang akan melindungimu," imbuhnya.


Tiba-tiba pangeran Shun duduk dan menatapku lama tanpa berkedip.


Aku hanya bisa menatapnya heran sambil melambaikan tanganku di depan wajahnya.


"Helloo," kataku sambil mencubit pipinya.


Pangeran Shun langsung memegang tanganku pelan. "Aku ada dua permintaan," kata pangeran Shun dengan wajah yang mulai memerah.


Aku merasa ini permintaan yang tidak-tidak.


"Apa?" tanyaku.


"Maukah kau memberiku c*pang seperti waktu itu? atau bolehkah aku memainkan pipimu yang kenyal itu?" tanyanya sambil tersenyum kikuk.


Aku tertawa terbahak-bahak. Aduhh kirain apa, ternyata permintaan yang sangat mudah.


Pangeran Shun memalingkan wajahnya dariku. "Aku mengerti, sepertinya kau tidak mau,"


"Mau-mau!!" Jawabku langsung.


"Yaudah ayo lakukan..." Kata pangeran Shun yang langsung duduk tegap.


Duhh... Tiba-tiba jantungku jadi berdebar gak karuan, padahal sebelumnya ini mudah kan... Aku juga sudah sering mempelajarinya di rumah dengan tanganku. Jadi harusnya ini mudah.


"Kenapa?" tanya pangeran Shun.

__ADS_1


"Gapapa ini mudah sekali kok, mudah se-ka-li..."


"Aku tidak yakin itu mudah bagimu, kalau tidak bisa yaudah katakan saja," kata pangeran Shun.


Aku menggeleng cepat. Tidak mungkin usahaku dengan korban tanganku akan sia-sia belaka. Aku harus bisaaa.


Pangeran Shun membuka sedikit bajunya yang langsung memperlihatkan tulang selangka dan leher jenjangnya.


Bufff!


Seketika aku merasa seperti ada yang keluar dari kedua telingaku dan wajahku terasa sangat panas.


"A-ahh.... sepertinya aku tidak bisa...maaf," gumamku sambil menundukkan wajahku ke bawah.


Pangeran Shun menyeringai kecil, "Sudah kuduga, kalau begitu aku yang akan mencobanya, kau tidak keberatan bukan?" tanya pangeran Shun yang membuatku langsung jatuh pingsan.


"Hey hey Leca... bangun," teriak pangeran Shun panik.


Dalam lima belas detik aku bangun dari pingsanku yang kulihat adalah wajah pangeran Shun yang sangat dekat.


"Aku sudah memberikan milikku padamu," kata pangeran Shun sambil menyentuh leherku pelan.


"Ehhhhhhhhh?!" Teriakku heboh sambil memegang leherku.


"Kau curang!"


"Salahmu sendiri yang pingsan, menurutku kau protes karena tidak menikmatinya bukan?"


"Bukan itu!"


"Lalu?"


"Kau lebih hebat dariku hiks," kesalku sambil menggembungkan pipiku.


Pangeran Shun langsung mencubit pipiku dan memainkannya dengan gemas. Sementara aku terus mengomel meskipun tidak jelas apa yang ku bicarakan.


"Soq9qjeb$&9jjssu9j..."


Setelah puas pangeran Shun terdiam kemudian tersenyum.


"Kau terlihat sangat sangat menikmatinya," kataku kesal sambil memegangi pipiku yang memerah karena terus dimainkan.


"Ya karena aku sangat sangat menyukaimu,"


Aku terdiam lalu memalingkan wajahku.


"Dasar tukang gombal,"


"Gombal?"


"Tidak apa-apa," kataku langsung.


"Apa yang kau sukai dariku pangeran?"


"Banyak, aku menyukai semua bagian, yah meskipun dadamu datar seperti papan dan badanmu agak pendek tapi aku menyukainya,"


"Hahhhh?! Apa kau bilang!" Kesalku. Dia baru saja mengejekku, datar dan pendek katanya. Huh menyebalkan.


"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya pangeran Shun.


"Tidak kau sangat-sangat benar sampai membuatku ingin sekali memberi pelajaran padamu pangeranku," ucapku penuh penekanan.


Begitulah akhir petualangan aku dan pangeran Shun di kerajaan Frost dan awal mula aku dan pangeran Shun bersama di kerajaan Arrenthia. Mungkin akan ada banyak hal baru, akan ada banyak rintangan dan masalah baru, tapi aku sudah memutuskan untuk tetap berada disisinya dan melindunginya sebagai Magise juga kekasihnya.


Aku sadar ketika aku masih di dunia dulu aku selalu menolak cinta yang diberikan kepadaku dari orang tuaku sedangkan di dunia ini mereka yang tidak pernah di beri kasih sayang mengejar cinta dengan mati matian. Karena itu apapun yang aku miliki sekarang aku harus menghargainya dan menjaganya dengan baik.


Sampai jumpa di petualangan Alexa Kethzie dan pangeran Shun selanjutnya! Kalau buanyak yang suka cerita ini sih, entah berapa tahun lagi wkwk, makannya kalau ada yang suka bantu promo karena authornya sibuk, jadi jarang promo. Hehe sayonara, see you😌❤️


.


.


.


####end


.


.


.

__ADS_1


End~


__ADS_2