
Erdwan terus berlari sekuat tenaganya, tak peduli seberapa banyak hamparan rumput tajam dan ilalang yang ia lalui. Tak peduli berapa kali kulitnya tersayat dan terluka, wajah tampan nya bahkan sudah terlihat sangat kusut dan dibanjiri peluh, namun rasa sakit dikakinya ia abaikan dan terus berlari seakan tidak pernah merasa lelah.
Perlahan hujan turun dan mulai membasahi wajah dan tubuhnya. Sejenak ia menghentikan langkahnya. Ia mulai merasakan sakit karena luka yang berada di kakinya. Tak lama kemudian dia mulai berlari lagi dengan deru nafas yang memburu.
Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya, kakinya pun menerjang genangan air yang tercipta di permukaan tanah.
Tersirat jelas wajahnya menampakkan kekhawatiran. Ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang Pangeran Shun.
Dirinya dan Pangeran Shun berpisah saat melakukan perburuan di hutan, sampai menjelang sore pun keduanya tidak bertemu lagi ditempat yang mereka sepakati. Ia khawatir kalau Pangeran Shun akan diserang oleh musuh, pasalnya beberapa waktu ini Pangeran Shun selalu diserang secara diam-diam, namun pelakunya sama sekali tidak diketahui.
"Pangeran Shun!" Teriak Erdwan keras, namun suaranya tertelan oleh suara gemercik hujan yang turun begitu deras.
"Sialan!" Gerutu Erdwan kesal.
Saat asik mengomeli hujan yang telah membasahi dirinya dan menghambat gerakannya. Erdwan merasakan kejanggalan di sekitarnya, kemudian ia mulai memperhatikan sekitar.
"Mustahil! Perasaan daritadi aku berlari menjauhi tempat ini, tapi mengapa aku masih berada di sini!"
"Hohoho ternyata kamu menyadari nya yaa, kalau selama ini usahamu sia-sia"
"Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini"
Erdwan tersentak kaget mendengar suara tersebut. Namun saat ia memutar bola matanya untuk mencari si pemilik suara, dia tidak menemukan apa-apa.
"Siapa?! Keluar kau, jangan jadi pengecut!" Titah Erdwan kemudian langsung memasang kuda-kuda nya.
"Hei ayolah teman, aku tidak suka bermain keras, lagipula kau tidak akan bisa menang melawan ku"
"Cih sombong sekali" Ucap Erdwan dengan raut wajah kesal.
"Aku tidak pernah punya teman seperti mu, jangan sok akrab!" lanjut nya dengan nada sinis.
"Heee baiklah, kalau begitu langsung ke intinya saja, apakah kau ingin keluar dari hutan ini? Kalau iya aku akan menunjukan mu jalan keluarnya"
Erdwan tersenyum miring. Kemudian menarik pedang dari sarung pedang yang berada pinggangnya.
"Apa maumu?" Tanyanya sinis sambil menodongkan senjata nya.
Orang seperti dia pasti tidak akan dengan mudah memberikan ku jalan keluar dari sini. Batin Erdwan.
"Hooh ternyata kau cukup peka juga yaa"
Erdwan membuang mukanya kesal. Kenapa orang itu terlalu banyak basa-basi nya, membuatku kesal saja.pikirnya.
"Pedang yang kau gunakan itu terlihat sangat menarik yah"
"Benda itu dikelilingi oleh Rukh hitam dan putih, sepertinya kau sudah membunuh banyak orang, tidak peduli jahat atau baik, hanya untuk memberi benda itu lebih banyak kekuatan. Benar kan?"
Erdwan seketika tersentak ketika mendengar perkataan orang itu, yang dikatakan olehnya adalah benar. Tetapi meskipun begitu, dia membunuh orang hanya saat dalam perang, tidak peduli baik ataupun jahat, yang dia ketahui orang-orang tersebut adalah lawannya.
Tunggu dulu, Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Hanya penyihir hebat lah yang dapat melihat Rukh dan warnanya. Apakah dia menginginkan pedang ini? Namun apapun yang terjadi aku tidak akan pernah memberikan ini padanya.
"Kau menginginkannya?"
"Tidak"
__ADS_1
"Lalu?"
"Kau...Yang aku inginkan adalah kau"
Apa-apan orang itu. Dia menginginkan ku? Sama saja dengan aku tidak pernah keluar dari hutan ini?!
"Hmp aku tau aku begitu tampan, tapi aku tidak akan suka pada wanita seperti mu" ucap Erdwan sambil menyisir rambut nya kebelakang dengan jari-jari tangan nya.
"Huh? Wanita? Aku adalah pria!" Jawab orang itu jengkel.
"Tidak peduli pria ataupun wanita, keluar lah kau sekarang!jangan bersembunyi! Dasar pengecut!" Kata Erdwan kembali dengan wajah serius nya.
"Aku tidak bersembunyi, sekarang aku berada di sekitar mu, hanya saja kau tidak dapat melihatnya"
"Itu apa bedanya dengan bersembunyi!" Jawab Erdwan kesal setengah mati.
"Hump!"
"Aku hanya ingin kau bergabung bersama kelompok kami, kami akan menunjukkan jalan yang benar kepada orang-orang yang terpilih, dan tujuan kami adalah untuk melenyapkan sesuatu yang seharusnya tidak ada dan membuat dunia ini damai tanpa adanya sihir"
"Kau membual yaa, kamu sendiri juga pengguna sihir kan! Lalu kenapa kau ingin melenyapkan sihir? Tidak tahu kah kau? kalau hidup di dunia ini begitu bergantung dengan sihir"
"Ya aku sangat mengetahuinya, tapi karena hal tersebut sekarang dunia menjadi tidak seimbang dan manusia menjadi malas untuk bekerja"
"Itu tidak lah benar!"
"Bodoh! Kau hanya menyangkal saja kan! Tidakkah kamu berfikir di dunia ini penyihir dan bangsawan lebih terhormat daripada manusia biasa seperti kau, sedangkan orang-orang yang tidak memiliki sihir ataupun darah keturunan bangsawan dianggap sampah dan tinggal di daerah kumuh"
Dia benar! ..
Dulu sewaktu dirinya belum bertemu dengan pangeran Shun dan belum mengetahui bahwa ia memiliki kemampuan khusus dia diperlakukan kasar seperti hewan peliharaan dan sangat tidak layak. Dunia dengan adanya sihir memanglah penuh kekacauan, kehancuran dan peperangan karena manusia yang memiliki sihir dikuasai keserakahan dan hasrat mereka.
Tetapi jika seseorang ingin melenyapkan sihir itu berarti dia berniat untuk melawan takdir dan itu menurutnya tidak lah benar. Apapun yang terjadi di dunia ini haruslah berjalan sesuai takdir dan biarkan mereka berusaha sesuai takdir nya masing-masing. Dunia dapat damai hanyalah dengan cara mengontrol emosi dan hasrat diri manusia itu masing-masing.
"Lalu dengan cara apakah kau akan menghilangkan sihir itu sendiri" Tanya Erdwan.
"Membunuh penggunaannya!" Jawab orang itu dengan nada angkuh.
"Baiklah" Jawab Erdwan dengan tanpa ragu.
"Kau memutuskan untuk bergabung dengan kami dan menghilangkan sihir yang berada di dunia ini?"
"Bukan, namun aku memutuskan untuk menentang kalian dan memusnahkan kalian yang ingin menentang takdir dunia ini"
"Apa?! Beraninya kau"
Erdwan pun menyerang dengan menebaskan pedangnya ke arah asal suara tempat sumber suara itu berada.
"Lenyaplah! Dasar ilusionis sialan!"
"Wah kemampuan berpedangmu lumayan juga, namun sayangnya itu tidak akan mengenai ku"
"Cih"
Erdwan pun terus mengayunkan pedangnya kearah sumber suara yang dia dengar.
"Kau hanya akan membuang energi dan manamu saja! Lebih baik kau menyerah sekarang"
__ADS_1
"Tidak akan! Aku tidak akan menyerah hanya karena orang seperti mu"
Peluh di wajah Erdwan nampak jelas terpampang. Kini hujan pun telah berhenti berjatuhan dari cakrawala. Namun seluruh tubuhnya masih basah dan dipenuhi telah dengan luka lecet.
Orang ini, selain seorang ilusionis dia juga bisa menggunakan sihir elemen angin. Tubuhku sekarang kelaparan dan sudah menghabiskan banyak tenaga untuk berlari dan bertarung dengan arah tidak menentu. Kalau terus seperti ini aku akan kalah!.
"Bagaimana dengan pisau anginku? Apakah kau ingin lagi? Atau menyerah saja dan bergabunglah dengan kami"
"Sombong sekali kau! Aku tidak akan pernah bergabung dengan kelompok aneh seperti kelompok mu itu"
"Baiklah sepertinya kau menginginkan nya lagi, kalau begitu aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan mu saja sekalian!"
"Wahai roh angin pinjamkan aku kekuatan mu untuk menyapu bersih kejahatan dan menebarkan benih kebajikan".
WIND ARROW ATTACK!
DUUUAR!!!
Terdengar suara yang amat memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya. Erdwan pun jatuh tersungkur ke tanah, kaki dan tubuhnya sudah dipenuhi oleh luka dan darah, dia tidak mampu lagi untuk tetap berdiri.
"Sial! Dia sangat kuat,... aku bahkan tidak berhasil melukai nya sedikitpun"
Erdwan mencoba untuk bangkit lagi dan mengambil pedangnya yang terlempar cukup jauh dengannya.
Tidak ada cara lain kecuali menggunakan kekuatan dari weapon ku. Dengan begitu aku pasti akan mengalahkan nya.
"Tidak akan kubiarkan!" Ucap orang itu saat melihat Erdwan mencoba untuk mengambil pedangnya.
Ia tau kali ini Erdwan akan mengeluarkan kekuatan pedang pusaka nya itu dan itu bukanlah kekuatan yang dibilang kecil dan tentu dirinya akan menjadi kesulitan saat menghadapinya.
Orang itupun langsung berlari cepat kearah Erdwan dan bersiap untuk menusukkan pisau anginnya.
Keluarlah! WIND BLADE!
CRASHHH!!!
Erdwan pun seketika berbalik saat mendengar suara dibelakang nya. Dia kaget karena melihat seorang pria yang sudah berlumuran darah diperut, jatuh menimpa dirinya. Terdapat juga sebuah pedang dengan simbol kerajaan yang melekat ditubuhnya.
Perlahan ilusi di sekitar pun mulai memudar dan semuanya terlihat normal kembali. Erdwan pun menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat seseorang yang sangat dikenalnya tengah tersenyum kearahnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Erdwan berdiri. Erdwan kemudian tersenyum kecil melihat orang yang telah menyelamatkannya.
"Kau lama sekali!" Protesnya kesal. Lalu dengan sigap Erdwan pun menerima uluran tangan darinya.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...