
Sudah 5 hari mereka tiba di kerajaan Arrenthia hingga kini bahkan mereka sama sekali tidak diberi waktu untuk sekedar santai. Dari mulai mereka sampai, mereka hanya disuruh untuk istirahat sebentar, kemudian raja Arrenthia langsung to the point menugaskan mereka berempat ke suatu tempat tempat yang sedang dilanda masalah, ataupun tempat lain yang diduga sebagai markas organisasi gelap.
Sebelum itu juga, mereka memerintahkan saint tersebut untuk memasang kekkai yang kuat agar tidak bisa ditembus oleh mereka yang memiliki sihir hitam, sebagai antisipasi bila sewaktu-waktu terjadi penyerangan mendadak oleh musuh.
Sekarang juga mereka sedang berada di salah satu desa yang masih dalam kekuasaan Arrenthia, desa itu terlihat sepi seperti desa mati namun sebenarnya di desa tersebut masih ada penghuninya, hanya saja mereka jarang keluar karena suasana di luar dinilai sangat tidak aman dan mereka takut akan terjadi sesuatu kepada mereka seperti penculikan atau perdagangan manusia jika mereka keluar.
Di salahsatu tempat tinggal dalam desa itu ada mereka berempat yang sedang mencari-cari informasi mengenai suatu organisasi gelap yang memperdagangkan manusia. Mereka melakukan hal ini lebih dahulu karena sang raja menilai keselamatan rakyatnya lebih penting daripada masalah perebutan kekuasaan yang terjadi di kerajaan.
Elaine menghampiri Erdwan yang terlihat sedang duduk santai sambil bermain catur bersama salah seorang anggota penghuni rumah yang bahkan belum dikenal baik oleh mereka.
"Pangeran Shun sedang mempelajari bagaimana motif yang dilakukan oleh mereka dari beberapa surat kabar," ujar Elaine memberi tahu Erdwan, Erdwan hanya melirik sekilas kemudian memutar bola matanya jengah.
"Tidak kah kamu berfikir kapan kita santai? Aku lelah harus terus belajar sambil melakukan misi, ini sama saja double job," protes Erdwan kesal sambil meluncurkan salah satu kesatria putihnya sehingga merobohkan benteng milik lawan.
"Pangeran kita sedang sibuk tapi kau malah santai-santai sambil main catur, apa begitu kelakuan pengawal pribadi yang katanya setia sampai mati?" Elaine tidak mau kalah.
"Aku baru saja memainkannya beberapa saat yang lalu, setelah itu baru aku akan membantu lagi, lagian kamu pasti iri kan? Kalau iri sini ikut main..." Ajak Erdwan yang mendapat pandangan tidak suka dari rekannya.
"Setidaknya kita harus menghormati pemilik rumah ini dan melakukan hal seperti yang kita janjikan,"
"Yaampun baru juga sampai masa langsung datang dan bertarung? Apa kita gak diperlakukan sebagai tamu istimewa? Lagian mana pelakunya aja enggak ada tuh"
Elaine terdiam, dia benar, mereka barusaja sampai dan baru saja meyakinkan si pemilik rumah untuk menampung mereka sementara ini, karena itu harusnya mereka dihormati dan disuguhi makanan, tidak harus langsung melakukan misi. "Hmmm... Benar sih tapi..."
"Permisi tuan, nona, makanan sudah kami siapkan, kalian bisa makan di ruang makan," potong salah satu wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan mereka.
"Baiklah.. terimakasih" jawab Elaine dan Erdwan.
Mereka berdua pun menuju ke tempat makan yang disebutkan wanita tadi kemudian duduk bersama Pangeran Shun dan Pangeran Kenn yang lebih dahulu sampai daripada mereka.
"Selamat menikmati, semoga kalian suka hidangan spesial dari kami.." ucap seorang pemilik rumah tersebut.
Mereka mengangguk singkat kemudian mulai bersiap untuk makan.
Pangeran Shun memberikan isyarat agar teman-temannya itu tidak makan terlebih dahulu sebelum dirinya, dan mereka langsung mengerti begitu saja bahasa tubuh tersebut. Pangeran Shun kemudian menuangkan lauk dan nasi yang sudah tersedia di atas meja piring.
"Selamat makan.." ucapnya sambil menunjukan senyum kecil sebagai tanda dia tertarik dengan makanannya.
Pangeran Shun menyuapkan sesendok demi sesendok makanan itu kemulutnya. Tidak lama setelah itu Pangeran Kenn berdehem. Pangeran Shun lupa mempersilahkan ia dan lainnya untuk ikut makan sehingga hanya dapat menelan air liur saja saat melihat kegiatan yang dilakukan Pangeran Shun.
"Kenapa kalian hanya menatap? Ayo makan.." kata Pangeran Shun kemudian sambil tersenyum kikuk. Dia sedikit merasa bersalah karena lupa mempersilahkan mereka makan.
Setelah mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut pangeran Shun mereka tanpa ba bi Bu menyerang dengan lahap makanan yang terlihat lezat itu.
"Tuan silahkan diminum..." ucap seorang gadis cantik yang membawa nampan berisi air putih kepada Pangeran Kenn.
Melihat itu Pangeran Shun langsung mengambil minumannya kemudian meneguk air putih tersebut.
"Ukhh..!!! Ini beracun!!" Ucap Pangeran Shun sambil memegangi dadanya. Erdwan dan teman-temannya pun menghampiri Pangeran Shun dengan tatapan cemas namun tetap waspada.
Wanita yang bernama Khell itu tersenyum tipis.
"Aku tidak percaya kalian adalah orang yang dikirimkan oleh raja! Lagian selama ini raja selalu saja mengabaikan kami dan sibuk mempertahankan kekuasaannya itu!!" Teriak salah seorang dari mereka yang bernama Krull.
Orang dalam rumah ini sendiri berjumlah lima orang, seorang kepala rumah tangga, istrinya, serta si wanita kembar juga seorang pria yang merupakan kakak dari dua wanita itu, namanya adalah Nino.
"Itu tidak benar! Raja juga mementingkan kalian karena itu kami diutus untuk membantu!" Tukas Pangeran Kenn.
"Setelah sekian lama baru datang memberi bantuan?! Tidak masuk akal!"
"Mengertilah dari dulu kondisi kerajaan Arrenthia belum pernah membaik... Tetapi kami semua sedang berusaha untuk bisa memperbaikinya perlahan seperti di ibukota dan beberapa desa didekatnya, disana terlihat aman, tentram dan damai meskipun sebenarnya sedang terjadi kudeta sihh." Kata Erdwan menanggapi.
"Kami tetap tidak akan percaya! Apakah kalian akan langsung percaya bila di datangi oleh ibu atau ayah kalian yang sudah lama mentelantarkan kalian!"
"Tunggu dulu kok kek ibu dan ayah sih?" Tanya Erdwan yang merasa heran.
"Itu kan cuma istilah dasar bodoh.." jawab Shun sambil menyodorkan kepalan tangannya ke bahu Erdwan.
"Pangeran Shun sudah membaik?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu ekspresinya langsung berubah pucat lagi, "Yahh kurasa tidak, aku mau muntah rasanya.." kata Pangeran Shun lagi sambil memegangi perutnya.
Nino tiba-tiba tertawa puas. "Itu adalah racun sihir yang akan membuat mu tidak bisa menggunakan sihir! Hadiah yang spesial bukan untuk tamu kita yang tak diundang ini?"
"Pantasan aku keracunan padahal sebelumnya belum pernah aku.. ukghh!"
"Pangeran!!" Pekik mereka karena merasa cemas.
"Kenapa kau melakukan seperti ini kepada kami?! Padahal kami tidak sama sekali berniat jahat!" Tanya Elaine sambil menatap sinis kearah mereka.
"Wahh cantik, sayangnya aku tidak tahu maksud kalian jadi aku tidak mau mengambil resiko hal buruk akan menimpa kami," jawab Nino dengan senyuman licik di wajahnya.
"Aku tidak terkena racun itu jadi aku akan memberi pelajaran kepada mereka!" Geram Erdwan.
"Jangan!" Pangeran Kenn menahan Erdwan.
"Kalian tidak sadar kalau kalian juga kena!"
"Hah?!"
"Itu ada di buah-buahan yang sebelumnya ku kirim kepada kalian sebelum kalian makan.."
"Tidak mungkin! Kalian mau membuat diri kalian sendiri dalam bahaya?!"
"Kami tidak ingin memikirkan hal itu, Jika kalian berniat pergi dari desa ini maka kalian akan kuberikan penawar ini,"
"Pangeran.." lirih Elaine sambil melirik ke arah Shun.
Pangeran Shun tidak diam saja, dia memilih untuk maju untuk berbicara. "Meskipun begitu kami tetap akan membantu kalian walaupun jika dengan adanya racun ini, sebagai syarat untuk tetap tinggal disini... Karena keinginan kami untuk membantu sangatlah tulus dan tidak mengharapkan balas budi apapun, kami hanya ingin diizinkan untuk tinggal sementara,"
Mereka semua kaget mendengar perkataan Pangeran Shun. Mereka berfikir kenapa harus susah-susah membahayakan dirinya hanya untuk kepentingan orang lain? Seharusnya lebih baik memilih untuk pergi dari sini, dengan begitu mereka dapat membawa penawar racunnya.
Pria yang menjadi pemimpin dia tempat itu pun tersenyum kecil, "Baiklah jika kalian berhasil maka akan ku berikan penawarannya sekaligus hadiah untuk kalian berempat..."
Mereka berempat tersebut tersenyum lega namun sebenarnya mereka tahu betul kalau membuat keputusan seperti itu sama dengan mencari bahaya untuk diri mereka sendiri.
Setelah itu pun mereka di sediakan kamar untuk menginap tetapi hanya satu kamar, tidak ada yang lain, Elaine tidur di ranjang paling dekat pintu, lebih tepatnya di samping Pangeran Kenn, setelah itu pangeran Shun di samping Erdwan.
Pangeran Shun merasa sudah sedikit lebih baik, kemudian dia mengganti posisinya untuk duduk diam di ranjang sambil memperhatikan mereka.
"Pangeran apakah kekkai yang kau pasang di kerajaan Arrenthia akan melemah?" Tanya Elaine kepada Pangeran Shun, Pangeran Shun menggeleng.
"Pelindungnya terdiri dari empat lapis, sangat mustahil untuk musuh menerobos masuk ke kerajaan.."jawab Erdwan.
"Bila seseorang berhasil menembusnya maka Pangeran Shun tidak dapat berbuat apa-apa untuk memperbaikinya, tetapi kalian tenang saja, karena ada juga beberapa penyihir hebat yang menjaga istana utama, sehingga menambah jaminan keamanan disana," imbuh Erdwan.
"Sial segelku bersinar! Terjadi sesuatu lagi pada Leca!" Teriak Pangeran Shun tiba-tiba yang langsung mendapat pandangan cemas dari semua temannya disitu.
"Lalu Pangeran apakah kau akan fokus mengendalikan Chun?"
"Tidak Chun bukan dikendalikan olehku, tetapi aku berbagi kekuatan sihir ku padanya..."
"Pantesan sifatnya beda, terus apa itu artinya kau menciptakan orang lain untuk menggantikan peran mu kepada Leca?"
Pangeran Shun mengangguk, jika suatu saat Leca lebih menyukai Chun dari pada Shun, dan begitu juga Chun, maka ada kemungkinan kehadiran dirinya bisa lenyap, karena keinginan kuat dari Chun untuk berubah serta mengambil sosok manusianya.
"Tetapi tenang saja, aku dan Chun seperti berbagi satu jiwa..jadi aku bisa merasakan perasaan yang dirasakan Chun terhadap Leca, jika itu berlebihan, maka tidak ada jalan lain lagi untuk melenyapkannya, lagian aku bisa dengan mudah mengambil alih tubuh Chun dan tentunya itu memerlukan sihir yang agak besar,"
"Yaampun ribet sekali..."
Pangeran Shun pun terdiam, dia terlihat fokus untuk memikirkan sesuatu, tiba-tiba saja dia mual dan merasa ingin muntah karena tidak bisa menyeimbangkan penggunaan sihir dan mana yang ada di tubuhnya.
"Pangeran!"
"Dua orang! Dua orang yang menjadi target telah datang! Aku merasakan sesuatu pada sihir pengintai yang kugunakan di daerah a dan c karena merasa wilayah itu rawan, Mereka juga bersenjata dan memiliki pengguna sihir,"
"Heeh biarkan aku yang berangkat! Lagian aku bukanlah pengguna sihir jadi racun itu tidak berguna untuk ku," Erdwan mengajukan diri.
"Aku juga masih bisa menggunakan sihir! Hanya saja racun ini sedikit mengacaukan sihirku," Ucap Pangeran Shun karena tidak ingin membiarkan temannya bergerak sendiri.
__ADS_1
"Pangeran, jangan keras kepala, lebih baik kau beristirahat..." Erdwan tidak setuju dengan perkataan Pangeran Shun.
"Pangeran akan berangkat bersamaku, aku masih bisa menggunakan bela diriku yang hebat untuk melindunginya!" Kata Elaine malah membantu memperkuat keinginan Pangeran Shun.
"Aku tidak bisa apa-apa tanpa sihir, tapi setidaknya aku mahir menggunakan jurus kaki seribu," imbuh Pangeran Kenn.
"Baiklah kalau begitu kita bagi 2 tim akan ke titik ini, aku dan Elaine serta Pangeran Kenn dan Erdwan akan ke sini, ingat misi kita menggagalkan tindakan mereka kalau perlu bunuh mereka semua jika tidak ingin memberikan informasi," kata Pangeran Shun memberikan perintahkan. Mereka berempat mengangguk singkat kemudian beranjak pergi.
"Pangeran, biarkan aku memapahmu," kata Elaine saat melihat Pangeran Shun sedikit kesusahan berjalan.
"Yah kurasa tidak ada salahnya..." Jawab Pangeran Shun kemudian mereka pergi.
Diam-diam Elaine tersenyum licik, seperti terselip sesuatu yang disembunyikannya, mungkin saja dia berniat melakukan hal buruk terhadap seseorang yang harusnya dilindungi olehnya. Sedangkan Pangeran Shun juga diam-diam mengetahui ekspresi mencurigakannya itu, tetapi dia tidak ingin ambil pusing dan memilih cuek saja.
.
.
.
Elaine menyerang dari belakang mereka, dia bisa merasakan bahwa mereka memiliki aura sihir hitam yang kuat, kemudian langsung memberikan tendangannya kepada target incarannya.
Seseorang yang lainnya bersiap ingin membantu, tapi niatnya itu gagal karena dihadang oleh Pangeran Shun.
"Hei katakan tujuan kalian datang kesini sebenarnya untuk apa dan atas suruhan siapa?" Tanya Pangeran Shun sebelum memberikan sebuah serangan yang langsung menumbangkan tubuh orang lawan, setelah itu keberadaannya menghilang begitu saja.
"Ck! Ilussionis!" Pangeran Shun berdecak kesal kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Elaine yang ternyata menjadi target incaran dua orang sekaligus.
"El!!"
Pangeran Shun menarik tubuh Elaine setelah itu Pangeran Shun langsung terhempas ke udara akibat serangan dari dua orang lawannya.
Elaine yang mendapatkan perlakuan seperti tadi hanya tersenyum kecil, lalu seketika merubah ekspresinya menjadi panik.
"Pangeran Shun!!" Teriaknya sambil berlari menghampiri Pangeran Shun yang sudah terluka hingga mengeluarkan banyak darah.
"Ahh.. sihir penyembuhku tidak berguna, ini terlalu sedikit.."kata Pangeran Shun sambil menatap segel di tangannya yang bersinar oranye, lebih tepatnya dia tadi sudah menggunakan sihir penyembuhannya itu pada Leca.
"Maafkan aku pangeran, tetapi kau tidak dapat bertarung dengan kondisi yang seperti ini," kata Eaine kemudian melambaikan tangan di wajah Pangeran sehingga membuatnya pingsan.
Dia mulai menyeringai kemudian tertawa jahat, sebenarnya dia berbohong, dia daritadi tidak memakan apapun dari rumah itu, dia hanya melakukan sihir yang membuat seolah-olah dia melakukan hal itu.
"Sekarang kalian lah lawanku," teriaknya sambil tersenyum sinis lalu menunjuk ke arah mereka satu persatu.
"SHADOW BLAST!"
DHUAAAR!!
Sihirnya itu menghasilkan suara ledakan yang sangat memekakan telinga, hingga Elaine sebagai pengguna sendiri pun menekan telinganya sendiri dengan kedua telapak tangan.
"Ups, aku kelewatan!, Mereka semua sudah pada menjadi butiran hitam..." Gumam Elaine sambil terperangah karena kagum melihat bentuk rukh hitam yang bertaburan di hadapannya.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
Author: special 2k kata untuk chapter ini!
__ADS_1
makasih yang dah mau baca( ˘ ³˘)♥