
Terlihat seorang pria paruh baya tampak memeriksa kesehatan Alexa.
"Bagaimana keadaan nya saat ini?" Tanya Lavender yang kini sedang duduk di samping Alexa sambil memegang sebuah buku yang terbuka dengan lengan kirinya.
Tabib itu menghela nafas pelan. "Kemungkinan dia akan mengalami gegar otak ringan atau sedang, karena benturan di kepala nya terlalu keras yang bisa saja menimbulkan luka dalam pada otaknya," tutur tabib itu.
"Saya akan memberikannya beberapa obat herbal yang dapat membantu meringankan sakitnya, tolong biarkan dia istirahat beberapa hari dan jangan biarkan dia berpikir keras," imbuhnya.
"Baiklah terimakasih, kau boleh pergi." Ucap lavender dengan tegas.
Kemudian setelah tabib itu pergi meninggalkan mereka Lavender mulai menatap lekat wajah adiknya yang dipenuhi perban di kepalanya itu.
"Bagaimana anak sekecilmu mengalami hal seperti ini" lirihnya sambil mengelus pelan rambut adiknya.
Meskipun pada kenyataan nya ia juga pernah mengalami hal yang serupa. Tetapi ia tidak ingin melihat orang yang disayanginya mengalami hal itu, jika hal seperti ini terjadi lagi ia ingin bisa ada disampingnya untuk melindungi adiknya.
.
.
***
.
.
Beberapa hari kemudian...
Sudah 5 hari berlalu gadis kecil bernama Alexa itu tidak kunjung hadir kesekolah nya. Menurut kabar yang beredar katanya gadis itu sedang sakit yang lumayan parah sehingga dia tidak bisa hadir untuk belajar.
Entah kenapa Pangeran Shun juga terus memikirkan keadaannya karena terakhir kali mereka bertemu keadaan Alexa terlihat begitu menyedihkan. Dia pun diam-diam menyuruh Erdwan untuk melakukan penyelidikan terhadapnya namun pada akhirnya tidak banyak yang dapat mereka bagaimana kondisinya.
"Terakhir kali aku melihatnya dia tampak begitu menyedihkan" lirih pangeran Shun sambil menatap ke arah sebuah pohon yang menjadi saksi bisu pertemuan awal mereka. Biasanya Alexa sering terlihat datang ke tempat tersebut kemudian menyapanya setiap hari atau mengintip saat-saat dia sedang latihan.
"Kenapa kamu tidak coba menemui ke kediamannya saja," saran Erdwan.
"Entahlah, aku malas." Jawab Pangeran Shun berbohong, sebenarnya dia sudah melakukan hal itu namun pengawal disana bahkan tidak mengizinkan masuk sama sekali, kemudian ia mulai duduk di tanah yang dipenuhi dengan rumput hijau.
__ADS_1
Erdwan menatap Pangeran Shun dengan tatapan dongkol kemudian ikut duduk bersamanya.
"Bercanda deh, lagian aku sudah pernah menanyakan tentangnya tapi mereka malah bicara buruk soalnya." Pangeran Shun tersenyum miring.
Padahal Alexa begitu terlihat malang namun kebanyakan dari teman-temannya malah mengabaikan dan tidak berniat untuk menjenguknya sama sekali.
"Pangeran, ku lihat beberapa hari ini kau terusnya memikirkannya? Apa kau seorang lolicon?" Erdwan melihat dengan pandangan jijik ke arah tuannya itu. Dia tidak menyangka bahwa tuannya itu ternyata menyukai gadis kecil yang kelainan itu.
"Haah mana mungkin!" Elak Shun.
"Matamu tidak bisa berbohong lohh."
"Sialan!" Shun mengikut kasar lengan Erdwan.
"Ngomong-ngomong Pangeran, menurut informasi yang ku dengar gadis kecil itu tidak memiliki potensi sihir, karena itu dia dianggap bukan anak asli keluarga Duke Kethzie, sepertinya dia mengalami masalah karena itu."
Pangeran Shun tampak sangat terkejut sekaligus tidak percaya terhadap perkataan itu. Kemudian dia langsung bangkit dari tempat duduknya untuk berdiri.
"Aku ingat, saat aku membagikan sihirku padanya kami menjadi sedikit terikat, padahal hingga sekarang aku bisa merasakan aura sihir yang sangat kuat pada gadis itu.. tidak mungkin kalau dia tidak punya potensi sihir, sepertinya ada sesuatu dibalik ini yang menyebabkan hal seperti itu terjadi." Jelas Pangeran Shun.
Erdwan mengeritkan dahinya, dia bingung dengan perkataan Pangeran, kalau dia memiliki aura sihir yang kuat seharusnya bola pendeteksi sihir memberikan sinyal warna yang berbeda. Namun tidak, menurut informasi yang dia dengar, bola tersebut bahkan tidak bereaksi untuk mengubah warna sama sekali. Jelas saja ini sangat aneh.
"Jangan bilang ini ada kaitannya dengan ulah Rukh hitam?" Celetuk Erdwan.
"Tidak mungkin, anak kecil seperti dia jelas sama sekali belum pernah membunuh seseorang." Tukas Pangeran Shun.
"Lalu kenapa bola pendeteksi tidak mengubah warnannya? tidak mungkin aura sihir itu bisa disembuhkan kecuali dengan sihir manipulasi yang kuat dari para Rukh."
"Jika ini memang ulah para Rukh, seharusnya aku bisa melihat ada beberapa Rukh yang mengitari gadis itu, namun tidak ada sama sekali." Jawab Pangeran Shun. Dia tahu bahwa Rukh yang bersembunyi hanya dapat dilihat oleh seorang penyihir agung dan Saint sepertinya, tetapi dia sama sekali belum pernah melihatnya berada di dekat Alexa sekalipun.
"Benarkah?, berarti anda belum cukup kuat Pangeran heheh."
"Sekalipun aku lemah aku pasti tetap bisa melihatnya, ini aneh... kecuali kekuatannya itu disegel oleh seseorang." Jawab Pangeran yang langsung mendapat anggukan dari Erdwan, pendapatnya itu terdengar sangat masuk akal untuk hal seperti ini.
"Kalau begitu Pangeran, apakah kau ingin menyelidiki kejadian yang menimpa calon istrimu itu?" Tanya Erdwan yang langsung mendapat acungan jempol dari Pangeran Shun. Mereka berdua pun setuju untuk diam-diam menyelidiki penyebab keanehan itu bisa terjadi pada Alexa.
Pangeran Shun pun berbalik kemudian pergi.
__ADS_1
"Oyy kau mau kemana?" Tanya Erdwan yang juga langsung membuntutinya.
"Makan. Laper nih."
Saat mereka berdua tiba-tiba ada seorang wanita yang menghadang jalan mereka. Dia langsung memberikan satu tendangan yang mengejutkan kepada Erdwan, dan sukses membuat Erdwan terpental beberapa meter.
"Cih kau lengah Pangeran Shun! Kau bahkan tidak pantas disebut sebagai Pangeran!" Teriaknya dengan percaya diri sambil menunjuk ke arah Erdwan.
Erdwan meringis kemudian menggertakkan giginya lantaran kesal karena tiba-tiba di tendang, ia pun mulai menyerang balik.
"Enak sekali kamu nendang nendang orang tapi gak mau di tendang!" Protes Erdwan kesal karena wanita itu malah terus-terusan berhasil menghindari serangan balik Erdwan.
"Sejak kapan Pangeran Shun jadi berkurang ketampanannya?!" Kata Pangeran Shun sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
Wanita itu berbalik sebentar untuk melihat Pangeran Shun. Sepertinya dia nampak bingung yang mana yang sebenarnya adalah pangeran yang akan dilayaninya nanti disitu.
Disisi lain Erdwan tersenyum kecil kemudian langsung mengambil kesempatan dari kesempitan wanita tersebut, dan dia berhasil membuat wanita itu terdiam tidak melawan.
"Sedikit saja kau bergerak, pedang ini akan mencium dan membuat bekas pada leher cantikmu itu." Ancam Erdwan sambil menempelkan pedangnya yang tajam pada leher wanita itu. Dengan tenang, wanita tersebut menggeser manik matanya mencoba untuk melihat orang yang mengancamnya.
"Siapa kau?" Tanya Pangeran Shun yang sudah berada di hadapannya sambil mengarahkan tatapan elangnya pada wanita itu.
Kini wanita asing itu sudah diapit oleh dua orang laki-laki yang sepertinya akan menginterogasi identitasnya lebih detail, karena mereka menganggapnya sebagai mata-mata yang bisa saja mengancam nyawa mereka.
.
.
.
***
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...