
Di tengah jalan menuju taman langkah pangeran Shun terhenti saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. "Kalian berdua lihatlah itu." Kata Pangeran Shun sambil menunjuk pada seekor burung berwarna biru berpadu dengan warna kuning yang sedang bertengger di atas pohon.
"Dia akan kujadikan imitasi sekaligus mata-mata ku." Imbuh Pangeran yang membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Pffftt dijaadiin kembaran Pangeran nyahahah.. betul sekali Pangeran emang mirip burung cebol kayak gitu." Kata Erdwan menanggapi.
TAK!
Sebuah pukulan mendarat sukses di kepala Erdwan. Sedangkan Elaine hanya tertawa menyeringai.
"Jangan meremehkan dulu, lihat yaa." Kata Pangeran Shun kemudian bersiul kemudian burung cebol itu mulai menghampiri ke arahnya.
Saat burung itu hinggap di tangannya Pangeran Shun langsung melakukan sihir kontak dengan mencium puncak kepala burung mungil itu. Saat terjadi proses kontrak banyak dedaunan hingga kelopak bunga sakura tiba-tiba saja berjatuhan, seolah-olah menari di sekitar mereka. Aku juga pengen jadi burung nyaaa..hiks. ༎ຶ‿༎ຶ
Beberapa detik kemudian, jenis burung parkit itu mulai berevolusi menjadi lebih bagus lagi. Pada bagian ekor burung tersebut terlihat seperti api biru yang menyala-nyala. "Kamu adalah aku, aku adalah kamu" ucap burung itu yang berbicara dengan suara yang sangat jelas didengar.
Erdwan dan Elaine pun terperangah tidak percaya melihat hal itu, baru pertama kalinya mereka melihat kontrak dengan hewan secara langsung seperti itu.
"Wahh apakah dia familiar mu Pangeran?" Tanya Elaine sambil tidak henti-hentinya berdecak kagum.
"Bukan, dia hanya tiruanku untuk sementara, bila waktunya tiba akan ku bebaskan lagi dia ke habitatnya."
"Nenek sihir, nenek sihir" kata burung cebol itu merutuk pada Elaine, Elaine langsung mengubah ekspresi wajah yang tadinya tersenyum jadi cemberut sekaligus jengkel.
"Aku masih muda sialan!!" Protesnya sambil bersiap hendak menerkam burung kecil itu.
"Haha nenek sihir." timpal Erdwan sambil menyeringai.
"Mulai sekarang namamu adalah Chun, Kau akan diberi misi untuk melaporkan hal penting yang kau dapatkan disini termasuk tentang Alexa, jika sesuatu yang jahat menimpanya kau harus melindunginya. Mengerti?" Kata Pangeran Shun sambil tersenyum tipis.
"Tidak mengerti." Jawabannya langsung. Pangeran Shun yang mendengarnya pun merasa jengkel kemudian melempar dengan kuat burung itu jauh-jauh.
"Huh sama sekali tidak mirip dengan ku." Ucap Pangeran Shun jengkel.
"Ngomong-ngomong kita harus segera menemui Alexa, aku sudah menyuruh raja Dylan untuk menjemputnya ketaman tadi, jadi kita hanya harus menunggu sampai orangnya datang kemudian menuju kesana." Pangeran Shun pun duduk dibawah pohon yang tersebut.
Erdwan ikut mendudukkan bokongnya di tempat itu kemudian dia menyandarkan dirinya di pohon. Dia menatap lekat Pangeran Shun yang sepertinya sudah lelah itu, Pangeran Shun memejamkan matanya perlahan kemudian tertidur pulas, tanpa sadar kepalanya mulai bersandar di pundak Erdwan. Sedangkan Erdwan hanya tersenyum tipis melihat Pangeran Shun, kemudian ia hanya diam sambil memandangi langit-langit.
Elaine meneguk salivanya kasar saat melihat mereka berdua seperti itu. Ingin rasanya dia berteriak senang karena jiwa fujoshinya mulai bangkit.
"Ya Tuhan, ada dua orang tampan yang sedang...noo sangat romantis nyaa..." Gumamnya kecil sambil senyam-senyum sendiri.
Setelah setengah jam berlalu, barulah Erdwan dan Elaine melihat Leca datang bersama raja Dylan. Lalu Erdwan pun membangun Pangeran Shun untuk segera menghampiri Leca.
Sesampainya di sana, Pangeran Shun tidak langsung menyapa gadis kecil itu dan lebih memilih untuk mendengarkan percakapan mereka. Sejujurnya Pangeran Shun dan Erdwan agak terkejut melihat Alexa yang saat itu terdapat perban di kepalanya, mungkin hal itu adalah penyebab dimana Alexa tidak bisa hadir beberapa hari kemarin. "Apakah terjadi sesuatu dengannya?" Batin Pangeran Shun.
Pangeran Shun masih diam menyimak percakapan mereka namun perkataan raja Dylan itu mengagetkannya. Dia tidak menyangka bahwa Leca yang selama ini nekat melamarnya itu justru memiliki seorang tunangan. Dan anehnya lagi kenapa Leca seperti mengharapkan kehadiran ruangannya itu meskipun pertunangan mereka sudah dibatalkan karena Alexa sudah dianggap bukan keluarga asli duke Kethzie.
Jelas saja menurut pangeran Shun pertunangan yang seperti itu memiliki maksud tersembunyi dibaliknya, hanya karena masalah kecil menimpa Leca dan pertunangan itu langsung dibatalkan sepertinya mereka mengincar potensi sihir yang berada dalam diri Alexa namun ternyata potensi sihirnya itu malah tidak ada, hingga akhirnya Leca dibuang begitu saja. Hmmm..
Pangeran Shun pun memutuskan untuk memanggil nama Leca agar gadis kecil itu menyadari kehadirannya, namun yang dipanggil itu terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tidak mendengarkan sapaannya.
__ADS_1
"Jadi sekarang dimana Pangeran Zio? Bukankah dia ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya karena kami dilarang bertemu setelah kami tidak lagi bertunangan?" Tanya Leca pada Raja Dylan.
Pangeran Shun tersentak, mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis kecil itu. Dia merasa sedikit kesal karena kehadirannya sama sekali tidak dianggap bahkan ia tidak dipikirkan sama sekali olehnya.
Pangeran Shun menghela nafas panjang kemudian memutuskan untuk berbicara meskipun agak kecewa terhadapnya. Mau bagaimana lagi, itu adalah pertemuan terakhir mereka yang sangat singkat dan dia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi hanya untuk diam.
"Leca. Aku ada disamping mu dan maaf karena aku bukanlah Pangeran Zio tunanganmu itu." Ucapnya Pangeran dengan penuh kekecewaan. Setelah berkata seperti itu, barulah Leca mendengar ucapannya dan menoleh ke arahnya, namun dengan tatapan asing seperti tidak pernah mengenalinya.
Selanjutnya seperti yang diceritakan pada POVnya Alexa Kethzie ya..
.
.
Flashback Off..!
.
.
BRUKKK!
Mereka bertiga tampaknya salah memilih tempat tujuan untuk berteleportasi, kini mereka terjatuh di sebuah ruangan yang cukup sempit yang ternyata itu adalah kamar mandi.
Pangeran Shun terjebur ke dalam bak mandi yang otomatis membuat pakaiannya seketika basah dan Elaine jatuh terduduk di lantai kamar mandi, sedangkan Erdwan...
"Aghhh tanganku menyentuh sesuatu yang.."
"Wahh parah Pangeran, apa kamu tidak bisa sihir teleportasi?!" Protes Erdwan kesal.
"Hehe maaf aku sudah lama tidak ke Arenthia jadi aku hanya menghubungkan sihirnya di tempat terakhir kali aku berada disini dan ternyata..."
"Ada apa ya ribut-ribut?" Ucap seorang nenek tiba-tiba karena merasa heran suasana di kamar mandinya itu terdengar sangat ramai.
Dannn....
Alangkah terkejutnya dia melihat tiga orang kini sedang tersenyum kikuk melihat kehadirannya.
Ditambah lagi ada seorang wanita dan dua orang pria disitu, mereka pasti mau melakukan sesuatu yang sangat tidak senonoh dan dilarang moral kemanusiaan di kamar mandinya.
TAK! TAK! TAK!
Nenek itu memukuli mereka dengan tongkat yang dipegangnya. Sementara mereka bertiga heboh mencoba untuk lari keluar tempat itu, tetapi pintunya terlalu sempit karena terhalang nenek.
"Biarkan aku lewat terlebih dahulu neeek." Kata Erdwan memelas sambil mencoba menerobos.
"Enak saja!" Nenek itu geram dan mencubit keras telinga Erdwan sehingga dia meringis kesakitan.
"Kesempatan!" Pekik Pangeran Shun yang langsung menerobos dan berlari keluar disusul Elaine.
"TIDAKKKK!!! pangeran jangan tinggalkan akuhh yang sedang tersiksa batin dan raga ini..." Teriak Erdwan yang melihat mereka berdua sudah kabur terlebih dahulu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Erdwan teringat sesuatu yang masih menempel ditangannya, meskipun hanya aroma namun sepertinya itu adalah jurus yang sangat jitu saat ini, dia pun tersenyum tipis.
"Maafkan aku nek,... jurus rahasia super bauuu!!" Kata Erdwan sambil menunjukan tangannya yang ternoda itu di depan wajah nenek, nenek itu langsung melepaskan cubitannya pada telinga Erdwan sambil berekspresi super jijik kemudian menutup kedua telinganya sendiri.
"DASAR ANAK MUDA TIDAK SOPAN!" Teriak nenek itu dengan suara melengkingnya yang memekakkan telinga.
Saat kesempatan itulah baru Erdwan menerobos dan berlari terburu-buru kabur dari sana.
"Ternyata ada untungnya juga ya tanganku yang tampan ini kena kotoran." Gumamnya sambil mencucikan tangannya di sebuah tempat air mancur yang ditemukannya tidak jauh dari sana.
Kemudian dia pun berlari menyusul Pangeran Shun yang berada sudah jauh darinya.
"Pangeran aku hampir mati tadi dan kamu meninggalkan ku begitu saja, kau tega!" Teriak Erdwan kesal.
"Ohh yaampun pengawal setiaku sekarat karena dipukuli oleh senjata tumpul yang ternyata sakit oleh si nenek." Cibir Pangeran Shun.
"Kau juga kan!"
"Ohh tentu saja aku sudah sembuh." Pangeran Shun menunjukkan tangan yang sempat kena pukul tongkat super tadi. Erdwan hanya menunjukkan wajah tidak suka-nya melihat keberuntungan besar tuannya itu.
"Pangeran kau berkata hanya 5 tahun? Bukannya kau harusnya menyelesaikan tugas ini dengan lebih lama?" Tanya Elaine yang teringat perkataan Pangeran Shun sebelumnya.
Pangeran Shun terdiam mendengar perkataan Elaine. "Kurasa aku bisa menyelesaikannya dalam waktu yang lebih cepat dari itu." Jawab Pangeran Shun dengan ekspresi seriusnya tanpa sedikitpun rasa ragu.
"Kesombongan akan membawa kesialan loh Pangeran." Timpal Erdwan. Sedangkan Pangeran Shun hanya dapat terdiam mendengar ucapan Erdwan.
Dia berfikir mungkin saja dia sudah berbohong dengan gadis kecil itu dan akan membuatnya berharap dalam waktu yang cukup lama.
"Ngomong-ngomong Pangeran, nasib burung yang kau lempar gimana? Apakah dia sudah kau beritahu yang mana Alexa?" Tanya Erdwan saat mereka sudah sampai di tempat yang cukup ramai di wilayah kerajaan Arrenthia.
Seketika wajah Pangeran Shun terlihat pucat pasi, kemudian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"WAHH GAAWAATTT!!" Pekik mereka berdua yang langsung panik mengingat tingkah yang menjengkelkan dari Chun si burung cebol.
Elaine menepuk jidatnya berkali-kali karena merasa kedua rekannya itu sama bodohnya dengan burung cebol itu.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1