Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 17 : Mawar Berduri


__ADS_3

Siang ini matahari terlibat malu-malu untuk menampakkan wujudnya. Sedangan awan putih berlomba-lomba untuk menghiasi langit menutup nutupi cahaya yang dipancarkan matahari. Hawa di sekitar pun menjadi lebih sejuk dan terlihat beberapa kupu-kupu berterbangan dengan ria mengitari bunga mencari nektar. Angin sepoi-sepoi turut menggerakkan dedaunan di taman memberikan ketentraman bagi semua orang yang berada di sana.


Terlihat sepasang insan sedang berjalan jalan di taman dekat mansion keluarga Kethzie. Mereka hanya hanya berjalan tanpa berniat mengeluarkan sepatah katapun untuk memulai percakapan.


Akhirnya langkah keduanya terhenti sampai di taman yang penuh dengan tanaman bunga. Pangeran Kenn menarik nafas pelan dan mulai membuka topik pembicaraan mereka.


"Lihat-lihatlah bunga-bunga ini sangat cantik,kau menyukai yang mana?" Tanya pengeran Kenn kepada Lavender. Lavender hanya melirik Pangeran Kenn sekilas untuk memastikan apakah dirinya yang diajak untuk berbicara.


"Aku menyukai bunga mawar.. bisakah kau mengambilkannya setangkai untukku?" Jawab sekaligus tanya Lavender santai sambil menunjuk ke arah mawar merah yang bernama latin Mister Lincoln tersebut. Mawar itu dikelilingi oleh bunga mawar lainnya seperti mawar Eden dan mawar Damask. Terlihat jelas bahwa bunga tersebut sulit untuk dicapai apalagi dipetik. Apabila dicapai pun maka orang yang mengambilnya harus rela tergores oleh duri mawar itu.


"Tentu" diluar dugaan ternyata Pangeran Kenn menyetujui nya. Kemudian dia pergi memetik bunga mawar merah itu. Setelah dia berhasil memetiknya setangkai, ia tidak langsung memberikan nya kepada Lavender.


"Kalau boleh tahu kenapa kau begitu menyukai bunga mawar?"


"Mawar dikatakan mawar bila iya memiliki duri,.. aku menyukainya pun karena bunga itu memiliki warna kelopak yang indah dan wangi bunganya yang harum, duri yang seringkali dikatakan orang bahwa itu merusak keindahan mawar digunakannya sebagai pertahanan dari para pengganggunya... siapa saja yang memetiknya karena terpana akan keindahannya dan tidak hati-hati saat memetiknya maka ia akan terluka karena duri mawar itu" Jelas lavender sambil menatap lekat bunga yang kini berada di tangan Pangeran Kenn.


Pangeran Ken tersenyum lantaran merasa tersindir, tangannya juga sedikit tergores saat mengambil bunga tersebut. Kenn juga tahu betul maksud dari perkataan Lavender.


Kemudian Pangeran Kenn menyelipkan munga mawar yang berhasil dipetiknya itu diantara rambut dan daun telinga Lavender, ia menyibakkan poni panjang Lavender kesamping dengan lembut. Karena perlakuan itu ia berhasil membuat Lavender menampakkan rona merah muda pada pipinya. Wanita itu terlihat sangat cantik bila dipadukan dengan bunga mawar, setiap pria pasti akan mengakuinya. Tentu saja jika pria tersebut adalah seorang pria yang normal.


Lavender meraih tangan Pangeran Kenn yang terluka kemudian menaruh telapak tangan Pangeran Kenn dipipi nya. Kemudian ia memejamkan matanya.


"Kalau begitu, hanya orang dengan tekat kuat dan mengerahkan segala usaha nya untuk dapat memetik mawar itu yang dapat mengambil nya, selain itu luka yang didapat orang tersebut saat berhasil memetiknya adalah bukti atas usaha dan keberaniannya"


Lavender tersenyum kecil. "Jika aku adalah bunga mawar itu. Apakah kau adalah orang yang akan memetikku?" Tanya Lavender.


"Mungkin saja, mungkin juga tidak..karena masih banyak bunga lain yang lebih indah dan lebih harum daripada bunga mawar yang berduri" jawab Pangeran Kenn sukses membuat lavender membelalakkan matanya dan menatap Pangeran Kenn tajam. Seketika Pangeran Kenn langsung menarik pelan tangan nya dari pipi Lavender kemudian ia tertawa kecil.


"Bercanda" ucapnya yang membuat Lavender menekukkan sedikit bibir nya kebawah. Wanita itu sama sekali tidak suka dengan candaan orang yang ada dihadapan nya.


Pangeran Kenn menatap lengannya yang sudah tidak terdapat luka goresan lagi.


"Ternyata kamu sudah mahir menggunakan sihir penyembuhan?"


"Yahh sedikit, Karena itu hanyalah luka gores saja"


"Baguslah, seorang penyihir Time Constrained seperti mu bisa menguasai nya adalah sesuatu yang sangat langka" puji Pangeran Kenn sementara Lavender menganggap bahwa hal itu sama sekali tidak pantas untuk dipuji.


"Hari ini kau terlalu mendadak untuk datang, setidaknya kau memberi kami waktu satu Minggu untuk mempersiapkan nya"


"Ahh begitu, tapi masalah pertunangan ini hanya dilakukan oleh keluarga kita saja, kita tidak akan mengundang tamu, seperti yang kita lakukan dulu entah kenapa ayahku juga kemarin membicarakan hal ini padaku untuk dilakukan secepatnya"


"Ohhh"

__ADS_1


Lavender kembali mengingat saat kemarin leca berulah disitu terdapat seorang wanita cantik yang menghampiri Pangeran Kenn untuk segera menghadap ayahnya.


Lavender berasumsi bahwa raja dan ayahnya sudah mendengar perihal kedekatan Pangeran Shun dan Alexa mungkin saja mereka langsung mengambil tindakan agar Alexa tetap berada bersama mereka dan semua nya berjalan sesuai kehendak mereka. Dengan demikian jarak kedekatan Alexa dan pangeran Shun menjadi menjadi lebih teratasi karena ikatan yang terjalin antara kedua nya. Pangeran Zio dan Alexa.


'bukankan dengan menyerahkan ku pada mereka saja sudah cukup untuk memenuhi keinginan mu ayah? Kenapa harus Alexa juga' batin Lavender.


Lavender tahu betul bahwa ayahnya itu tidak menginginkan tahta akan tetapi ia sangat menginginkan kehormatan dan kenyamanan dalam hidupnya tanpa diusik seorang pun tetapi jika ayahnya menginginkan sesuatu yang lebih dari itu maka ia harus memiliki nya. Dengan menyerahkan dirinya dan adiknya pada raja yang merupakan kerabat jauhnya. Maka ia tidak akan diusik lagi keberadaan nya untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya selain itu dia mendapatkan beberapa keuntungan politis lainnya.


Lavender menarik nafas berat karena tiba-tiba saja dalam pikiran nya terlintas saat saat terakhir bersama dengan ibundanya dan saat ibundanya itu pergi untuk selamanya tanpa sempat berpamitan dengan dirinya. Meskipun wanita yang dianggap nya ibu itu bukanlah orang tua aslinya namun dia sangat menyayangi wanita itu.


.


.


.


"Kamu harus jadi anak yang nurut sama ayah, bagaimana pun juga dia adalah ayahmu, dia tidak akan memarahimu jika kamu tidak salah.. ayah itu bukanlah orang yang jahat dan ambisius" pesan wanita itu pada Lavender sembari mengelus-elus puncak kepala lavender sembari menyisirkan rambutnya. Tidak pernah terlihat wajah sedih ataupun tangisan dari wajah wanita itu dan ia selalu menampakkan ekpresi tersenyum di wajahnya kepada siapapun.


"Baiklah ibunda" jawab lavender kecil sambil tersenyum lebar.


Bagaimana bisa hanya dengan kata-kata yang mudah diucapkan itu sangat menyiksa dirinya dan adiknya selama ini.


______________________________


"Ayah apa yang terjadi?!" Tanya Lavender panik.


"Diam kau anak j*lang!" Bentaknya.


"Ayah... Aku aku khawatir kalau terjadi apa-apa pada ayah dan ibunda" ucap Lavender sambil mencengkram kuat gaunnya. Tidak terasa air mata nya sudah mengalir membasahi pipinya.


"Apa yang terjadi padamu" tanya Illona yang merupakan ibu aslinya Lavender dengan cuek.


"Mamah" pekik Lavender karena terkejut ibunya sudah ada di rumah.


Beberapa pelayan membantu membersihkan luka dan darah di tubuh Duke Claoudie Kethzie, ayahnya Lavender. Sementara itu Lavender terus menerus merasa gelisah karena ibundanya tidak kelihatan. Ingin sekali ia bertanya pada ayahnya namun niatnya segera diurungkan.


"Ibunda... Cepat pulanglah..." Lirihnya.


Claoudie dapat mendengar suara Lavender dengan jelas kemudian ia mulai berdecak kesal. Ia mengalihkan pandangannya pada lavender yang tengah berdiri sambil terus menerus terlihat gelisah. Berkali-kali dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga tampak noda merah keluar dari mulutnya.


"Dia sudah mati" ucap Claoudie yang sukses membuat lavender membelalakkan matanya. Ia segera memeriksa kalung pemberian ibunya yang dikenakan di lehernya itu. Warnanya pun juga sudah berubah menghitam menandakan tidak ada lagi sisa aura kehidupan dari pemilik nya.


"Ti tidak mungkin!!" Teriak Lavender sambil menangis. Bagaimana ini bisa terjadi! Tadi pagi baru saja ia bersama ibundanya berbincang seperti biasa. Bagaimana bisa dia lenyap begitu saja meninggalkan Lavender untuk selamanya.

__ADS_1


"Dimana ibunda sekarang?!" Tanya Lavender. Claoudie sama sekali tidak membalas perkataan nya kemudian Lavender pergi keluar sambil menangis mencari-cari jejak yang ditinggal kan oleh wanita yang selama ini mengurus dan memberikan kasih sayang padanya. Namun semuanya nihil. Semuanya hilang bagaikan ditelan bumi.


Saat lavender memeriksa kamarnya pun ia tidak mendapati apa-apa. Pakaian dan semua barang barangnya hilang begitu saja dari tempat itu. Ia frustasi dan hanya dapat terduduk lemas sambil menangis tersedu-sedu.


.


.


.


Tidak lama setelah itu Lavender mendengar kabar kemunculan saint. Ia juga menyadari reaksi ayahnya yang jelas-jelas sangat membenci Saint.


Apakah kejadian beberapa hari yang lalu ada kaitannya dengan Saint itu? apakah ibunda juga terlibat? batinnya.


Beberapa Minggu kemudian ia mencoba melupakannya namun ia bahkan tidak bisa lupa. Karena di dalam rumah itu terdapat Alexa, Adik tirihnya yang sifatnya sangat periang mirip seperti ibunya. Sejak saat itu ia berusaha menjaga dan melindungi adiknya.


Karena Alexa masih kecil dia selalu berusaha untuk mencari perhatian dari orang tua terutama ibu nya. Namun ia sering kali tidak dipedulikan dan malah mendapat kekerasan sebab dianggap merepotkan. Karena Lavender tidak selalu berada disisinya untuk mengurusnya maka ia tidak selalu bisa melindunginya. Tapi saat Lavender ada maka Lavender lah yang akan menanggung beban nya. Selama itu juga rasa kesal dan dendamnya terpupuk dalam hatinya hingga tak mampu ditampung lagi. Puncaknya saat illona memberikan racun pada teh hijau yang di sediakan untuk Alexa. Karena merasa geram Lavender kemudian melakukan hal yang sama kepada illona.


____________________________


Pangeran Kenn menyadari lavender, tunangan nya itu sedang melamun. Kemudian ia menepuk pundak Lavender pelan.


"Kau sedang apa?" Tanya Pangeran.


"Ahhh... Tidak.. hanya teringat masalalu."jawab lavender gagap setelah pikirannya sadar sepenuhnya.


Pangeran Kenn hanya tersenyum menanggapi. "Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam untuk melanjutkan acara pertunangan kecil mereka"


Lavender hanya mengangguk. Setelah itu mereka berdua berjalan berdampingan tanpa bergandengan tangan.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2