Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 79 : Supermen


__ADS_3

Pagi ini aku benar-benar dilanda kesialan, mataku sangat mengantuk tetapi aku harus berangkat ke akademi Aldric untuk menuntut ilmu.


"Ayolah Leca! Tangan kantukmu!" Gumamku sambil menepuk-nepuk pipiku.


Padahal aku barusaja mandi tetapi air dingin disini tidak sama sekali menghanyutkan rasa kantukku.


Setelah mengganti pakaianku, aku segera keluar kamar untuk istana untuk makan pagi keluarga, disitu juga ada Pangeran Zio dan Pangeran Kenn tentunya. Aku harap Pangeran Shun juga diundang untuk datang ke sana.


"Sini nona Alexa silahkan duduk," kata Chaser sambil menggeserkan meja untukku.


"Terimakasih Chaser,"


Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan dan tidak mendapati Pangeran Shun.


"Kau mencari Pangeran Shun?" Tanya Pangeran Kenn yang sudah duduk di samping kursi milik kakakku.


Sedangkan kakakku sendiri baru datang dengan membawa sekotak selai di dalam wadah.


"Hmmm... Yaaaa," jawabku singkat.


Pangeran Zio langsung melirik ke arahku, "Kemarin kau tiba-tiba meninggalkanku sendirian dan membiarkanku mencari bahan-bahan itu, tidak akan kumaafkan!" Kesal Pangeran Zio lalu memasukkan secomot roti di mulutnya.


"Hehehe maaf Pangeran, soalnya ada kejadian penting yang membuatku lupa kalau aku lagi ngejalanin hukuman dari Elissa,"


Pangeran Zio sendiri tidak mempedulikan perkataan ku karena sibuk dengan kegiatannya sendiri.


"Ayolah maaf Pangeran, aku berjanji akan melakukan apapun untukmu sehabis ini," kataku memohon.


"Apapun?"


"Yaaaa,"


"Kau jadi babuku seharian, titik,"


Yaampun kukira bakal disuruh hal yang sulit-sulit, ternyata cuma disuruh jadi babu. Ini mah gampang!.


"Baiklah, okee." Jawabku tanpa pikir panjang.


Ketika Raja Claoudie masuk ke dalam ruangan makan, kami menjadi bisu dan tidak berani berbicara sedikitpun. Pangeran Zio langsung menghentikan kegiatan makannya lalu menunggu ayahku untuk makan terlebih dahulu.


Ayahku tiba-tiba menatap tajam ke arahku kemudian menghela nafas panjang, "Makanlah, jangan sungkan," katanya sambil mengambil secawuk nasi ke piringnya sendiri.


Selama beberapa saat aku gugup, kemudian ikut mengambil makanan dari meja makan dengan porsi sedang.


"Pangeran Kenn, persiapkan dirimu untuk menikah dengan Lavender Kethzie, karena aku sudah tidak mau lagi menjadi raja," kata ayahku tiba-tiba.


"Uhukkk uhukk!" Pangeran Kenn terbatuk-batuk karena terkejut.


"Ini sudah lewat dari waktu yang kau janjikan, apa sekarang masih tidak cukup? Padahal kamu terlihat mampu dengan kapasitas otakmu itu,"


Aku mengedipkan mataku pelan, sepertinya kakakku akan akan menjadi kakak iparnya Pangeran Zio dan kami secara tidak langsung akan menjadi saudara. Hmm itu tidak buruk.


"Baiklah, aku akan melakukannya dalam waktu dekat," jawab Pangeran Kenn terlihat tidak ikhlas. Aku dapat dengan jelas melihat wajah terpaksanya.


Xixixi sabar yaa Pangeran Kenn..itu deritamu sendiri karena disukai sama villainess.


Tapi sebenarnya aku mendukung hubungan mereka sih, toh tidak akan buruk kalau keduanya bersatu, orang pintar sama orang pintar lagi kan? fufu.


.


.


.


***


.


.


.


Ketika aku berangkat ke akademi Aldric ternyata aku baru menyadari bahwa aku melakukan keputusan yang sangat ceroboh. Bisa-bisanya aku mau saja disuruh menjadi babunya Pangeran Zio. Ternyata dia sangat tidak berhati dalam memerintahkan babu-babunya.


"Wahh Leca, apatuh yang kau bawa... Banyak sekali," kata Natte sambil menatapku heran.


"Buku, alat lukis, pedang, tas besar yang berat, sepatu dan lain sebagainya," jawabku kesal lalu menaruhnya sembarangan di meja Pangeran Zio.


"Wah emang kamu pelayanannya?"


"Iya, dalam sehari ini aku pelayanannya," jawabku sambil memutar bola mataku jengah.


"Hahahaha sabar yah Leca, itu emang pantas kamu dapetin, sekali-kali kek dapet susahnya," kata Natte lagi.


"Yaampun Natte setidaknya kau bantu aku kek!" Balasku kesal.


"Sayangnya aku enggak mau," kata Natte lalu duduk santai di dekatku.


"Ohh iya Kecha kemana?" Tanyaku pada Natte.

__ADS_1


"Dia... Kelihatannya selalu murung beberapa hari ini, entahlah sepertinya dia tidak ingin lagi bergaul dengan kita,"


"Shhhhttt Natte kau bicara apaan sih, tidak mungkin Kecha seperti itu,"


"Yaudah kalau kamu tidak percaya, aku juga tidak mau peduli sih,"


Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan melihat kelakuan Natte yang tidak peduli sama sekali pada Kecha.


"Aihh Miss Celine udah datang," kataku sambil berbisik pada Natte.


"Aghh jujur aku tidak suka materi," keluh Natte.


Barusaja aku mau mendudukkan bokongku di tempat duduk dengan nyaman eh malah tiba-tiba dipanggil seseorang yang menjengkelkan.


"Lecaa... Sini, kau harus duduk di sampingku," kata Pangeran Zio sambil menyeringai.


"Yaelahh!" Kesalku kemudian terpaksa duduk disamping Pangeran Zio.


"Aku kepanasan, kipasin yah sampai pelajaran selesai," ujarnya tanpa belas kasian.


Huuuffftt


Ku genggam keras kipas yang diberikannya lalu menarik nafas dalam.


"Sabar Alexa... Sabar jangan ngamuk di kelas," gumamku sambil tersenyum terpaksa.


"Semangat yaa," kata Natte dari jauh mengepalkan tangannya lalu menggoyangkannya satu kali di depan wajahnya untuk menyemangati diriku.


Aku mengangguk singkat sebagai respon dariku kepada Natte yang senang melihat seseorang menderita, lebih tepatnya dia hanya suka melihatku menderita tanpa ada niat untuk menolong.


"Okeh jadi pada materi saat ini kita akan mempelajari tentang pelajaran yang mungkin sudah sewajarnya kalian tahu di usia kalian sekarang yaitu membahas seputar organ reproduksi manusia,"


"Kok pelajarannya sama kayak pelajaran sewaktu kelas sembilan SMP dan dua SMA dulu sih," gumamku sambil mengedipkan mataku berkali-kali.


Pangeran Zio langsung melirik kearahku, "Kau sudah mempelajarinya?" Tanyanya heran.


"Yapss sudah, tapi aku tidak terlalu menyimak dan hanya tidur di sepanjang pelajaran mueheheh," Jawabku yang langsung mendapat ekspresi datar darinya.


"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Kecha yang langsung duduk di sebelahku.


"Ishh Kecha main nyelonong aja..."


"Kenapa apakah aku mengganggu kalian?" Tanyanya Kecha sambil menunjukan wajah yang sedikit sinis... Mungkin.


"Tidak... Hanya kau hanya sedikit mengagetkanku,"


"Baiklah berarti tidak masalah kan," katanya sambil tersenyum anggun.


"Pertama-tama kalian pasti sudah pada mengalami menstruasi kan bagi yang perempuan?" Tanya guru itu.


"Yeeahh kurasa kau sudah," kata Kecha sambil menunjukku tiba-tiba.


"Enak aja! kau juga sudah nonaa Kecha yang cantik," balasku tidak terima.


"Aihhh sepertinya aku harus pindah tempat duduk," ucap Pangeran Zio yang terlihat resah.


"Jangan ada yang bertingkah untuk pindah tempat duduk saat jam pelajaran berlangsung," Tegur Miss Celine saat melihat Pangeran Zio beranjak.


Karena mendapat teguran, dia pun terpaksa menurutinya.


"Dan bagi kalian para pria pasti sudah mengalami mimpi basah kan? Jika kalian sudah mengalami tanda-tanda seperti itu, berarti kalian sudah dalam masa perkembangan untuk menuju kedewasaan, dan sebutan untuk orang yang berada dalam tahap ini adalah remaja,"


"Dalam fase ini organ reproduksi kalian akan mulai menjalankan tugas sebagaimana fungsinya,"


"Ohh," ucap seseorang yang kukenal sebagai Angela.


Dia hanya ber oh ria kemudian menatap guru itu dengan wajah tidak berminat.


"Baiklah pertama-tama saya akan menjelaskan tentang organ reproduksi pria yang terbagi menjadi organ bagian luar dan bagian dalam,"


"Kenapa... Kenapa harus yang pria dulu..." Ucap Pangeran Zio sambil memijat keningnya.


"Kenapa Pangeran? Bukankah kau harusnya tidak malu karena kau yang punya?," balasku.


"Lecaaa... Sungguh tidak sopan berkata seperti itu," tegur Kecha sambil menatapku dengan senyumannya.


"Sudahlah kipasin aku lebih keras, panas huh," Tukas Pangeran Zio.


Sambil terus menggerutu tidak jelas akupun mengipasi orang jahat dihadapanku dengan sangat terpaksa.


"Leca, kau mendengar apa yang dikatakan saya?" Tanya sang guru kepadaku.


Aku tersentak kemudian langsung terdiam, Gawatt! aku terlalu fokus mengipasi anak manja ini.


Sontak aku menggelengkan kepalaku, "Kurasa aku mendengar sesuatu tentang supermen," jawabku sambil cengengesan.


"Suupermen?" Tanya Kecha dengan wajah polosnya.


"Kudengar tadi Suparman Zio deh," sambung Kecha lagi.

__ADS_1


"Suparmaa to Zio," sambung Angela dengan bangganya.


"Astagaaa... Jangan bilang," gumamku sambil tersenyum kikuk.


"Spermatozoa," Imbuh Natte.


"Yaaa spermatozoa lain Suparma to Zio please," kata Pangeran Zio semakin di buat pusing karena namanya disebut-sebut.


"Yaampun... heheh malunya," gumamku sambil menutup sebagian wajahku dengan kipas yang kugenggam.


Miss Celine menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Makannya pelajaran itu diperhatikan, bukan dibuat main-main, mentang-mentang pelajarannya itu terdengar ambigu bagi kalian, ingatlah seusianya kalian ini bahkan sudah banyak rakyat jelata yang menikah dan memiliki anak," Ujar Miss Celine sambil memarahi kami dengan nasihatnya.


"Baiklah Miss," jawab kami semua serempak.


"Ada yang ingin kalian tanyakan?"


Semuanya menggelengkan kepalanya cepat, pasti tidak ada yang mau bertanya seperti biasanya, mereka cepat-cepat menantikan waktu istirahatnya.


"Leca, siang ini kau temani aku ke perpustakaan istana, lagian... ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, " titah Pangeran Zio saat kami tengah berjalan di koridor.


"Enggak! Aku mau ngelakuin sesuatu yang penting!" Kesalku lalu berbalik untuk pergi meninggalkannya.


Namun Pangeran Zio menahan tanganku tiba-tiba, dia menggenggamnya sangat erat hingga membuatku sulit untuk melepaskannya.


"Sakit tau!" Teriakku keras didepannya.


"Sudah kubilang untuk tetap di sisiku, ingat sekarang kau itu babuku lecaaaa," katanya dengan nada tenang.


"Tapi aku ingin bertemu dengan pangeran Shun!" Kataku sambil menatapnya tajam.


Dia tertegun kemudian melonggarkan genggamannya. Namun yang lebih mengejutkan dia tiba-tiba melakukan hal yang terduga dengan memelukku di depan umum.


"Lecaa, jangan pergi dari sisiku..." lirihnya sambil mengeratkan pelukannya.


Seketika aku membelalakkan mataku karena tidak percaya, apa-apaan maksudnya? Kenapa dia bisa bertingkah berlebihan seperti itu, padahal aku hanya ingin menemui kekasihku saja.


"Tetaplah disini..." Katanya lagi dengan nada yang lembut, dia terlihat seperti anak kecil yang tidak ingin kehilangan boneka kesayangannya.


"Hoiiiii! Bocil sialan! Berani-beraninya kau meluk cewek orang!!" Teriak pangeran Shun membuat aku dan Pangeran Zio terperanjat kaget.


"Sini berani baku hantam dulu sini sini!!" Kesalnya namun ditahan oleh Erdwan yang tiba-tiba menarik belakang almamaternya dan membuatnya langsung tercekik.


Uhukkk!


"Hei kau menghalangiku," kesal Pangeran Shun.


"Tahan rasa cemburumu Pangeran, ingat di dalam catatan yang kuberikan itu tertera tetap terlihat santai walaupun kau melihatnya bersama dengan lelaki lain," imbuh Erdwan.


Pangeran Shun menarik nafas dalam kemudian bergegas menghampiriku lalu menarik tanganku ke pelukannya, "Jangan sentuh dia, karena dia milikku sekarang!" Tegasnya pada Pangeran Zio.


"Huwaa~ Pangeran, kau sangat kereennn..." Ucapku yang langsung membenamkan wajahku di dadanya karena malu.


"Tapi dia itu budakku, dia milikku saat ini!" Ucap Pangeran Zio yang mengejutkanku.


Dia benar, hari ini aku menjadi budaknya, karena itu aku harus menuruti perintahnya... Tapi...


Pangeran Shun mengambil segenggam uang koin yang terbuat dari emas di sakunya, kemudian memberikannya kepada pangeran Zio, "Kudengar budak bisa dimerdekakan dengan uang," kata Pangeran Shun sambil tersenyum tipis.


Pangeran Zio langsung menepisnya membuat uang itu berserakan bebas di lantai, "Aku tidak perlu penghinaan darimu!" Bentaknya sambil menatap tajam Pangeran Shun.


Erdwan yang melihat persaingan sengit di antara mereka berdua langsung menyeringai kecil.


"Kalau begitu bagaimana jika kalian berdua duel?" Usul Erdwan sambil tersenyum simpul.


"Aku tidak keberatan," jawab Pangeran Shun merasa tertantang.


"Baiklah," jawab Pangeran Zio tidak ingin kalah.


"Hadiahnya... kalian bisa memiliki nona Alexa Kethzie sepenuhnya," ucap Erdwan sambil menunjuk ke arahku.


"Eh? Kok aku???!!!"


"Iyaa Nona," jawab Erdwan sambil menyeringai.


"Hmm menarik!!" ucap keduanya antusias.


"HEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!!!!!!"


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2