
Sebuah hari di tengah musim yang seharusnya menjadi perayaan kelulusan, sesuatu yang menyenangkan harusnya terjadi bukan sesuatu yang mengerikan.
Kala itu seseorang yang asing datang menyapaku, lalu berkata dia mencintaiku kemudian menghancurkan seseorang yang kucintai.
Dia ingin merebut ku tapi pangeran Shun ingin mempertahankan ku, dia berjuang sekeras itu hanya demi aku.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya spesial dari diriku, kalau mereka memperebutkanku maka aku akan mengakhirinya dengan membunuh diriku sendiri, aku ingin lenyap saja.
Tapi aku sadar kalau masih ada seseorang yang membuatku ingin bertahan, dia adalah seseorang yang kucintai. Selain itu ada banyak orang lain yang menjadi temanku, mereka semuanya berarti karena itu aku ingin melindungi mereka tapi aku bahkan tidak dapat berbuat apa-apa.
Aku melihat ke arah pergelangan tanganku, disana terdapat sebuah segel yang sebagian tandanya sudah memudar.
Aku tahu bahwa Chun telah tiada, entah siapa yang membunuhnya, pasti dia bukanlah orang sembarangan. Aku sangat membenci orang itu.
Ingin sekali aku meneriakinya, berani sekali membunuh Chun ku, padahal Chun sudah banyak membantuku, meskipun Chun agak menyebalkan tapi dia keluargaku, dia selalu berharga buatku.
Sudah tidak berarti lagi aku mencoba menghancurkan kekkai ini dengan tenagaku. Semua usahaku sia-sia, kini aku hanya meringkuk sambil menatap ke arah mereka, berharap bahwa pangeran Shun selamat.
Tanganku terus mencoba menembus penjara transparan ini tapi tidak bisa. Ini membuatku merasa payah dan hanya bisa menangis setiap kali melihatnya terluka.
***
"Ahh sial!" Decak pangeran Shun yang melihat bibirnya mengeluarkan darah.
"Kau hanya saint palsu, jadi kau tidak layak bersama seorang Magise cantik sepertinya," ucap Dummy sambil menatap ke arah pangeran Shun yang sudah kelelahan.
"Tidak akan kubiarkan dia jatuh ke tangan seseorang yang aneh sepertimu!" ucap pangeran Shun kesal.
Dummy tersenyum kecil lalu mendekat ke arah pangeran Shun dengan cepat lalu memukul lehernya dari belakang.
"Agh!" Pekik pangeran Shun.
"Hemm lemah! masih saja bersikeras untuk menang,"
Pangeran Shun yang jatuh tersungkur ke tahah lalu bangkit perlahan lalu mendekat lagi dengan kecepatan kilat untuk membalas pukulan pria itu tapi meleset ke depan dan hanya merusak pepohonan yang dikenai olehnya.
Terlihat jelas bahwa Dummy bisa menyeringai puas meskipun begitu dia juga sama terluka tapi tidak separah milik pangeran Shun yang mulut dan dahinya sudah dipenuhi darah.
"Karena sebelumnya aku belum pernah kalah dalam setiap pertarungan, karena itu aku juga tidak akan kalah melawanmu" ucap pangeran Shun masih tidak menyerah.
"Hoooh kau pasti hanya menginginkan kekuatannya saja kan, dia adalah sumber keabadian mu bukan?"
"Yahh itu benar, tapi aku juga mencintainya, dia adalah seseorang yang tidak ingin aku lepaskan!"
"Kalau begitu aku juga sama sepertimu," kata Dummy sambil menatap ke arah pangeran Shun tajam.
Dia terlihat seperti ingin mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Apa maksudmu?!" geram pangeran Shun lalu mengambil pedangnya yang sempat terlempar lalu menyerang Dummy.
__ADS_1
Tapi Dummy menggunakan cara licik, dia menggunakan kloning dirinya dari kayu sehingga ketika pangeran Shun menyerangnya dia hanya memotong sebuah kayu.
Pangeran Shun terkejut lalu menatap ke segala penjuru, dia terlihat sangat was was dan benar saja serangan datang dari samping tapi berhasil ditangkisnya.
"Berakhirlah sekarang!" teriak Dummy lalu merapalkan sihir yang membuat pangeran Shun seketika tumbang.
"TIDAKKKKK!" Teriakku panik mencoba untuk mendobrak kekkai ini tapi sia-sia.
Aku tidak bisa melihatnya begini, padahal pangeran Shun barusaja terluka, tapi dia malah di serang dengan gila dan membuatnya kehilangan banyak darah. Sekuat apapun dia tetaplah manusia, dia tidak akan tahan jika seperti ini terus. Aku harus menghentikannya.
Tidak lama setelah itu Chaser yang terluka parah terbangun dari pingsannya, dia mencoba bangkit tapi sudah tidak bisa hingga akhirnya ia menatap kesal ke arah Dummy yang kini menuju ke arahku.
"Mau apa kau kesini!" Teriakku kasar.
Aku membencinya, dia sangat kasar, dia berniat untuk membunuh pangeran Shun dan Chaser, sampai mati pun aku tidak sudi untuk menjadi pengantinnya.
Dummy melangkah pelan ke arahku, tampaknya dia sudah kelelahan karena bertarung. Dalam hitungan detik kekkai yang mengurungku memudar dan menghilang.
Dengan cepat aku berlari ke arah pangeran Shun tapi Dummy meraih tanganku, mencegahku untuk berlari.
"Lepaskan, mereka sekarat, aku tidak ingin kehilangan mereka!" Bentakku padanya.
Dummy malah mengeratkan genggaman tangannya lalu menarikku ke dalam pelukannya.
"Tapi aku tidak ingin kehilanganmu, sekarang sudah tidak ada waktu lagi, sebaiknya kita segera pergi," bisiknya padaku.
Aku menaruh kepala pangeran Shun di pahaku lalu ku belai lembut rambutnya yang kacau. Wajahnya juga dipenuhi oleh noda merah dan aku membersihkannya perlahan dengan gaunku.
Aku tidak percaya ini dan keadaannya yang seperti ini membuatku sangat cemas.
Bahkan pangeran Shun hanya diam saat ku panggil, bahkan matanya tidak terbuka sedikitpun ketika aku membisikan namanya, dia yang dipenuhi oleh darah membuat seluruh tubuhku kaku dan mati rasa.
"Tidak mungkin dia mati kan?" Tanyaku tidak percaya pada diri sendiri.
"Tidak, dia hanya kubuat pingsan, lagian aku juga menyembuhkan setiap luka dalam mereka, dalam hitungan satu atau dua jam lagi, mereka akan baik-baik saja," balas Dummy sambil tersenyum ke arahku.
"Kau tidak berbohong?" tanyaku pelan.
"Iyaa, kau bisa mengeceknya langsung dari nafas dan detak jantungnya." jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Baiklah." Kataku mencoba untuk mempercayainya dan mengeceknya langsung. Aku membungkuk lalu menaruh telingaku di dadanya, benar saja ternyata jantungnya masih berdetak dan dia juga bernafas di dekatku.
Aku menangis lega lalu memeluknya erat. "Syukurlah setelah kau bertarung sekuat itu kau masih baik-baik saja pangeran." ucapku senang.
Ahh aku tidak tahan lagi melihat wajahnya yang terlihat dari jarak yang sangat dekat, bukannya aku ingin mengambil kesempatan tapi aku hanya mencintai dia lebih dari apapun.
Setelah itu tanpa sadar aku menciumnya. "Maafkan aku, tapi aku harus pergi," bisikku pelan di telinganya.
Kemudian aku bangkit dari sana meninggalkan dia dan Chaser dengan berat hati. Mau bagaimana lagi, mereka sudah kalah dan aku akan ikut bersamanya dan menjadi pengantinnya.
__ADS_1
"Hey kau terlihat ingin menangis," katanya sambil mulai menggenggam tanganku.
Aku menggeleng cepat tetapi air mataku tetap jatuh.
Bagaimana bisa aku tidak menangis, aku merasa telah gagal karena membatalkan perjanjian ku yang kubuat sendiri, padahal dulu akulah yang berjanji akan menjaga dan menikahi pangeran Shun tapi justru kini akulah yang membatalkannya.
Pada akhirnya aku ikut berjalan di belakang Dummy tanpa mengetahui tujuanku, sedangkan 5 peri itu di tugaskan Dummy untuk menjadi milik mereka dan merawat mereka.
Dummy tiba-tiba saja memelukku erat tapi aku tidak membalasnya. Lagian aku tidak mengenal orang ini meskipun kadang aku merasa familiar dengannya.
Mungkin Dummy merasa simpati karena sedari tadi aku terus berwajah murung.
"Aku berjanji, aku akan menjagamu kali ini dan membuatmu bahagia." Ujarnya lalu melepas pelukannya dengan senyuman tipis dan menyeka air mataku pelan.
Entah kenapa setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti bukan ditujukan kepadaku tapi kepada orang lain yang sangat dicintainya.
"Hey Dummy... Apa kau pernah jatuh cinta sebelumnya?" Tanyaku yang sontak membuatnya langsung menatapku dengan ekpresi terkejut.
"Tidak," jawab Dummy langsung.
Tapi aku tahu dia berbohong. karena tidak mungkin orang jujur berekspresi seperti itu.
Aku jadi ingin tahu, kenapa dia tiba-tiba menginginkanku untuk jadi pengantinnya. Atau siapakah orang yang dulu disukai olehnya. Tapi semua rasa penasaran itu hanya sebagian kecil dari perasaan campur adukku sekarang, baru berpisah beberapa menit saja aku sudah merindukan pangeran Shun. Sudah kuduga, perasaan ini akan sangat menyiksaku kedepannya.
Tidak lama kemudian Hujan deras tiba-tiba turun membasahi seluruh hutan ini tanpa terkecuali, semua pikiranku kini tertuju pada pangeran Shun, bagaimana keadaannya sekarang dan siapa yang menyelamatkannya. Hal itu membuatku gelisah.
Tapi Dummy tersenyum lembut kerahku, "Pangeran Shun mu dan teman-teman mu pasti baik-baik saja," ujarnya membuatku sedikit lega.
"Andai saja ada Chun bersamaku," lirihku pelan.
Seandainya Chun masih ada, setidaknya aku tidak akan merasa sangat kesepian ketika berada jauh dari pangeran Shun. Karena Chun adalah bagian diri dari pangeran Shun dan aku menyukainya sebagai keluarga ku.
Dummy hanya melirik pelan ke arahku, tampaknya dia merasa bersalah tapi dia tidak bisa membantu banyak. Setidaknya dia sudah membuat pangeran Shun aman dengan peri-peri hutan itu yang merawatnya.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1