Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 92 : Selamat Tinggal


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Lily, Erdwan dan Angela sedang mencari para peri hutan kecil yang bersembunyi di hutan. Setiap kali mereka melihat cahaya terang atau suara aneh mereka akan memeriksanya dengan cermat, tetapi mereka tidak menemukan apapun, yang mereka temukan malah hewan seperti ular, kunang kunang dan sebagainya.


"Eeww, katanya tempat tinggal para peri, tapi kumpulan peri pun tak ada yang terlihat disini," keluh Angela.


"Sabar neng, dengan kesabaran kita pasti akan menemukan peri-peri itu, karena tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil," kata Erdwan yang menyemangati mereka dari tadi tapi tidak membantu sama sekali.


"Sabar sabar! tapi dari tadi kau tidak membantu kami sama sekali, dasar tidak becus," sindir Angela.


"Yah habisnya tugasku adalah melindungi kalian kalau ada musuh,"


"Alasan, tadi aja ketemu ular siapa yang lari duluan?"


"Hehe itu kesalahan kaki yang tiba-tiba lari, mohon dimengerti"


Lily lantas memerintahkan mereka untuk diam, dia sepertinya mendengar sesuatu. Dan itu terdengar seperti suara ledakan guntur ataupun getaran gempa.


Mereka semua tersentak dan sama-sama menoleh ke arah samping.


"Se-sepertinya di daerah sana terjadi sesuatu, ayo kita periksa," kata Lily lalu beranjak.


"Mungkin di sana terjadi bencana alam, mending kita tidak usah mendekat," cegah Angela.


Lily menghambuskan nafas panjang mencoba untuk berpikir positif, "Mungkin sih," ujarnya sambil mencoba untuk tetap tenang.


"Tidak, suara itu berasal dari pangeran Shun dan budakku," kata Chun yakin.


"Benarkah?" Tanya Lily kaget.


"Ya," jawab Chun mengiyakan.


Lily langsung melanjutkan langkahnya dengan ke depan, "Kalau gitu ayo kita kesana," ujarnya diiringi anggukan dari Erdwan dan Angela.


Splash!


Sebuah sihir air menyiram mereka semua dari belakang, mereka pun segera berbalik untuk melihat siapa orang yang mengejutkannya.


"La lavender?!" Kaget Erdwan.


"Hmp, apakah kalian sudah menemukan peri-peri kecil itu?" Tanya pangeran Kenn pada golongan matahari.


"Belum," jawab Lily.


"Sama," kata pangeran Kenn.


"Menurut informasi yang kudengar, peri hutan di seluruh tempat ini hanya ada lima, jadi wajar jika manusia setengah hewan tersebut sulit untuk ditemukan," terang pangeran Kenn.


"Pantas saja kami susah mencarinya," kata Erdwan.


"Aku tidak ingin tahu soal peri hutan, sekarang beri tahu aku di mana Alexa!" Titah Lavender.


"Dia bersama pangeran Shun, kami berpencar," jawab Angela jengah.


"Huh kalian mengganggu saja, pergilah sebelum aku berubah pikiran," kata Lavender dengan tegas.


Angela merasa tersinggung oleh perlakuan Lavender, dia pun menatap tajam ke arah wanita yang kasar padanya tadi.


"Cih," decak Angela kemudian menepi.


Lavender pun berjalan dengan angkuh dihadapan wanita itu, seakan-akan menunjukkan dia adalah pemimpin di kumpulan itu.


"Singkirkan!" Perintah lavender pada teman-teman teamnya.


Seketika mereka yang tadinya terlihat bersahabat langsung menyerang team Erdwan yang tanpa persiapan.


"Circle Of Fire," gumam pangeran Kenn lalu terbentuklah sebuah batas berupa lingkaran api kekuningan yang mengelilingi mereka. Mereka pun tidak dapat keluar dari tempat itu untuk melarikan diri.


"Cih apa maksudnya ini?!" Kesal Erdwan.

__ADS_1


"Hoho apa kau lupa, bahwa peraturan permainan ini menyebutkan kita boleh membunuh dan menyingkirkan siapa saja," jelas Lavender.


Lily tersentak, dia tidak menyangka bahwa pangeran Kenn akan menyerang dirinya sebagai musuh, padahal sebelumnya mereka selalu berteman baik, ia merasa bahwa itu bukanlah pangeran Kenn, melainkan orang lain, tapi di hadapannya itu memanglah sosok pangeran yang selama ini menjadi teman dekatnya.


"Kenapa? kenapa mereka sangat ingin menyerang? padahal pangeran Kenn adalah seorang pangeran yang sangat ramah, aku menyukainya tapi yang sekarang tidak, dia tampak berbeda, ini menakutkan" batin Lily.


"Jangan bilang kau mau melenyapkan kami?" Tanya Lily dengan tubuh gemetar.


"Ya," jawab pangeran Kenn dingin.


"Kami menyingkirkan semua team yang menjadi pengganggu disini," kata pangeran Kenn.


"Tidak mungkin," gumam Lily tidak percaya.


Lily melangkah mundur ke belakang karena terkejut, sontak Erdwan mencegahnya agar tidak terkena batas lingkaran api, membuat gadis itu seketika tersentak.


"Atas dasar apa kalian melakukan ini?" Tanya Erdwan.


"Kami ingin jadi pemenang," jawab Lavender singkat.


"Aku ingin membunuh siapa saja orang yang menghalangiku," sambungnya lagi.


"Ha? Ada apa dengan kalian yang tiba-tiba begitu berambisi?"


Lavender terdiam sejenak, namun dia terlihat enggan untuk menjawab dan malah menyerang Erdwan dengan sihir miliknya, dengan gesit Erdwan langsung menghindari serangan itu namun tidak di duganya dari sisi lain pangeran Kenn memberikan sebuah pukulan yang sangat keras.


Erdwan dan Lily tersungkur ke tanah karena pukulan itu, Erdwan meringis kesakitan karena merasakan sakit yang teramat sangat di punggungnya yang terkena luka bakar.


Angela sendiri langsung terduduk lemas melihat mereka, dia tidak memiliki keberanian untuk menghadapi orang orang kuat di depannya, tapi dia juga tidak bisa kabur karena ada pembatas api yang mengelilingi mereka.


"Firewall chu!" Serang Chun sambil merapalkan sihirnya bertubi-tubi ke arah pangeran Kenn. Tapi sosok seorang calon raja sepertinya, tidak mudah untuk dikalahkan, karena dia berhasil menangkis serangan Chun dengan sihir pelindungnya.


"Tidak mungkin chu!" pekik Chun kaget, karena serangan yang dilontarkan olehnya tidak ada sedikitpun yang mengenai mereka.


Lily terbatuk-batuk karena menghirup asap yang berada di sekitarnya, tapi belum sempat dia membuka matanya seseorang sudah menarik baju depannya kasar dan membuat gadis itu merasa sangat sesak.


"Aku sebenarnya, sangat membencimu," bisik pangeran Kenn pada telinga Lily Collans.


Kelopak mata Lily terbuka lebar, dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut seseorang yang selama ini selalu berbuat baik padanya. Sampai-sampai kebaikannya itu membuatnya terkadang salah faham. Kalau bukan dia tunangan putri Lavender, mungkin Lily sudah mengutarakan perasaannya pada laki-laki itu.


Tapi dia urung, memilih untuk tetap diam, Ia biarkan semakin tumbuh dan dia pelihara perasaan itu dengan baik untuk selamanya, karena cintanya selama ini tidak akan pernah bisa terwujud dan telah dihancurkan berkeping-keping hanya dengan beberapa kata.


Tes...


Tes...


Lily menangis, dia terisak di depan pangeran Kenn yang sedang marah besar padanya. Meskipun dia tidak tahu sebenarnya maksud dan keinginan pangeran Kenn mengatakan hal itu kepadanya.


"Lily sadarlah, dia bukan pangeran Kenn yang kau kenal, dia dikendalikan oleh sihir milik Lavender," Kata Chun memberitahu.


Lily tertegun mendengar ucapan Chun.


Benarkah? dia bertanya-tanya terus dalam hatinya, apakah dia benar-benar bukan sosok pangeran Kenn yang selama ini ia kenal, tapi kenapa Lavender tega memperlakukan pangeran Kenn sebagai boneka?.


Lily mengeram kesakitan, lehernya sekarang benar-benar di cekik oleh pangeran Kenn. Dia yang hanya sebagai wanita healer tidak dapat melakukan apa-apa untuk melawannya.


"Apakah aku akan mati di tangannya?" tanya Lily dalam hati.


"Jangan bercanda!" teriak Erdwan lalu memukul perut pangeran Kenn dari samping.


BUGHHH


Mereka bertiga pun jatuh bersamaan ke tanah dan tentunya diiringi dengan rasa sakit yang menyelimuti.


"Ahh kacau, Erdwan sudah terluka parah, Angela dan Lily tidak bisa bertarung," Kata Chun sambil terbang melayang di udara menghindari serangan dari Lavender yang terus ditujukan kepadanya.


"Burung cebol itu menjengkelkan, Adrain kuserahkan hewan merepotkan itu kepadamu, sisanya ikut aku mencari adikku," titah Lavender pada burung kelelawar yang berada di dekatnya.

__ADS_1


"Pastikan untuk tidak membunuhnya, dan buang mereka ke tempat itu," imbuhnya.


"Baiklah, burung lawan burung tidak buruk juga," Kata Adrain lalu terbang mengejar Chun.


Lavender menatap sinis ke arah Lily yang sudah jatuh pingsan, dia sangat membenci wanita pelakor dihadapannya itu. Ingin sekali ia melenyapkannya, tapi menurutnya itu hukuman yang terlalu ringan, dia harus diberi pelajaran agar tahu diri.


Disisi lain Chun dan Adrain bertarung sengit diudara, Chun mengubah wujudnya menjadi raksasa sedangkan Adrain menjadi sosok vampir yang sempurna. Mereka berdua terlihat sama-sama kuat dan tak terkalahkan tapi sesungguhnya Chun lah yang paling unggul diantara keduanya.


"Dasar drakula! susah banget kalahnya!"


Sepertinya kesabaran Chun mulai menghilang dan melancarkan sihir terkuatnya ke berbagai arah.


"Gawat, aku terlalu banyak memakai sihir, kalau begini pangeran Shun bisa..." gumam Chun.


"Heh? Ternyata kau adalah laki-laki yang waktu itu jadi santapanku yah, bagus sekali, kebetulan kau memberikan tanda kutukan padaku dan tuanku kan, maka rasakan akibatnya!"


Adrain membuat rantai hitam yang menutupi angkasa lalu mengikat sosok burung raksasa itu dan membuat sayap burung itu patah.


Adrain menyeringai kecil, "Rencanaku adalah membuatmu terbawa emosi dan menyerangku dengan kekuatan penuh, hingga akhirnya kau akan kehabisan energi dan mana yang kau punya, saat itu terjadi maka aku akan menyerang dan melenyapkanmu seperti ini," jelas Adrain sambil tertawa puas.


"Kau ternyata bukan vampir biasa! Siapa kau!" Tanya Chun.


"Aku adalah seorang,"


"Kelelawar,"


"Bukan bukan, tapi seorang--"


"Kalong,"


"Apalagi itu! intinya aku seorang--"


"Drakula,"


"Diam kau burung cebol, banyak omong, cerewet, rempong, gendut, pemarah, sok pinter, sok kuat lagi, gak punya otak pula," Kesal Adrain lalu mengencangkan rantai yang mengikat Chun.


"Intinya aku adalah seorang Vampir Raja iblis,"


"Ahh pantas," lirih Chun sebelum kehilangan kesadarannya.


"Maaf saja aku mengabaikan perintahmu nona, tapi sebaiknya burung menyusahkan ini ku lenyapnya saja!" Kata Adrain lalu memberikan serangan terakhir untuk Chun dan semuanya hancur berkeping-keping.


Maafkan Chun budak yang bodoh serta tuan Chun yang baik hati. Karena selama ini Chun terlalu jujur dan membuat kalian merasa kesal dan tersinggung, tapi Chun hanya ingin kalian sadar kalau kebersamaan dan perdebatan kecil itu berharga, dan itu bukan untuk mengejek semata.


Terimakasih telah memberikan kesempatan hidup untuk berpetualang bersama kalian, tapi sekarang Chun tidak bisa membantu kalian lagi setelah ini, karena Chun tidak berada di sisi kalian lagi.


Sayang sekali yah padahal banyak hal yang ingin aku lakukan dan katakan bersama kalian. Aku harap jika aku bisa hidup untuk yang kedua kali, aku dilahirkan jadi bagian keluarga kalian nanti, agar aku bisa selalu berada di dekat kalian.


Selamat tinggal...


Dari langit yang semula berwarna hitam kini berjatuhan cahaya kekuningan yang serupa hujan kunang-kunang yang menghiasi langit. itu adalah kumpulan mana milik pangeran Shun yang barusan terurai di udara karena Chun telah menghilang.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2