
"Ahh ini dimana?" Lirihku.Aku mencoba untuk bangun dan duduk bersandar pada dinding. Pandangan mataku terasa gelap sehingga butuh waktu untuk menyesuaikannya. Jika diperhatikan lagi tempat ini terlihat seperti sebuah penjara, lantai disini juga begitu lembab dan hangat,terdapat sebuah kasur jerami di sudut pojok ruangan. Aku sadar bahwa aku sedang terjebak di dalam sel besi ini sekarang. Kemudian aku mencoba menggerakkan kakiku dengan kasar. Sakit'!. Itu yang kurasakan. Ternyata kakiku terjerat rantai yang begitu berat dan keras. Gaunku yang tadinya terlihat seperti baru pun kini sudah begitu kotor dan lusuh.
"Apapaan!! Ini!" Pekikku
Orang-orang yang menculik ku tadi kemana sih?! Sini kau biar ku tinju mukanya sampe jadi Lumpia!! Awas aja kalo ketemu!!
Aku segera berdiri sambil mencoba memukul mukul jeruji besi itu meskipun hasilnya sia-sia saja. Yang ada tanganku malah merasakan sakit karena beradu dengan besi itu.
"Ini benaran penjara?! Gawat... Aku gak bisa kabur.. ehh gimana caranya kabur?... bukannya orang yang dipenjara itu orang jahat yang menculik seorang anak kecil ini bukannya malah anak kecil yang dipenjara!!aku salah apa?!! KEBALIK WOEEE!!" teriakku sambil terengah-engah.
Sialan! disini ruangannya sangat tertutup, oksigen gak bisa keluar masuk dengan bebas dan ventilasi berbentuk belah ketupat itu juga tertutup kaca. Sekarang aku harus apa.
"Hei kamu yang disana..." ucap seseorang memanggil ku.
'ehhh suara anak kecil?' aku reflek langsung menoleh ke arah belakang ku.
"Ehhhhhhhhhhhhh?! Sejak kapan kau ada disana?" Aku terkejut dan segera mundur ke belakang beberapa langkah hingga mencapai batas rantai yang mengikat pergelangan kakiku. Yang kulihat saat ini adalah seorang gadis kecil SUPER DUPER IMUUUT! Aghhh aku kalah telak lagi...
"Aku melihat reaksi mu aneh sekali tadi, aku jadi sedikit terhibur..." Ucap anak kecil itu sambil tersenyum polos.
' Ohh jadi orang orang itu menculik anak kecil yang polos dan tidak berdosa ini'
"Kenapa kamu bisa berada disini dan sejak kapan kamu disini?" Tanyaku.
"Pertanyaananmu aneh yaa, jelas saja aku juga bernasib sial.. sama seperti mu, aku baru saja tiba saat Selumbari, saat itu aku pergi ke pasar dan terpisah dari pengawal ku, kemudian ada seorang paman yang menawarkan bantuan padaku. Hingga akhirnya aku berada di sini, yahh aku sebenarnya ingin keluar dan melarikan diri.. Tapi aku tidak tahu caranya, kamu sendiri kenapa bisa disini?"
*Selumbari \= dua hari yang lalu
Hmmm... jadi dia juga diculik yaa...Reaksi nya santai sekali. Apakah dia tidak panik saat bangun tiba-tiba berada di tempat yang asing...?
"Ohh saat aku pergi pesta, aku tersesat karena kecerobohan ku dan aku bertanya pada orang yang salah. Yaa setelah itu aku tidak tahu lagi hehe...Ohh yaa namamu siapa? Kalau namaku Alexa kethzie.."
"Aku.. Natte Suisie"
Susana pun kembali hening. Bahkan aku dapat mendengar suara desahan nafasku sendiri.
"Hei apakah kamu tidak berniat kabur dari sini?"
"..."
"Kita bisa memanggil penjaga yang lewat disini, dan kita pura-pura buang air setelah itu kabur tanpa sepengetahuan nya.." Ucapku sambil berbisik kearah nya. Disaat yang sama seorang penjaga juga lewat didepan kami tanpa menghadap kearah kami.
"Percuma saja, itu tidak akan berhasil, aku sudah melakukan semua hal yang kubisa tapi disini penjagaan nya terlalu ketat" ucapnya tampak frustasi.Ia terlihat mencengkeram salah satu pagar besi tersebut dengan keras. Setelah itu tubuhnya yang terlihat lemah itu pun tersungkur di lantai seakan-akan dia tidak makan selama beberapa hari.
Tak lama setelah itu datang orang yang tadi lewat untuk memberikan makanan. "Makanlah! Tenanglah makanan ini tidak beracun, Jangan sampai kalian mati sebelum dijual!" Titahnya.
"Hei apakah kamu memakan makanan ini?" Tanyaku.
Aku agak merunduk ke bawah dan menunjuk sepiring nasi yang dibawa penjaga tadi. Natte hanya menggeleng kepalanya. Yang artinya selama dia diculik dia bahkan belum memakan apapun. Tapi kenapa hanya ada bekas piring kosong saja? Bukannya harusnya masih ada sisa makanan??. Saat aku memutar pandangan,aku melihat disudut ruangan kecil ini terdapat sebuah lubang yang muat untuk tempat keluar masuknya kucing. Mungkin saja ia membuangnya lewat situ.
"Kenapa kamu tidak memakannya? bukannya orang itu bilang ini tidak beracun.."
Natte kembali menatap ku dengan pandangan seperti menatap orang bodoh. Ia pun menghela napas "kita tidak tahu itu beracun atau tidaknya, yang jelas mereka bukanlah orang yang harus dengan mudah kita percaya,lagian mereka adalah orang yang menculik kita."
Aku tertegun mendengar perkataan nya. Itu memang benar bahwa aku tidak tahu makanan ini beracun atau tidak, tetapi...aku sudah sangat lapar dan perutku tidak dapat dikompromi lagi, di pesta tadi aku belum puas makannya, karena terganggu oleh seorang bocah laki-laki menyebalkan. Tapi dari tampilan nya ini terlihat seperti makanan yang sehat dan segar, aku tidak tahu beracun atau tidaknya kalau belum dicoba.. Aku tidak akan bisa hidup kalau kelaparan seperti ini. Sebaiknya mencobanya sedikit saja ahh~. Itu tidak akan bermasalah kan?.
__ADS_1
Aku mulai mengambil secawuk nasi dan menyatukan nya dengan lauk yang tersedia di piring rotan tersebut dengan menggunakan tangan kananku dan memakannya.
"Nyap..."
"Hmm ini enak..." Ucapku. Akupun mulai melahap nya lagi.
"Jangan! Kau terlalu ceroboh!" Natte melarang ku. Raut wajahnya terlihat panik. Tapi aku tidak memedulikan nya.
"Natte, ini tidak beracun kok lagian mereka tidak akan mau kalau kualitas barang yang mereka jual ini tidak baik,dan akhirnya tidak laku untuk dijual ataupun turun harganya" tuturku santai.
Sejenak ia tampak berfikir. Namun tak lama setelah itu ia mulai makan bersama ku dengan ragu-ragu.
"Ahhh kenyang " ucap kami bersamaan.
"Sekarang kita tinggal menunggu sang penyelamat datang menolong kita"
Aku membayangkan kakakku segera datang dan menyelamatkan aku. "Ahhh kakak ideal ku, kau wonder womenku, datanglah" ucapku.
Natte menatap ku dengan tatapan seperti menatap kecoak yang mati terinjak. Antara jijik dan kasian. Hiks!
"Bodoh! Tidak mungkin hal seperti itu terjadi!" Sanggahnya.
.
.
.
Aku mulai menatap cahaya yang mulai menggelap di sudut lubang kecil ruangan ini. Sepertinya kini matahari mulai malu dan bersembunyi dibalik garis horizon yang membentang luas di cakrawala bagian barat.Natte mulai menyandarkan dirinya pada dinding tembok sambil menekuk kedua lutut kakinya. Perlahan tapi pasti matanya pun mulai terpejam.
"HOAAMM..."
Aku mulai mengantuk dan bersandar pada dinding tembok yang dingin ini, dan mulai melakukan seperti yang dilakukan oleh Natte.
.
.
.
DUAAARRR DUAAARRR !!!
Aku dengan sigap terbangun dan langsung berdiri karena mendengar suara ledakan. Sedangkan Natte terjungkal dengan jidatnya membentur lantai.
"Cihh suara siapa itu?" Ucap Natte sambil memegangi jidatnya dengan keduanya tangan.
"Entahlah" aku mengangkat kedua bahu dan lenganku bersamaan.
Tidak lama setelah itu kami mendengar suara langkah kaki seseorang mulai mendekat, dan aku hanya dapat meneguk salivaku karena takut terjadi sesuatu.
Dan bayangan seseorang kini telah ada di hadapan kami. Saking kagetnya aku bahkan reflek memeluk Natte sambil berteriak-teriak histeris. Natte pun melakukan hal yang sama persis dengan ku.
"PRANKKK!"
Suara adu antara besi dan besi lalu disusul dengan suara jatuhnya besi ke lantai membuatku semakin takut dan gemetaran. Ditambah lagi disini adalah tempat yang gelap dan mencekam bahkan lilin yang telah dipasang pun mati.
__ADS_1
" Nona Alexa!" Ucap orang itu menyerukan namaku.
Natte melepaskan pelukannya padaku.
" Kau kenal dengan nya?" Tanya Natte.
Aku mengalihkan pandanganku kearah laki-laki misterius itu untuk melihat rupanya. Tapi percuma saja disini begitu gelap dan satu-satunya yang dapat kulihat dengan jelas hanyalah mata birunya yang tampak bersinar.
'siapa laki-laki ini?'batinku.
Ia segera menarik tanganku untuk segera pergi namun rantai yang menjerat kaki kiriku membuat langkah kami terhenti.
"Akhh" pekikku sambil menahan sakit di pergelangan kakiku.
WUSH!
Secepat kilat ia membebaskan pedangnya kerantai dan langsung putus begitu saja.
Mustahil!Rantai itu terbuat dari campuran besi dan baja! Pekikku dalam hati.
Dia melakukan hal yang sama seperti itu pada Natte.
"Ayo kita lari! Kita tidak punya banyak waktu lagi sebelum mereka menyadari bahwa ledakan tadi cuma umpan saja!" Ucapnya. Aku mengangguk lalu segera melipat gaun bawahku dan berlari, tapi setelah itu langkah kakiku terhenti.
"Natte tertinggal!kita harus membawanya.." ucapku.
"Tapi.._"
Aku pun segera berlari kembali sambil menggenggam tangannya paksa.
"Natte!" Panggil ku.
"Alexa!!"
Laki-laki itu segera menggendong Natte di pundaknya lalu setelah itu kami kabur. Sekilas aku mendengar suara langkah kaki mereka menuju kearah kami. Kami tetap berlari tanpa henti menyusuri koridor ruangan itu yang begitu gelap berliku dan terdapat banyak sekali pintu, kami bisa tersesat kapanpun di ruangan ini. Namun aku tetap yakin bahwa dengan mengikuti pria ini, pasti kami akan keluar tanpa tersesat sekalipun. Jujur saja kakiku sudah keram dan mati rasa sekarang, ditambah lagi perasaan ku kacau karena tempat ini begitu menyeramkan, aku tidak bisa membayangkan jika kami tidak ditolong oleh orang ini.
Akhirnya kami sampai di luar dengan selamat,sekilas aku melihat bangunan tempat kami disandera tadi, itu adalah bangunan dengan cat yang sudah pudar dan terlihat tua jauh tersembunyi di tengah hutan.
Tetapi kami tidak bisa berhenti disitu saja kami harus terus berlari hingga ketempat yang jauh dari situ. Jika kami terus berlari seperti ini apakah mereka akan menemukan kami? Mereka bisa saja menggunakan kendaraan untuk mencari kami..
.
.
.
***
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1