
Ketika jam kelas telah berakhir dan suara lonceng pulang pun berbunyi nyaring. Aku memutuskan untuk mengintip calon Pangeran masa depan ku. Jika mungkin jam istirahat dia tidak ada disana maka ia seharusnya ada sekarang. Aku mulai bersembunyi di semak-semak yang paling tinggi dan tentunya tidak berduri.
Eheee benar sesuai dugaan ku,... kalau saja ada kamera aku pasti akan memotret nya dari sini berkali-kali sampai aku puas. Aku melihat dia memainkan pedangnya dengan ringan dan sangat mahir, tidak seperti ku yang amatir dan siapa saja baik kawan ataupun lawan sepertinya akan tertebas. Makhluk dihadapan ku kini sangat keren dimataku hingga membuat jantung ku bernyanyi ria dan mataku tidak berkedip sama sekali, terlalu sayang bagiku untuk melewatkan setiap momen menyenangkan ini, meski hanya setengah detik saja.
"Aku tau kamu disitu! Jadi keluarlah!" Titah Pangeran Shun dengan kasar sambil mengarahkan senjatanya padaku.
Aku tersentak kemudian terjatuh dari tempat ku jongkok tadi karena kaget oleh seruannya. Duhh wajahnya imut tapi tingkat nya tidak imut. Batinku.
"Hehehehe" aku bangkit dari tempat ku terjatuh di balik semak ini sambil cengengesan.
Pangeran Shun menghela nafas panjang saat melihat ku."Aku tidak tahu apa maksud mu tapi bersembunyi seperti itu untuk mengintip adalah sesuatu yang tidak sopan" jelas Pangeran Shun sambil menghampiri ku dan menyelintik ujung hidung ku.
"Apanya yang tidak sopan! aku kan melihat calon suami masa depan kuuu" Ucapku sambil manyun lalu memegangi hidungku yang baru saja menjadi sasaran rasa jengkelnya kepadaku.
Untung saja tidak masuk kedalam. Batinku. Yang merasa lega setelah selesai mengeceknya.
"Yang benar saja? Kapan aku berkata iya?" Sanggah Pangeran Shun seolah-olah menantang ku untuk berdebat dengannya.
"Bukannya pangeran langsung menerima nya saat itu juga?" Timpal Erdwan seketika sambil menyenggol bahu Pangeran Shun keras.
"Betul sekali!" Ucapku sambil memejamkan mata kemudian melipat kedua tangan ku didepan dada.
"Aghhh aku tidak mengingat nya" Jawab Pangeran Shun kemudian. Dia berdecak kesal karena disenggol oleh Erdwan barusan.
"Jangan bilang pangeran mau membatalkan nya?" Ucapku sambil memelas melihatnya.
"Bisa jadi" jawabnya tanpa pikir panjang. Itu sangat-sangat menohok hatiku yang kecil ini.💔
"HUWWAAAAAA" aku pun pura-pura menangis.
"Hentikanlah, kamu berisik,saat ini aku sedang latihan.." ucap Pangeran Shun pelan sambil menaruh jemari telunjuknya dibibir mungilku.
Setelah mendengar itu aku merasa bersalah dan menundukkan pandangan ku darinya. "Ahh maaf..."
"Pangeran tidak akan menikahi wanita manja seperti mu" kata Erdwan yang sukses membuat perhatian ku teralihkan padanya.
"Ehhh kenapa? bukannya kami sudah berjanji???"
"Habisnya Pangeran adalah_"Pangeran Shun mengarahkan pedangnya tepat di leher Erdwan sengingga ucapannya terhenti.
Sebenarnya ada apa dengan pangeran Shun, sikapnya aneh sekali hari ini terhadapku dan sekarang kepada Erdwan yang tidak lain merupakan sohibnya. Aku menatap Pangeran Shun dengan tatapan heran. Sedangkan Erdwan akhirnya mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda ia menyerah dan tidak melanjutkan perkataannya.
Aku sebenarnya tau apa yang akan dikatakan Erdwan tadi, bahwa Pangeran Shun Errent adalah seorang pangeran mahkota yang akan menjadi raja selanjutnya di kerajaan Arrenthia. Yahh karena itu aku tidak boleh manja seperti tadi, jika ingin bisa bersamanya. Tapi tindakannya terhadap Erdwan tadi terlalu berlebih-lebihan. Apakah dia ingin merahasiakannya dariku? Ahh sudahlah aku tidak peduli.
Pangeran Shun tampak memberikan isyarat agar Erdwan diam saja dan tidak bicara macam-macam.
"Pangeran... sebenarnya, apakah kamu membenciku?!" Tanyaku memecah keheningan yang tercipta diantara kami.
Pangeran Shun mengalihkan pandangannya kearahku sejenak."Tidak" jawabnya kemudian berpaling lagi dariku.
__ADS_1
"Lalu Kenapa kamu menyembunyikan rahasia penting dariku..?" aku bertanya sebenarnya bukan lantaran ingin tahu kalau ia akan menjadi seorang raja, melainkan karena khawatir dia yang memiliki hidup lebih singkat dariku tapi dia tidak memberi tahuku.
Sejenak ia tampak terlihat terkejut dan menarik nafas dalam, kemudian menatap ku lagi "Aku tidak terlalu mengenali mu, jadi aku tidak terlalu mempercayai mu" Jawabnya sambil tersenyum singkat. Aku tau itu benar dan aku tidak tahu apa sebabnya, tapi ini sangat menyinggung perasaan ku dan membuat ku merasa sangat kesal.
Aku memberi isyarat agar dia sedikit menunduk dan Pangeran Shun menurut saja tanpa menolak.
Bukkk!!!
Aku membenturkan kepala ku dengan kepalanya lantaran merasa sangat kesal. Sakit... Yah aku merasakan nya, itu terdapat di jidat ku saat ini.
"Kenapa_ padahal aku mempercayai mu Pangeran!"
"Terusss?" Ucapnya sambil meringis memegangi jidatnya.
Tingkah Pangeran saat ini benar benar menyebalkan. Padahal aku kesini karena mengkhawatirkan dan peduli terhadap nya.
Perlahan aku mendekat kearahnya dan langsung memeluknya seketika dengan erat. Aku tau ini tidak sopan, kalau dia bahkan ingin membunuhku sekarang, aku tidak keberatan, daripada harus menyaksikan nya lebih dahulu lenyap dari hadapanku.
"?!!!"
"Tetap seperti ini, kumohon jangan tinggalkan aku" ucapku sambil membenamkan wajahku kedalam pakaian nya.
Padahal dulu kakakku berkata agar aku menjauhinya tapi aku malah melakukan sebaliknya. Sungguh bodohnya diriku, sekarang semuanya sudah terlanjur dan aku semakin menyukainya.
Pangeran Shun menjatuhkan pedang nya ketanah dan mulai membalas pelukan ku dengan menundukkan sedikit badannya.
"Leca kecilku kenapa?' tanyanya pelan sambil mengelus rambut ku dengan lembut.
"Pa-pangeran adalah seorang saint?"Tanyaku setelah berhasil menguasai diri dari hayalanku.
"Ahhh tentu" jawabnya santai. Ehh kok dia malah menjawabnya dengan santai!. pikirku heran.
"Heehh kenapa Pangeran sesantai itu menjawabnya?!"
"Emang kenapa?"
Aku menatik nafas panjang.
"Pangeran, apakah kau tidak takut bahwa usiamu lebih singkat daripada orang biasa?"
Dia tersentak kemudian tersenyum miring."Tidak sih, lagipula kan aku sudah ditakdirkan untuk melindungi banyak orang, tentunya menjadi Saint adalah sesuatu yang paling membahagiakan bagiku"
Pangeran kemudian menatap ku dengan senyuman mautnya lagi. Dah lah kalau seperti ini apakah ada wanita yang tidak menyukai nya? Akupun kembali memeluknya dengan sangat erat.
"Pangeran,kamu tidak akan pernah meninggalkan ku kan?"
"....."
Mengapa dia tidak menjawab pertanyaan ku kali ini? Apakah dia tidak yakin bisa terus bersama ku kedepannya?
__ADS_1
.
.
.
"Uhuk uhuk uhuk, sudah berapa lama aku menjadi nyamuk disini?" Erdwan berdehem, sejurus kemudian membuat Pangeran reflek melepaskan pelukannya, dan memalingkan wajahnya karena malu. Sedangkan aku hanya bisa diam mencoba mencerna maksud dari kata-kata Erdwan.
"AHHH APAAAA... YANG BARU AKU LAKUKAN! Dasar leca bodoh! Yaampun mukaku mau taruh dimana sekarang! Aghhhhh" gumamku yang merasa salah tingkah. Aku yakin sekarang wajahku sudah Semerah tomat dan serata cangkang kepiting.
"Disini" ucap Pangeran dengan wajah polos menunjuk ke arah baju yang digunakan untuk membenamkan wajahku tadi.
Ohh tuhan...matilah aku! Aku sudah tidak pantas lagi hidup, karena sudah tidak punya urat malu. Batinku frustasi.
"Yoo putri kecil, apakah kau tidak mau menikah bersama abang saja?" Goda Erdwan padaku sambil menggenggam erat telapak tangan kiriku.
"MATI KAUU SANAAA!!!!" teriakku karna malu sudah lama kepergok oleh dia. Aku memang ceroboh, berpelukan seperti Teletubbies di depan orang itu. Sedangkan Erdwan hanya tertawa kencang sambil memegangi perutnya.
"Ehem...Aku akan melanjutkan latihan ku yang sempat terganggu tadi" Ucap Pangeranku sambil menatap singkat kearah ku. Aku hanya dapat menggembungkan pipiku karena masih merasa kesal yang teramat sangat pada Erdwan.
Pangeran pun hanya tertawa kecil kemudian melanjutkan latihannya dengan Erdwan."hei hei Pangeran jangan menyerang ku tiba-tiba! Aku belum siaap!" Ucap Erdwan sambil terus mencoba menghindari serangan Pangeran Shun yang datang bertubi-tubi.
Haha rasain! Ucapku dalam hati. Aku hanya memperhatikan mereka dan terus menyemangati Pangeran Shun sambil duduk di bawah pohon sakura yang mahkota bunganya terus menerus berguguran menghujani tubuhku.
.
.
.
Beberapa hari pun berlalu, aku selalu mengunjungi tempat itu dan melihat Pangeran Shun berlatih pedang ataupun hal lainnya disitu. Terkadang kami duduk bersebelahan dan bercerita banyak hal yang sama sekali tidak penting.Aku merasa semakin dekat dengannya dan semakin nyaman jika berada disisinya. Aku tidak ingin hari-hari seperti ini berakhir dengan begitu cepat dan waktu akan memisahkan kami.
Aku mengingat semua yang terjadi hari ini dan kemarin tanpa luput sedikitpun, semuanya terekam jelas dalam memori yang tersimpan di benakku. Senyuman nya, kata-katanya dan sifatnya yang selalu baik hati dan ramah kepadaku juga orang-orang yang berada di dekatnya. Itu adalah hal yang paling aku sukai dari nya.
Namun aku terkadang membenci sebuah kalimat yang dilontarkannya. " Alexa, mungkin kamu hanya mengagumi ku saja saat ini, suatu saat bila kau memiliki seseorang yang kau cintai, aku pasti akan mendukung mu, jadi kau tidak perlu terpaku pada janji aneh yang kita buat... Aku tidak ingin kau kehilangan seseorang yang penting dalam hidup mu hanya karena terus memikirkan ku".
Kata-katanya itu seolah membuat ku merasa, dia tidak percaya diri, terkadang ia juga menjaga jarak dengan ku tanpa alasan yang tidak jelas... Sebenarnya apa alasan dia melakukan hal itu?. Mengingatnya saja membuat ku tersenyum miris lantaran dia berbicara menyedihkan seperti itu...jelas saja orang yang paling penting bagiku adalah dirinya.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...