Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 31 : Sambutan Menyakitkan


__ADS_3

Dia berusaha meraih tanganku namun aku menepis tangannya dan memalingkan wajahku darinya. Dia juga terus mencoba untuk melihat wajahku tapi aku berusaha berpaling dan terus berpaling. Akhirnya dia menggapai paksa daguku dan menggeser paksa kearahnya.


Dengan jarak yang sedekat ini tidak mungkin aku tidak bisa melihat ekspresi di wajahnya.. Ekspresi itu.. sungguh aku tidak menyukainya.. dia menampakkan wajah terkejut sekaligus empatinya.


Pangeran tiba-tiba saja malah terduduk dan memelukku, ini pertama kalinya dia berinisiatif memelukku lebih dahulu. Tentu saja tindakannya membuat ku terkejut.


Aku merasa senang karena kebaikan yang dilakukannya padaku saat ini, tapi aku membenci ekspresi wajahnya yang menjadi keruh karena melihatku yang seperti ini. Aku memejamkan mataku kemudian mendorong tubuhnya kuat-kuat. Meskipun begitu aku tidak berhasil menyingkirkannya.


"Pangeran aku sangat bau amis, sekarang seluruh tubuhku kotor, sebaiknya kamu menjauh dariku." Jelas ku sambil menatap kosong ke arah depan yang menampakkan kegelapan.


Dia tidak mendengar ku sama sekali. Tubuhku pun menjadi sesak karena terlalu erat dipeluknya. Aku menghela nafas berat kemudian memberikan isyarat kepada Erdwan agar meminta tolong padanya. Tapi Erdwan malah diam saja dan pura-pura tidak melihat ke arah kami. Apa-apaan ini?. I don't like this hiks.


Pangeran Shun melepaskan pelukannya dan menatap ku sebentar dengan tatapan nanar. Aku pun hanya balik menatap kosong ke wajahnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Siapa yang melakukannya padamu?" Tanyanya padaku sambil menyingkirkan jubah yang menghalangi wajahku.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang menyedihkan itu, itu akan membuatnya menjadi memikirkan ku dan hanya menambah bebannya saja. Karena itu aku memilih untuk diam.


"....."


"Kamu baik-baik saja kan leca?"


"....."


"Lecaa...." Dia menghela nafas panjang. Aku pun berpaling lagi darinya. Sekarang menatapnya adalah hal yang paling tidak bisa ku lakukan.


Tapi aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang ku alami ini selamanya dengannya. Kini aku beralih menatapnya dengan mata yang mulai berair.


"Hiks hikss,,.... HUWAAAA!!!" Teriakku sambil membenamkan wajah ku di dadanya yang bidang. 'Aku malah jadi nangis beneran kan.. gara-gara melihat sikapnya, aku jadi terharu'. Tapi tubuhku jadi bergetar dengan sendirinya tanpa sekehendak ku. Tanpa sadar aku telah mengeluarkan beberapa kata yang mengganjal pikiranku selama ini.


"A-apa aku bukan anak ayah?" Ucapku sambil sesenggukan disela-sela tangisku.


"Tenanglah kami akan mengantakanmu pulang." Ucap Pangeran Shun setelah aku tampak tenang. Tapi yang benar saja?! Waktu berlalu begitu cepat.. Kini yang dapat jelas ku lihat hanyalah mata dengan rupa bak permata biru itu, setiap kali aku memandangnya, hatiku jadi merasakan ketenangan, seperti saat aku menatap mata ibuku dulu yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.


"Kami baru saja pulang dari kelas berburu tadi, Untung saja kami kebetulan melihat nona Alexa." Celetuk Erdwan akhirnya setelah beberapa lama diam seperti patung itu.


"Ahh mansion ku tidak jauh dari sini ko-" Tolakku pada ajakan Pangeran Shun tadi.


"Jangan menolak kesempatan." Tukas Erdwan padaku.


Memang benar sih, ini adalah kesempatan langka yang bahkan lebih langka daripada keajaiban dunia yang barusaja terjadi di sekolahku. Akhirnya aku hanya dapat pasrah saja.


Pangeran Shun pun menggendongku untuk menaikkanku ke kudanya. Tanpa sepengetahuanku dua buah sudut bibirku telah mengukir sebuah senyum.


Aku sangat lelah untuk hari ini, tapi aku sekarang sedang berada diatas kudanya Pangeran Shun, bisa saja aku terjatuh saat mengantuk. Bu-bukan itu, tapi aku berada di pelukannya... Bagaimana aku bisa berpikir untuk tidur...?!


Baiklah jika hanya bersandar seharusnya tidak masalah kan... Akupun bersandar pada dadanya, dan merasakan sedikit kehangatan tubuhnya. Untung saja Pangeran Shun menjalankan kudanya dengan pelan, jadi aku bisa mengambil kesempatan ditengah kesempitan seperti ini hehe:).


"Setelah ini kamu harus mandi, agar bau nya hilang." Ucap Pangeran Shun sambil tetap fokus ke depan jalan.


Ehh iya aku baru ingat kalau aku kotor dan bau, tapi malah bersandar pada Pangeran...huaa ini sangat memalukan! Aku ingin mati sekarang saja.


Sedetik kemudian aku sadar bahwa kematian itu terasa sangat amat menyakitkan. 'Heh.. jangan deh, kucabut keinginan ku barusan'.


Aku memutar pandangan ku beberapa bintik cahaya pun kini hinggap dihitung ku membuat penerangan pada mataku. Benda itu terlihat seperti kunang-kunang namun bila diperhatikan lagi ternyata tidak.


Ahhh ini adalah hayalan ku....aku pun beralih menatap wajah Pangeran ku lagi yang terlihat begitu cantik ditambah dengan paduan cahaya itu.

__ADS_1


Dia adalah seorang pria, bukan wanita, bagaimana aku bisa menyebutnya cantik dasar Lala bodoh!.^∇^


"Indah kan,.. kami juga baru pertama kali mendapati hal seperti ini, kemungkinan besar penyebab datangnya mereka adalah karena Pangeran Shun yang merupakan saint, yang dicintai oleh Rukh dan mana, aaaagh sialan! aku jadi iri denganmu Pangeran!." Ucap Erdwan yang terlihat benar-benar iri dimataku


"Ehhh jadi ini bukan hanyalanku?"


"Bukan, kalau kamu tidak percaya, aku bisa memukulmu atau mencubit mu" jawab Erdwan meyakinkanku bahwa itu nyata.


"Ogahhh, tapi aku tidak keberan kalau Pangeran Shun yang melakukannya. Hehe.."


"Hal yang seperti itu hanya kulakukan pada Erdwan" jawab Pangeran shun. Yang membuat senyum diwajahku luntur seketika.


"Heehh Pangeran selingkuh sama Erdwan ternyata!" Tuduhku yang merasa sedikit kesal.


"Ternyata kamu bucin sekali ya nona Alexa." ejek Erdwan.


"Terserah hump!" Aku membalikkan pandanganku dari Erdwan, malas menolak perkataan tadi karena dia memang benar.


"Pangeran mansionku tidak jauh lagi dari sini." Ucapku dengan yakin karena melihat beberapa lampu lampion yang sangat ku kenali.


"Baiklah"


Depakan kaki kuda putih itu berhenti tepat di depan gerbang sebuah mansion mewah yang ditinggali oleh keluarga Ketzhie.


Aku segera berterimakasih kepadanya dan Erdwan karena telah mengantarkanku dengan selamat. Pangeran Shun hanya tersenyum singkat kemudian langsung bergegas pergi.


Ketika aku memasuki mansion besar itu, kakakku ternyata tidak ada di rumah dan aku kini hanya mendapati ayahku yang menatap tajam ke arah ku.


"Apakah benar kamu tidak bisa menggunakan sihir?" Tanyanya dengan nada ketus.


"I-iya" jawabku gagap.


Aku hanya dapat diam.


Aku bahkan tidak mampu berbicara.


Sepertinya ucapan ayahku memang benar.


Mungkin selama ini aku dibenci karena dianggap bukan anak keluarga ini...


PRANKKK!!!


Tiba-tiba saja sebuah vas bunga diarahkan ke arahku dan tepat sasaran mengenai kepalaku. Aku yang bahkan tidak sempat terkejut kini sudah terbaring di lantai, namun aku hanya dapat diam saja dan tidak melawan.


Dapat ku lihat kini darah dengan derasnya mengalir hingga menyentuh di lantai.


"Haahhh....." Aku menatap dan menyentuh cairan itu, lantaran tidak percaya bahwa darah yang menodai lantai tersebut adalah darahku.


Bagaimanapun itu adalah ayahku, aku yakin aku putri kandungnya...


Jika aku melawan, aku hanya akan menjadi anak durhaka.


Hal itu hanya akan sama saja seperti diriku yang dulu..diriku yang sama sekali tidak pernah bersyukur memiliki orang tua yang penuh kasih sayang dalam merawat ku.


Diriku yang selalu membentak dan memberontak meminta sesuatu diluar kemampuan mereka..


Mungkin saja aku hidup disini karena sudah menjadi karma atas tindakanku dulu. Sekarang adalah pembalasan... Untuk orang seperti ku...

__ADS_1


"Tidak,... Mungkin saja ini adalah sebuah kesempatan..ya masih ada kesempatan,.." lirihku sambil melihat ke arah ayahku yang masih dipenuhi dengan tatapan api amarah yang membara.


"Kesempatan apanya?! Ibumu sudah seenaknya saja berselingkuh dengan pria lain dan memiliki anak seperti mu! Bodohnya aku dulu percaya kalau kamu adalah anakku dengan hanya bukti kecil saja darinya! Sekarang semua sudah terlihat jelas! Kamu bukanlah putriku!!" Dia berbicara seolah ada rasa kekecewaan yang mendalam dalam setiap perkataannya.


"Usir dia!" Titah nya pada beberapa pelayan.


"Ta-tapi tuan, nona sedang terluka." Salah satu pelayan mencoba membelaku.


Ayah kemudian menatap tajam kearahnya. Seketika, itu membuat mereka semua tidak memiliki nyali untuk membantah.


"TIDAAK!! jangan usir aku ayah, aku akan tinggal dimana?" Ucapku seraya memberontak dari tangkapan paksa mereka.


Bagaimana bisa dia mengusir anak kecil seperti ku. Bagaimana bisa...?!


Sekarang ia pun berinisiatif menggunakan sihir nya, hingga akhirnya membuat ku terpelanting keluar pintu.


"Ini tidak masuk akal!" Pekikku.


Kenapa aku masih sadar?! Meski luka yang kurasakan ditubuh ku terasa amat sakit..? Batinku.


Gaunku yang tadinya kotor kini bertambah lagi dengan hiasan noda merah yang membuatku terlihat begitu buruk, tapi hati ini bahkan lebih terasa tersayat' daripada rasa sakitku.


Aku pun memegangi dadaku yang mulai sesak dan pandangan ku yang berangsur-angsur kabur.


"Ayahanda... Kumohon biarkan aku tinggal, aku akan melakukan apapun untukmu.." lirihku dengan nafas yang lemah.


"Apapun?" Dia mendekat kearahku.


Aku mengangguk pelan.


"BUNUH KAKAKMU SENDIRI!!!" Teriaknya tepat di telingaku yang otomatis membuatku meringis karena tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku.


Apakah ayahku sudah gila?! Kenapa dia menyuruhku melakukan sesuatu yang mustahil seperti itu. Sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah mau kulakukan apapun yang terjadi.


"Tidak mungkin,..aku tidak bisa melakukannya ayah.." jawabku langsung.


"Kalau begitu pergi dari sini! Dasar tidak berguna!"


"Tapi kemana?? Kemana aku akan tinggal?" Tanyaku dengan nada yang semakin melemah. Kedua mataku kini sudah sangat berembun dan akhirnya pun membuat aliran sungai yang membelah pipiku.


"Cih, terserah!" Jawabnya sambil menutup daun pintu dengan kerasnya.


Sekarang...apa yang harus aku lakukan..? harus kah aku membantah dan bersikeras untuk tinggal disini, atau pergi sesuai perintahnya..? Aku benar-benar tidak tahu jawabannya..


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2