
Aku membuka mataku perlahan karena mendengar suara familiar yang menyebut namaku. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, ini lebih mendingan daripada tadi, rasanya tadi mataku terasa sangat sakit hingga hampir buta.
"Pa... Pangeran?!"
"Grrrrrr" Chaser terlihat sangat waspada terhadap pangeran Shun.
Kereta kuda yang kami naiki berjalan kembali seperti semula, mungkin pengemudinya sempat kaget karena mendengar keributan kami.
Aku punmulai kembali duduk dan langsung mengangkat tanganku kiriku untuk memberikan isyarat bahwa burung Shun ini tidak berbahaya.
Tidak lama kemudian aku menatap burung itu dengan binar mata penuh kerinduan sambil menahan rasa aneh yang muncul di hatiku, rasanya itu seperti mau meledak menjadi berkeping keping.
Badump Badump Badump!
"Siapa dia?" Tanya pangeran Shun sambil beralih tempat ke pangkuan ku.
Aku menelan salivaku dengan kasar, berusaha menahan guncangan yang semakin hebat di dalam hatiku. Aku bisa merasakan dengan jelas tanganku dan seluruh tubuh ku mulai bergetar dengan sendirinya.
Sebenarnya apa yang ku rasakan saat ini? Apakah semua orang yang LDR an saat ketemuan dengan kekasihnya mengalami hal seperti yang ku rasakan?
Aku menggelengkan kepalanya ku. Bukan, bahkan pangeran Shun dengan aku sama sekali tidak memiliki hubungan yang seperti itu, ini hanyalah hubungan yang sepihak, hanya aku yang menganggapnya sebagai kekasih.
"Aku Chaser, Roh penjaga senjata itu" jawab Chaser cepat sambil melirik ke arah busur panah yang berada di samping kananku.
Busur panah itu telah ku beri nama 'Sate' karena aku suka sate. Muehehe. Tapi sebenarnya nama sekaligus julukan senjata itu adalah Eternal Holy Glory. Dan mantra yang biasa aku ucapkan saat membidik sesuai adalah "Eternal Light".
Aku sangat bersyukur karena walaupun aku tidak bisa menggunakan sihir tapi senjata itu bahkan bisa mengatur sihir sendiri saat digunakan.
Pangeran Shun hanya diam saja di pangkuan ku dia tidak begitu lincah dibandingkan Chun, aura ke-pangeranannya sangat terasa hingga ke ubun-ubun ku. Dia sangat menjaga imagenya meskipun dalam wujud yang seperti ini.
"Leca kau bertambah tinggi yah" Ucap pangeran Shun membuyarkan lamunanku.
"Hehe iyaa tinggiku 147 sekarang.."
"Tinggi ku 177 sekarang, berarti kamu masih lebih pendek dariku"
Mataku berkedut kedut, tidak kusangka pangeran Shun pun berniat menyinggung tinggi badan ku, tapi bahkan aku kan masih dalam masa pertumbuhan dan usia ku masih 13 tahun.
"Bahkan bagian itunya rata seperti papan triplek.." imbuh Chaser sambil melirik kearahku.
"Haahhh pangeran Shun...hiks dia mengejekku, harga diriku hancur dibilang seperti itu hiks.." Tangisku sambil mengadu pada pangeran Shun.
"Kalau kamu suka ukurannya semakin besar, sepertinya aku bisa menggunakan sihir yang cocok untuk mu" kata pangeran Shun yang malah merusak habis moodku.
"Huh tunggu dulu, kau berkata seperti itu apakah kau pernah menyentuhnya?" Tanya pangeran Shun dengan nada ketus kepada Chaser.
Chaser malah menyeringai. "Tentu saja pernah!"
Aku terdiam mendengar perkataan mereka, mencoba untuk mencerna ucapan mereka. Beberapa detik kemudian aku mulai paham dan langsung mengambil busur panah yang berada di sampingku.
"SIALAN!" Makiku sambil memukulkan benda itu kepadanya kemudian menatap sebal ke arah Chaser, berani-beraninya dia membicarakan hal ambigu disaat pangeran Shun ada di hadapanku.
Sekarang Chaser benar-benar menghilang dari pandangan kami, dia seperti jin yang bila di sentuh dengan senjata itu akan langsung hilang dan masuk ke dalam tempat tinggalnya.
Kini hanya ada aku dan pangeran Shun yang saling diam tidak mengatakan apapun untuk mencairkan suasana canggung diantara kami.
__ADS_1
"Aku baru pertama kali melihat roh penjaga Hw,"Kata pangeran Shun.
Ku garuk tengkukku yang terasa agak gatal, kemudian aku tersenyum kikuk. Aku tidak tahu harus membalas apa dengan kalimat nya yang bahkan bukanlah sebuah pertanyaan dan tentunya tidak membutuhkan balasan.
"Apakah dia benar-benar dekat dengan mu sampai pernah menyentu-"
"TIDAAAKK! Tidak pernah!" Tukasku.
Aku memalingkan wajahku yang terasa panas seperti mau meledak.
Apakah semua laki-laki sukanya membicarakan hal aneh...? Aku tidak tahan mau bersembunyi di lembah terdalam saja!!.
"Ohh"
"Hem.. ak-ak ak-akuu tidak akan berani melakukan apapun kecuali semua itu untuk mu pangeran..." Ucapku gagap.
Aku tidak bisa melihat reaksi pangeran Shun seperti apa, yang jelas dia hanya diam mendengar ucapan ku.
"Hmh rupanya kau sudah besar" Katanya membuat langsung melongo, aku tidak paham dengan jawabannya yang sangat tidak nyambung diotakku.
"Pa pa pa paaa-pangeran... Apa ka ka kamu me-menyukai ku ku ku?"
Aihh kok aku jadi super gagap seperti robot sih, apa aku sebaiknya tidak usah bicara aja yah..bikin putus urat malu aja kalau bicara.
"Tentu," Jawabnya singkat yang langsung membuat ku ingin pingsan. Aku sangat senang sampai kutu di rambut ku juga menari-nari karena senang. Ishh aku tidak punya kutu, itu hanya istilah.
"Kita akan kemana?" Tanya pangeran Shun.
Aku tersentak, kemudian menarik nafas panjang.
"Cukup, aku sudah mengerti," pangeran Shun memotong pembicaraan ku dengan suara dingin.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, dia terlihat seperti sedang bad mood dan sebaiknya aku tidak mengganggunya.
Selama perjalanan aku tidak bisa menahan kantukku padahal katanya hanya dua jam saja sudah sampai, tapi baru satu jam perjalanan aku sudah mengantuk berat.
"Hoaammm, aku ngantuk.." Ucapku setelah menguap berkali-kali.
"Sebentar lagi sepertinya kita sampai, tahan kantukmu dahulu,"
"Pangeran, kau tidak tahu? Rasa ini tidak bisa kutahan, aku benar-benar merasa seperti zombie hidup.."
"Hemm"
"Andai saja pangeran Shun bisa berubah dalam wujud manusianya aku pasti tidak akan ngantuk, karena aku akan menatap wajahmu terus pangeran,"
"Hem.."
"Kok cuma Hem sih?"
"Habisnya aku tidak tahu harus menjawab apa."
Aku memutar bola mataku jengah, mungkin aku sebal karena pangeran Shun cuma memberi tanggapan seperti itu.
"Pangeran Shun, sini dahulu, kumohon hinggap dulu sebentar di tanganku, aku mau membisikkan sesuatu" ucapku sambil cengengesan, aku tidak bisa berakting dengan baik disaat seperti ini.
__ADS_1
Pangeran Shun tanpa banyak bicara langsung menyetujui ucapanku, dan kini sudah berada di hadapanku.
Aku tersenyum penuh kemenangan, ini adalah kesempatan terlangka yang aku dapatkan selama bertahun-tahun dan akupun melakukan apa yang ingin aku lakukan.
"Nona kita sudah sampai.." ucap si kusir mengagetkanku.
"Heh apa yang barusan kau lakukan?!" Pekik pangeran Shun kemudian.
Aku tersenyum sumringah kemudian mengambil sate dan menggenggamnya. Lalu aku keluar kereta kuda dan mendapati kami sudah berada di luar gerbang sebuah mansion yang sangat megah, bahkan lebih megah daripada milik keluarga ku.
Pak kusir membungkukkan tubuhnya memberi hormat terhadap ku kemudian dia langsung pergi ke tempat lain sedangkan aku masih berdiri di tempat dan belum beranjak sedikitpun.
"Chaser!" Seruku kemudian Chaser langsung nongol dihadapan kami sambil tiduran di lantai. Hadehh serigala yang satu itu suka banget tidur, gak tahu tempat lagi.
Akupun menginjak tangannya setelah itu dia menjerit kesakitan.
"Bangun..."
"Nonaa kau mengganggu kenyamanan ku!"
"Apakah kau tidak malu tidur di tengah jalan?" Tanyaku sambil menatap tajam kearah Chaser.
Chaser langsung duduk sambil celingukan. Setelah itu dia bangkit berdiri dan langsung ke samping ku sambil berdecak kesal.
"Ingat untuk menjaga sopan santun kalian.." Ujar ku memperingati mereka dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Kamu yang seperti ini terlihat berbeda.." Pangeran Shun berkomentar.
"Aku tetap seperti ini dari dulu, hanya saja kau yang belum pernah melihat sisi lain dari diriku pangeran," jelasku sambil tersenyum kepada penjaga gerbang dihadapan ku.
Penjaga gerbang itu menyuruh kami untuk menunggu sebentar, tidak lama kemudian mereka menyuruh ku untuk masuk.
"Ohh iya yang tadi cuma rahasia kita berdua ya pangeran.." Imbuhku sambil mengedipkan sebelah mataku kemudian tersenyum menyeringai.
"Ahh i-iya"
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
Author: Artnya Leca & Shun sesuai request, sorry gak full colour, soalnya aku masih gak terlalu bisa warnainnya wkwk
__ADS_1