
DUAAARRR
Pangeran Zio dengan gesitnya menghindari Seranganku yang sangat tiba-tiba. Namun dia tetap terlihat kesulitan bergerak dengan leluasa karena lukanya, sehingga dia pun terpental jauh.
"Pangeran!!" Teriakku kaget.
Saat aku hendak melangkah tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang yang berasal dari belakangku.
"Hai, anak nakal!" Ucap seorang gadis dalam topengnya, lalu menyerangku dari belakang tanpa memberi celah sedikitpun untuk menghindar.
"Akh!!" Pekikku kesakitan ketika mendapati bahwa aku sudah terkelungkup dia lantai sambil mengeluarkan banyak darah dari mulutku.
Pangeran Zio membelalakkan matanya kemudian menghampiriku, "Lecaa!!"
"Aku sudah muak berbasa-basi dengan mereka semua, lenyapkan saja mereka!" Perintah Felix tanpa ampun.
"Ja-jangan!" Sergahku ketika melihat sebuah pedang panjang mulai menghampiriku.
Namun seketika seorang wanita cantik yang bersama mereka melindungiku dan membuat pedang itu meleset.
"Eh.. apa yang aku lakukan?!" Ucapnya heran sambil menatap kosong kearahku. Aku menatapnya dengan tatapan heran.
Mengapa dia melindungiku? Padahal dia ada di pihak lawan...
Dia melangkahkan kakinya mendekat kearahku, mencoba untuk meraih pipiku meski tetap dengan tatapan kosongnya yang benar-benar hampa.
Belum berhasil dia menyentuh kulitku dia malah menghentikan tindakannya. Setetes air mata mengalir dari kedua sudut matanya kemudian dia memutuskan untuk menjauh dariku.
"Ibunda..." Lirih lavender yang baru saja siuman sambil menatap wanita cantik itu dengan tatapan rindu yang sangat dalam.
Aku membelalakkan mataku tak percaya, Ibunda katanya?! Dia ibuku? Tidak mungkin! Aku dengar wanita itu sudah mati jauh sebelum aku datang ke dunia ini.
"Ibunda!!" Teriak lavender lagi sambil menangis namun dia tidak dapat bergerak banyak karena dibatasi lukanya.
Mendengar ucapan Lavender, wanita yang disebut ibunda olehnya itu justru mengeluarkan belati miliknya dan melesat kerah Lavender sambil menatapnya tajam.
Aku tidak akan membiarkan kakakku terluka, sejahat apapun dia, dia adalah keluargaku...
"Kakk.. ukh-" aku tidak bisa lagi mengeluarkan sepatah katapun untuk mencegah perbuatannya.
Pangeran Zio membantuku untuk berdiri menggunakan sebelah lengannya, tatapan matanya benar-benar sedingin es yang membuat siapa saja yang berhadapan dengannya merasakan ngilu dalam diri mereka.
Tang!!
Pisau belati yang diarahkan kepada lavender terjatuh bebas ke tanah karena perlawanan seseorang yang mencoba melindungi lavender.
Ayah, dia adalah ayahku. Dia menatap lekat wanita itu sambil menggenggam kuat lengannya.
"Claire..." Lirihnya dengan tatapan mata penuh penyesalan.
"Dasar pembunuh!" Rutuk wanita itu sambil memberontak.
"Claire kau masih hidup?" Katanya dengan nada bicara yang semakin melemah seakan-akan dia bertanya pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban.
__ADS_1
Orang yang disebut Claire itu mundur menjauh setelah berhasil melepaskan genggaman Claoudie.
Felix tertawa jahat, "Hahahaha bodoh! Jelas saja dia sudah mati! Kau tidak melihat wajahnya yang pucat dan kulitnya yang dingin?.
Aku tertegun melihat mereka, kemudian mulai memperhatikan wajah ibuku yang putih pucat. Dia benar, wanita itu benar-benar kaku berekspresi, namun dia menatapku dengan pandangan yang berbeda dari yang lain, seakan-akan terselip sesuatu hal yang sangat ingin disampaikannya.
Claire maju dengan senjata yang lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya, dia membawa sebuah tombak besar ditangannya dan bersiap untuk menyerang Claoudie.
"Hentikan!!" Teriakku menghentikan langkah Claire.
"Aku tidak mengerti..."
"Kenapa dan alasan apa kalian melakukan ini, apapun yang terjadi saling membunuh bukanlah jalan terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah..."
"Seseorang yang terbakar oleh dendam dan amarah sudah bukan dirinya lagi melainkan dia telah bersatu dengan iblis,"
"Aku benci tatapan kalian yang saling menatap seperti itu, saling dendam dengan amarah yang menjadi-jadi," Jelasku sambil menahan perasaan kesal yang sedari tadi kutahan.
Aku mendekat kearah ibuku kemudian berhenti dihadapannya. Kulentangkan kedua tanganku untuk melindungi ayahku, "Jangan membunuhnya! Dia adalah orang yang berharga bagimu kan! Kalau kau melakukannya kau hanya akan menyesal untuk selamanya," teriakku keras.
"Tidak!" Teriak Claire sambil menutup telinganya.
"Ibu... " Ucapku panik kemudian mendekat kearahnya.
"Jangan kesini!!" Bentaknya dengan lebih kasar.
Ayahku mendahuluiku lalu mendekati Claire,"Claire!" Pekikknya ketika menyadari sesuatu.
Prankk!
"Kau--!" kata ayah dengan nada tinggi.
"Lenyaplah!" Teriak Claire sambil menangis keras. Dia mengarahkan tombaknya ke tengah-tengah area sekitar kami. Dalam hitungan detik aku tidak mendengar suara apapun apapun lagi.
Semua orang disini sudah tidak sadarkan diri kecuali Claire, aku, Lavender dan ayahku.
Tawa jahat menggelar dalam ruangan besar itu, kemudian ayahku menyeringai sambil menatap sinis ke arah mereka.
"Apa!! Tidak mungkin!" Lavender terlonjak kaget.
"Claoudie!" Seru Claire kasar padanya.
"Kemana! Katakan kemana si Saint bodoh itu?! Kemana dia?! Apakah selamanya dia harus bersembunyi di balik batu?!!!!" Tanya ayah dengan nada ketus.
Saint?! Jangan bilang Pangeran Shun dalang dari semua ini?! Jangan bilang begitu... Tidak mungkin... Tapi dia tadi berbicara seolah-olah tahu bahwa penyerangan ini akan terjadi sebelumnya.
"Dummy tidak seperti itu!" Elak Claire.
"Sudah kuduga kau pasti akan membelanya, karena kau memang menyukainya kan!"
"Tidak aku... Aku hanya mencintaimu seumur hidupku bahkan setelah kematian menjemput, aku akan selamanya mencintaimu!!"
"CK!"
__ADS_1
Claire menundukkan pandangannya,"Kau... Kau bahkan belum pernah sekalipun mengatakan padaku hal yang sering aku ucapkan! Itu membuatku membencimu tapi aku juga mencintaimu!"
Ayah mendekatinya dan mencengkram erat baju depanya, "Lalu kenapa kau pergi dengannya tanpa seizinku, dan diam-diam memiliki seorang anak yang kau sebut-sebut sebagai darah dagingku, dasar jalang! Mau berkata apapun dan bagaimanapun sekarang semuanya sudah benar-benar terbukti, kalau saja aku tidak berhati nurani anak kesayanganmu itu pasti sudah bersamamu sekarang!." Ancamannya sambil melirik kearahku.
Aku tertegun, aku??? apakah aku berbuat kesalahan? Apakah kebaikan ayah tadi hanya ilusi? Kenapa sekarang ayah begitu menyeramkan di mataku... Mengapa dengan mudahnya dia membalikkan keadaan yang semula lawan lebih unggul dan sekarang justru dialah yang berada diatas musuh dan mengendalikannya.
"Alexa anakmu!!" Tangis Claire sambil menatap tajam kearah Duke Claoudie.
Ayah bersikeras,"Tidak!"
"Dia benar-benar anak kita!!"
"Kau berbohong!!"
"Aku tidak berbohong! Coba lihat mataku! Apakah ada kebohongan didalamnya!"
Claoudie menatap manik mata wanita itu lekat, "CK! apa yang dapat aku lihat dari tatapanmu yang kosong itu!"
"Semua yang kau katakan adalah kebohongan, bahkan kehadiranmu sekarang juga merupakan sebuah kebohongan." Ucap Claoudie sinis.
"...." Claire hanya dapat diam tak bergeming, lidahnya sudah kelu dan otaknya telah buntu untuk membalas kemarahan orang yang sangat dicintainya itu.
"Kembalilah, kali ini kau kuampuni, lain kali jika kita bertemu bawalah saint itu untuk kubunuh dengan tanganku sendiri. Cam kan itu!." Ancam Duke Claoudie pada Claire.
Claire diam seribu bahasa sambil melangkah melewati Duke Claoudie, dia menatapku dengan pandangan hampanya namun tersirat sesuatu yang membuat aku langsung memahami perasaannya.
Aku merasakan kekecewaan, keputus asa'an juga harapan yang besar dalam diri Claire.
"Kau terlahir sebagai Magise... karena itu selamanya kau tidak akan bisa memiliki sihir... Tolong rahasiakan ini... Maafkan aku..." Bisiknya pelan ditelinga ku.
Wanita cantik itu kini sudah melewatiku dan mendekati Lavender, setelah kakakku memeluknya dia menghilang bersama kupu-kupu putih yang mengitarinya.
CRASHHH!!!
ZRAAAAH...
Aku membelalakkan mataku karena mendengar sesuatu yang mengagetkanku. Ketika aku melihatnya akupun menutup mulutku yang sempat terbuka lebar.
"Kalau begini apa bedanya ayahku dengan musuh-musuh tadi!...Iblis dia adalah iblis...!" Batinku menjerit dalam hati.
.
.
.
***
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...