
Seorang pria memakai jubah hitam tengah berdiri di atap gedung yang menjulang setinggi langit. Dia mengarahkan pandangannya pada seluruh penjuru kota malam di wilayah Arrenthia. Kota itu terlihat begitu indah dengan kerlipan cahaya lampu dari setiap rumah yang ada disana.
Shuutt...
Secepat kilat dia meloncati gedung-gedung tinggi itu hingga kegiatannya terhenti saat melihat seorang wanita cantik tengah keluar sendiri malam-malam.
Wanita tersebut terlihat terburu-buru untuk melakukan sesuatu. Pria itu pun membuntuti langkah wanita itu tanpa sepengetahuannya.
Namun wanita tersebut tiba-tiba terdiam kemudian membalikkan tubuhnya ke belakang. Karena tidak melihat apapun dia hanya menggaruk tengkuknya yang sudah bergidik.
"Sepertinya ada yang mengikutiku deh, tidak-tidak... pasti bukan salah satu dari mereka!" Gumamnya kemudian melanjutkan langkahnya dengan cepat.
Dia masuk ke dalam istana dengan sedikit berlari menuju ruangan yang terlihat temaram.
Di ruangan itu terlihat seorang lelaki tampan yang sedang terbaring lemah dan tidak berdaya. Wanita tersebut menyeringai kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menancapkan belati yang ia bawa.
"Mati kau pangeran lemah!" ucapnya sambil menusuk benda itu ke bagian perut targetnya.
Sebuah cahaya berbentuk petak-petak segilima yang banyak melindungi tubuh pria itu dengan spontan. Wanita tersebut tidak menyerah, kemudian menusuk lebih keras penghalang itu berkali-kali hingga menimbulkan retakan dan penghalang tersebut pecah.
JLEBBB
Cairan merah mengalir deras dari kasur putih, setelah itu dia tertawa jahat.
"Hahahaha... akhirnya dendamku terbalaskan!" Ujarnya puas setelah lelaki dihadapannya benar-benar telah tak bernafas.
Akhirnya Pangeran Shun telah tiada... aku merasa semuanya adil sekarang. Sekarang aku adalah pahlawan, tidak akan ada lagi monster yang mengerikan itu!. Batinnya senang.
"Hmm sayang sekali nona, itu hanyalah tiruanku saja yang kau bunuh," kata seseorang dari belakangnya, orang itu berdiri tepat dibelakangnya sembari memegang sebilah pedang panjang yang diarahkan tepat kepada lehernya.
Pangeran Shun menyeringai kecil, "Apakah selama ini aku cukup hebat? Aku langsung mengetahui gelagatmu yang mencurigakan, tidak hanya aku, bahkan Erdwan juga mengetahuinya, kalau selama ini kamu itu menyimpan maksud tersembunyi untuk bergabung dengan kami," kata Pangeran Shun sambil menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah wanita yang sudah berwajah pucat tersebut.
"Tidak mungkin..." gumamnya tidak percaya.
"Hohoho seorang wanita tidak akan menang melawan lelaki tampan sepertiku," kata Pangeran Shun sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tampan apanya! Aku yang lebih tampan!" Seru Erdwan yang ternyata berdiri memantau mereka diatas langit-langit kasur.
"Pfttthhh kau bahkan mirip dengan seekor cicak!" Ejek Pangeran Shun.
"Cicak-cicak!! Kau yang menyuruh untuk memantau disini tahu!" Balas Erdwan tidak terima.
"Iya-iya cicak nampan..." Kata Pangeran Shun lagi.
Elaine geram kemudian menggunakan sihir untuk mehilang dari hadapan mereka berdua. Pangeran Shun langsung celingukan mencari keberadaan wanita itu.
"Heh sembunyi dimana kau El!" Ucapnya sambil mencari-cari sampai ke bawah kasur.
"Wahai Pangeran muda... apakah kau itu seorang pangeran? Kenapaaa kau bisa sangat santai saat nyawa kebaikan terancam!" Kata Erdwan berbicara dengan gaya papa Zola.
Hap
"Dapat!" Seringai Elaine saat dia mengunci lengan Pangeran Shun dan menempelkan belatinya pada leher Pangeran. Keadaan menjadi berbalik sekarang, Elaine berhasil membalikkan keadaan yang tadi menyudutkannya.
"Sedikit saja kau bergerak maka akan kubunuh Pangeranmu ini," Ancamannya pada Erdwan.
"Nah kan kualat tuh! silahkan saja aku tidak ikut-ikutan, bunuh saja dia daku ikhlas sepenuh hati kok," kata Erdwan tidak peduli.
"Kejamnya kau wahai budakku... Tuanmu ini sedang sekarat huhu..." Kata Pangeran Shun sambil menatap Erdwan dengan mata berkaca-kaca.
Sedetik kemudian Erdwan luluh dengan tatapan memelas seperti kucing itu, diapun akhirnya turun kebawah dan mendekati Pangeran Shun untuk membebaskannya.
"Memang dasar bodoh! Sudah kubilang kau untuk tidak bergerak!" Kata Elaine memperingatkan. Dia langsung mengarah belati tersebut hingga menggores sedikit leher Pangeran Shun.
"Yuhuu!!" Ucap Erdwan santai sambil menangkis dengan cepat belati yang tadi diarahkan untuk melukai Pangeran Shun.
__ADS_1
Tak!
Belati tersebut terjatuh beberapa meter ke samping kiri Elaine. Elaine yang kesal kemudian menarik paksa Pangeran Shun kearahnya hingga wajah mereka menjadi sangat dekat.
"Ap--" Belum sempat Pangeran Shun menyelesaikan perkataannya dia langsung terbungkam oleh sesuatu yang menempel di bibirnya.
Ya... seperti dugaan kalian, mereka berdua sedang ciuman sekarang di hadapan Erdwan, yang spontan membulatkan bola matanya hingga hampir keluar dari tempatnya.
Pangeran Shun sendiri tidak menyangka bahwa Elaine akan melakukan jurus itu untuk menghabisi dirinya, jika seperti ini maka dia tidak bisa apa-apa. Ditambah lagi dia tidak dapat bergerak karena sihir stun yang dilakukan oleh Elaine.
Cahaya mata Pangeran Shun kini mulai menggelap, tampak dengan jelas kehampaan di dalam raganya, kemudian matanya terpejam secara perlahan.
Setelah melakukan itu Elaine menyeringai jahat kemudian tertawa lepas penuh kemenangan.
Brukk
Pangeran Shun kemudian terjatuh pingsan tanpa perlawanan. Sontak membuat Erdwan terperanjat kaget.
"Brengsek!!! Berani-beraninya kau mencuri ciuman pertamanya!!! Dasar wanita jalang!!" Kecam Erdwan geram kemudian menarik heirloom weaponnya dan menebaskan ke arah Elaine.
Dengan gesit Elaine menghindari serangan lelaki itu sambil terus tertawa jahat.
"Hahahaha apa pentingnya itu hanya ciuman pertamanya saja, lagian mungkin juga itu adalah ciuman terakhir hahaha!"
"Apa yang kau perbuat padanya!"
"Sederhana kok, aku hanya menggunakan sihir yang disebut ciuman maut, sihir itu membuatku bisa mengambil mengambil ruh seseorang dari tubuhnya, dengan begitu dia tidak akan sadar untuk selamanya hahaha, apakah kau juga mau?"
"Cih! tidak mau, jijik, jorok, gak muhrim, apalagi sama nenek lampir, ihh maaf anda bukan level saya!" Celoteh Erdwan membuat Elaine naik pitam.
"Dasar idiot!"
"Kau nenek lampir!!Wlee!"
"Sini sini tabok pantatku kalau bisaa!" Kata Erdwan sambil menunjukan bokongnya yang ditepuk-tepuk pada Elaine.
DUAAARRR!
Elaine melancarkan serangannya ke arah Erdwan, tapi dengan mudah dihindari oleh Erdwan, sambil membawa tubuh Pangeran Shun dia pergi untuk mencari ruangan yang lebih aman dari tempat sempit itu.
"Selama dia gak menghilang kita bakalan aman, bersabarlah Pangeran, aku pasti akan menyelamatkanmu," lirih Erdwan pelan.
"Bocah tengik! Sialan! berani-beraninya aku dibilang nenek lampir!" Gerutu Elaine sambil mengejar mereka berdua.
"Hemm menarik," ucap seseorang yang mengamati mereka diam-diam.
Erdwan menggertakkan giginya kasar. "Lagian apa sih yang buat wanita itu berkhianat! Dia memanfaatkan kondisi Pangeran Shun yang lemah untuk membunuhnya! Cih!"
"Pangeran yang satu ini juga, dia terlalu tidak tegaan sama perempuan! gini kan jadinya, malah diem aja tadi di perlakukan kayak gitu!" Celoteh Erdwan pada cangkang hidup Pangeran Shun.
"STOPP!..... Ada apa ini!" Kata Pangeran Orion tiba-tiba melihat mereka bertiga kejar-kejaran keliling lapangan besar.
Erdwan terkejut ketika melihat Pangeran Orion sedang menghadang jalan didepannya. Tabrakan tragis pun tidak terelakkan.
"Minggir pa--!"
BRUKK!
Erdwan, Pangeran Shun dan Pangeran Orion saling bertumbuk dan jatuh secara bersamaan. Orion berada paling bawah, setelah itu Pangeran Shun baru kemudian Erdwan.
"Aduhh dasar penganggu! Ini lagi kabur dari nenek lampir!" Jawab Erdwan kesal.
"Adududuhh berat! berdiri dulu dong Shunnya, sesak nih!" Protes Pangeran Orion.
Erdwan pun memapah tubuh Pangeran Shun ke bahunya, kemudian mereka bertiga disambut dengan senyuman jahat dari Elaine yang sudah berada di hadapan mereka.
__ADS_1
"Halo ganteng 😉!"
"Haiiii juga, makasih" jawab Pangeran Orion merasa terpuji.
Erdwan dan Pangeran Shun tergelak. "Emang dasar Pangeran terlalu polos tuh yah gini!" Gumamnya pelan.
"Jadi... di mana nenek lampirnya?" Tanya Pangeran Orion dengan wajah polosnya.
"Disana... Itu namanya kakek lampir!" Kata Elaine sambil menunjuk Erdwan.
"Enak aja kamu tuh yang nenek lampir!" Erdwan tidak terima.
"Kamuu!"
"Kamuuu!!"
"Yaudah deh daripada kalian berdua debat, mending kalian tidur aja deh, udah malam, gak boleh begadang entar jadi panda, apalagi sekarang lagi musim salju... Kalian mau jadi boneka salju?!" Ujar Orion sambil mendorong bahu mereka berdua untuk menuju kembali ke istana.
"Cih!" Decak Erdwan kesal.
"Biarkan kami kabuur kek!" Gerutunya lagi.
"Kabur apanya tugas kalian disini tuh masih banyak! Enak aja mau kabur!!" Tukas Orion.
Elaine tersenyum menahan jengkel karena tubuhnya terus didorong paksa masuk ke istana.
"Sabar-sabar Elaine... Orang sabar pasti disayang Tuhan..." Ucapnya pelan sambil mengelus dadanya.
"Nah itu tahu! kenapa nyerang Pangeran Shun segala pake alasan balas dendam! Huh!"
Elaine terdiam kemudian menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu aku gak jadi sabarnya!" Jawabnya kesal kemudian menarik keras tangan Pangeran Orion dan membantingnya jauh hingga beberapa meter ke belakang.
"Ehhhhhhhhhhhhhhhhh????!!!" Pekik Pangeran Orion yang sudah melayang di udara.
"Apa-apaan ini?!" Katanya kesal kemudian mendarat dengan pendaratan yang sempurna dan keren.
"Red moon illusion!" Ucap Elissa kemudian mereka yang berada disekitar sana tertidur termasuk Elissa.
"Hmp! Sihir Ilusi bulan merah, itu berarti wanita itu membuat dunia selain disini atau bisa dibilang dunia mimpi buatannya, sekarang mereka semua ada disana, termasuk orang yang menggunakan sihirnya." Ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Sepertinya ini adalah kesempatan untukku makan banyak...! Hahahaha!" Tawa seseorang dengan suaranya yang menggelegar.
"Meskipun aku tidak bisa makan sembarangan, sebenarnya aku bisa melakukannya, hanya saja aku dan tuanku akan mengalami tanda kutukan apabila aku makan darah selain dari darahnya, hemm tapi aku sudah sangat lapar...aku tidak bisa menahannya lagi..." Ucapnya pelan.
Dia meneguk salivanya kasar, apalagi kini ia melihat setitik darah yang keluar dari leher Pangeran Shun, akibat dari goresan pisau Elaine tadi.
"Sudahlah, aku tidak peduli!" Katanya sembari mendekat ke arah Pangeran Shun yang tergeletak lemah di tanah yang tertutupi salju tipis.
Vampire itu menunjukkan gigi taringnya yang tajam, sejurus kemudian dia menggigit leher lelaki itu dan menyerap darahnya tanpa ampun. Dia tidak peduli dengan tanda kutukan yang akan dia dapatkan nanti setelah meminum darah pria itu.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1