
Aku terus menerus menggerutu, entah kenapa aku bisa kesal padahal aku hanya ingin bertemu dengan pangeran Zio tetapi dilarang. Huh apa sih alasannya untuk menghindariku lagi seperti itu! Padahal kan aku temannya aku berhak menghiburnya sebagai teman tetapi bahkan dia menolak untuk bertemu denganku. Lagian semalam dia terlihat baik-baik saja, tapi sekarang... Aghhh dasar Pangeran sialan!.
Aku terus menggembungkan pipiku karena kesal kemudian berjalan bolak-balik mengelilingi ruangan kamarku di mansion.
"Yaampun budak kenapa kau terus seperti itu, sudahlah terima saja dirimu ditolak Pangeran," kata Chun membuat moodku langsung hancur berantakan.
"Kau tegaaa...tega sekali hikss," kataku sambil mendelik ke arah Chun.
Elissa yang tengah memegang kemonceng pun ikut angkat bicara. " Sepertinya dia sedang butuh waktu menyendiri, lagian siapa yang akan mau memperlihatkan ekspresi kesedihannya di hadapan orang yang dia suka," ujar Elissa sambil tersenyum melirik ku.
"Hei Elissa semalam dia enggak seperti itu, dia malah yang mengajakku bicara duluan! Tidak mungkin Sekarang dia malah down lagi!" kesalku.
"Lagian Elissa, aku sampai mati akan selamanya menyukai Pangeran Shun... Ohh Pangeran Shun aku mencintaimu muaachh," kataku lagi sambil melompat ke atas kasur dan mencium guling.
Setelah melakukan itu aku melentangkan tanganku sambil memejamkan mata, andai saja dia saat ini ada di dekatku... Aaa jadi malu sendiri membayangkannya.
"KYAAAAAAA!" Teriakku sambil memukul-mukul guling kesayanganku.
"Yaampun nona jatuh cintanya emang gak tahu waktu, disaat orang sedang pada bersedih dia malah teriak-teriak gak jelas gini gara-gara kasmaran," kata Chaser sambil merapikan buku.
"Bukan ituu... Masalahnya dia sangat dekat...dekatt sekali.. Malam itu wajahnya juga sangat kyaaw~" ucapku sambil berguling-guling ke samping kiri dan kanan dengan cepat.
"Nonaa.. kasurnya..." Ucap Elissa menatap pasrah ke arahku.
"Gampang nanti juga kuberesin," kataku sambil tetap berguling-guling.
GEDEBUG!
"Ahhh punggung ku sakit!" Pekikku saat tiba-tiba aku jatuh dari atas ranjang lagi.
"Yaampun dasar tingkah budak tidak berperikehewananan,"
Chaser mengangguk mendengar ucapan Chun. Kemudian dia melanjutkan kegiatannya membersihkan buku-buku.
Sedangkan aku melakukan apa yang tadi kukatakan, beres-beres kasur.
"Nona coba lihat ini," kata Chaser sambil menunjukan sebuah buku yang terlihat sudah usang.
"Legenda Putri Alam Magise dan Pelindung Suci, huhuhuhu sepertinya ini buku dongeng yang menarik," Kata Chaser.
"Lebih tua buku itu atau kau?" Sindir Chun.
"Sepertinya nanti malam ada menu baru di piringku," Ucap Chaser sambil menggeser lidahnya dan menunjukkan gigi taringnya yang tajam sambil melihat Chun.
"HIIIHH" Pekik Chun bergidik yang langsung bersembunyi di belakang ku.
"Hemm... Siapa yang menaruhnya di sini, apa mungkin ada seseorang yang sengaja ingin memberi tahu kepada salahsatu keluarga anggota Kethzie?" Gumamku sembari membolak-balik sampul buku itu.
"Tunggu dulu... Magise... Magise... terdengar sangat familiar," gumamku sambil mengerutkan dahiku.
"Ahh budak emang pikun, susah mengingat suatu kejadian bahkan yang barusaja dialami,"
"Tidak boleh seperti itu Chun, sekarang dia adalah tuan putri kerajaan Frost jadi kau yang lebih pantas untuk dibilang budak," balas Elissa, mendengar itu akupun memberikan sebuah jempol ku pada Elissa.
"Tuan putri kok tinggal di mansion Duke," Chun mengomel lagi.
__ADS_1
"Shhttt... jangan lagi bicarakan itu, ayahku menjadi raja kerajaan Frost hanya sementara," kataku sambil tersenyum jengkel.
"Lagian orang seperti dia sepertinya tidak akan mampu memimpin kerajaan besar ini sendirian, apalagi kondisinya masih kacau balau setelah kejadian kemarin malam..." lanjutku.
"Yahh aku juga merasa begitu," imbuh Chaser.
Lili terdiam dia tampak ragu dengan opiniku sepertinya dia mengira bahwa ayahku lah yang lebih pantas menempati posisi itu.
Aihh sudahlah aku tidak peduli, lebih baik aku fokus kembali ke buku dihadapanku ini.
Aku menghembuskan nafas ku kasar kemudian aku tertawa renyah. Ternyata buku ini hanyalah dongeng semata, tidak berupa legenda atau cerita jaman dahulu. Ini hanyalah cerita fiksi saja tapi kenapa aku bisa merasa seperti ada magnet yang menarikku untuk membaca bukunya.
"Kalian keluarlah biarkan aku membaca buku ini sendiri," usirku pada mereka.
"Kami juga mauu," Ucap mereka bersamaan.
"No no no! ini hanya untuk anak-anak usia seperti ku kalian sudah dewasa jadi tidak boleh, jangan melanggar aturan atau kalian akan kena hak asasi pelanggan usia,"
"Sejak kapan ada peraturan aneh seperti itu," gerutu Chaser kemudian mereka semua pergi keluar dari pintu mengikuti perintah ku tadi.
Setelah mereka menghilang aku menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan bahwa mereka tidak mengintip.
"Bwahahah akhirnya aku bisa sendirian, aku mengerti mungkin si Zio sialan itu pasti akan senang bila sendirian!!" Ucapku sambil sesekali tertawa kejam.
"Ehehehm baiklah aku akan membuka setiap halaman buku ini,"
Aku mulai membaca setiap kisah yang terdapat dibuku itu, ceritanya begitu datar dan membosankan hanya diceritakan tentang seorang wanita yang dijodohkan dengan orang yang sangat dikaguminya. Seharusnya dia senang tetapi.... aihh wanita ini terlalu pemalu untuk berkata membuatku menjadi sebal setengah mati gara-gara sifat pengecutnya.
"Hih dasar cewek! Jadi cewek tuh berani jangan lemah dongg!!" Geramku ku sambil tetep membaca bukunya.
Setelah hampir satu halaman ku baca seharian ada bagian buku yang terlihat kosong, aku pun terdiam.
Aihh sudahlah aku lelah aku tidak ingin memikirkan apapun..
Tapi ngomong-ngomong kenapa wanita di dalam buku itu menjadi ceria saat menikah dengan si Duke iblis itu, padahal si Duke itu tidak pernah menunjukkan cintanya sama sekali, lagian hubungan mereka tercipta hanyalah karena faktor perjodohan... Hemm... Anehh...
Aku menggelengkan kepalaku, tunggu dulu, bukannya dia dekat dengan pengawal pribadinya? Kenapa dia tidak bersama dengannya saja sih lagian pengawalnya itu juga terlihat sangat perhatian terhadap wanita itu, huh dasar cewek gak peka!
Agghhh kenapaaa aku tidak bisa berhenti kepikirannn!!!.
Tapii akhir ceritanya sih aku tidak dapat menyimpulkan happy end atau sad ending... Soalnya si pemeran utama dalam cerita ini terlihat bahagia sudah memiliki seorang anak dari si Duke tetapi dia malah menyerahkan anak itu sebagai wadah bagi si Dewi bulan untuk bersemayam...hhhh aku penasaran dengan kelanjutan anaknya.
Ahh disini ada tulisan... Kira-kira apa yahh...
Aku pun membuka catatan buku yang terlipat itu disitu ada tulisan, "Magise sang Dewi penyelamat ditakdirkan bersama pelindung suci tuk bersama melindungi dan memimpin umat,"
"Waaww kereeenn bet!!" Decakku kagum.
Aku terdiam sambil meneliti setiap gambar yang ada di buku itu kemudian terdiam.
"HEEEE KENAPA ADA LAMBANG KELUARGAKU!!"
Jangan bilang ini seperti sengaja dibuat oleh si penulis, huhuu jiwa kepoku langsung meronta-ronta.
"Tidak bisa gini, aku harus memberitahu Chaser dan yang lain mereka pasti lebih tau ukiran dan lambang seperti ini," ucapku kemudian berlari menuju keluar kamar.
__ADS_1
"Nona ada apa?" Tanya Elissa heran.
"Dimana Chaser?"
"Ohh mungkin dia sedang didapur,
"Kalau Chun?"
"Ohh kalau Chun si burung itu sedang keluar gak tau kemana..."
"Aihhh cepat panggil Chaser aku akan mencari Chun," titahku sambil terburu-buru kepada Elissa.
"Baik Nona," kata Elissa dengan cepat.
Setelah setengah jam mencari akhirnya aku menemukan Chun yang dengan santainya memakan buah-buahan yang mungkin dia curi entah dari mana di halaman mansion keluarga Kethzie.
"Ouii burung cebol jangan makan terlalu banyak atau kau akan seperti burung buntal," kataku sambil menghampirinya.
"Diamlah Chun sedang bersiap-siap hibernasi,"
"Huh?"
"Cepat sini burung jadi-jadian gak perlu hibernasi segala," ucapku sambil berusaha menggapainya tetapi dia begitu lincah.
"Hump ada apa kau mencari Chun pik?"
"Sudahlah ikuti saja aku," perintahku kemudian pergi begitu saja.
"Nona kenapa kau keluar hanya menggunakan pakaian tipis? Seharusnya kau merasa dingin jika seperti ini," kata Chaser sambil membawakan sebuah jaket bulu.
"Terimakasih tapi semangatku berapi-api jadi aku tidak merasa dingin," Elakku sambil membusungkan dada.
"Huh sombong," kata Chun tidak terima.
"Jadiii..." Ucapku dengan sengaja.
"Jadiii??" Tanya mereka bertiga.
"Jadiiii............"
"Jadiiii apa?"
"Jadi...."
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...