
Setelah semua urusan selesai, aku dan keluarga kecilku yang sekarang berniat pulang kembali ke kerajaan Frost. Sebelum itu aku meminta ayahku untuk meninggalkan beberapa orang untuk membantu Dummy yang tinggal sendiri karena sekarang para pelayannya sudah melarikan diri.
Ayahku berjalan ke arahku lalu menepuk pundakku pelan.
"Seandainya dia masih hidup, aku akan merestui hubungan kalian berdua," gumamnya padaku.
Setelah mengucapkan itu dia masuk terlebih dahulu bersama kakakku ke dalam kereta kuda.
Ku tundukkan kepalaku dalam-dalam sambil menggigit bibir bawahku. Tidak bisakah ayah mengatakan hal seperti itu lebih cepat? kami telah banyak melakukan sesuatu untuk membuatmu mengatakan hal itu namun setelah dia tidak ada baru ayah mengatakannya. Ini menyakitkan.
"Nona, silahkan masuk," panggil seseorang sambil menarik lenganku pelan namun tarikannya begitu kuat.
"Tidak bisakah kau sedikit sopan pada adikku?" Sinis Lavender pada orang yang berjubah hitam.
"Aku tidak apa-apa, terimakasih sudah menarikku," ucapku pada mereka.
Dengan langkah berat akhirnya aku masuk ke dalam kereta itu, walaupun sebenarnya aku tidak ingin cepat kembali ke sana. Karena aku tahu jika telah sampai yang akan aku dapati hanya kabar buruk saja.
Ku alihkan perhatianku sekarang pada sosok ayahku. Dia sama diammnya sepertiku, sambil menatap ke arah luar dia terus saja melamun menatap pemandangan jalan yang terus kami lewati.
Berbeda dengan kakakku yang tampak tenang sambil membaca lembar demi lembar buku yang berada di tangannya. Sesekali dia tersenyum kecil lalu kadang terlihat sedih, tidak salah lagi yang dibacanya pastilah buku novel karya pengarang kerajaan.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya, bisa-bisanya dia santai setelah membunuh pangeran Shun yang merupakan tunangan ku. Apakah dia tidak merasa bersalah sama sekali? walaupun dia tidak ku bunuh bukan berarti dia sudah ku maafkan.
Maafkan aku pangeran Shun, aku tidak tahu harus berbuat apa di saat seperti ini.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar sekarang, tiba-tiba sebuah cahaya berwarna kebiruan bersinar di sekitar kereta. Sebuah sihir teleportasi pun tercipta dan memindahkan kami hanya dalam sekejap mata.
Sekarang kami sudah berada di halaman belakang istana yang ditumbuhi bunga-bunga. Ayahku turun dengan ekpresi yang lebih membaik dari sebelumnya begitu juga kakakku yang masih tampak tenang.
Lain halnya denganku yang sudah gelisah setengah mati karena diantara beberapa orang yang menyambut kami tidak ada pangeran Shun.
Beberapa orang yang datang terlihat gembira menyambut kedatangan kami. Tapi disisi lain juga ada yang tidak suka.
Setelah keluar dari kereta aku langsung berlari diantara kerumunan itu, berharap melihat dirinya, berharap bahwa kabar itu hanyalah kabar burung semata. Dia masih ada dan baik-baik saja. Namun sia-sia aku tidak bisa menemukan keberadaannya sama sekali.
Tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang sambil memelukku.
"Selamat Leca, team kalian sudah menjadi pemenangnya," ucap seseorang yang tentunya sangat kukenali.
"Natte!" Pekikku yang reflek berbalik lalu memeluknya erat.
"Yaps,"
"Selamat yaa Leca," imbuh Kecha kemudian ikut berhambur memeluk kami.
"Terimakasih, lalu bagaimana kabar team ku?" Tanyaku yang langsung membuat ekspresi wajah mereka berubah.
"Emhh... yah mereka terlihat... tidak baik-baik saja," jawab Kecha.
"Lalu bagaimana dengan pangeran Shun?" tanyaku khawatir.
"Kami tidak tahu, kami tidak melihatnya sama sekali sejak seminggu yang lalu," jawab mereka.
DEG!
Ini tidak mungkin... Tidak mungkin pangeran Shun mati, mereka pasti bohong kan. Pangeran Shun itu kuat, dia orang yang terkuat yang pernah aku kenal, tidak mungkin dia mati semudah itu. Pangeran Shun pasti masih hidup kan?.
"Kenapa Leca? Bukankah dia sedang sama kamu?" tanya Natte.
Tiba-tiba aku langsung terjatuh lemas sambil mencengkram erat gaunku sendiri.
"Pangeran Shun... dia... terluka parah saat itu, lalu aku meninggalkannya," gumamku sambil menahan tangis.
"Apa?!" Pekik mereka berdua kaget.
"Kau bohong kan? pangeran Shun menghilang?" tanya Natte penuh penekanan.
Aku mengangguk yang langsung membuat mereka terkejut dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Tidak tidak, kau pasti bohong," gumam Kecha.
"Tidak Kecha, aku sudah mencurigai kalau ada sesuatu yang terjadi disini tanpa sepengetahuan kita, beberapa hari yang lalu juga kita tidak diperbolehkan untuk menemui team mereka bukan?" kata Natte penuh curiga.
Kecha mengangguk.
"Duduklah," kata Natte menyuruh kami untuk duduk di bangku yang berada di dekat kami.
"Aku curiga kalau sebenarnya mereka semua terluka parah,"
"Ahh bisa jadi,"
"Aku sangat ingin melihat mereka," gumamku pelan.
"Pergilah Leca, mereka semua juga pasti sangat ingin bertemu denganmu setelah mendengar kau menghilang selama beberapa hari, untung saja pihak kerajaan mengirimkan bantuan untuk mencarimu,"
"Benarkah?"
"Iyaaa, kami semua khawatir,"
"Maaf ini salahku, aku yang terlalu bertindak gegabah," kataku sambil menelungkupkan kedua telapak tanganku pada mereka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," balas Kecha dan Natte sambil tersenyum tipis.
Aku langsung berlari masuk ke dalam istana, menelusuri setiap ruangan milik mereka. Namun tidak ada yang tau keberadaan mereka seorang pun. Itu membuatku kesal lalu mengacak-ngacak rambut ku karena frustasi.
"Hey kau," panggil seseorang dari belakangku.
Aku berbalik lalu membelalakkan mataku saat melihatnya. Dia tersenyum lalu mendekat kerahku.
"Kau kemana saja, aku menghawatirkanmu," ucapnya sambil memukul kepalaku keras menggunakan tangannya.
"Ahh maaf pangeran Zio, aku tidak bermaksud untuk menghilang," kataku sambil mengelus-elus kepalaku.
Pangeran Zio terdiam sambil menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti, sial, lagi-lagi dia seperti ini.
"Selamat yah, kau sudah menjadi kelas A,"
"Ehhhhhhhhh?"
"Kau belum tahu? Kalau ujian kali ini pemenangnya akan mendapatkan hadiah 1 permintaan dan naik 2 kelas,"
"Hee itu terlalu..."
"Itu pantas, Karena ujian kali ini sangat sulit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi bukan berarti kami yang tidak menang tidak naik kelas, kami tetap naik satu kelas kok, hanya beberapa orang saja yang tidak naik,"
"Iya-iya aku tidak peduli soal itu sekarang," gumamku kesal karena mendengar ocehannya.
Pangeran Zio memiringkan kepalanya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Aku ingin bertanya kemana teamku?"
"Ohh mereka sekarang dengan ada di ruang makan," jawab pangeran Zio santai.
Ahh pantas aku tidak menemukannya di ruangan yang penuh dengan orang-orang sakit ini. Ternyata mereka sedang asik asik makan. Apakah mereka tidak peduli padaku? Aku barusaja datang loh...hiks.
"Mau aku antar?" Tanya pangeran Zio.
"Tidak usah," jawabku langsung.
Dengan cepat aku membalikkan badanku lalu melangkah keluar namun aku tak sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa air putih dan bubur sehingga membuat makanan itu ikut tumpah kerahku.
"Ah...kotor," lirihku sambil bangkit lalu membersihkan gaunku terlebih dahulu.
Pelayan itu terlihat panik lalu meminta maaf berkali-kali padaku.
"Tidak apa-apa, lagian aku yang salah kok," jawabku sambil tersenyum.
"Kau ini," geram pangeran Zio lalu meraih tanganku dan menarikku pergi dari sana.
Aku tidak banyak menggerutu dan hanya mengikuti langkah pangeran Zio. Sepanjang jalan yang terus menerus ada dalam pikiranku adalah wajah pangeran Shun. Bagaimanapun aku mengkhawatirkannya, aku masih tidak percaya kalau dia benar-benar tidak ada sekarang.
"Loh ini kan kamarku?" Tanyaku heran.
"Iyaa,"
"Katanya kau mau mengantarku ke ruang makan?"
"Aku tidak ingin mengantarmu jika pakaianmu penuh dengan bubur,"
"Ehhhhhhhhh iya heheh," jawabku cengengesan karena menyadari pakaianku sekarang udah bersatu dengan bubur tadi.
"Tunggu sebentar," ucapku lalu masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian.
Ahh sudah lama aku tidak memasuki kamar di istanaku yang ini, lagian aku dulu kan terbiasa tinggal di mansion.
Aku menghela nafas panjang, lalu kemudian membuka pintu kamar. Bagaimanapun aku hanyalah putri sementara di istana ini, besok-besok aku kembali lagi anak dari seorang Duke.
Brukk
Tiba-tiba pangeran Zio langsung memelukku membuatku terkejut lalu kami terjatuh di atas lantai. Untung saja kepalaku dilindungi oleh tangannya jadi aku tidak terlalu merasa sakit.
"Kau membuatku terke-"
"Aku merindukanmu," ungkapnya terdengar senang.
Aku tersentak lalu tersenyum tipis. "Terimakasih sudah mencemaskan ku,"
Pangeran Zio menatapku lalu tersenyum, "Terimakasih saja tidak cukup,"
"Y-ya habisnya aku tidak tahu harus bilang apa," gumamku yang tiba-tiba gugup.
Aku langsung mendorong tubuhnya lalu dengan cepat berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu.
"Tunggu Nona Alexa, aku mendengarnya,"
Langkahku langsung terhenti lalu berbalik.
"Mendengar apa?"
"Tentang pangeran Shun,"
"Di-dia kenapa?" tanyaku gagap.
__ADS_1
"Dia telah dibunuh kan oleh kakakmu?"
Aku tersentak lalu mendekat ke arah pangeran Zio dan menatapnya lekat.
"Kau tau darimana?" Tanyaku.
Pangeran Zio tertawa kecil,"Aku hanya menduga saja, tapi tidak kusangka itu benar,"
Aku menghela nafas, "Bisakah kau tutup mulut? Aku tidak ingin orang-orang tahu,"
"Apakah kau terlibat?"
"..." Aku terdiam.
"Dengar Nona Alexa, ini adalah berita yang besar, kalau ini diketahui oleh kerajaan Arrenthia maka kau akan tahu sendiri akibatnya,"
Aku mengangguk. "Aku mengerti, kurasa aku yang bersalah atas semua yang terjadi kepadanya, hukuman mati pun tidak akan cukup untukku," lirihku pelan.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu," kata pangeran Zio lalu melangkah mendahuluiku.
***
Aku memutar pandanganku ke seluruh penjuru mencari keberadaan teman-teman ku. Ternyata mereka sudah tidak ada lagi di sana.
Namun ketika aku berbalik untuk mencari mereka lagi, Chaser langsung datang sambil memelukku di tambah dengan Elisa dan Lily yang ikut berhambur juga.
"Kami merindukanmu!" Teriak mereka bersamaan.
Jujur itu membuatku kaget lalu tersenyum tipis mendengar perkataan itu. Kata-kata itu sedikit menghiburku setelah semua kejadian yang aku alami selama ini.
Setelah itu aku mendengar banyak cerita dari mereka yang menceritakan tentang kejadian setelah perburuan peri itu. Tapi mereka tidak mengatakan hal-hal tentang pangeran Shun, aku tahu, mungkin mereka tidak ingin membuatku semakin bersedih.
"Ngomong-ngomong nona, tidak lama lagi akan ada pergantian raja baru juga loh," kata Chaser sambil mengambil beberapa buah anggur ke mulutnya.
"Ohh iya?"
"Iyaa,"
"Aku sudah tau itu," jawabku langsung.
Aku mendekat ke arah meja yang sudah tertera banyak makanan serta buah-buahan dan mengambil sebuah apel lalu ikut memakannya.
"Aihh,"
"Leca kau terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya pangeran Zio.
Seketika aku langsung mendelik ke arahnya. Apa sih yang dia inginkan dari berita buruk itu? Dia ingin aku semakin bersedih setelah melihatku senang?.
"Ohh iya apa kau sudah tahu tentang berita pangeran Shun yang menghilang?" tanya Lily.
Aku mengangguk lesu.
"Tenang Leca dia pasti baik-baik saja," kata Elissa memelukku pelan.
"Kalian... jangan memperlakukanku seperti anak kecil, aku masih belum menerima berita ini dan aku harus memastikannya sendiri agar aku percaya,"
"Kau sama seperti Erdwan, dia pergi untuk mencari pangeran Shun loh," ujar Lily.
"Ehh benarkah? pantasan aku tidak melihatnya sama sekali."
"Lalu apakah kau bisa memastikannya tanpa ada bukti sama sekali? kau tahu sendiri kan kalau hilang itu berarti lenyap, maka tidak ada yang bisa kau selidiki dari sesuatu yang sudah hilang tanpa adanya bukti-bukti," kata pangeran Zio menanggapi.
Aku mengangguk mengiyakan, lalu berfikir sejenak. "Hmmm mungkin sudah saatnya aku menyerah dan bersamamu pangeran," kataku sambil tersenyum tipis. Yah walaupun itu pura-pura tapi senyuman ku sangat menyakinkan.
"Anak yang baik," kata pangeran Zio sambil memegang puncak kepalaku.
Aku langsung menepis tangannya kasar, "Jangan harap, kau membuatku menyerah hanya karena tidak menemukan bukti apapun," kataku jengkel lalu pergi dari sana.
"Nonaaa, aku ikut," kata Chaser dan Elissa menyusul ku dari belakang.
"Hhhh dasar pangeran yang merepotkan," cibirku pada pangeran Zio.
Setelah agak jauh aku berbalik hanya untuk memastikan bahwa dia tidak benar-benar tersinggung. Namun pangeran Zio hanya menatap tangannya yang habis kutepis tadi lalu menatap Lily dengan mata berkaca-kaca.
"Padahal kami adalah teman yang berusaha bertemu kembali," kata pangeran Zio pelan.
Lily yang menatapnya jadi iba lalu menghibur pangeran Zio dengan memberinya buah-buahan segar yang sedang Lily pegang daritadi.
Aku menghela nafas, tidak ada gunanya aku menghawatirkan dia hanya karena perkataanku yang kurang sopan.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...