
Semilir angin dingin berhembus menerpa kulit wajah kami, mereka yang barusaja bangun terlihat bergidik kedinginan, tapi hal itu harus dikesampingkan karena kami harus bersiap untuk berburu peri hutan, untung saja aku memakai gaun yang lumayan tebal jadi aku tidak terlalu merasa dingin.
"Padahal ini bukan musim salju," gumam Lily sambil menggosok-gosok tangannya dan mendekat kerahku.
Aku menatap sengit ke arah gadis itu lalu membuang muka ke tempat lain.
"Sebenarnya Leca, aku mengira semalam sepertinya pangeran Shun terlihat sedikit aneh,"
"Aneh bagaimananya," kesalku.
Lily tersenyum kikuk, "Aku tau kau sedang kesal nona Alexa, tapi setidaknya dengarkan dulu penjelasanku,"
Aku menghembuskan nafas kasar kemudian beralih menatap Lily, "Baiklah katakan saja apa yang mau kau katakan,"
"Pangeran Shun semalam badannya sangat panas, mungkin karena itu kesadarannya memudar dan dia salah mengira kalau aku adalah kamu,"
Aku langsung tersedak karena menelan udara, maksudnya tersedak tiba-tiba karena mendengar ucapan Lily.
"Ti-tidak mungkin!" Elakku tidak percaya, kali ini bukan karena ingin menuduh Lily, aku hanya tidak ingin terlalu ke ge'eran dan melambung tinggi sekali.
"Iyaa, soalnya dia menyebut namamu berkali-kali,"
"Astaga...aku meleot," gumamku sambil terduduk lemas.
Lily tertawa kecil melihat ekspresi ku, lalu dia duduk di dekatku sambil menepuk pundakku.
"Semangat yah untuk hari ini," ujarnya sambil menunjukkan jari jempolnya.
"Ba-baiklah,"
Setelah Lily menjelaskan tentang hal itu, entah tiba-tiba aku merasa sangat bersalah padanya, aku telah menuduh dia dengan prasangka ku yang tidak baik, dan aku harus segera minta maaf padanya, tapi aku harus mengatakan apa? Aku merasa sangat bersalah.
"Maaf Lily, kemarin aku menyangka kalian berdua diam-diam melakukan sesuatu di belakangku,"
Lily menggelengkan kepalanya cepat, " Tidak apa-apa kok nona Alexa,"
"Kamu memaafkanku?"
Lily mengangguk singkat.
Aku merasa senang mendengar hal itu darinya, kemudian aku memeluknya erat seperti aku memeluk guling tidurku.
Protagonis novel memang tidak perlu diragukan lagi kebaikannya, best emang sih. Akunya saja yang terlalu berlebihan tadi.
"Lily, Leca, kalian berdua tidak makan? Kami baru memasak sesuatu loh," kata Chaser memberitahu.
"Ehh kok kamu panggil aku Leca sih, bukan nona!" Protesku kesal.
"Pangeran Shun yang membuat aturan itu, katanya gunakan saja nama panggilan biar kelihatan lebih akrab," jelas Chaser.
"Oowh," gumamku pelan.
Chaser, Lily dan aku berjalan menuju tempat dimana mereka memasak sesuatu di dekat tenda. Aku tersentak ketika melihat mereka yang bekerja hanya pangeran Shun dan Erdwan, sedangkan si Angela sibuk membersihkan kuku kukunya dari tanah yang menempel.
"Wahh kalian hebat sekali," puji lily sambil menatap daging ikan yang matang dipanggang itu dengan liur yang hampir menetes.
"Jangan dimakan dulu!" Larang Erdwan.
"Kenapa?" Tanya Lily urung mengambilnya.
Sedangkan aku tidak peduli dan langsung menggigitnya, namun sedetik kemudian aku memuntahkannya lagi.
"Puanass!" Teriakku sambil berkaca-kaca.
"Itu baru saja selesai di panggang," sambung Erdwan lagi.
"Kenapa kamu baru ngasih tau, Erdwan bodoh," kesalku padanya.
"Anda tidak bertanya sih," balasnya tidak mau kalah.
"Hu dasar,"
__ADS_1
"Nenek lampir," imbuh Chun yang hinggap di puncak kepala Erdwan, sukses membuat ku melayangkan ikan panggang itu ke arah mereka. Tidak lama setelah itu Erdwan berteriak kepanasan.
Pangeran Shun sendiri sibuk membenahi kayu bakar yang digunakan untuk menyalakan api itu, kemudian dia melirik ke arahku, sontak membuatku yang sedari tadi terdiam memandanginya langsung berpaling karena salting.
Duh leca bodoh banget sih kamu kemarin gara-gara salah faham aja minta putus, yaampun malu-maluin banget, batinku.
Pangeran Shun lalu beranjak untuk mendekat kerahku kemudian dia langsung duduk di sampingku membuat aku merasa sangat gugup tidak karuan.
"Ngomong ngomong kalian ngerasa ada yang aneh gak sih, kok kita gak temu team lain saat perjalanan?" Tanya pangeran Shun pada kami.
Aku tertegun, kalau dipikir-pikir sih benar juga, kami belum pernah berpapasan dengan team lain semenjak mulai memasuki tempat aneh ini, kami hanya berpapasan dengan monster dan hewan-hewan aneh yang menghambat perjalanan kami, kalaupun menemukan mereka hanya sekedar jejaknya saja.
"Lagian kita hanya menemukan barang atau darah mereka saja, tetapi tidak dengan mayat mereka," katanya yang terlihat sangat serius.
"Ma-mayat? Apa maksudmu pangeran?" Tanyaku kaget.
"Iya Leca, soalnya kan katanya diperbolehkan untuk membunuh seseorang atau dengan kata lain mereka bisa saja mati terbunuh, tetapi kok tidak ada mayat mereka,"
"Iya-iya deh, baru inget," imbuhku.
"Chun juga tidak menemukan seorang pun," kata Chun lagi.
"Berarti kita sampai duluan di hutan ini dong?" Tanya Angela.
"Daripada hutan, ini lebih terlihat seperti tempat rekreasi," kata Chaser sambil melihat-lihat ke atas pohon yang daunnya berwarna kemerahan seperti pada musim gugur.
"Itu pohon maple?" Tanya Lily takjub.
"Yaps, tidak ada rumput yang menyusahkan tapi adanya bunga-bunga liar dan pohon maple, tidak seperti hutan yang pernah ku masuki walaupun lewat sihir ilusionis sih, dia sana terlihat banyak sekali rumput liar tapi ini tidak, apa ini yang mereka maksud hutan?" Tanya Erdwan ragu.
"Iya," jawab pangeran Shun lalu segera berdiri kemudian melangkah untuk mengambil sesuatu.
Dia memetik sebuah bunga yang terlihat cantik, kemudian dia langsung memejamkan matanya seperti sedang menyimak sesuatu.
"Apa sih yang dia lakuin?" Tanya Angea padaku.
Aku mengangkat bahu tidak tahu menahu.
Tapi tidak lama setelah itu tiba-tiba ada segerombolan burung aneh yang datang ke arah pangeran Shun, dan aura mereka terlihat tidak bersahabat.
Lily dan Chaser bersiap untuk membunuh burung-burung itu tetapi pangeran Shun melarangnya.
Burung hitam itu pun hanya berputar-putar di atas kepala kami dan tidak menyerang, tapi tetap merasakan kalau burung burung aneh ini tidaklah baik.
"Jangan bunuh atau mengambil sesuatu apapun yang ada disini," terang pangeran Shun pada kami.
"Tapi tadi kita ngambil ikan dong buat dimasak," kata Chaser menimpali.
"Yaudah itu udah terlanjur juga, siapa yang mau mati kelaparan," Kata Angela.
Pangeran Shun terdiam sejenak kemudian tersenyum simpul, "Ayok berburu peri disini,"
"Siapp," jawab kami serempak.
.
.
.
Kami membagi team untuk berpencar menjadi dua kelompok, aku, Chaser dan pangeran Shun, sedangkan yang satunya lagi Erdwan, Lily Angela dan Chun. Kami pun memulai pencarian kami di mulai dari dekat tempat itu.
"Kenapa kita hanya berdua pangeran?" Bisik ku pada pangeran Shun.
Pangeran Shun menoleh, "Bertiga kok," katanya sambil menunjuk Chaser.
"Aihh itu bukan manusia tapi nyamuk," protesku kesal.
"Alexa, aku mendengar loh, telingaku ini sangat tajam," kata Chaser menimpali.
"Piku piku Piku,"
__ADS_1
Aku menghentikan langkahku ketika mendengar seseorang yang berbicara aneh, kemudian menoleh kanan dan ke kiri.
"Pangeran, kau mendengar sesuatu?"
Pangeran Shun menggelengkan kepalanya, "Lagian sudah kubilang cukup panggil Shun aja saat ini bukan masalah,"
"Masalahnya aku tidak bisa..." Ucapku sambil memainkan jariku.
"Piku piku piku,"
Aku terdiam lagi, suara yang tadi terdengar lagi, terdengar imut tapi aneh. Setelah lama berfikir akhirnya aku memutuskan untuk mencari asal suara itu.
"Bentar pangeran, Chaser," ujarku berlari ke arah kumpulan bunga di dekat sana.
"Ah akhirnya kau ketemu!" Seruku keras.
Tapi ternyata suara yang ku cari itu tidak sesuai ekspektasi ku, karena aku saat ini malah menemukan cowok tampan yang tengah tersenyum kerahku. Di dekatnya ada beberapa peri kecil dan slime, dan mereka terlihat akur.
"Yo nona kecilku," katanya sambil menyunggingkan senyum miring.
"Heeee siapa kau!" Teriakku kaget.
"Manusia,"
"Iya aku tahu tapi kau siapa?"
"Kau kenal Shota Dummy? Itu adalah saya,"
"Maaf aja yah, tapi aku tidak kenal sama sekali,"
Aku sangat jengkel mendengar basa-basi nya dan gaya sok kerennya, lagian tujuanku adalah mendapatkan peri peri itu, aku ingin segera merampasnya dari orang itu.
"Aku ingin menculik perimu, bolehkah aku mengambilnya satu atau dua?" Tanyaku ramah. Semoga saja dia mau memberikannya secara baik-baik.
"No no, mereka adalah keluargaku,"
"Ku pinjem aja deh ntar kalau sudah ku kembalikan,"
"Emang ini benda apa?!" Kesalnya lalu berdiri mendekatiku.
"Iyaa?" Jawabku ragu.
"Bodoh," ucapnya sambil memukul pelan kepalaku.
Dia ini kenapa sih, kok tiba-tiba jadi sok akrab, lagian dia berbicara denganku seperti kami telah kenal sebelumnya.
"Kau sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik," ujarnya sambil mengambil beberapa helai rambutku dan memainkan dengan jarinya.
Aku hanya diam mencoba untuk menahan rasa kesal dan jengkel ku yang sudah diujung tanduk, dia ini benar-benar sok kenal, padahal bertemu saja belum pernah.
Dia tersenyum kecil, "Ikutlah dengan menjadi wanitaku, dengan begitu kau bisa bermain dengan para peri itu setiap hari,"
"Ha?"
"Menikahlah denganku,"
"Haaaaaaaaa??"
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...