
BUGH
Tiba-tiba aku terjatuh karena tersandung akar pohon yang mencuat di permukaan tanah. Aku meringis merasakan sesuatu yang sakit di kakiku, ternyata lutut kakiku terluka dan mengeluarkan banyak darah.
"Aww... Soal kalau seperti ini aku tidak bisa melanjutkan untuk berlari, berjalan saja aku tidak bisa," gumamku sambil membersihkan lukaku dari kotoran dan meniupnya sesekali.
Sangat perih sampai tak henti-hentinya aku merintih.
"Leca, kenapa kau terlihat begitu payah," kata seseorang yang sangat kukenali suaranya. Dia adalah Chun, suara Chun yang sangat rempong dan ceplas-ceplos. Jangan bilang dia juga ada di sini.
"Chun." Kataku sambil menghadapkan wajahku ke atas dan mendapati seseorang dengan jubah putih dan di bahunya bertengger burung yang barusan berbicara itu.
Pangeran Shun mengulurkan tangannya padaku sambil memperlihatkan senyum lembutnya. Aku tersentak sambil menatapnya penuh haru.
"Payah, pakai segala pandang-pandangan mata ke arah Pangeran Shun sedangkan Pangeran Shun hanya memandang dengkulmu saja," kata Chun yang sontak mendapatkan hadiah dariku. Sebuah batu yang kulemparkan kearahnya tanpa pikir panjang.
PLETAK
"Aduh," pekik Pangeran Shun sambil memegangi dada sebelah kanannya.
"Upss salah sasaran deh,"
Mata Pangeran Shun berkedut sambil tersenyum jengkel, "Leca... Tembakan mu benar-benar payah,"
"Hehehe, aww" pekikku saat tidak sengaja menyentuh lukaku.
"Mau ku gendong?" Kata Pangeran Shun sambil menawarkan bahunya.
Aku menggelengkan kepalaku cepat, "Gak mauu!"
"Yaudah jalan sendiri,"
"Tunggu-tunggu! Aku maunya gendong depan..." Kataku sambil menatapnya berseri-seri.
"Modus," celetuk Chun.
"Yeahh aku tidak keberatan," jawab Pangeran Shun membalas ucapan Chun.
"Terserah,"
"Baiklah kita lanjutkan perjalanan ini," kata Pangeran Shun sambil berjalan santai.
Sedangkan aku yang sudah berada sangat dekat dengannya bisa diam mendengarkan suara nafasnya dan bisa merasakan detak jantungnya yang bergemuruh bagaikan tersambar petir.
Oohhh tidak ini sangat menegangkan, bahkan aku tidak bisa merasakan sakit di lututku ku lagi saat ini, karena jantungku sedang berusaha untuk bertahan hidup.
"Lecaa, berhentilah meraba dadaku," kata Pangeran Shun seketika membuatku tersentak lalu tertunduk malu.
"Dasar budak kau benar-benar payah dan memalukan, mulai saat ini Chun memecatmu sebagai budak," ucap Chun.
Mendengar itu sontak membuatku langsung antusias, "Hah berarti aku merdeka tanpa tuan cebol sepertimu,"
"Yaampun gak jadi deh, Chun tarik lagi, kau budak Chun tapi budak terpayah yang Chun punya," kata Chun.
"Hahh kau juga sama payahnya!" Balasku.
Aku terdiam lalu fokus menatap wajah Pangeran Shun yang tengah serius, aku tidak bisa untuk tidak melakukannya karena aku sangat menyukainya.
"Ah iya Pangeran, mereka berkata kau seorang sendiri, tapi ternyata ada Chun bersamamu,"
"Ohh itu, mungkin karena Chun itu bukan manusia jadi tidak masuk ke dalam perhitungan dua orang,"
"Hah alasan apa itu, seharusnya tadi aku tidak perlu terlalu khawatir padamu kalau tau ada Chun di sampingmu huh," cibirku pelan.
Pangeran Shun mengembangkan senyum tipis di bibirnya, "Ternyata Leca sangat perhatian,"
"Haah jelas lah," jawabku langsung.
"KYAAAAAAA" teriak seseorang mengagetkan kami.
Sontak kami semua terdiam lalu segera menghampiri sumber suara itu.
"Leca, kau tunggu di sini yah, aku akan segera kembali, Chun yang akan menjagamu," kata Pangeran Shun menurunkan aku di bawah pohon yang rindang.
Akupun mengangguk singkat, setelah itu Pangeran Shun pergi.
__ADS_1
Aku tahu Pangeran Shun pasti tidak akan tinggal diam dan segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan lain.
Selanjutnya aku hanya duduk diam sambil memandangi luka yang ada di lutut ku. Aku merasa kalau luka itu sangat sakit dan perih hingga melumpuhkan gerakan kakiku.
"Budak Leca, bersabarlah sedikit lagi,"
"I-iya Chun, tapi kenapa Pangeran Shun tidak menyembuhkan lukaku dulu?"
"Karena dia sedang memulihkan mananya, ia sering melakukan latihan yang berlebihan jadi sihirnya juga masih agak kacau Leca, dia juga menunggu Lily datang menyusul untuk mengobati lukamu nanti,"
"Ahh begitu," jawabku.
Pangeran Shun, kenapa kau berusaha sampai sekeras itu? Aku tidak ingin melihatmu sakit atau terluka.
"Leca!" Seru Lily dan Chaser.
Aku menoleh ke arah mereka dan mendapati tiga orang sudah mendekat ke arahku.
"Kau lari seperti cheetah Nona, cepat banget," komentar Chaser.
Lily mengangguk sambil menyapu keringat yang bercucuran dari dahinya.
"Ahhh maafkan aku, aku terlalu khawatir, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri," jawabku sambil cengengesan.
"Tidak apa-apa kami mengerti kok," Lily menanggapi.
"Ngomong-ngomong Pangeran Shun kemana?" Tanya Erdwan.
"Dia pergi, beberapa saat yang lalu kami mendengar suara teriakan di sekitar sini," balas Chun.
"Kalau begitu ayo kita susul," ajak Chaser pada Erdwan. Erdwan mengangguk lalu bersiap untuk pergi.
"Tunggu," cegah Lily.
Lily melirik ke arah ku, "Kami juga ikut," Ucapnya yakin.
"Tapi Nona Alexa terluka, sebaiknya kau di sini saja membantunya," elak Chaser.
"Aku bisa menyembuhkannya,"
Aku tersenyum sumringah kemudian menggerakkan kakiku yang sempat terluka lalu berdiri tegak.
"Ayok kita susul Pangeran Shun!" Ajakku setelah memastikan kakiku sudah tidak apa-apa.
Aku, Chaser, Lily dan Erdwan serta Chun pun berangkat menuju tempat Pangeran Shun berada, jaraknya tidak begitu jauh dan kami sudah sampai di tempat itu.
"Itu dia Pangeran Shun!" Kata Lily sambil menunjuk ke arah seseorang yang tengah bertarung sambil menggendong seorang wanita yang pingsan di lengannya.
"Wew pasti Leca cemburu, Pangeran Shun menggendong wanita lain," Goda Erdwan.
"Tidak," jawabku singkat sambil berpaling.
"Masa sih..."
"Tidak salah lagi," jawabku sambil menatap Erdwan dengan mata berkaca-kaca.
Erdwan betul, lagian siapa yang tidak cemburu melihat pacarnya sedang menggendong wanita lain di depannya.
"CHASER!" Seruku sembari menjulurkan tanganku ke arahnya, dalam sekejap dia memberikanku sebuah panah andalanku.
Erdwan dan Chaser menyusul Pangeran Shun lebih dekat sedangkan Lily dan aku sama-sama menggunakan panah kami masing-masing untuk menyerang benda bulat menyusahkan itu dari jauh.
"Hahh hah..." Pangeran Shun terengah-engah.
"Pangeran kau tidak apa-apa?"
"Ya aku tidak apa-apa,"
"Kenapa monster batu ini tidak ada habisnya! Bisa-bisa nanti pedangku jadi tumpul," Kesal Erdwan.
"Aihh tenagaku juga tidak bisa terus-terusan diadukan dengan batu yang keras," kata Chaser.
Monster batu itu berbentuk seperti manusia namun semua organ tubuhnya terbuat dari batu dan sialnya mereka memegang senjata tajam di tangan keras mereka. Mereka terus menyerang ke arah kami tanpa mengenal lelah, dan terus bermunculan dari tanah seperti zombie yang tidak ada habisnya.
Tapi kelemahan Golem itu adalah monster ini buta dan tuli, mereka sebenarnya tidak hidup, hanya menyerang sembarangan arah. Satu lagi, mereka juga termasuk monster area yang apabila kami segera kabur meninggalkan wilayah kekuasaannya maka kami tidak akan diserang lagi.
__ADS_1
Karena itu kami harus mencari celah untuk kabur, tapi monster ini terlalu banyak!.
"Destroy!" Gumamku sambil meluncurkan panah-panahku pada monster batu itu.
Beberapa monster itu pun hancur namun muncul lagi yang baru yang justru malah lebih banyak.
GRAPP
Kaki Lily tergapai oleh monster batu itu dan dia belum sempat menghindar, dalam hitungan detik ia pun berhasil dilempar bebas ke udara.
BRAKKK
Lily jatuh menghantam batang pohon besar dengan kasar.
"Senior Lilyy!!" Pekikku lalu berlari menghampirinya.
Aku berlari ke arah Lily yang tengah meringis kesakitan karena tubuhnya terhantam keras dengan kayu.
"Leca awas!"
DUAAARRR
Tiba-tiba suara memekakkan telinga mengagetkanku lalu membuatku melirik ke arah samping yang ternyata adalah pangeran Shun yang barusaja menghancurkan satu monster batu yang hendak menyerangku.
"Chaser bawa Leca! Erdwan bawa Lily!" Titah Pangeran Shun keras setelah dia berhasil membuat celah yang cukup untuk kabur.
"Maafkan aku Nona, tapi kita harus kabur secepatnya," Ucap Chaser yang langsung menyerobot langsung menggendongku ke pundaknya.
Sontak aku membelalakkan mataku lalu berontak, "Lepaskan, Chaser!"
"Tidak akan Nona,"
"Monster batu itu gak ada habisnya, jadi kita kabur saja," kata Pangeran Shun.
"Tapi aku maunya sama pangeran Shun!"
"Pangeran Shun sedang menggendong orang lain sekarang," jawab Chaser.
"Aihh aku tahu!" Kesalku lalu memukul Chaser dengan SATE, panah milikku.
TUINK
"Oo Ow"
Chaser menghilang begitu saja dan aku terjatuh berguling-guling di tanah.
"Akhh sakitnya..." Lirihku sambil memegangi kepalaku yang sempat terbentur tanah.
Bodohnya aku, Chaser kan hanya roh, makhluk penjaga panah ini tapi aku malah memukulnya dengan panahku.
"GHROAAARRR,"
Aku mendongakkan kepalaku lalu melihat sebuah makhluk hidup yang sangat aneh, terlihat seperti monster lintah tapi berwarna hijau dan bermotif daun. Oh tidak-tidak, jelas-jelas itu adalah monster ulat yang sangat besar.
Tiba-tiba kakiku membeku dan mulutku sangat kaku, monster itu begitu dekat dan bersiap melahap ku ke dalam mulutnya. Segera ku halangi kedua wajahku agar tidak melihat makhluk menyeramkan itu memakanku hidup-hidup.
"KYAAAAAAA!" Teriakku yang ketakutan sambil gemetaran setengah mati.
Matilah aku huhu...
.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...