
"Ihh Pangeran Shun apaansih kenapa tubit-tubit... sakit tahu!!"Protesku kesal karena pangeran Shun terus-terusan memainkan pipi chubby ku sambil mencubit nya kencang.
Pangeran Shun sendiri hanya senyam-senyum sambil tidak berhenti melakukannya, malah semakin mengencangkan cubitannya pada pipiku.
"Pangeran Shun sini ku cubit lagi!" Kesalku kemudian mencoba meraih pipinya namun dia malah menjauh dariku sambil mengeluarkan ujung lidahnya untuk meledek dan itu sukses membuat ku kesal.
Ughh awas aja akan ku kejar dia sampai dapat!.
"Pangeran sini dong! Harus adil, kalo berani nyubit harus mau dicubit lagi!" Teriakku sambil berlari ke arahnya, saat mendengar ucapan ku barusan, langkahnya langsung terhenti dan dia membalikkan badannya sambil tersenyum jahil ke arahku.
"Enggak deh biar kamu aja,abisnya Lecaa lucu... pipi mu jadi bulet bulet gitu.. pfffftttt" elaknya sambil menutupi mulutnya berusaha menahan tawa.
Akupun langsung berkacak pinggang. "Hah?apa itu pujian..kok aneh ya kedengarannya"
Aihh jadi malu deh kalau itu benar-benar pujian, tapi...kok aku merasa sedikit sebal!. Batinku.
Segera ku palingkan wajahku yang sedikit memerah. Aku tidak ingin dia mengejekku yang cuantiikk bak bidadari ini setara dengan lobster panggang atau apalah itu.
"Ulululu Leca imut, sini peluk dong jangan ngambek lagi..." Kata pangeran Shun kemudian menarik tanganku dan membawaku ke dalam pelukannya.
Aku tersentak kemudian dengan cepat membalas pelukannya sambil tersenyum senang.
"Aaaa Pangeran Shun memang terbaik kalau sudah masalah membujuk deh" Pujiku yang hampir aja marah tapi gak jadi.
Yaahh sebenarnya aku gak bisa marah sih ke orang yang sedang berada di hadapan ku ini.
Pangeran Shun melepaskan pelukannya kemudian menatap ku serius dengan tatapan mata yang begitu dalam.
"Hmm?" Kataku sambil menatap balik manik matanya.
"Puffer fish.."
"Puter ish?"
"Sadar.."
"Eh Sadar?.."
"Ikan buntal.."
"Haaah? Pangeran kau bicara apaan sih, kok gak jelas gitu.." gerutuku sambil menggembungkan pipiku karena kesal. Sedangkan dia hanya menahan tawa melihat tingkah ku.
"Hahahaha tuh kan pipinya jadi bulet, kayak ikan buntal.."
"Enak aja aku dibilang buntal!"
"Leca buntal pfftt.."
"Pangeran sini kau!" Ucapku sambil meraih pipinya lalu mencubitnya.
Sekarang dia terlihat kesakitan sambil meminta ampun padaku, nyahahah aku suka dia yang tersiksa seperti ini. Hehe muka imutnya jadi tambah imut.
Sedari tadi jantungku berdegup dengan kencang dan darahku terasa seperti air terjun yang terus mengalir dengan cepat. Apalagi saat dia berada dalam posisi sedekat ini sambil tersenyum kepada ku maka aku akan merasakan desiran demi desiran yang lembut namun sangat berasa di hatiku.
Ughhhtt....!
GUBRAK!!
"AH!" Pekikku karena tubuhku menjadi sakit semua terutama bagian tangan kiriku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku mencoba membuka mataku lalu mengerjapkan mataku agar bisa dengan cepat menghilangkan rasa kantuk yang kurasakan.
"Haaaaaah cuma mimpi?!" Teriakku saat sadar kalau aku barusaja terjatuh dari kasur sambil memeluk guling.
Aku melirik ke sekililingku dan mendapati kamarku yang masih berantakan, sepertinya aku benar-benar ketiduran semalam dan tidak sempat bersih-bersih. Aghhh
Aku mengacak-acak rambut hitam ku sambil mengomel gak jelas karena kesal.
"Huaaa padahal aku baru aja mimpi indah! Kenapa malah bangun..!" Ucapku tidak terima kemudian menarik selimut ku lagi lalu naik ke atas ranjang kesayangan ku dan bersiap untuk masuk ke dalam dunia halu lagi.
"KYAAAAAAA!" Teriakku kaget, karena melihat Chaser tertidur nyenyak di kasur kesayangan ku dalam wujud serigalanya. Dia terlihat begitu nyaman hingga tanpa sadar memonopoli sebagian besar kasur tempat aku tidur, salah satu penyebab aku jatuh juga pasti karena ulahnya.
__ADS_1
"Huh siapa yang mengizinkan mu tidur disini!!!"
Aku mendorong tubuhnya agar terjatuh juga ke bawah lantai dan berhasil, dia sekarang benar-benar terjatuh namun tetap tidak bergeming dan masih mendengkur dengan suara keras.
Serigala mendengkur? Aku baru pertama kali mendengar hal seperti ini. Mungkin saja itu hal normal yah, kucing saja bisa mendengkur kok.
Huh!
Aku tidak peduli, sekarang aku pengen tidur dan bertemu dengan kekasih dalam mimpiku lagi. Barusaja hendak tidur Chun malah sudah berdiri diatas bantal sambil menghadap ke arahku.
"Chun laper! Pengen apel!pik!"
"Haduhh susah amat hidupku direcokin sama hewan aneh kayak gini serasa punya anak bayi huh!" Kataku kesal kemudian beranjak mengambil buah-buahan termasuk apel yang diinginkan Chun yang sudah tertera dia atas nakas.
"Hei budak! Kau susah sekali dibangunkannya, malah tadi bergumam gak jelas sambil senyam-senyum sendiri meluk guling, jijik banget, sungguh tingkah yang di luar perikehewanan.." omel Chun sambil terbang ke dekatku.
"Diem... Aku lagi bertemu Pangeran Shun tadi, dia itu meluk aku." Balas ku ketus.
"Yaampun halunya manusia sungguh luar biasa."
"Aghhh bilang iyaa kek kenapa, aku tuh kesal kesal kesalll..... Sampai kapan aku harus nunggu seperti ini, aku capek!" Ucapku dengan nada lebih ketus.
Bagaimana aku bisa terus menunggu dengan sabar terus tanpa kehadirannya, sedangkan waktu terus berjalan hingga sekarang tiga tahun pun berlalu, dan itu bukanlah waktu yang sebentar.
Aku mengambil sebuah pisau yang tersedia di situ kemudian mengiris apel yang ku ambil menjadi beberapa bagian, kemudian memberikannya kepada Chun, Chun pun langsung mematuk apel itu dengan lahap.
Ku palingan pandangan ku ke arah cermin yang memantulkan tiruan diriku, wanita yang berada di pantulan cermin adalah diriku, ya diriku dalam keadaan masih kacau karena barusaja bangun tidur dan kini tengah tersenyum manis kearah benda itu, namun tetap saja senyuman tersebut terkesan pahit.
"Pik, jika kau ingin bertemu dengan pangeran Shun bisa saja tapi dengan wujud Chun yang seperti ini.." ujar Chun yang sukses mengalihkan perhatian ku padanya.
"Benarkah?!" Tanyaku dengan mata yang sedikit berbinar.
"Iya kebetulan nanti malam ada festival tahunan musim salju kan?, kamu juga bisa berjalan-jalan sambil berbincang dengan pangeran Shun,"
"Huaaa keren! Tapi aku belum latihan untuk ujian naik ke tingkat senior hemm.."
Aku teringat sesuatu, dan itu tidak lain tidak bukan adalah sekolah akademi Aldric ku, kami sudah sudah memasuki ujian kenaikan tingkat, sebentar lagi aku akan mendapatkan julukan senior seperti pangeran Shun dahulu.
"Itu gampang, selama kau mengandalkan aku dan Chaser kami pasti bisa membantu," kata Chun. Benar sih, selama ini setiap aku kesusahan mereka selalu membantuku menyelesaikannya dan hal itu dapat selesai dengan sempurna.
"Terimakasih Chun, loveee uu..muachh" Balasku spontan sambil memberikan kiss jarak jauh.
"Jika kau melakukan hal itu lagi lain kali Chun akan membakar mu.."
"Heh kenapa?"
"Ada perasaan aneh yang selalu mengganggu chun bila terus dekat dengan si budak." Kata Chun sambil terbang menjauh dariku.
"Ha? Bukan berarti kau menyukai ku kan?" Tanyaku dengan nada heran.
"Bukan, tapi ini perasaan Shun.. Chun juga burung normal kali, Chun suka sama burung betina yang seksih...pik."
"Hahahaha kirain aja kan.."
"Yosh! Jadi kita mau ngapain sekarang?" Tanyaku sambil mengambil sebuah kain yang berfungsi sama seperti handuk bersiap untuk mandi.
"Kau siap-siap saja dulu buat persiapan nanti malam, contohnya seperti mempersiapkan hadiah dan gaun yang bagus untuk dipakai," timpal Chaser yang baru bangun dari tidurnya dan dia masih memakai baju tidurnya sambil sesekali terlihat mengantuk dan sesekali menguap, kali ini dalam wujud manusianya.
Aku sudah terbiasa tinggal dengan mereka dan mereka semua seperti sebuah keluarga kecil yang kuciptakan sendiri. Tanpa sadar jarak antara aku dan kakakku Lavender semakin jauh. Aku merasa sangat kesulitan bila bertemu dengan orang itu, meskipun dia cenderung lebih diam dan tidak mempedulikan ku sekarang tetap saja aku selalu merasa sangat tidak enak bila berada di dekatnya.
Lavender sendiri sudah memiliki seorang vamiliar yang luar biasa cocok dengan sifatnya yang menakutkan yaitu seorang kelelawar penghisap darah alias vampir. Bahkan lebih menakutkan sih menurutku...
Yah aku pernah tidak sengaja melihat wujud manusia dari vamiliar nya dan itu sangat-sangat tampan....:(, tetapi dia menghisap darah si putri Lavender dengan sadisnya tanpa ampun, dia tidak akan berhenti meskipun kakakku itu berteriak karena kesakitan bahkan hingga membuat Kakakku itu mengalami anemia.
Saat itu akulah yang merawatnya karena pelayan di dalam mansion kami semakin lama semakin berkurang.
"Hahhhh...." Desahku pelan sambil menyandarkan tubuhku pada dinding di dalam bak mandi sambil melepaskan pakaian ku.
"Kakak.... Aku ingin membantumu tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa..." Lirihku pelan.
Aku mengetahui bahwa kakak ku itu selama ini sering mengalami hal yang bahkan lebih parah dan menyakitkan daripada apa yang pernah aku alami. Saat kecil dia di besarkan oleh seorang wanita jahat yang merupakan ibunya, dan ibunya itu bekerja sebagai wanita penghibur, yang bernama Illona.
__ADS_1
Lavender sering kali dikurung bahkan disiksa sebagai pelampiasan emosi ibunya ataupun dijadikan seperti budak yang dipaksa bekerja dengan berat. Padahal dia saat itu masih sangat kecil.
Illona sendiri seringkali tidur kepada banyak pria, karena itu identitas lavender sebagai anak siapa masih belum jelas, namun dia memiliki rambut gelap hitam pekat dan mata yang merah yang persis dengan milik Duke Kethzie. Karena itu kemungkinan besar ayahnya adalah Claoudie.
Terlebih lagi aku diberitahu oleh Chaser bahwa lavender juga memiliki heirloom weapon yang merupakan Hw terkuat, namun senjata itu sekarang sudah bukan berada di sisinya lagi melainkan berada di tangan ayahku.
Aku khawatir kalau senjata yang dimiliki oleh lavender itu merupakan senjata yang bisa digunakan untuk membunuh pangeran Shun, mengingat ayahku begitu membenci seorang saint.
"Nona Alexa? kok airnya sampai kesini sih, jangan bilang kamu lupa mematikan kran airnya?" Teriak Chaser.
Aku tersentak kemudian dengan cepat mematikan kran air yang terus mengalir membasahi tubuhku dan juga seluruh lantai ruangan ini.
"Iya begitulah.." sahutku sambil nyengir kuda.
"Hah pasti budak Alexa abis mikirin pangeran Shun bersamanya sekarang di kamar mandi," komentar Chun yang sukses membuat wajahku seketika merah padam. Dengan cepat aku buru-buru keluar dan hanya menggunakan handuk kekecilan yang menutupi sebagian tubuhku.
BRAKKK!
Aku membuka pintu kamar mandiku dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang sangat keras sambil tersenyum menakutkan ke arah mereka. Berani-beraninya si Cebol menistakan kesucian pangeran Shun.
"Akan ku panggang kau malam ini juga dengan api, supaya menghilangkan rasa dinginnya es.. dasar cebol!!!" Umpatku.
"gak jadi ketemu pangeran Shun dong nanti kalau akunya dibakar," balas Chun.
Ehh bener juga sih...
"Hemm,... Yaudah deh Chun, mari kita bersiap-siap untuk pergi ke luar, kita harus mencari hadiah yang bagus untuk mantan raja ke sepuluh.." Kataku pasrah kemudian berjalan gontai menuju lemari pakaian.
"Ehem,..." Chaser berdehem sambil memalingkan wajahnya dariku, pipinya terlihat agak bersemu kemerahan.
Aku heran dengan sikapnya kemudian menghampirinya.
"KENAPA HAH?!" Tanyaku sinis, pasti dia juga sependapat dengan si Chun itu. Huh.
"Nona kau terlihat sangat cantik..." Kata Chaser sambil beralih kembali menatap ke arahku.
"Bocah mesum!" Teriak Chun tiba-tiba yang langsung mematuk-matuk wajahnya.
I'm speechless!
Aku terdiam dan tidak bergeming karena kaget sekaligus syok, biasanya aku langsung memakai pakaian dalam kamar mandi atau mengusir mereka keluar terlebih dahulu, tapi sekarang... aku benar-benar lupa kalau di dalam kamar ini ada seorang lelaki serigala yang berbahaya.
Aku langsung terduduk sambil menutupi dadaku dengan tangan, walaupun masih ada handuk yang membalutnya tapi aku tetap merasa malu.
"KELUAAAARRRRRRRRRRR! KALAU GAK KELUAR KU CAMBUK KALIAN 1000 KALIIII!" Teriakku dengan suara yang memekakkan telinga.
Mereka berdua pun langsung berhamburan keluar, Chaser langsung berlari ke luar pintu kamar sedangkan Chun berlari ke luar jendela.
Hufftt... Aku menarik nafas lega saat mereka sudah pergi. Bisa-bisanya aku lupa, duh aku sangat ceroboh.. bagaimana kalau Pangeran Shun yang melihat nyaa huaaa mati saja aku!.
"Chun tahu kau pasti memikirkan hal yang aneh-aneh lagi tentang pangeran Shun!" Chun mengoceh dari luar.
"E-ehhh enggak kok!" Elakku sambil beranjak menutup jendela.
Akhirnya... aku bisa ganti baju dengan tenang. Batinku lega.
.
.
.
******
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1