
Aku hari ini bersiap berkumpul di tempat yang sudah kami janjikan, namun aku sama sekali tidak memberitahu kakakku soal rencanaku ini. Aku merasa bersalah tapi aku sungguh merasa gengsi sekaligus takut jika harus melakukannya.
Akhirnya aku benar-benar siap dengan baju yang kini ku gunakan, katanya sih hari ini juga aku akan belajar berlatih kuda bersama yang lain.Aku menarik nafas dalam. Aku rasa ini adalah hal yang sangat berat dilakukan oleh orang pemalas seperti ku, yah mau bagaimana lagi seperti kata Pangeran Shun aku tidak boleh ceroboh dan malas.
Menyusahkan sekali! andai saja pesannya saat itu menyuruhku untuk makan coklat yang banyak pasti akan langsung aku lakukan!.
Aku berlari ke luar mansion kemudian menyuruh kusir yang ada disitu untuk membawaku ke istana.
"Antar aku ke istana sekarang!"
"Tapi nona, anda sedang libur hari ini."
Aku memutar bola mataku malas. "Tak usah banyak bicara, hump!"
"Tidak bisa nona, saya berjanji kepada putri Lavender untuk tidak membiarkan nona keluar tanpa alasan yang jelas." Kusir itu terlihat bersikeras dengan ucapannya.
"Ehh emang kakakku membuat janji seperti itu dengan mu?"
"Ya Nona." Jawab kusir itu dengan nada serius. Sepertinya dia sama sekali tidak membual karena dalam manik matanya tidak menyiratkan kebohongan sedikitpun.
Sepertinya kakakku berencana mengekangku karena kami masih bertengkar dan dia menghukum ku dengan dikurung di mansion angker ini agar aku jera. Ya pasti begitu.
Aku tersenyum tipis kemudian menatap kusir itu dengan tatapan tajam. Aku punya senjata rahasia yang akan membuat dia mau melakukannya.
"Ku berikan ini padamu, kau pasti menginginkannya kan?" Kataku sambil menjulurkan sebuah bros putih yang beraksen ungu yang biasa kupakai, itu bukanlah bros biasa, melainkan terbuat dari emas dan permata mulia yang sangat mahal. Pasti dia akan segera luluh dengan sogokan dariku ini.
Kusir itu tampak menelan ludahnya dengan kasar. Kemudian menggeleng sambil memukul kepalaku pelan menggunakan tangannya.
"Saya tidak akan melakukan meski disuap dengan benda mahal seperti itu, nyawa saya lebih penting." Katanya sembari beranjak pergi, sementara aku hanya membuka mulutku lebar-lebar karena tidak percaya dengan perkataan kusir tadi.
"Ti-tidak mempan?!" Pekikku heran.
Aku berlari mengejar kusir itu sambil merengek berkali-kali.
"Ayolah ini penting buat masa depan ku, demi keselamatan orang-orang yang ku sayangi..." ucapku sambil hendak menangis. Kusir itu akhirnya melirik ke arahku dan menghela nafas panjang.
"Tidak boleh"
"Huaaa, ayolah paman...aku harus segera kesana dan aku benar-benar akan aman seratus persen bersama mereka." Kali ini aku benar-benar sampai menunjukkan muka sedihku untuk membujuk orang itu.
"Baiklah... Tapi nona harus tetap aman sesuai janji itu." Katanya sembari memegang pundakku pelan. Akupun tersenyum sumringah kemudian mengangguk cepat.
Astaga ni orang susah banget dibujuknya, sampai mati-matian ber-acting.. untung saja aku mantan artis papan bawah. Batinku.
Kami pun segera pergi dari mansion keluarga ku kemudian aku hanya duduk didalam sambil tersenyum kecil. Aku teringat sesuatu kemudian menarik tanganku ke depan pandanganku, hmmm segel aneh yang ditanamkan Pangeran Shun sama sekali tidak terlihat seperti waktu itu. Pantasan saja kakakku masih bertanya pertanyaan yang seperti itu.
Kereta kuda ku terhenti karena sesuatu kemudian aku mulai mendongakkan kepalaku ke luar untuk melihat sesuatu yang membuatnya terhenti.
"Nona sepertinya ada keributan disini."
"Ini kan pasar jadi wajar kan ribut, kan kita sudah hampir setiap hari melewati ini." Kataku sambil menoleh kearah samping kanan dan kiriku bergantian.
"Bukan Itu tapi..."
Yaampun!
Ku tepuk dahi ku pelan, aku benar-benar melihat seekor burung mungil mengacau membuat keramaian dipasar ini semakin heboh. Dia mematuk-matuk makanan yang diperdagangkan oleh orang lain dengan bebasnya, kemudian kabur bila ingin di tangkap.
Aku memperhatikan burung itu dengan lebih detail, sepertinya aku merasakan aura yang familiar tapi siapa?
Burung itu sendiri berwarna dominan biru dengan paduan warna kuning, hitam dan putih.. Lagian dengan warna yang seperti itu itu, burung mungil tersebut terlihat bagus bila di jual dengan harga yang mahal. Kalau aku ikut menangkapnya mungkin akan dapat keuntungan besar.
"Pak kusir, ayo kita juga ikut tangkap burung itu!" Kataku sambil menunjuk ke arah burung berwarna biru.
"Tidak usah nona, disini terlalu berba-"
Sebelum kusir itu menyelesaikan kalimatnya aku sudah melompat turun dari kereta kuda dan ikut berlari mengejar hewan itu, rasanya seperti ada magnet yang menyeretku untuk segera bertemu dengan si burung kecil.
Aku berusaha untuk menyelinap ke antara kerumunan orang yang berdesakan itu dan aku berhasil, sudah kubilang tubuh mungil ku adalah keuntungan sekaligus kerugian, bila sedikit saja aku tidak berhati-hati aku akan terjatuh kemudian terinjak-injak oleh mereka yang berbadan besar.
"Nonaa kumohon kembali sekarang!" Teriak pak kusir yang entah dimana itu namun aku masih dapat mendengar suaranya.
"Apaan makanan ini pahit dan tidak enak! Tidak layak untuk dimakan oleh Chun!" Ucap burung itu kemudian terbang lagi.
__ADS_1
Aku tercengang melihat hal itu.
Dia berbicara??? Dia bisa berbicara?!!! Wahh sepertinya akan sangat mahal harganya! Batinku. Kemudian aku berlanjut untuk mengejarnya.
"Hei bayar cepat kau kembali! Akan ku sembelih kau dasar burung ceboooll!!" Ucap pedagang itu yang menjual aneka tanaman dan buah obat-obatan. Jelas saja rasanya pahit.
Rupanya aku tidak sendiri, banyak orang juga yang memburu burung itu, aku akan sangat kesusahan bersaing dengan mereka.
Sialan aku gak akan pernah bisa menangkapnya! Dia begitu lincah!!
Beberapa orang sudah mulai menyerah untuk mengejarnya namun tidak aku yang terus berlari dan terus berlari untuk menggapai dan menangkapnya. Ketika berlari aku tidak menyadari sesuatu yang ku pijak, rupanya aku sudah tidak bisa menopang keseimbangan tubuhku. Sedangkan di depanku kini ada sebuah sungai yang cukup besar dengan aliran airnya terlihat sangat deras.
Aku reflek menahan nafasku kemudian memejamkan mataku bersiap untuk jatuh dan tenggelam bersama arus sungai yang mengalir deras itu. Tamatlah sudah riwayat anak sepertiku yang ceroboh ini.
Pangeran Shun.. maafkan aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi...
Seketika aku merasakan sesuatu ditangan kananku, ini terasa panas namun juga hangat, rasa ini perlahan-lahan mulai tersebar ke seluruh tubuh ku dan membuat ku nyaman. Sepertinya aku akan mati masuk ke dalam surga dan itu membuatku sedikit bahagia ehee.
Tidak lama kemudian aku merasakan sesuatu menerkam tubuhku dan itu membuatku terlonjak kaget dan otomatis membuka matanya ku dengan lebar.
Aku merasa lemas dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika sadar kini aku telah di terkam oleh kaki ramping burung raksasa yang mungkin telah membawa rohku ke angkasa.
Hal itu membuatku takut karena melihat pemandangan dari kejauhan. Ohh tuhan, aku sangat phobia ketinggian dan itu membuatku mau pingsan sakit takutnya.
Ohh tunggu-tunggu, mungkin aku sebenarnya selamat dan bersiap akan dijadikan mangsa? Batinku seketika over panik.
"TIDAAAKK!!! TOLONG AKU KAKAK AKU AKAN TOBAAT DAN TIDAK MEMBATAHMU LAGI!! TOLONG AKU SIAPAPUN!! AKU DI TERKAM DAN AKAN DIJADIKAN MANGSAAAA!!! HUAAAA LONTONGGGGG!!!"
Aku terus berteriak meminta tolong dengan panik sesekali aku meronta-ronta sambil memukulnya supaya bisa dilepaskan dari cengkeraman kuatnya.
"Hei diamlah mahluk aneh, aku sedang menolong mu atau kau akan terjatuh bila terus memukulku seperti itu!" Katanya yang langsung menyadarkan phobia ku. Nyaliku langsung ciut tiba-tiba dan kembali lemas seperti sedia kala.
Aku masih ingin hidup hiks..
BRUUKK
Aku sedikit meringis karena tubuhku terasa agak sakit lantaran burung aneh itu langsung menjatuhkan tubuhku di tanah yang tempatnya yang agak jauh dari pasar tadi dan tentunya tidak ada seorangpun disana.
"Hei bisakah kau sedikit lembut padaku! Sekarang gaunku kotor!" Protesku kesal sambil membenahi gaun cantikku.
"Hah apa katamu?!"
Aku sama sekali bukan anak-anak!
TUINK
Burung itu berubah wujud jadi menciut, dan itu membuatku sangat kaget bukan kepalang. Ternyata dia adalah burung mungil yang sedari tadi ku kejar-kejaran dan gara-gara dialah nasibku menjadi menyedihkan seperti ini.
"K-kau ternyata... Burung yang ku kejar tadi!"
"Kau mengejar ku?"
"Jelas lah! kamu kan mau ku tangkap buat ku jual"
"Enak saja dijual! Sekarang Chun adalah pemilikmu! Jadi Chun yang berhak menjualmu!"
"Heeee... Kebalik kali!" Aku mendengus kesal, siapa sih dia berani-beraninya berkata seperti itu terhadap ku.
"Cepat kembalikan aku ke kereta kuda ku burung cantik... Kusirku sedang menungguku disana" Titahnku sambil menahan rasa dongkol.
"Yaudah ikuti Chun!!"
"Kok gak naik lagi sih, kan tempatnya jauh! aku capek jalan!" Aku pun berdecak kesal.
Yang benar saja?! Masa aku disuruh jalan ke sana sih, kakiku aja sudah gak berasa tulangnya lagi karena lelah ngejar burung aneh itu. Duh nyeselin banget...!
"Cerewet! Cerewet!" Ucapnya yang berhasil membuat rasa jengkel ku sudah hampir tidak bisa tertampung lagi oleh wadah kesabaranku.
Sabar.. sabar.. Leca tenang aja kok sampai disana kamu bakalan dapet untung karena berhasil nangkep burung langka itu.
Aku hanya mengelus dadaku kemudian mengikuti arah kemana burung itu pergi. Meskipun rasanya kaki mungilku sudah sangat lelah berjalan namun aku tetap mengikutinya karena tidak mau tertinggal apalagi tersesat.
"Kamu menyusahkan! Kenapa baru memanggil Chun setelah 5 hari? Menyebalkan! Chun kelaparan tahu! Butuh makanan enak!"
__ADS_1
"Memanggilmu?"
"Iyaa Chun ditugaskan oleh Shun supaya bisa melindungi budak Chun yang bernama Alexa."
Okeh sekarang mataku berkedut karena jengkel dengan ucapannya. Masa iya seorang Alexa Kethzie yang imut ini dibilang budak oleh seekor burung aneh?! Ingin sekali aku menyembelihnya untuk dijadikan menu makan malamku.
"Ehhh Shun? Pangeran Shun?!!!!" Pekikku sambil menghentikan langkahku karena terkejut.
"Iyaa, Chun adalah kembaran Pangeran Shun."
"Pfffftttt... nayahahhahah" entah kenapa aku tertawa begitu saja. Aku merasa perutku benar-benar mau meledak sekarang.
Kembaran katanya? Mirip saja tidak! Pangeran Shun bahkan lebih tampan dan tinggi berkali-kali lipat daripada si burung mungil itu. Bahkan sifatnya saja sudah berkebalikan 100% bagaimana bisa mereka kembar? Pede banget burung itu bilang mereka berdua kembar...pfftt.
Ohh gawat dia sudah meninggalkan ku! Cih gak mau tunggu-tunggu dasar burung cebol!
Aku pun segera berlari untuk menyusulnya. Sepertinya dia tadi marah karena aku tertawa.
Lucu sih, burung bisa bicara, terus ditambah lagi bisa marah-marah. Apa ada burung aneh seperti itu? Hmmm..ada sih malah sekarang dia berada dihadapan ku.
"Sudah sampai" katanya lalu segera hinggap di kepalaku. Aku menghela nafas lega karena sudah sampai di dekat kereta kudaku, aku harap burung itu tidak meninggalkan kotoran sedikitpun di rambut indahku. Kalau berani benar-benar akan ku sembelih sesuai ucapan ku tadi.
Aku menghampiri kusirku dan menyapanya dengan senyuman kecil sedangkan dia terlihat sangat pucat seperti tidak ada semangat hidup lagi.
"Nona... Akhirnya kau kembali, saya benar-benar merasa besok tidak akan bisa punya kepala lagi." Kata kusirku sembari memeluk ku dengan erat.
"Jauhkan badan motormu itu dari Chun!" Kata burung itu sambil terbang menjauh.
"Eh Nona, anda sudah berhasil menangkapnya?"
Aku hanya mengangguk lemas. Aku sangat menyesal sebab tadi telah nekat mengejar burung aneh itu.
"Wah nona, itu hebat! Burung itu bukan burung biasa.. itu terlihat seperti familiar seorang penyihir."
"Yahh aku tahu." Jawabku malas kemudian hendak masuk ke dalam kereta kudaku namun suara seseorang mencegahku untuk melakukannya.
"Nona kecil! Panggil seseorang kepada ku. Akupun menoleh ke arah sumber suara dengan malas.
"Apa?"
"Apakah burung itu punya anda?" Orang itu menunjuk burung yang kini hingga di bahu kiriku. Aku hanya menoleh ke arah burung itu sebentar.
"Yahhh kurasa tidak...ehem maksudku iyaa."
"Kalau begitu anda harus ganti rugi semua kekacauan yang telah diperbuatnya tadi."
Yang benar saja?!
Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa dan hanya membulatkan mataku dengan sempurna.
"Kau adalah budak Chun jadi kamu yang membayar semua makanan Chun tadi" kata si burung cebol dengan santainya kemudian masuk ke dalam kereta kuda ku.
"Tidak bisakah aku membayar dengan burungnya saja? Dia terlihat mahal dan bahkan bisa berbicara." Kataku kesal sambil menunjuk ke arah burung itu.
"Tidak bisa Nona."
"Fix bangetttt ku jadiin daging panggang nanti malam" gumamku sambil tersenyum jengkel. Aku benar-benar merasa sangat geram sekarang.
"Baiklah besok ku ganti semua kerugiannya" ucapku lagi kemudian dengan cepat langsung masuk ke kereta kuda itu. Aku menyuruh kusirku untuk segera berangkat tanpa memedulikan beberapa orang yang mungkin sudah mengejar kami sambil berlari meminta ganti rugi.
Aku harap semua perhiasan ku akan cukup dengan total kerugiannya. Hiks..dasar burung sialan! Bukannya mahal, malah dapet sial!
.
.
.
****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...