Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 78 : Ternyata Bukan Mimpi


__ADS_3

Aku barusaja membuka mataku lalu mengerjapkannya cepat berkali-kali.


"Hahh?! Mimpi?!" Pekikku kecewa.


Aku mendapati diriku kini tengah berada di kasur milikku dan seperti aku barusaja terbangun dari tidurku.


Aku menghela nafas pelan kemudian aku langsung beranjak dari kasur lalu mencuci wajahku, kubuka jendela kamar yang ternyata menunjukkan bahwa hari itu sudah malam, atau lebih tepatnya aku terbangun di tengah malam karena bermimpi indah.


Aku berharap mimpi itu bukanlah mimpi... melainkan sebuah kenyataan...


"Apa ini...," Tanyaku pada diri sendiri, karena tiba-tiba cairan bening keluarga keluar dari kedua sudut mataku.


Sepertinya aku terlalu banyak bermimpi, aku sadar, beberapa tahun yang kuhabiskan ini selalu sendiri, aku selalu sendiri disini mempertahankan perasaan ini tanpa sedikitpun kabar darinya setelah malam festival musim salju itu.


"Aku merindukanmu, kumohon cepatlah kembali Pangeran," lirihku sambil kembali meringkuk di kasur dan menatap kosong kearah rembulan yang tampak indah memancarkan cahayanya.


Aku mencoba memejamkan mataku kembali, tetapi aku malah tidak bisa tidur, akhirnya aku memutuskan untuk keluar mengambil camilan. Mungkin aku harus begadang malam ini untuk menenangkan pikiranku dengan mengerjakan tugas-tugas yang masih diberikan di Akademi Aldric.


"Tuan putri mau kemana?" Tanya seorang pelayan padaku.


"Aku hendak mengambil camilan di dapur," Jawabku lesu.


"Tapi nona... dapur istana sekarang sedang direnovasi,"


"Hah?!" Kaget ku.


Entahlah mendengar ucapannya malah membuatku seketika merasa senang, berarti ada kemungkinan besar bahwa kejadian kemarin itu nyata... tapi lain halnya kalau ternyata aku pingsan pas terjatuh dari ketinggian gedung lalu bermimpi saat itu juga.


"Kenapa nona tadi terlihat lesu?" tanyanya heran.


"Elissa dimana?" tanyaku lagi.


Aku tidak merespon pertanyaan pelayan itu karena saking senangnya sampai menganggap pertanyaannya hanya angin lalu saja.


"Dia sedang tidur jam segini," jawab pelayan itu sambil tersenyum kecil.


"Ohh kalau begitu apa kau tahu tentang kabar bahwa pangeran Shun akan kesini?" Tanyaku langsung to the point.


"Iyaaa, tentu, sekarang dia sedang ada di kamarnya, tepatnya di asrama pria yang dulu ditempatinya,"


"Sippp!! Terimakasih~!" Kataku langsung tancap gas menuju asrama laki-laki.


Eh tunggu dulu, ini kan udah malam, kalau aku tiba-tiba keluar sepertinya akan menimbulkan kecurigaan. Sepertinya aku harus diam-diam keluar.


"Pik kau sedang apa?!" Tanya Chun yang langsung membuatku terlonjak kaget.


"Aku sedang sembunyi sshuuuuttt,"


"Iya Chun tau kalau itu, tapi untuk apa?"


"Aku ingin segera bertemu dengan kekasihku," jawabku sambil menggoyangkan kepalaku seperti tengah bersenandung karena senang.


"Yaampun, sepertinya kau habis bermimpi ketinggian lagi,"


"Ini serius Chun, aku ingin bertemu dengan pangeran Shun," jawabku kali ini berhasil sedikit meyakinkannya.


"Kalau begitu, Chun bantu deh, Chun akan melakukan sihir teleportasi langsung daripada budakku ini ketahuan, mau tidak?"


"Mau-mau!!" Jawabku cepat.


"Oke persiapkan dirimu,"


"Siap!" Balasku langsung.


"TELEPORTASI!"


Ting...


Dalam sekejap aku sudah berada dalam ruangan yang gelap gulita. Saking gelapnya aku tidak bisa menduga sekarang aku berada di mana atau benda apa yang kini ada di hadapanku.


"Chun sepertinya mengirimkanku ke gudang deh," cibirku sambil meraba mencari-cari sesuatu untuk ku gapai.


"Ehh... Tapi ini seperti kasur deh... ini jelas-jelas kasur kan..." Gumamku lalu sedikit menekan tanganku ke kasur itu.


Empuk!


Jelas ini kasur, jadi aku hanya tinggal mencari ujung kasurnya agar kubisa turun dan meraba-raba dinding untuk menyalakan lampu.


GRAP


Seseorang meraih tanganku dan menekannya keras hingga membuat tubuhkuku tertidur diatas kasur.


Aku yang terkejut hanya bisa menahan teriakkanku.


Gawatt!! Sepertinya kasur ini ada penghuninya!!!!


"Siapa kau?!" Tanyanya dengan nada yang mengintimidasi.


"Ini A-aku..." Balasku sambil memejamkan mataku sekuat-kuatnya. Aku tidak ingin kalau ternyata Chun mengirimku ke tempat yang salah.


"Le...ca?" Tanyanya dengan nada bergetar.


Tak


Lampu pun seketika menyala membuat netraku tidak bisa menerima penerangan tiba-tiba itu lalu memejamkan mataku merasa sangat silau namun kemudian tertegun saat melihat Pangeran Shun saat ini tengah berada di atas tubuhku sambil menahan kedua tanganku ke atas.


"Hah?!" Pekikku kaget.


Pangeran Shun tersentak, beberapa detik kemudian dia terlihat kembali tenang dan langsung duduk sambil memegangi keningnya, mimik wajahnya tadi terlihat sangat terkejut.


"Kukira kau penyusup tadi, untung aku tidak langsung menggunakan senjataku untuk melukaimu," ucapnya sambil melirik kearahku.


Aku hanya diam menatapnya sambil memicingkan mataku.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanyanya yang merasa aneh dengan tatapanku.


"Kenapa kau sangat waspada?"


"Karena bahaya itu bisa datang kapanpun, jadi aku harus siaga," jawab Pangeran Shun sambil beranjak untuk mengambil segelas air putih.


"Duduklah," perintahnya padaku. Akupun menurutinya.

__ADS_1


"Ada apa kau kesini tengah malam?"


"Aku... Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak mengalami mimpi karena bertemu denganmu," jawabku kemudian menggigit bibir bawahku keras.


Pangeran Shun mengerjapkan matanya cepat kemudian menatapku heran.


"Kau habis bermimpi apa?" Tanyanya penasaran.


Seketika wajahku langsung memerah, tidak mungkin kan kalau aku bilang tentang kejadian memalukan di mimpiku. Aihh tapi aku merasa yakin kalau itu bukan mimpi dan aku harus membuktikannya.


"Pangeran Shun... kau memberikan kejutan padaku," kataku sambil membenamkan wajahku menggunakan bantal yang ku pegang.


"Ohh tenyata itu, itu tidak mimpi kok, aku memang benar-benar melakukan itu kepadamu," katanya sambil mengacak-acak rambutku pelan.


Mendengar jawabannya itu membuat senyum di bibirku mengembang.


"Huaaaa... aku ingin berteriak boleh?"


"Jangan! Bisa gawat kalau mereka tahu di kamarku ada seorang wanita," kata Pangeran Shun cemas.


Aku mengangguk singkat kemudian beranjak untuk pergi dari kamar Pangeran Shun, lagipula aku sudah mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, jadi aku harus keluar dari sana secepatnya.


Tapi pertama-tama aku tidak bisa keluar lewat pintu karena pasti akan ketahuan, maka jalan satu-satunya adalah melewati jendela dari kamar ini.


Aku pun membuka jendela yang ada di situ dengan pelan agar tidak menimbulkan suara heboh, kemudian bersiap untuk melompat tapi niatku urung karena melihat ketinggalan yang mencekam dari tempat itu.


"Mau pergi kemana?" Tanya Pangeran Shun dengan nada lembut sambil merangkul bahuku.


Aku terdiam, entah kenapa perasaanku seketika tidak enak.


"Pulang ke kasur...hehe," Jawabku sambil nyengir kuda.


"Tetaplah disini," katanya sambil memelukku dari belakang dan menyenderkan dagunya pelan diatas kepalaku.


Ughh kalau seperti itu permintaannya aku tidak akan bisa menolak!.


Selama beberapa saat kami hanya berdiri menatap jendela yang memancarkan sinar rembulan. Tidak ada satupun dari kami yang berniat membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana kaku ini.


"Maaf Alexa," katanya tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Karena sebelumnya aku pernah melakukan itu pada perempuan selainmu," ucapnya dengan penuh penyesalan.


Aku memejamkan mataku, kemudian membukanya perlahan, kali ini pastilah setetes cairan bening itu menyeruak keluar membasahi pipiku.


Kenapa aku merasa kecewa? Kenapa? Aku juga tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, harusnya aku senang bisa bertemu dengan pangeran Shun lagi tapi mengetahui hal itu malah membuatku sedih dan sangat kecewa. Padahal aku sudah lama menantikannya kembali untuk memenuhi janji kami...


"Dengan siapa?" Lirihku pelan.


"Elaine, dia pengawal pribadiku,"


"Kau menyukainya?"


"Kurasa tidak,"


"lalu kenapa kamu melakukannya?"


"Karena dia mau membunuhku dengan menggunakan jurus ekstrimnya,"


"Mana orang itu, aku akan membalas dendamku kepadanya! Berani-beraninya ingin melukai Pangeran Shunku!!" Geramku.


Pangeran Shun tertawa kecil, "Kamu imut saat marah, tidak sia-sia aku menjaga perasanku untukmu," kata Pangeran Shun sambil terkekeh.


"Pangeran Shun aku serius! Kalau bertemu dia pasti akan ku cekik terus kumutilasi orangnya!"


Bener-bener deh! kalau ketemu orang itu bakalan ku mutilasi terus ku jadiin sate!.


"Iya-iya terserah kamu deh Leca," ucapnya sambil menggaruk tengkuknya.


Aku berlari kecil menuju sofa yang tidak jauh dari sana lalu duduk santai, "Sini sini," kataku sambil menyuruhnya untuk tidur di atas pahaku.


Tiba-tiba wajahnya memerah kemudian langsung menggelengkan kepalanya cepat,"Tidak-tidak, aku tidak mau,"


"Heee kenapaaa padahal ini empuk loh," ucapku tidak yakin.


Kurasa mungkin dia menolaknya karena akan membuatnya menjadi sulit tidur karena tidur di sini tidak lebih empuk daripada bantal.


"Masalahnya aku seorang pria Leca, mungkin saja aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri kalau terlalu dekat denganmu, apalagi kita baru bertemu setelah sekian lama," katanya mencoba menjawabnya dengan nada yang tenang.


"Heeee sayang sekali... padahal aku akan jarang sekali memintamu untuk melakukannya," kataku sambil tersenyum jahil.


Pangeran Shun berdehem, "Baiklah, aku akan tidur disana, tapi aku tidak tanggung jawab kalau kakimu keram nanti," jawab Pangeran Shun yang langsung mendapat anggukan cepat dariku.


Setelah itu Pangeran Shun langsung menyandarkan kepalanya, melakukan hal seperti yang ku minta.


Sebenarnya aku hanya ingin melihat wajahnya yang tengah tertidur dari dekat, itu adalah asupan yang sangat bergizi bagi hatiku saat ini. Bahkan aku tidak bisa untuk berhenti tersenyum saat melihatnya.


"Huhuhuhu bagaimana dia bisa memilih wajah sempurna seperti ini," batinku.


Pangeran Shun sendiri terlihat tidak peduli dengan apa yang aku lakukan, seperti dia sangat nyenyak tidur di sana, itu membuat hatiku merasa sangat kegirangan.


Entahlah setelah satu jam berlalu, rasanya kakiku sangat keram, sedangkan Pangeran Shun sudah tertidur, aku tidak berani mengganggunya hanya karena kakiku keram.


"Aaa sakitnya..." gumamku pelan, berusaha untuk bisa tetap menahannya.


Tapi aku tidak bisa, kakiku sudah mati rasa sekarang, mau tidak mau aku harus menjatuhkan Pangeran Shun.


BRUKK


Pangeran Shun langsung jatuh tengkurap sambil memeluk lantai.


"Aghhh kau membangunkanku dengan kasar!" protes Pangeran Shun yang langsung duduk di atas lantai.


"Sa-kit... Aku tidak bisa menahannya" Ucapku sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aihh sudah kuduga, kalau begitu kenapa kau memaksakannya," katanya sambil mengganti posisinya menjadi duduk menghadapku.


"Pijatin..." Pintaku padanya.


Pangeran Shun menghela nafas kemudian memijat kakiku pelan.

__ADS_1


"Bukan disitu, tapi disini," Kataku sambil menatapnya dengan tatapan memelas.


Pangeran Shun tersenyum jengkel, "Kau ingin segera membuat bayi denganku yah," katanya kesal.


"Heee?"


"Berbaringlah!" Titah Pangeran Shun.


Akupun menurutinya kemudian berbaring di sofa panjang itu, "Ingat jangan mengeluarkan suara apapun yang berisik atau kita dalam bahaya," ujar Pangeran Shun dengan wajah seriusnya.


Aku menelan salivaku kasar kemudian mengangguk mengiyakan.


Dia mulai menyentuh pahaku yang keram dan memijatnya, baru beberapa kali pijat namun aku tidak bisa menahannya.


Pffttt... Aihh aku tidak tahan lagi!!!...


Akupun tertawa lepas.


"Hahaha geli Pangeran, kumohon berhenti!!!" Ucapku sambil menahan tangannya.


Pangeran Shun menatapku dengan wajah pias. "Kubilang apa tadi?"


"Upss... jangan berisik hehe," jawabku sambil menutup mulutku.


Tok tok tok...


"Pangeran kau terjaga didalam? Bolehkah aku masuk?" Tanya seseorang dari balik pintu.


Aku dan pangeran Shun terdiam sejenak, "Gawatt!!" Pekik Pangeran Shun tertahan.


"Maaf huhu," kataku pelan merasa bersalah sekaligus panik.


"Pangeran? Apakah kau terjaga? Kenapa aku mendengar suara berisik tadi..." Ucap orang itu yang langsung memegang dan menekan gagang pintu untuk dibukanya.


KRiEETTT....


"Ohh masih tidur rupanya... Aneh sekali padahal aku mendengar suara bising dari sini," Gumam orang itu lalu kembali menutup pintunya.


"Untungnya dia hanya orang bodoh," kata Pangeran Shun sambil menyibak selimutnya dengan hati-hati.


"Alexa??" Panggil Pangeran Shun sambil menepuk-nepuk pipiku pelan.


"Ayolah jangan pingsan lagi sekarang kumohon," katanya cemas.


Aku membuka mataku lalu menatapnya.


Barusaja tadi dia melakukan teleportasi dari sofa ke kasur?!


"Hhhh kupikir... kau akan melakukan sesuatu yang tidak senonoh Pangeran, ternyata kau cukup punya hati untuk menyelamatkanku," ucapku sambil mengedipkan mataku sesekali.


Pangeran Shun menghela nafas berat, "Aku adalah orang baik, jadi tidak mungkin aku melakukannya," kata Pangeran Shun pelan sambil menarik selimut dan membenamkan wajahnya di sana.


"Meskipun aku memiliki kesempatan dengan keramnya kakimu," sambungnya lagi.


"Terimakasih karena kebaikanmu Pangeran," kataku sambil tersenyum simpul ke arahnya.


"Sama-sama," kata Pangeran Shun sambil berdiri.


"Baiklah aku akan mengembalikanmu sekarang ke kamarmu, sebaiknya kau segera tidur,"


"Tidak, aku pasti tidak akan bisa tidur,"


"Kenapa? Bukanlah tidur adalah hal yang mudah? Tinggal bayangkan saja hal hal yang kau sukai sambil memejamkan matamu lalu dengan sendirinya kau akan tertidur Leca..."


"Yahh setelah kejadian ini pasti aku akan sulit tidur, karena aku tidak bisa melupakannya," Jawabku sambil nyengir ke arahnya.


"Aku tidak peduli, pokoknya Leca harus tidur, ingat besok kau harus ke akademi, dan pastinya akan bertemu denganku lagi," kata Pangeran Shun sambil menatapku dengan senyuman tipisnya.


Hal itu membuatku langsung urung dan ingin mengalah, aku tidak bisa untuk berdebat melawannya karena keimutannya.


"Baiklah..." Jawabku pasrah.


"Selamat malam Pangeran Shun, semoga malam ini aku ada di mimpimu," Bisikku pelan di telinganya sebelum dia menghilang dari pandanganku.


Pangeran Shun mengangguk singkat kemudian sosoknya sudah benar-benar lenyap dan digantikan oleh beberapa tumpukkan guling di hadapanku.


"Huaaa aku gak bisa tidur!!! gak bisaa!!" Teriakku sambil membekap mulutku agar tidak menimbulkan suara berisik. Lalu berhambur memeluk guling-guling itu.


"Nonaaa rupanya kau belum tidur," kata seseorang yang tiba-tiba sudah berada di dekatku sambil memegang selimut tebal.


Dengan dibalut pakaian maid dia tersenyum jengkel lalu mendekat ke arahku.


"Hiih jauhkan dirimu dariku Elissa!"


Dia benar-benar mengagetkanku tadi...


"Tidakkah kau kasian kepadaku Nona? aku berperan sebagai kau dan pura-pura tertidur saat Pangeran Zio datang menemuimu malam ini,"🤧


"Ehh kenapa dia kesini malam-malam?"


"Entahlah Nona, dia terlihat seperti ingin menagih hutang,"


"Tapi aku kan tidak pernah hutang apapun ke dia, Elissa"


"Sudahlah Nona, sekarang abaikan saja orang itu dan ceritakan padaku kenapa kau keluar malam-malam begini,"


"Sebenarnya..."


Setelah itu aku menceritakan banyak hal kepada Elissa tapi tentu tidak semuanya, hingga tak terasa kami berbicara sampai menjelang pagi.


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2