
Seseorang dengan wajah tampan yang bersembunyi di balik dedaunan diatas pohon, ia sedang tersenyum tipis kearah segerombolan orang bermata merah, mereka adalah lavender dan teamnya. Orang itu pun menyeringai kecil lalu mengikuti kemana arah lavender pergi, rupanya tujuan mereka sama. Menemui seseorang yang mereka anggap penting.
Tapi langkah gadis itu terhenti ketika mendengar suara yang menggema keras di dekatnya. Tidak salah lagi itu adalah suara orang yang saling bertarung. Lavender juga merasakan aura sihir yang kuat berkeliaran di sekitar sini.
Tanpa basa-basi gadis itu langsung melesat untuk mendekati sumber suara itu namun dia hanya dapat terdiam saat melihat sebuah sihir pelindung yang tercipta di hadapan mereka, membuatnya tidak bisa untuk masuk dan melihat apa yang sedang terjadi.
Kekkai itu terlihat berwarna kebiruan yang melengkung dengan bentuk segilima transparan yang tertata rapi menutup sebagian hutan. Tidak salah lagi warna itu adalah kekkai yang dibuat oleh seorang saint hebat sehingga siapapun tidak bisa menerobosnya.
"Cih menyusahkan!" gerutu Lavender, lalu ia mengepalkan tangannya di depan dada.
"Saya bisa melepaskan sihir ini dengan mudah." Ucap seorang pria berjubah yang tiba-tiba sudah ada di samping Lavender.
Pangeran Kenn yang masih terpengaruh sihir lavender pun menarik paksa Lavender ke dekapannya untuk melindunginya dari laki-laki asing mencurigakan itu.
Pria itu menyeringai, "Tenanglah aku tidak ingin berurusan dengan kalian, jadi kalian aman,"
"Sepertinya kau terlihat familiar, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya lavender penuh curiga.
"Tentu, bahkan sering,"
"Lalu sebenarnya-"
"Siapa kau? apa kamu barusaja ingin mengatakan hal itu?" tanya orang itu pada Lavender.
Orang itu membuka jubahnya dan membuat lavender tersentak. Lavender terdiam, tiba-tiba raut wajahnya terlihat tegang. Terlihat jelas bahwa Lavender sangat takut kepada orang itu dan sangat membencinya.
"A-ayah..." gumam lavender dengan tubuh yang gemetar.
"Tsk! kamu terlalu lemah bahkan ayahmu sendiri kau tidak mengenalinya,"
Duke Claoudie Kethzie sedang tersenyum ke arah anak perempuannya lalu memegang dagu Lavender dan sedikit mengangkatnya ke atas untuk menatapnya.
"Ahh... ternyata kau memiliki mata merah yang sama denganku, tidak seperti anak buangan itu, pantasan saja ibumu mengira kau adalah anakku,"
Lavender mengeraskan rahangnya, lalu dia menepis tangan ayahnya kasar.
"Jangan menghina ibuku sembarangan!" kesalnya.
Duke Claoudie tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah kekkai transparan dihadapannya.
"Kau anak yang malang, sangat haus terhadap cinta tapi sayang semasa hidupmu tidak pernah tersiram dengan benda najis itu, lagian aku juga tidak sudi memberikan itu padamu walaupun kau adalah putriku,"
Lavender terdiam sambil menahan kesal di hatinya.
"Tidak akan kubiarkan kau menyakiti adikku!" tegas Lavender.
"Lagian tujuanku bukan Alexa, tapi seseorang yang sudah lama ingin kubunuh," imbuh Claoudie.
"Maaf Paman, tapi sebaiknya kau lebih berhati-hati berbicara dengan calon istriku," ucap pangeran Kenn dengan tatapan sengit.
"Oh sejak kapan sihirnya lepas," gumam heran Lavender.
"Jadi kau yang menghipnotis ku yah,"
"Yaah lagian aku tidak menggunakanmu untuk sesuatu yang buruk," ucap Lavender berbohong.
"Hah sebenarnya aku cukup lelah hanya memantau kalian tapi sejujurnya aku sangat ingin memberitahumu sesuatu, kalau putriku yang akan jadi calon ratu itu bukanlah orang yang baik," bisik Duke Claoudie pada pangeran Kenn.
Anehnya pangeran Kenn yang mendengar itu tidak terkejut tapi hanya mengangguk pelan. "Aku tahu, tapi sejahat-jahatnya dia, dia masih punya hati, tidak sepertimu," balas pangeran Kenn.
__ADS_1
"Emangnya apa yang kau tahu tentang diriku,"
"Entahlah tapi dari caramu memperlakukan putrimu, itu sudah menunjukkan sebagian besar kepribadianmu,"
"Yah kau benar, aku benar-benar buruk, tapi menjadi orang baik bukanlah takdirku," jawab Duke Claoudie dengan nada tenang.
Pangeran Kenn sendiri tersentak, dia melihat untuk beberapa detik tadi tatapan Duke Claoudie terlihat sangat hampa dan kesepian tapi kemudian dia kembali ke tatapan yang penuh kebencian.
"Pangeran Kenn..." lirih Lavender.
Pangeran Kenn berdehem, "Yahh kalau kupikir pikir, bukan hal yang buruk menjadi budak lavender, aku hanya harus mengajarkan lebih banyak kebaikan padanya," kata pangeran Kenn sambil menggenggam tangan Lavender yang sudah berkeringat dingin.
"Baiklah, aku akan membiarkan kalian berdua bebas dan tidak akan mengganggu putriku lagi, Lavender benar-benar akan kuserahkan mu tapi... jika dia masih hidup nanti setelah kugunakan untuk alat bertepur ku," jawab Duke Claoudie sambil tersenyum licik.
"A-apa yang barusaja ayah katakan?" tanya Lavender.
"Kau pikir untuk apa aku lama-lama memeliharamu sekian lama kalau bukan untuk kugunakan saat ini," balas Claoudie.
"Kau benar-benar!" geram Pangeran Kenn yang tiba-tiba tersulut emosinya.
Duke Claoudie yang melihat kepanikan dan amarah di wajah mereka pun tertawa keras. Tidak lama setelah itu dia menarik tangan Lavender kasar.
"Ikutlah denganku putriku tercinta," ucapnya tentunya dengan penolakan dari lavender yang tidak ingin ikut dengan ayahnya.
"Tidak!" tegas Lavender lalu menepis kasar tangan ayahnya.
"Aku tidak ingin membantu ayah jahat!"
"Bukankah kau juga jahat, sayang sekali, padahal tujuan kita sama, untuk bertemu dengan orang-orang yang kita 'sayangi',"
"Apakah yang ayah maksud itu ibunda?" tanya lavender.
Senyum licik disertai deretan gigi yang tertampang jelas terukir di jawah pria tampan yang Lavender sebut ayah itu.
"Jangan ikut dengannya!" cegah pangeran Kenn lalu ikut meraih tangan Lavender.
Lavender jadi bimbang, dia terdiam untuk berfikir, dia sangat menginginkan pangeran Kenn untuk tetap disisinya tapi dia juga sangat ingin bertemu dengan sosok yang dirindukannya, ibunda Claire.
"Maafkan aku pangeran, tapi... aku ingin bertemu dengan ibuku, sudah banyak cara kulakukan agar bisa kembali melihatnya termasuk cara kotor, jika aku menyerah sekarang, usahaku hanya sia-sia..."
"Tapi aku merasa paman hanya akan memanfaatkanmu,"
"Aku tahu, ini memang agak menyebalkan, tapi jika aku tidak kembali, aku akan membiarkan kau bersama dengan gadis itu," kata Lavender sambil berpaling ke arah lain.
"Maksudmu Lily?"
"Terserah," jawab Lavender lalu beranjak ke sisi ayahnya.
"Tapi kurasa aku hanya tertarik kepadamu, Lily hanyalah temanku," jawab pangeran Kenn.
"Tidak... kau hanya kasian padaku bukan?" kata Lavender sambil tersenyum tipis. Pangeran Kenn tersentak karena itu adalah kali pertamanya dia melihat senyum tulus yang tersungging dari bibir wanita cantik itu. Padahal jelas-jelas tiap saat lavender hanya mengeluarkan senyuman untuk merayu dan memiliki maksud ataupun senyuman sinis.
Claoudie menyambut hangat keputusan putrinya dengan senyuman tipis, setelah menggenggam tangan putrinya Claoudie pergi ke masuk ke dalam kekkai itu hanya dengan menggunakan kekuatannya untuk bisa menembusnya.
Pangeran Kenn menyusul tapi kekkai itu menolaknya meskipun sekuat apapun sihir miliknya, itu tidak akan bisa membuka pelindung yang diciptakan oleh seorang saint, dia pun hanya bisa pasrah membiarkan tunangannya bertarung sendirian.
"Lavender... aku memang kasian padamu, tapi aku juga tertarik padamu, asal kau tau saja itu, pastikan kau kembali dengan selamat." lirih pangeran Kenn.
Lavender memejamkan matanya pelan, ia ingin berbalik untuk melihat sosok yang dicintainya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa melawan ayahnya.
__ADS_1
"Aku benci dengan cinta yang kalian tunjukkan, itu sangat memuakkan, asal kau tahu saja seseorang yang berkata seperti itu tidak bener-bener akan setia, suatu saat dia akan menghianatimu," kata duke Claoudie Kethzie pada Lavender.
"Kalau bisa ayah... aku ingin kau mencintaiku juga," gumam lavender pada ayahnya. Lavender berbicara seolah-olah ingin menangis tapi dia tidak bisa melakukan itu.
"Tentu saja aku akan mencintaimu, setelah kau berhasil membunuh seseorang," ucap Claoudie sambil membelai rambut panjang putrinya.
"Asalkan itu bukan Alexa dan ibunda, aku akan melakukannya," jawab Lavender pada ayahnya.
"Bagus, anak pintar." puji Duke Claoudie pada lalu memeluk putrinya pelan.
***
Setelah beberapa saat berlalu mereka pun sampai pada tempat dimana Shun dan Alexa berada. Lavender tidak terkejut dengan keadaan di tempat ini yang sudah seperti sebuah kawah dengan lubang besar yang menjorok ke dalam tanah.
Sedangkan Alexa masih aman di tempatnya tanpa terluka tapi kelihatannya dia tidak baik-baik saja. Gadis itu terlihat sangat khawatir.
"Itu dia," ujar Claoudie sambil menatap ke arah seorang laki-laki yang menjadi lawannya pangeran Shun.
"Sederhananya aku ingin kau membunuh mereka berdua," titah Claoudie pada Lavender.
"Tidak bisa, pangeran Shun itu adalah..."
"Hmmm?"
"Dia adalah seseorang yang berharga bagi Alexa, selain itu dia pangeran Arrenthia yang berjasa besar bagi kerajaan Frost, membunuhnya sama dengan mengajukan perang pada kerajaan Arrenthia,"
"Aku tidak peduli, kau hanya harus menyingkirkan mereka, bukankah akan menjadi pemandangan yang bagus bila pangeran Shun itu mati di hadapannya,"
"Ayah kau benar-benar tidak punya hati,"
"Merepotkan, cepat lakukan saja, singkirkan mereka, lagian kalau kau tidak mau melakukan itu, aku akan memerintahkan pasukan sekte hitam yang kukirim untuk membunuh pangeran Kenn dan teman-temannya,"
"Baiklah," balas Lavender tidak bisa menolak.
Duke Claoudie menyeringai melihat pemandangan dihadapannya. "Aku tarik kembali ucapanku, habisi mereka ketika aku memerintahkan mu," titahnya masih dengan seringai yang menakutkan.
"Baiklah," balas Lavender lagi.
"Jangan lupa gunakan heirloom weapon milikmu, aku akan melihat dari sini, bagaimana perkembangan mu selama ini," bisik ayahnya pada telinga Lavender.
Lavender menerima pedang miliknya lagi dengan tangan bergetar, sudah lama dia tidak memakai senjata mengerikan ini. Ini adalah benda berharga miliknya yang sudah sekian lama lepas dari genggamannya, dia harap benda ini tidak menjadi lebih buruk, sama seperti ayahnya.
Mulai saat ini Lavender akan bertarung untuk memenuhi egonya, untuk meraih apa yang ingin dicapai olehnya dan melindungi orang-orang yang dia cintai.
Untuk seseorang yang dicintainya dan seseorang yang dia rindukan serta seseorang yang terus dia sayangi diam-diam.
Sebagian orang mengatakan bahwa cinta itu buta, hal seperti ini lah yang dirasakan Lavender. Ketika dia mencintai mereka dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya bahkan dengan mengorbankan nyawanya sendiri ataupun orang lain. Sejujurnya dia hanyalah gadis yang haus akan cinta, dan merekalah orang-orang yang memberinya sedikit arti cinta dalam hidupnya hingga membuat dirinya itu buta.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...