Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 58 : Aku yang Pantas Untuk Disalahkan


__ADS_3

Aku tidak menyangka bahwa semua orang di sana tampak tidak sadar dengan sesuatu yang terjadi di taman belakang istana, dan mereka masih sibuk berpesta dengan santainya.


"Chaser!!" Seruku keras sambil menghampirinya.


Chaser yang kupanggil langsung melirik ke arahku, "Kenapa nona?" tanya Chaser heran.


"Bodoh! Cepat bantu aku untuk melindungi beberapa orang!" kataku kasar, sambil meninju pinggangnya kasar.


Chaser mendadak terlihat sangat panik ketika melihatku hanya memakai jubah putih dihiasi dengan noda merah, "Kau kenapa?!"


Belum sempat menjawab pertanyaan Chaser, tiba-tiba aku merasakan nyeri di dadaku, kemudian aku terduduk lemas, semua pandangan mataku menjadi buram, tidak kusangka aku mencapai batasku sebelum memulai apa-apa.


"Nona..."


"Kalian semua bodoh!" Teriakku keras sambil menutup telingaku sehingga membuat mereka langsung memusatkan perhatiannya padaku.


"Kenapa kalian hanya diam tidak tahu menahu saat orang-orang yang kalian sayangi sedang dalam bahaya!"


"Leca, apa yang kau maksud dengan perkataanmu barusan...?" Tanya Lily yang kebetulan berada di tempat itu.


"Mereka semua diserang, di lapangan taman belakang..."jawabku sambil menunduk.


Lily Collans terperanjat, ia terlihat tak percaya dengan ucapan anak kecil sepertiku.


"Betul, sekarang sedang terjadi penyerangan mendadak di sana." Imbuh Lavender, dia barusaja datang dengan mata merahnya yang menakutkan. Ia lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap sinis ke arah mereka semua.


"Dengan bodohnya kalian bahkan tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini, seperti ucapan Leca, kalian bahkan sangat bodoh melebihi orang bodoh!" maki lavender tanpa ampun.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan bodoh, kalau kami memang tidak tahu!" sergah Lily tidak terima dengan ucapan Lavender.


"Ck! justru orang tidak tahu menahu lah yang disebut orang bodoh!" balas Lavender sengit.

__ADS_1


Lily tidak dapat berkata-kata lagi untuk membalas ucapan Lavender, dia memilih untuk memalingkan wajahnya yang kesal kepadaku.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela siapapun, meskipun menurutku Lily lah yang benar, karena bagaimanapun mereka tidak tahu apa-apa, dan tiba-tiba saja langsung disalahkan serta diejek bodoh karena ketidaktahuannya olehku dan kakakku.


Segera ku ambil panah yang sedari tadi dipegang oleh Chaser dan menggenggamnya erat, kemudian aku melangkah pergi dari sana.


Dengan kepala tertunduk aku berbalik menghadap mereka, "Pokoknya aku sudah memberi tahu, lakukan apa yang ingin kalian lakukan setelah mengetahui mereka semua dalam bahaya!"


Setelah mengucapkan itu aku pergi dengan langkah gontai dari sana. Perasaanku menjadi merasa kacau dan tidak bisa kumengerti. Seharusnya aku tidak perlu melakukan hal sejauh ini untuk menyelamatkan mereka dan memilih untuk berlindung... Tapi dengan bodohnya justru aku malah melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan.


Dari arah belakang tiba-tiba saja Lily berlari mengejarku, dia menggapai tanganku sehingga aku menghentikan langkahku dan menatapnya.


"Maafkan aku...aku benar-benar minta maaf, karena aku tidak tahu apapun, kau boleh mengatakan aku bodoh sebanyak yang kamu mau," Katanya dengan penuh penyesalan lantaran merasa bersalah.


"Lily... tidak apa-apa." Balasku sambil menatap kasihan kearahnya.


"Sial! Keluarga kerajaan sedang dalam bahaya!" decak Lavender kesal, kemudian ia pergi mendahului kami begitu saja.


"Kakak tunggu!!" teriakku keras sambil mengejarnya.


"Ayo kita harus segera ke sana!" Ucap Lily sambil menyeretku pergi.


Perasaanku menjadi tak karuan, kugenggam panahku dengan erat. Aku tidak mengerti dengan tindakanku yang seperti ini, kenapa aku dan beberapa orang lainnya harus repot-repot melindungi orang banyak yang tidak ada kaitannya dengan kami.


Kugigit bibir bawahku mencoba menahan air mataku yang terus berusaha keluar, aku tidak ingin melihat apapun yang menakutkan, aku tidak ingin tahu kenyataan apapun yang menyakitkan dan aku tidak ingin mendengar suara tangisan apapun yang menyedihkan.


Aku ingin melihat semuanya bahagia dengan senyuman yang merekah indah di wajah mereka dan aku ingin mendengar suara tawa yang menggema di telinga karena perasaan bahagia mereka.


Sekarang aku sedikit mengerti perasaan Pangeran Shun yang rela berjuang demi kebahagiaan banyak orang, dia selalu menganggap orang-orang yang mendukung dan memberinya semangat itu bagian dari keluarganya yang berharga. Karena itu dia berusaha seumur hidup untuk bisa menjadi pelindung dan pemimpin yang baik buat keluarganya yang ia sayangi. Tapi pantaskah aku berharap untuk bisa sedikit saja memonopoli dirinya dan rasa kepeduliannya. Hanya sedikit saja, dan aku tidak meminta lebih.


Ketika kami sudah sampai di dekat istana, kami merasa heran karena melihat beberapa penjaga yang seharusnya ada untuk melindungi mereka sama sekali tidak terlihat.

__ADS_1


Mungkin saja karena suasananya yang agak gelap sehingga mereka tidak terlihat...Pikirku dalam hati.


"Kakakkkk!!!!" Pekik seseorang dalam istana.


Aku dan Lily tersentak, kemudian kami menghentikan langkah kami saat hendak melangkah masuk.


"Pangeran Zio..." Kataku panik kemudian masuk begitu saja ke dalam istana.


Ketika aku masuk ke dalam ruangan besar itu aku terdiam melihat pemandangan yang sangat tidak biasa. Aku membulatkan mataku dengan sempurna ketika melihat Pangeran Dylan, raja dan ratu ke sepuluh sudah tak bernyawa dengan darah segar yang masih mengalir dari tubuhnya yang terluka. Pangeran Zio sendiri sedang berdiri bersebrangan dengan kakakknya sambil menangis.


Kujatuhkan benda yang sedari tadi ku pegang erat di kedua tanganku. Panah dan hadiahku jatuh dengan bebas kelantai sehingga membuat suara yang cukup nyaring, beberapa orang musuh tampak melirik ke arahku dengan meneringai.


"Kepar*t kau!" Maki Chaser yang langsung memberikan serangan demi serangan brutal. Namun dengan mudahnya orang itu menghindari serangannya seakan-akan sengaja mengulur waktu.


Aku mengalihkan pandanganku kearah samping dan mendapati kakakku sudah pingsan dan terluka cukup parah sedangkan yang masih berusaha melawan adalah si familiar kakakku bersama chaser menghadapi 3 orang lawan disitu.


Aku terduduk lemas, bisa-bisanya aku terlambat untuk menyelamatkan Raja Dylan. Dia terlihat sudah tak bernyawa ketika Lily memeriksanya.


Ini semua salahku, salahku karena terus mengulur waktu hingga terlambat menyelamatkannya, seharusnya aku tadi masih bisa menyelamatkan Raja dengan memberikan hadiahku yang kubuat atas bantuan sihir Pangeran Shun, dan salahku yang membuat Pangeran Shun pergi sehingga tidak dapat mencegah kejadian na'as ini. Semuanya adalah kesalahanku, karena aku... Pangeran Zio kehilangan semua keluarganya yang berharga...


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2