
Aku membungkuk hormat kepada ayah dan ibuku serta kakakku yang akan ku tinggalkan.
Mulai hari ini aku akan meninggalkan wilayah kerajaan Frost dan memulai kehidupanku di kerajaan Arrenthia, pernikahan aku dan pangeran Shun juga akan diadakan disana.
Agak berat bagiku untuk meninggalkan tempat bersejarah ini, namun aku harus melakukannya karena aku akan bersama dengan pangeran Shun, aku akan mengunjungi mansion Kethzie ini sekali-kali nanti.
Keluarga kecilku terlihat bahagia, namun mereka juga tidak rela putrinya dibawa kabur oleh seseorang yang bukan bagian dari keluarga mereka. Tidak, lebih tepatnya sebentar lagi dia akan menjadi bagian keluarga kami.
Setelah mengucapkan selamat tinggal aku langsung masuk ke dalam kereta kuda. Disana sudah ada pangeran tampan bermata biru yang selalu tersenyum dengan wajah yang menawan menyambutku dengan hangat.
Dengan gugup aku duduk di sebelah pangeran Shun, sedangkan pangeran Shun berhadapan dengan pengawal setianya yang selalu membawa pedang kesayangannya kemana-mana bahkan di dalam kereta kuda. Sedangkan aku membawa sate di dekatku beserta dengan chaser di dalamnya yang tentunya tidak akan ku keluarkan sekarang.
Pangeran Shun langsung mengeluarkan buku di tangannya, buku itu adalah buku yang pernah ku temukan di lemari kamarku dulu. Buku legenda tentang saint dan Magise.
"Buku ini sekarang sudah tidak kita perlukan jadi kubakar saja," ujar pangeran Shun lalu perlahan keluar api dari tangannya dan membakar buku itu habis.
Pangeran Shun melirik ke arahnya yang sudah menatapnya penuh dengan rasa kesal.
"Kenapa kau membakarnya pangeran?" tanyaku.
"Habisnya aku tidak ingin terikat dengan takdir takdir aneh yang ada disitu, yang aku inginkan aku hanya bisa menciptakan kenangan indah kita sendiri,"
Aku terdiam lalu berdehem, "Yahh... Kurasa pangeran Shun tidak salah juga," komentarku.
"Benar kan? lagian kita sebentar lagi menikah lalu berpetualang bersama, bersiaplah untuk menjadi Magise sejati," kata pangeran Shun yang tampak senang.
"Eeeeem pangeran... sebenarnya bertemu dengan keluargamu membuatku gugup setengah mati," ungkapku sambil melempar pandanganku ke arah luar.
Lagian... seperti apa keluarganya ya? apa mereka galak? atau malah mempunyai sifat yang mirip dengan pangeran Shun.
Erdwan yang merasa telinganya terganggu lalu menatap aku dan pangeran Shun bergantian.
"Sebelum itu kalian perlu di didik dahulu untuk menjadi calon raja dan ratu yang baik dan tidak kekanak-kanakan," kata Erdwan malas.
"Yahh aku yakin aku bisa lolos dengan mudah," kata pangeran Shun.
"Emmm...," gumamku sambil cengengesan. Aku tahu, ini memanglah sangat sulit bagiku yang baru beranjak dewasa dan tidak mudah peduli dengan orang lain.
__ADS_1
Pangeran Shun terdiam lalu memegang bahuku dan membuatku jadi menatap dirinya.
Adegan ini... Apakah dia mau menciumku lagi? Ohh tidak di depan kami sekarang ada Erdwan, bagaimana ini aku akan mati di tempat benaran sekarang.
"Alexa sebenarnya..."
"???"
"Sebenarnya aku benar-benar sudah hampir mati,"
"Tapi kamu masih hidup pangeran,"
"Itu karena peri hutan itu tau kalau ada musuh yang mengincarku dan dia datang menemui ratu Luna, ketika hari hujan itu sebenarnya ratu Luna datang ke daratan untuk menyelamatkanku yang sudah sekarat karena mendapat luka berat, lalu dia membuat tiruan diriku dari gumpalan air tanpa sepengetahuan mereka dan tiruan itu benar-benar dibunuh oleh kakakmu lalu dibakarnya," tutur pangeran Shun dengan wajah yang sedikit ketakutan.
Aku menghela nafas panjang, "Sukurlah peri hutan itu tahu tentang ratu Luna, dan bagaimana kakaku tidak mengetahui kalau itu bukan pangeran?"
"Itu bukan kebetulan, peri itu berkata karena kamu pernah bertemu ratu Luna jadi dia juga mengenalnya, selain dari itu kuncinya adalah sihir ilusi yang dimiliki oleh ratu Luna,"
"Satu hal lagi, ratu Luna bahkan membuatku memutuskan ikatan dengan semua orang saat itu, sehingga membuat segel ikatan abadi dan kekkai yang kubuat menghilang, maaf karena telah membuatmu khawatir Leca,"
Aku menggeleng cepat, "Huaa aku pasti akan berterimakasih pada ratu Luna nanti," kataku senang.
"Emangnya Dummy melakukan apa?"
"Dia menemukan misi sebenarnya, dan pergi dengan tenang,"
"Misi sebenarnya? itu artinya... dia sudah mati?"
"Yaps, jika tidak ada Magise disisinya maka seorang saint yang asli akan mati setelah menyelesaikan misinya, dan misinya adalah memberi satu kesempatan untuk nona Claire agar merasakan cinta dan kebahagiaan,"
Aku menundukkan kepalaku, ternyata Dummy sangat mencintai ibuku lebih daripada dirinya sendiri. Dia telah berkorban banyak demi seseorang yang dicintainya namun dia tidak ditakdirkan untuk bersama dengan ibuku.
"Dummy terlalu baik, tapi terkadang dia juga sangat pemaksa," gumamku sambil tersenyum tipis.
"Yah meskipun begitu aku lebih baik," jawab pangeran Shun
Erdwan langsung tertawa geli, "Pfft nona Alexa memuji pria lain di hadapan pangeran Shun,"
__ADS_1
"Diam kau!" Kesal pangeran Shun pada Erdwan.
Aku mengerti, Dummy berkorban untuk Claire dan secara tidak langsung dia membuat pangeran Shun menjadi saint yang asli.
Karena bosan akhirnya aku terus menatap pangeran Shun sepanjang jalan dan membuatnya menjadi salah tingkah sendiri.
"Alexa, menurutmu apa nama yang cocok untuk anak kita nanti?" tanya pangeran Shun sambil tersenyum tipis.
"Haaaaaaaaa?! Kita masih anak kecil masa mau buat anak sih! mentang-mentang kau tampan yah, jangan harap!" Teriakku dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Hee padahal aku kan sudah 21 tahun, emang apa salahnya..."
"Pikirkan lah aku yang masih 16 tahun!"
"Itu kan sudah besar..."
"Besar apanya, punyaku saja masih flat gini!"
Ups.. aku keceplosan! matilah aku diejek...huaa!
"Eemmmmmmmm..." Gumam pangeran Shun dan Erdwan yang langsung menatap lekat ke arahku.
"Benar-benar flat." Ucap mereka bersamaan.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...