Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 13 : Puisi ku?!


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan karena silaunya cahaya mentari yang menembus gorden memasuki jendela kamarku. Kemudian aku menggeliat dengan malas sebentar dan tertidur lagi.


"Aghhh aku malas bangun hari ini, biarkan aku tertidur lebih lama lagi...." Gumamku pada diri sendiri.


Benar saja, akupun tertidur lagi hingga pelayan datang membangunkanku. Sebenarnya aku mengalami mimpi buruk tadi malam tapi sekarang aku sama sekali tidak mengingatnya, dan tidak ingin kembali mengingatnya sama sekali. Tidurku menjadi terganggu karena aku sering terbangun ketika malam, karena itu aku harus tidur lagi untuk membayar tidurku yang kurang nyenyak.


"Nonaa, bangun ini sudah siang, anda harus segera ke akademi Aldric , karena hari ini nona akan membaca sastra puisi"


"HEEEHHHH?!" Aku langsung terbangun dan teringat hal buruk yang akan kuhadapi hari ini. Segera aku memerintahkan pelayanan itu untuk menyiapkan baju gaunku sedangkan aku bergegas berlari ke kamar mandi.


Kenyataan ini bahkan lebih seram daripada mimpi buruk ku semalam.


Setelah semuanya siap aku tidak perlu makan ke ruang makan. Karena akan membuang waktu dan menyebabkan diriku terlambat. Aku tidak perlu berpamitan dengan ayahku karena pada akhirnya dia pasti akan merasa kesal sebab aku melakukan hal yang sama terus setiap hari padanya.


"Leca, kamu sedang apa? Lama sekali, kita bisa terlambat!"


"Ahh iyaaa maaf,"


Lalu akupun segera naik ke kereta kuda dan langsung menuju ke istana. Setelah sampai semua disini pun sudah menjadi panggung, sesuai dugaanku di aula yang luas itu sudah disulap seperti sebuah Opera, bahkan sudah terdapat banyak orang berkumpul kemudian aku pun segera melangkah menuju ke tempat dimana aku bisa bertemu dengan yang lain nya.


"Hei hey katanya kertasnya baru bisa dikasih ke kita pas di panggung" kata Natte sambil menunjuk ke arah panggung besar yang berada di dalam aula Istana.


"Haduh yang benar saja, Bahkan aku tidak bisa mengingat apa saja yang kucoret di kertas itu!" ucapku frustasi.


"Tenang saja kita pasti bisa, tidak boleh pesimis dahulu sebelum mencoba" imbuh Kecha.


"Tapi bukan itu masalah nya... Yang jadi masalahnya adalah kita sama sekali tidak latihan!"


"Tenang saja, semua orang mengalami hal yang sama."


Kami berusaha untuk meyakinkan diri kami masing-masing dan akhirnya kami pun menuju ke kursi depan yang mana semua murid kelasku sedang duduk disana.


Rasa gugup saat ini telah merasuki tubuhku, berkali-kali aku menggigit bibir bawahku dan menggosok gosok tanganku agar tetap hangat.


'Duhh bagaimana ini?! bagaimana jika aku menuliskan sesuatu yang aneh-aneh di kertas?'


Perasaanku saat ini tidak enak sementara giliran ku sudah semakin dekat. Aku menatap satu-persatu orang disana, mereka telah menarik nafas lega karena sudah tampil dan penampilan mereka sungguh tidak ada yang bisa dibilang buruk untuk penilaian bagi orang yang pertama kali coba.


"Alexa Kethzie..."


'Waduh,kok cepet banget yah rasanya namaku dipanggil!'batinku.


"Semangat Alexa!" Ucap Kecha sambil tersenyum kearahku.


"Ahh heheh...te-terimakasih Kecha.."


Aku menaiki satu persatu tangga yang memiliki 4 anak tangga itu dengan gugup. Untung saja gaun yang ku kenakan kini panjangnya diatas mata kaki kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah terjatuh karena menginjak gaun bagian bawahku saking gugupnya. Pandangan mataku lurus kearah para penonton yang memang tidak terlalu banyak. Aku bisa menarik nafas lega karena rasa tegang ku sedikit berkurang.


Seorang wanita cantik mulai menyerahkan selembar kertas yang tertera namaku disana. Dan alangkah terkejutnya aku ketika membaca kertas itu.


'I INI BOHONG KAN?! INI PASTI BUKAN TULISAN KUU!' Elakku dalam hati.


Aku kertas itu cukup lama namun akhirnya hanya dapat pasrah karena itu memanglah coretan tangan ku. Saat membuat puisi itu pikiran ku benar-benar kosong dan kini pun pikiran ku semakin tak karuan.


"Nona Alexa silahkan dibaca..."


"Emmm anu, puisi ku benar-benar belum selesai,"

__ADS_1


"Tapi di kertas mu itu sudah ada beberapa bait puisi nona,"


"Ini cuma..."


"Kalau belum selesai lalu apa yang kau lakukan selama seharian penuh yang aku berikan padamu?!" teriak guru Adelle tiba-tiba.


"Itu..."


"Silahkan dibaca saja Nona,"


"Baiklah...." Aku hanya dapat pasrah dan mulai mengangkat kertas itu dengan sebelah tanganku. Namun sebelum itu, pandangan mataku tertuju pada kakak ku yang kini tengah memperhatikanku dan Pangeran Shun yang sedang tersenyum singkat kearahku. Aku mula menarik nafas panjang dan memulai membaca puisi itu sambil memejamkan mata, aku benar-benar tidak ingin melihat reaksi mereka.


'JANGAN SALAHKAN AKU KALI INI! AKU MEMANG PANDAI MEMBACA PUISI TAPI AKU TIDAK PANDAI DALAM MEMBUAT PUISI!' Gerutuku dalam hati.


.


.


.


*Ohh Pangeran Shun..


Kau adalah mentari ku


Pelita dalam sanubari ku


Kau beri kehangatan dalam kalbu


Di setiap hariku


Kau adalah malaikat ku


Melindungi ku


Setiap saat dan waktu


Aku mencintaimu selama hayatku


Sungguh ku nantikan


Saat dimana kita bersatu


Menjalin kehidupan baru


Serta ucapan mu


Yang mengatakan bahwa


Aku juga mencintaimu*...


.


.


.


"PFFTTT!! HWWAHAHAHAHHA." Suara gemuruh ledakan tawa dapatku dengar dengan jelas di telingaku yang masih normal ini setelah aku membaca puisinya.

__ADS_1


Ahhh urat Maluku sudah putus kemana sekarang?! Alexa bodoh seharusnya kamu robek saja kertas nya tadi, ini mah seperti melamar Pangeran Shun di depan umum! Batinku.


Semua pandangan mata yang hadir kini menatap tajam kearah Pangeran Shun. Sementara itu yang jadi pusat perhatian kini sudah keluar asap dari kepalanya dan mukanya sudah semerah kepiting rebus. Erdwan daritadi prihatin sambil membungkam mulutnya yang hendak mengeluarkan suara tawa dengan tangannya.


"Hehehe aku benar-benar tidak bisa berpikir apapun kecuali Pangeran Shun" ucapku di depan orang banyak sambil menggaruk tengkukku. Beberapa orang kemudian menghentikan tawanya dan mulai berbisik-bisik.


.


.


"Baiklah itu puisi yang tidak buruk Nona Kethzie, namun juga tidak dapat dibilang bagus, silahkan kembali duduk... Nah sekarang giliran yang lainnya.." ucap seorang wanita yang menjadi host itu memecahkan keributan kasak-kusuk diantara mereka sambil mempersilahkan aku kembali tempat duduk. Namun sebelum aku melangkahkan kakiku... terdengar sebuah suara yang mengejutkan ku.


BRAKK!


Pangeran Shun segera pergi dari ruangan ini sambil menjatuhkan kursi yang ia duduki saat itu. Dan beberapa orang lainnya melihat dia dengan tatapan yang simpatik atau prihatin.


"Pangeran..." lirihku.


Ini benar-benar keterlaluan...


Aku telah sering melibatkan dia selama ini...Dan sekarang aku malah mempermalukan nya di hadapan banyak orang,Bagaimana ini...jika terdengar gosip yang tidak baik bagi Pangeran?!... Seorang anak kecil seperti ku membacakan surat cinta padanya... Aghhhhh...! Dari segi manapun aku memang sudah keterlaluan.


Bagaimana rasanya jika aku di perlakukan seperti itu? Tentu.. tentu aku akan sangat BAHAGIA!!... Tapi Pangeran Shun adalah seorang pangeran mahkota yang memiliki martabat tinggi, dia juga baru saja mengenalku?! Tapi aku sudah berbuat buruk...Dan aku siapa? aku hanya lah seorang bocil yang hanya modal nekat melamar nya saja!..


"Alexa! Yang kamu lakukan tadi sungguh berani! Aku kagum padamu yang membuat orang seperti Pangeran Shun langsung naik darah, setelah ini pasti kalian tidak akan pernah bisa dekat lagi, dan itu bisa menjadi kesempatan bagiku" Kata Natte saat aku tiba di bawah panggung besar itu.


"Wahh leca ...yang benar saja? Kamu tadi melamar Pangeran?!" Ucap Kecha kagum.


"Apaan sih kalian jelas-jelas aku dipaksa untuk membaca tulisan ku! Bukannya tadi aku sudah menolak kan!"


"Kalau jadi kamu aku pasti lebih memilih mati di usia muda" Tambah Natte lagi.


"Ahh sudah lah apakah kalian tidak simpatik terhadap kuu?" Aku menatap mereka dengan tatapan memelas.


"Ahh emm aku lebih kasihan sama Pangeran Shun sihh..." Kecha menatap arah pintu aula dimana Pangeran Shun keluar tadi.


"Kecha aja tau tuh siapa yang lebih memprihatinkan dalam kejadian ini, sebaiknya cepat sana meminta maaf padanya"


"Ta tapi bukan aku yang salah! Yang salah itu wanita--"


"Udah cepat sana!" Mereka berdua menarik tanganku lalu mendorong punggung belakangku ke arah pintu luar.


Aku terpaksa mengikuti arahan mereka dan bergegas menuju ke tempat dimana Pangeran Shun dan Erdwan berada. Bagaimana jika Pangeran Shun tidak ingin memaafkan ku dan bahkan tidak mau bertemu dengan ku lagi?!


'Ahhh aku benci kesalahan! Karena aku harus meminta maaf... Itu sangat lah sulit bagiku.. lain kali aku harus lebih berhati-hati..'


.


.


.


*****


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2