Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 73 : Munculnya Lambang Saint


__ADS_3

"Tapii..."


"Udah sana pergi!!" Teriak Erdwan lagi.


Setelah mendapat dorongan yang seperti itu, Pangeran Orion pun pergi dan menutup pintu itu dengan kasar dan goblin-goblin itu tidak lagi mengejar.


"Kuharap kau baik-baik saja Erdwan!" Kata Pangeran Orion.


Pangeran Orion menghela nafas berat kemudian segera beranjak dari sana, ia khawatir mungkin waktunya tinggal sedikit lagi.


Setelah itu Pangeran Orion berlari ke pintu selanjutnya lalu membukanya sekilas dan menutupnya lagi dengan cepat, begitu seterusnya. Tetapi karena pintu tersebut begitu banyak ditambah lagi lengannya yang saat ini barusaja mendapatkan luka dia tidak dapat lagi melanjutkan pencariannya.


"Aihh aku lelah..." Lirihnya sambil bersender di salah satu pintu.


"Yoo tuan Pangeran!" Sapa Elaine pada Pangeran Orion.


"Eh Elaine, kau ada di sini? Dimana pangeran Shun?" Tanyanya dengan nada heran.


"Pangeran Shun sedang..."


"Sedang?"


"Sedang kusandra hahaha, bodoh sekali ya Pangeran sepertimu, tidak tahu kalau disini aku lah penjahatnya," jelasnya.


Glekk!


"Jadi dia yah nenek lampirnya," ucap Pangeran Orion pelan.


Sebuah pisau dengan cepat diarahkan kepada pangeran Orion, lalu berhasil dihindarinya. Sebuah pisau itu berubah menjadi beberapa buah pisau yang ingin menyerangnya.


Clap Clap Clap!


Semua pisau itu menancap di seluruh pinggir dimana Pangeran Orion terduduk.


Dia tersentak kaget kemudian mendongakkan kepalanya berniat untuk melihat apa yang ingin dilakukan wanita itu.


"Jika kau sangat ingin menemui saudaramu sebaiknya kau menyusulnya saja,"


"Ma-maksudnya?"


Elaine tersenyum licik sambil menunjukkan bibirnya yang langsung ia basahi dan berwarna merah ranum.


"Gak gak gak! Jangan mendekat! Aku dah punya tunangan!" Teriaknya sambil mendorong wajah Elaine hingga menjauh.


"Hihihi sungguh setia banget kauu pangeran," kata Elaine sambil tertawa kecil.


"Ada cara lain gak untuk bertemu Shun?"


"Adaaaa....."


Tangan Elaine diangkat dan jari telunjuknya menunjuk ke pintu yang berada paling atas dan sangaaaaat jauh dari pandangan mereka, "Masuk pintu itu," kata Elaine santai.


"Dah lah aku nyerah," jawab Pangeran Orion frustasi.


"Yaudah oke deh aku tinggal, waktunya tinggal 4 jam lagi loh masih banyak kok. Semangat yah!"


"Tungguuu!!"


"Apa?"


"Tidak apa-apa," kata Pangeran Orion ragu.


Sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan pangeran Shun, hanya saja dia tidak ingin memilih cara yang simple dan menjijikkan itu.


"Hufft..." Pangeran Orion menghela nafas panjang. Kemudian dia berlari menaiki tangga yang mengarah ke atas dengan seluruh kemampuannya.


"Hmmmm, lihat saja apa kau bisa sampai sebelum kehabisan waktu," cibir Elaine pelan.


"Tidak masuk akal! Tangga apa ini! Kok panjang banget!" Kata Pangeran Orion sambil melangkah menaiki tangga-tangga itu dengan pelan karena tenaga sudah mulai terkuras ditambah lagi di tangannya ada cairan merah yang terus merembas deras.


Perlahan pandangan matanya mulai memudar dan dia sudah kehilangan keseimbangan hingga terjun bebas dari tangga yang tinggi itu.


"Dasar keras kepala," gumam Elaine sambil menangkap tubuh Pangeran yang hampir terjatuh ke dasar dengan sihirnya.


Disisi lain Pangeran Shun sedang bertarung melawan Hans tetapi kondisinya sungguh tidak menguntungkan karena tanaman-tanaman hidup yang merambat tadi terus mengejarnya.


"Berhentilah meniru Hans! Kau bukan guruku!!" Teriak Pangeran Shun kasar.


"Aku memang Hans, hanya saja kau tidak percaya itu,"


"Hans tidak akan membalas dendam seperti ini!"


"Sungguh naif, jelas-jelas saja kau yang membunuh seluruh keluargaku, masih saja tidak mau mengaku, karena itulah aku ingin membantunya membalaskan dendam!"


"Aku tidak... Sengaja" lirih Pangeran Shun sambil melihat tangannya yang mulai bersinar merah.


Apa artinya ini?!


Karena Pangeran Shun berhenti, tanaman rambat itu kembali dengan cepat mengikat kaki, tangan dan seluruh tubuh Pangeran Shun dengan cepat.


"Aihh lepaskan!!" Pangeran Shun berontak tetapi ikatan tanaman itu malah semakin keras dan mencekik.


Tidak lama setelah itu Elaine datang sambil membawa seseorang di dekatnya, dia adalah pangeran Orion.


"Hah! Pangeran Orion?! Kenapa dia ada disini?!" Tanya Pangeran Shun heran dan panik sekaligus.


"Dia ingin menyelamatkanmu, bersama Erdwan tadi," kata Elaine dengan tenang.


Pangeran Shun membelalakkan matanya, dia tidak menyangka bahwa mereka berusaha sejauh ini untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


"Jadi Erdwan dimana?"


"Hump mungkin dia sudah terjebak di salah satu dunia ilusi yang aku buat,"


Pangeran Shun menundukkan kepalanya sambil kemudian tangannya keras, "Elaine, jika Erdwan terluka sedikit saja aku tidak akan memaafkanmu," kata Pangeran Shun penuh penekanan.


"Hohoho mengerikan, tapi sayang seribu sayang kau tidak akan bisa menghukumku dengan posisi yang seperti itu,"


"Terserah!" Balas Pangeran Shun kesal.


Tiba-tiba Elaine tertawa jahat, dia menyeringai mengerikan hingga ekspresinya itu merusak wajah cantiknya. Seluruh tubuhnya kini berubah tampilan, dia jadi memakai gaun merah dengan rambut pirang yang terurai panjang dan matanya yang berwarna merah, semerah darah.


"Tujuanku sini adalah... Membunuh dia d i h a d a p a n m u ! Sepertinya yang kau lakukan saat itu, membunuh kakakku di hadapanku!!" Kata Elaine sambil tertawa jahat.


"Aku tidak menyangka ternyata kau sangat jahat!" Ucap Pangeran Shun yang terlihat sangat kecewa.


"Selama ini aku mengira kau berhati baik, kau pernah berkali-kali menyelamatkanku dan menjadi pelindung pribadiku sama seperti Erdwan, meskipun kami mengangkap sesuatu yang mencurigakan tapi kami menepis kenyataan itu dan menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga kami," lanjut Pangeran Shun.


"Aku tidak ingin bualan percuma dari mulutmu itu! Tidak berguna, semuanya tidak berguna!"


"Elaine..."


Elaine terdiam kemudian menatap lekat tubuh Pangeran Orion, sejurus kemudian dia tersenyum.


"WIND SPEAR!"


Beberapa detik kemudian terciptalah sebuah tombak besar di tangan Elaine.


"MATILAH KAU!" Teriaknya keras.


Pangeran Shun membelalakkan matanya, Elaine ternyata benar akan membunuh kakaknya itu di hadapannya.


"TIDAKK!!" Cegah Pangeran Shun.


Suaranya menggema hingga membuat retakan di seluruh dunia Ilusi.


Mata birunya sedikit menyala serupa birunya laut yang luas membentang di terpa cahaya.


Sebuah lambang tercipta di dahinya, itu adalah lambang bintang emas yang dilingkari cahaya putih.


"Itu lambang Saint?!" Pekik Elaine tidak percaya.


Dengan cepat tanaman yang mengikat Pangeran Shun itu menghilang menjadi butiran debu dan bersatu dengan udara.


Pangeran Shun mendekat ke arah Elaine sambil menarik pedang miliknya lalu ditebaskan ke arah tombak itu dan tombak angin itu lenyap tak berbekas seketika.


"Jangan mendekat! Kau monster!" Kata Elaine sambil mundur perlahan, dia berbicara dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan.


"Hentikan Shun! Jangan lukai adikku!" Kata Hans mencegah di hadapan Pangeran Shun.


Pangeran Shun tersenyum tipis kemudian menebas laki-laki itu tanpa rasa bersalah dan langsung menghilang layaknya tombak dan tanaman tadi.


Air matanya mulai membanjiri pipinya, ia sangat mencintai kakakknya, melihat kejadian seperti itu membuat trauma masa lalunya kembali terlintas dibenaknya.


"Kakak!!!" Panggilnya sambil mencari-cari disekitarnya.


"Aku tidak butuh nasihat dari Hans palsu!" Kata Pangeran Shun sambil mengalihkan pandangannya ke atas.


Disana terlihat bulan merah yang menyala, cahaya menimbulkan suasana disekitar menjadi seperti senja yang dipenuhi dengan warna jingga.


"Keparat kau membunuh kakaku!!" Kata Elaine sambil menyerang Pangeran Shun. Tetapi sebuah pelindung tercipta tepat dihadapannya.


Pangeran Shun hanya dapat diam melihat Elaine yang dipenuhi dendam dan amarah.


Ia mengerti bahwa dia belum bisa menerima kenyataan kalau kakakknya telah tiada dan menumpahkan semua rasa dendamnya kepada pangeran Shun yang telah membunuhnya.


"Kenapa... Kenapa kau dengan kejamnya membunuh seluruh keluargaku... Kakakku semuanya kau habisi... Tidakkah kau punya hati... Sekarang aku hanya sendiri!" Tangis Elaine sambil sesekali memukul keras pelindung itu.


Pangeran Shun menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak tahu, karena aku hanyalah seorang monster..." Balasnya lirih.


"Kalau tahu kau adalah monster harusnya kau lenyap saja! Kau tidak perlu ada!" Ucap Elaine.


"El... tapi aku harus melindungi banyak orang, karena itulah aku ada,"


"Melindungi atau memusnahkan?!" Tanya Elaine dengan nada mengejek.


Pangeran Shun diam, dia tidak dapat menjawab pertanyaan Elaine karena dia ada untuk melakukan kedua-duanya. Tapi dia sangat ingin melindungi daripada harus memusnahkan banyak orang.


"Aah aku sudah tidak peduli lagi! Aku tidak mau mendengar apapun!!" Ucap Elaine sambil menutup telinganya dengan erat.


"Elaine kau hanya harus menerima kenyataan bahwa kakakmu sudah tenang disana, percayalah kau tidak sendirian karena ada aku dan Erdwan yang akan melindungimu," kata Pangeran Shun sambil meraih tangan Elaine.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku! Dasar monster!!" Teriak Elaine kasar sambil menepis tangan Pangeran Shun.


Pangeran Shun merasa tertohok dengan ucapan Elaine kemudian dia hanya dapat menundukkan kepalanya, menatap lantai dunia ilusi itu yang seperti air dan memantulkan bayangan dirinya.


Sedangkan Pangeran Orion yang barusaja sadar langsung disambut oleh perdebatan mereka.


"Ada apa ini? Kenapa Pangeran Shun dibilang monster?! Aku tidak mengerti!" Gumamnya pada diri sendiri.


"Elaine..."


Elaine yang dipanggil dengan lembut itu menutup telinganya keras-keras. Dia tidak ingin melihat sosok Pangeran Shun, dia adalah pembunuh kakakknya dan seluruh keluarga juga habis dibunuh oleh monster itu. Dia tidak ingin melihat sosok mengerikan seperti Pangeran Shun.


Sesuatu yang mengejutkan terjadi, bulan merah itu semakin berwarna pekat dan seluruh tempat itu menjadi semakin berwarna merah.


Tuk


Pangeran Shun memukul pelan kepala gadis itu, "Dasar anak nakal! Aku sudah menghukumku loh," katanya sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Elaine tertegun, "Eh? Apa yang barusaja dia lakukan," Tanya Elaine pada dirinya sendiri, dia memenang puncak kepalanya yang barusaja dipukul pelan itu.


Entah kenapa tiba-tiba hatinya menjadi badum-badum tak karuan dan wajahnya mulai merona.


"Sihir apa yang barusaja dia lakukan padaku!" Kata gadis itu heran.


"Hohoho Nonaaa itu bukan sihir, itu namanya anda telah jatuh cinta haha ternyata Pangeran Shun memang penakluk para wanita yah" Kata Pangeran Orion sambil tertawa kecil.


Sedangkan Pangeran Shun sudah pergi tepat setelah memukul gadis itu tadi. Dia terbang ke arah bulan merah sambil membawa pedangnya.


Dengan seluruh tenaga dia kerahkan pada satu tebasan pedangnya. Dia berharap bulan itu akan langsung hancur dengan sekali serangan.


"Waktuku sisa sedikit lagi, kumohon hancurlah!" Gumamnya.


DHUUAAAAAARR


Benar saja bulan merah itu hancur dengan sekali tebasan hingga membuat seluruh dunia Ilusi itu retak dan runtuh.


Pangeran Shun tersenyum tipis, dia senang akhirnya usahanya berhasil.


Pangeran Shun pun terjatuh bebas ke bawah, dia memejamkan matanya pelan.


"Aku bukanlah monster," lirihnya pada diri sendiri.


"Ya kau bukanlah monster, kau adalah seorang saint, sang pelindung suci," ucap seseorang berbisik di telinganya.


Sontak Pangeran Shun membuka matanya lalu mencari asal sumber suara itu.


"Siapa?!" Tanya Pangeran Shun setelah tidak menemukan apa-apa.


"Aku adalah Hans Whiteheart, aku ada didepanmu," jawab suara itu.


Pangeran Shun tidak melihat apa-apa di depannya kecuali hanya seekor kupu-kupu emas yang bergerak didepannya.


"Apa yang kau maksud dengan sang pelindung suci?" Tanya Pangeran Shun heran.


"Itu artinya kau ditakdirkan untuk menjadi raja sejati yang melindungi rakyatnya sepenuh hati,"


"Ohh itu mah tanpa ditakdirkan pun aku juga sudah bertekad menjadi raja,"


"Tapi ingat kalau usiamu hanya tinggal beberapa tahun lagi saja, kalau kau ingin memenuhi cita-citamu temuilah titisan dewi bulan yang atau gadis yang mempunyai tanda lahir bulan, lalu menikah dengannya, dengan begitu usiamu akan jadi lebih lama karena kau akan mendapatkan sebagian keabadian yang dimiliki olehnya,"


"Benarkah?" Tanya Pangeran Shun antusias.


"Benar, gadis itu adalah sang legenda yang disebut-sebut dengan julukan Magise, tapi tentu saja kenyataan benar atau tidaknya masih diragukan..."


Pangeran Shun menekuk birirnya kebawah, "Yaampun guru, teganya kau menyuruh muridmu untuk mencari gadis gaib itu,"


"Cari saja, siapa tahu jodoh ada dipihakmu,"


"Hee emang dia bisa jadi jodoh orang lain, bukannya ditakdirkan untukku?"


"Tentu saja, dia bisa juga jodohnya orang lain,"


"Yahhh... Usia panjangku cuma mimpi dong kalau dia itu jodohnya orang lain,"


"Yapss... Betul sekali Pangeran,"


"Kalau begitu aku tidak akan membiarkannya di deketin sama cowok lain selain aku!" Ucap Pangeran Shun dengan percaya diri.


"Yayaya... Semoga saja beruntung dalam pencariannya,"


"Tapi aku sudah berjanji sama seorang gadis kalau aku akan menikahinya di masa depan, kalau aku mengejarnya maka dia akan kecewa," gumam Pangeran Shun pasrah.


Lagian selama ini juga dia sudah banyak berjuang untuk Alexa, karena dia juga menyukainya, hanya saja... Entahlah dia ragu untuk bisa memenuhi janjinya pada gadis itu. Dia takut kehadirannya hanya akan memberikan luka yang mendalam untuknya, dia tak ingin hal itu terjadi.


"Yaampun susah amat, kalau bisa dua ngapain pilih satu coba," celetuk Hans.


Pangeran Shun tersentak, "Hihihi guru kau pintar!!" Balas Shun langsung.


"Yapss lagipula jika kau nanti jadi seorang raja pasti perlu yang namanya selir,"


Pangeran Shun terdiam, tiba-tiba saja di benaknya terlintas, jika Leca jadi ratunya maka hancurlah dunia kerajaannya yang makmur karena gadis itu gampang cemburuan.


"Sepertinya dua saja cukup, heheh" Jawab Pangeran Shun ragu.


Beberapa detik kemudian ia mulai merasa ngantuk berat kemudian mulai memejamkan matanya perlahan.


"Ingat ya, ada saint selain dirimu Pangeran, dia juga pastinya akan mengincar keberadaan gadis itu,"


Orang yang diajak bicara itu tidak menjawab karena dia sudah berada di fase setengah sadarnya.


"Yaudah, sudah waktunya aku pergi, dahh semoga beruntung~" kata Hans lagi kemudian pergi dan menghilang begitu saja.


Pangeran Shun akhirnya sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran dan ikut lenyap dalam kegelapan bersama dengan puing-puing dunia ilusi yang terus jatuh tanpa arah ke tempat yang tak berujung.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2