Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 63 : Pangeran Tidur


__ADS_3

Istana Kerajaan Arrenthia


Dua orang berlawanan jenis itu sedang saling tatap menatap dengan perasaan gundah mereka khawatir akan terjadi sesuatu yang sangat mereka takutkan, yaitu seseorang yang berharga bagi mereka tiba-tiba saja sudah tiada. Mereka adalah Erdwan dan Elaine dua orang pengawal setia yang dipilih untuk menjaga Pangeran Shun dan setia dengan pangeran itu semasa hidupnya.


Elaine beralih menatap pangeran Shun dengan tatapan khawatir. Tidak dengan Erdwan yang sudah menangis sambil memeluk tangan kanan Pangeran Shun yang dipegangnya erat.


"Pangeran Shun bangunlah, aku sangat menyesal membiarkanmu sendirian ke kerajaan Frost, si Leca pasti melakukan sesuatu yang menyebabkan keadaan mu begini kann.. hiks hikss jangan mati duluan sebelum kamu menikah huhu," Rengek Erdwan pada Pangeran Shun.


Elaine menatap pias ke arah Erdwan kemudian langsung melepaskan tangan Erdwan yang bertautan dengan pangeran Shun.


"Gak usah lebay... Lagian apa kata dokter istana? Dia hanya tidur karena pengurangan usianya yang berkurang drastis..."


"Cih dasar El tidak berperasaan, jelas-jelas tuannya sekarat kok malah gak nangis sih!"


"Gak perlu itu gak berguna bagiku, nangis itu tidak ada artinya hanya buang-buang air mata saja,"


Erdwan menatap tajam ke arah Elaine kemudian mendekat kearahnya.


"Ma-mau apa ka-kau?" Tanya Elaine gagap.


"Mau memata-matai mu, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku kan,"


"Engg... enggak kok!" Elak Elaine sambil melangkah mundur menjauh dari Erdwan yang semakin mendekat ke arahnya.


Elaine berhenti ketika punggungnya menyentuh dinding tembok karena tidak ada ruang lagi untuk menghindar dari Erdwan dia pun kini hanya dapat diam sambil terus berkeringat dingin.


"Khhokk...khookk...uhmmm..."


Mereka berdua tampak mematung sebentar mencoba menajamkan telinganya.


"Khhokk...khookk..."


Suara itu datang lagi akhirnya Erdwan menoleh ke arah belakang dan hanya mendapati Pangeran Shun yang sedang tertidur pulas sambil memeluk guling sesekali mengeluarkan suara dengkuran yang keras.


"Haa.... Pangeran kok...Ng..." Heran Elaine sambil membuka mulutnya lebar-lebar.


"Pfffftttt baru kali ini ku dengar suara unik dan mulutnya bwahahahhahaahh dia pasti gak mau ngaku nanti," Imbuh Erdwan sambil memegangi perutnya.


"Kalau dia tidur berarti bisa dibangunin kan??"


"Mana bisa kita sudah melakukan berbagai cara untuk membangunkannya tapi tetep gak bangun-bangun selama hampir dari 24 jam," kata Erdwan.


Elaine menyeringai membuat kecurigaan Erdwan bertambah. "Benar-benar... Ada satu cara yang belum kita lakukan yaitu..."


"Yaitu???"


"Yaituuuu......"


"Yaituuuu???"


"Di Cium,"


"😑 Berani kamu ngelakuin ke dia bakal aku bunuh!"


"Kan ada legenda Putri tidur yang bangun pas dicium Pangeran,nah siapa tau itu bisa berlaku sama Pangeran tidur Shun juga," Elissa menjawab sambil tersenyum tipis.


"Pfffftttt tidak-tidak hanya bercanda hehe, tunggu bentar yah," Elaine pun berlari dengan ria dan menutup pintunya keras-keras. Dia senang bisa kabur dari Erdwan yang hampir menyudutkannya tadi.

__ADS_1


Erdwan mendengus kesal sambil menatap Pangeran Shun yang belum sadar dari tidurnya, ingat! bukan pingsan.


"Nyam nyam... Aku suka ayam panggang," gumam Pangeran Shun sambil mengeratkan pelukannya pada gulingnya.


"Nyesel aku nangis, Elissa benar... Nangisin orang kayak dia gak ada gunanya," Cibir Erdwan.


Pangeran Kenn tiba-tiba datang sambil memberikan sepiring makanan. Kemudian duduk di dekat Erdwan berdiri sambil memakan buah yang entah dari mana dia dapatnya, dengan santainya dia mengunyah tanpa menawarkan kepada Erdwan yang sudah menelan ludahnya kasar. Dia sebelumnya berjanji akan tidak makan sedikit pun kalau Pangeran Shun belum sadar juga tapi kali ini dia terlihat goyah.


"TADAAA!!" Teriak Elaine yang datang secepat kilat ke arah mereka.


"Teknik yang kulakukan ini pasti berhasil!" Ucap Elaine yakin dan mantap sepenuh hatinya.


BYUURR...


Seember air sudah ia tuangkan diatas wajah Pangeran Shun yang tertidur pulas. Dengan cepat wajah Erdwan berubah pucat sedangkan Pangeran Kenn malah terbatuk-batuk karena tersedak.


"Itu Pangeran woee bukan manusia biasa, masa kamu siram sembarangan!" Kata Erdwan sambil mengguncang-guncangkan bahu Elaine.


Elaine mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum kecil, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa apalagi perasaan bersalah saat melakukan hal itu.


"Emang dasar psikopat," umpat Pangeran Kenn sambil mendekat ke arah Pangeran Shun yang masih tertidur.


"Mau ngapain?" Tanya Elaine.


"Keringin bajunya lah,"


"Kamu pengen ngebakar Pangeran Shun yah?" Tanya Erdwan.


"Iyaah kan dia elementary api mana bisa ngeringin, yang ada malah buat Shun panggang," imbuh Elaine sambil mengangguk singkat.


Pangeran Ken tersenyum smirk kemudian mengeluarkan kekuatannya, dengan cepat baju Pangeran Shun mengering dan air yang membasahinya menguap di udara.


Elissa mengangguk sedangkan Erdwan menggelengkan kepalanya.


Pangeran Shun tiba-tiba mengerjapkan matanya kemudian dia langsung duduk sambil mengucek matanya pelan. Dia kaget karena melihat wajah teman-teman yang mematung menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa?" Tanya Pangeran Shun polos.


"Pangeran akhirnya kau bangun juga, " Ucap Elaine senang.


"HUAA ADA HANTU! MAYAT HIDUP! ZOMBIEE!! USIR DARI SINI SEKARANG JUGAA!" Titah Erdwan sambil ketakutan.


Erdwan memeluk punggung Pangeran Kenn sampai membuatnya kelabakan karena tercekik.


"Uhuk...ingat aku seorang pangeran..uahuk uhukkk... terhormat disini tidak pantas diperlakukan seperti ini!" Protes Pangeran Kenn sambil melepaskan diri dari Erdwan.


Pangeran Shun tersenyum kecil melihat tingkah mereka, "Maaf sudah membuat kalian khawatir, aku berjanji tidak akan ada lagi kejadian seperti ini," kata Pangeran Shun sambil mencengkram erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Dia berbohong, dia sangat mudah ditebak di saat seperti itu. Pangeran Shun kemudian beranjak dari tempat tidurnya masih dengan langkah gontai menuju ke luar pintu.


"Mau kemana kau Pangeran?" Tanya Elaine.


"Kalian disini saja aku tidak akan lama,"


"Tidak kau tidak boleh keluar dengan keadaan yang seperti ini, di luar sangat dingin tidak baik untuk kesehatan mu," tegas Elaine sambil menghalangi pintu keluar.


"Huh padahal dia aja tadi nyiram seember air tanpa rasa bersalah," cibir Erdwan. Mendengar ucapan itu Elaine langsung mendelik ke arah Erdwan.

__ADS_1


Pangeran Shun tiba-tiba tersungkur ke lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. "Aghhhhh...!" Erangnya sambil memukul-mukul dadanya keras.


Tindakannya itu sontak membuat mereka semua terkejut dan langsung panik.


"Hentikan Pangeran jangan lakukan itu!" Erdwan langsung menggenggam erat tangan Pangeran Shun.


Bola matanya yang semula biru seperti langit itu mulai menggelap tubuhnya mulai melemah kembali dan tidak ada perlawanan sama sekali ketika Erdwan memapahnya kembali ke kasur, dia yang seperti ini terlihat sudah bukan dirinya yang dulu lagi.


"CEPAT PANGGILAN TABIB!" Perintah Erdwan keras.


"BAIK!" Jawab Pangeran Kenn. Kemudian langsung berlari ke luar, saat berlari dia berhenti sejenak tiba-tiba terpikirkan olehnya harusnya dia tadi yang memerintah bukan yang diperintah tapi yasudah lah ini demi keselamatan rekannya.


Sementara di kamar itu Erdwan dan Elaine berusaha menenangkan Pangeran Shun yang tengah kesakitan.


"AGHHHHH!.."


Erang Pangeran Shun.


PYAAARR...


Sedetik kemudian semua kaca yang berada disana pecah berhambur. Membuat wajah mereka terlihat tegang.


Pangeran Shun menghembuskan nafas kasar dia berusaha menetralkan detak jantung yang memburu.


"Alexa... Aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan lagi..." Lirihnya pelan setelah berhasil menstabilkan kondisi tubuhnya.


"Kenapa?" Tanya Elaine.


Erdwan terdiam tiba-tiba saja terfikir dibenaknya kalau penyebab keadaan Pangeran Shun menjadi seperti itu memanglah salah Alexa, anak kecil itu benar-benar membuat Pangeran Shun kehilangan masa hidupnya yang sangat berharga. Memikirkan itu membuatnya menjadi geram dan kesal. Terbesit dalam pikiran nya untuk melenyapkannya saja hingga tidak lagi mengusik kehidupan Pangeran Shun.


"Aku tidak ingin melakukannya..." Balas Pangeran Shun membuat Elaine terdiam begitu lama.


Setelah itu kemudian Pangeran Kenn datang sambil diikuti oleh dokter provesional di istana Arrenthia. Dia memeriksa keadaan Pangeran Shun tetapi raut wajahnya seketika menunjukkan milik yang mengecewakan.


Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak lama lagi..." Ucapnya membuat mereka semua membelalakkan matanya.


Pangeran Shun menggigit bibir bawahnya keras. "Hei tidak bisa kah aku hidup lebih lama lagi? Aku ingin... Seperti kalian... Aku juga punya tujuan, aku juga punya seseorang yang sangat aku ingin lindungi tapi tidak bisa kah hak itu terjadi padaku? Apakah ada caranya tolong tunjukkan padaku! Kumohon segala cara apapun akan aku lakukan!!" Teriak Pangeran Shun tiba-tiba.


Dokter itu tersentak. Kemudian dia menggelengkan kepalanya lemah, "Tidak bisa, sekuat apapun kau menentang hal itu pada akhirnya takdir itu akan menjemputmu," jawab sang dokter membuat Pangeran Shun mengalirkan setetes air mata tanpa disadarinya.


Tidak ada harapan? Dia hanya bercanda kan? Dia adalah seorang saint! Dia bisa melakukan apapun bahkan memperpanjang hidupnya sendiri! Dokter itu hanya membual, semua yang dikatakan mereka hanyalah omong kosong... Lalu apa artinya dia dilahirkan jika hanya memiliki hidup singkat yang harus dihabiskan untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya. Ohh iya ingat... dia hanyalah sebuah 'SENJATA'... Dia hanyalah senjata yang akan berguna bila digunakan, sebuah senjata seharusnya tidak mengharapkan hal apapun selain bisa berguna.


Pangeran Shun tersenyum miris, dia baru menyadari hal itu karena dia selama ini terlalu bodoh, tidak menyadari hal yang seharusnya dia sadari sejak dulu.


.


.


.


****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2