
Sedangkan di sisi lain Pangeran Orion dan Erdwan sedang kebingungan karena dihadapkan dengan beribu-ribu pintu yang ada di sekeliling mereka.
"Ini pintu mau dibukain semua?! Yang bener aja!!" Kesal Erdwan.
"Terus kita bisa apa? Kita kan gak punya sihir pelacak, mau gak mau yaa... dibukain semua pintunya..." Pangeran Orion pasrah saja.
"Seenggaknya gunain sihirmu kek!"
"Sihirku elementary petir, apa mau kamu langsung jadi sate Erdwan bakar?!"
"Gak usah, gak usah, aku gak enak buat dimakan,"
Akhirnya mereka berdua memantapkan hati mereka untuk membuka satu persatu pintu yang ada di sekitar mereka terlebih dahulu.
"Bukain dong!" Titah Erdwan kepada pangeran Orion.
"Sabar aaah ini juga lagi dibuka!"
WHUSSS!!
Tiba-tiba badai angin bercampur petir terlihat dari dalam pintu itu, Pangeran Orion hampir saja terseret masuk ke dalam ruangan penuh bencana tersebut. Dengan cepat Erdwan menarik gagang pintu lalu menutupnya lagi.
"Hufft untung gak kebawa anginnya," Kata Erdwan lega.
"Iyaa untung aja..." Ucap Pangeran Orion sambil terduduk lemas. Ia merasa jantungnya hampir copot dari tempatnya barusan.
"Coba yang ini deh..." Kata Erdwan menunjuk pintu di samping Pangeran Orion.
"Bukain itu!" Titahnya lagi.
"Kok aku sih?! Kan aku Pangerannya! Kamu pengawalnya! Jadi kamu yang bukanya!"
"Wahai Pangeran Orion yang baik, saya ini hanya seorang manusia biasa tanpa sihir, apalah dayaku bila terkena masalah besar pasti langsung lenyap, karena itu anda sebagai Pangeran harus melindungi rakyatnya yang lemah ini," bujuk Erdwan.
"Iya-iya deh ini ku buka!" Balas Orion dengan nada kesal.
KREEKKK...
"Ada apa?" Tanya Erdwan.
"Woaah ada bintang-bintang..."
"Hah yang bener sini ku lihat!"
"Wah iya bener bintang!"
"Ehh tapi btw jangan masuk ke dalam pintunya," Kata Pangeran Orion memperingatkan. Tetapi Erdwan sudah terpincut keindahan bintang-bintang itu lalu melangkah masuk ke dalam pintu.
"Ahhh! Apa ini!" Kata Erdwan sambil bergelantungan sambil memegang bagian bawah pintu.
Dia mengalihkan pandangannya ke bawah dan melihat semuanya penuh dengan bintang. Kalau dia terjatuh mungkin selamanya akan terjebak di angkasa yang sepi itu.
Tidak tidak... walaupun indah tapi itu namanya bukan kenikmatan hakiki karena tidak ada makanan dan cewek cantik!.
"Yuhu aku tinggal yah," kata Pangeran Orion santai sambil hendak menutup pintu itu.
"Haaa jangan dong! Tidakkah kau kasian kepadaku Pangeran!"
"Hemmmm... Kurasa tidak." Jawab Pangeran Orion kemudian beranjak.
"Ohh iya ada satu hal lagi, lihat itu, ada meteor yang lagi melaju cepat ke arahmu, sebaiknya aku tutup yah biar aku aman..."
"JANGAN PANGERAN!! AAAIH KUMOHON JANGAN!!"
Meteor itu melesat cepat kearah mereka berdua dan Erdwan pun kelabakan untuk kabur karena hanya tangan kanannya saja yang berhasil memegang bagian bawah pintu, sisanya bergelantungan di angkasa penuh bintang tersebut.
Karena tidak adanya grafitasi, dia jadi sulit untuk mengatur gerakannya, dan bergelantungan bebas di ruang angkasa tersebut.
Meteor itu semakin mendekat dan semakin dekat sekali, hingga aura panasnya sudah terasa di dekat mereka.
"Gap!" Pangeran Orion menarik tangan Erdwan sekuat tenaga, lalu menutup pintu tersebut menggunakan tanganya dengan cepat.
DUAAARRR!!
__ADS_1
Suara dentuman dari balik pintu tersebut terdengar memekakkan telinga.
Erdwan dan Pangeran Orion pun mengelus dadanya yang sudah terus-terusan berlari maraton.
"Kenapa pintunya isinya pada nyeremin yah..." Kata Pangeran Orion.
"Mungkin karena Pangeran yang buka deh, jadinya gak wangy, gara-gara Pangeran Orionnya belum mandi,"
"Ishh aku udah kalau mandi mah! Coba sekarang giliran kamu yang buka!" Usul Pangeran Orion.
"Ehh enggak-enggak, akutu--"
"Udah gak usah banyak alasan! Kita tes ke wangy-an seorang Erdwan!" Tukas Pangeran Orion.
Sekarang mereka berdua sedang berdiri di hadapan sebuah pintu pink layaknya pintu kemana saja milik Doraemon.
Erdwan dengan ragu-ragu membuka gagang pintu itu dengan pelan. Kemudian terlihatlah sebuah hutan hijau yang penuh dengan udara yang sejuk.
"Masuk gak nih?" Tanya Pangeran Orion ragu.
"Masuk lah! aku kan wangy jelas aja ini amann!" Jawab Erdwan dengan percaya diri.
Mereka berdua akhirnya masuk sambil berjalan beriringan, mereka masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa ragu, ruangan itu terlihat seperti hutan pada umumnya.
Hanya saja semakin mereka masuk ke dalam suasananya semakin menggelap dan lembab.
GEDEBUG!!
"Ini hutan atau rawa?!" Pekik Pangeran Orion heran melihat sebuah batu besar yang terjatuh di lumpur tenggelam perlahan-lahan seperti dimakan oleh lumpur tersebut.
"Sepertinya ini hutan rawa hidup deh, huhuhuhu Pangeran ayo kita balik aja deh," ajak Erdwan sambil berdiri ketakutan di belakang Pangeran Orion.
"Yaudah kita balik deh, sepertinya ini juga bukan tempat Pangeran Shun dan Elaine deh," kata Pangeran Orion kemudian berbalik.
Kskskskskksk...
Kskskskskksks....
Kskskskskksksk.......
"JURUS KAKI SERIBU!!!" Teriak mereka berdua secara bersamaan. Lalu berlari ke arah semula sekencang mungkin.
Namun sayang seribu sayang, langkah mereka berdua terhadang oleh sekelompok goblin yang kini ada dihadapan mereka.
"Ohh ayolah pak buncit hijau ijinkan kami lewat..." Pinta Erdwan dengan wajah memelas seperti anak anjing.
"Shhhhttt tau gak?" Bisik Pangeran Orion.
"Apa?" Balas Erdwan lagi dengan bisikan.
"Mereka itu goblin, bukan pak buncit hijau,"
"Terus? Bener kok mereka pak buncit hijau, jenis kelamin mereka laki-laki, terus tubuhnya warna hijau, telinga tajem kayak pisau dan perutnya buncit," kata Erdwan santai.
"Yaampun, terserah deh, yang paling penting mereka itu gak suka diejek dan hobi mereka itu ngambil kesuciannya cewek-cewek tau gak!" Terang Pangeran Orion.
"Hahh?!! Serius?!!!"
"Dua rius!"
"Wksneh28wosgwbwjgssnsb..." ucap goblin itu berbicara dengan kelompoknya yang lain.
"Sepertinya... Kitaa harus...kabur ke belakang deh," kata Erdwan sambil bersiap berlari kebelakang namun ternyata mereka sudah dikepung oleh sekelompok goblin berbadan buncit tersebut.
Glekk...
"Tolong Makk! kesucianku bakal ilang abis ini hiks tulungg!!" Teriak Erdwan histeris sambil menutupi alat vitalnya.
Pangeran Orion menyikut lengan Erdwan kasar hingga membuat empunya meringis kesakitan.
"Ehh tenang dong, kalau kamu bukan cewek, kamu aman aja deh kayaknya, palingan cuma dibunuh dan dijadikan kambing guling aja kok, gak bakalan ilang kesuciannya,"
"Lah itu mah tambah parah pangee!!"
__ADS_1
"Pangee?!"
"Pangeran maksudnya... Huhu gitu aja gak tahu!"
Goblin itu tiba-tiba menari-nari dengan tarian hutan yang tidak jelas, sambil membawa tombak tinggi ditangannya. Tidak lama setelah itu muncul sebuah obor lengkap dengan tandu dan beberapa wanita cantik di dalam tandunya tengah tersenyum kearah mereka.
"Lah itu ada wanita cantik!" Pekik Erdwan senang.
Pangeran Orion mendengus sebal, "Denger gak sih apa kataku?!"
"Apa?"
"Goblin itu senengnya apa?"
"Mainin cewek,"
"Nahh itu, berarti mereka salah satu mainannya, kamu mau dapet bekas pak buncit hijau?!"
"Gakkkkk!! Gakkkkk ihh gak mauu!!!"
"Makannya jangan tergoda sama yang cantik-cantik! Lagian mereka itu mau jadiin kita buat makananya,"
"Ehh yaudah lah kalau gitu mending kabur aja yuk!"
"Caranya?"
"Gunakan kekuatan lah, apa gunanya sihir hebatmu Pangeran, kalau gak bisa digunain disaat seperti ini!" Kata Erdwan menunjuk ke arah Pangeran Orion.
"Anuuu... jadi masalahnya ini hutan rawa dan semua disini rata-rata mengandung energi negatif, bisa-bisanya kita juga ikut kesetrum bareng dan jadi manusia panggang," kata Pangeran Orion sambil tersenyum pasrah.
"Aihh emang gak gunaa!" Teriak Erdwan frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Wokwwjehehebei8eoe!!!" Perintah salah satu goblin kepada kelompoknya.
"Isnwjwgeeuisoebsu!!"
"Ampun, mereka bicara apa sih!!" Tanya Erdwan.
"Mana kutahu, aku bukan spesialis bahasa goblin!"
"wkejeheueuwkwiuwyy!!"
JLEBBB!
Sebuah tombak meluncur ke arah Pangeran Orion dan mengenai lengan kirinya.
"Aggghh!!" Rintihnya sambil memegangi lengannya.
"Aihh sialan! Mereka begitu banyak!" Keluh Erdwan yang berusaha menyingkirkan goblin-goblin itu dengan heirloom weaponnya.
"Cepat kabur!! Aku sudah membuat celah!!" Kata Erdwan kepada pangeran Orion.
"Kau?"
"Tidak usah pedulikan aku, biar Pangeran saja! Aku percayakan Pangeran Shun padamu Pangeran Orion!!" Teriak Erdwan meyakinkan Pangeran Orion untuk melangkah pergi.
"Tapii..."
"Udah sana pergi!!" Teriak Erdwan lagi.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...