Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 40 : Rencana Seorang Sad Girl


__ADS_3

Saat waktu senggang pelajaran, aku duduk di bangku taman yang biasa kukunjungi semasa ada Pangeran Shun dulu, bersama Kecha dan Natte. Kami hanya diam sambil memandangi langit-langit selama beberapa menit.


Aku sendiri terdiam sambil terus memikirkan penyelesaian masalah kemarin sedangkan mereka juga tampak melakukan hal yang sama denganku.


Aku memejamkan mataku dan menghembuskan nafas panjang.


Hmmm...


Ternyata hidup di dunia novel itu sangat-sangat buruk sampai aku pengen terbang aja pindah planet ke mars dan hidup menyendiri disana tanpa adanya gangguan sedikitpun.


"Coba deh lihat langitnya ada yang aneh!" Ujar Natte memulai topik pembicaraan sambil menunjuk langit-langit, perkataan sukses membuat membuka kembali katup mataku yang tadi sempat tertutup.


"Mana? Itu kan cuma cuaca mendung," kata Kecha.


"Iyaa mendung, sama seperti suasana hatiku yang kelam," timpalku kemudian.


"Lihat bunga sakuranya gugur," Kecha terlihat senang karena sepertinya perputaran waktu sudah memasuki musim gugur.


"Iyaa sama sepertiku yang sedang rapuh, sedikit aja terkena masalah sudah jatuh," kataku sambil beralih menatap bunga itu dengan tatapan hampa.


"Eheem," mereka berdua berdehem karena aneh melihat kelakuan ku.


"Lihat bunganya ada yang layu," Natte menunjuk bunga yang berada di belakang kursi kayu tempat dudukku.


Aku menghela nafas panjang lagi. "Iyaaa... sama seperti aku yang lelah menunggu."


Wajah mereka berubah pias dan langsung melipat silang kedua tangannya di depan dada.


"Wah ada putri kecil buchin!" kata seseorang mendatangi kami.


Oh ayolah usiaku bahkan tidak pantas dibilang sebagai anak kecil lagi!. Batinku menggerutu.


"Hei itu kata-kata ku!" protes Natte.


Kami langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Lily Collans yang sedang tersenyum tipis ke arah kami.


"Nona lily sedang apa kau kesini?" tanya Kecha.


"Sebenarnya aku ingin mengucapkan terimakasih ku pada Pangeran Shun yang dulu pernah menyelamatkan ku hehe, tapi sepertinya sudah terlambat untuk mengatakannya... habisnya aku te-terlalu maluu" Lily berbicara sambil menundukkan kepalanya. Dia terlihat sangat malu seperti yang dikatakannya.


"Oh jelas tidak boleh." ucapku dengan percaya diri. Natte pun langsung mencubit pipiku gemas sedangkan aku hanya mencibirnya.


"Maafkan kami Nona Collans, temen saya tidak berakhlak." Kata Natte dengan Ucapan sadisnya.


Lily terkekeh mendengar perkataan Natte. Kemudian ikut duduk di antara ku dan Natte.


OMG jaga jarak aman dong ntar nular ke aku sifat anehnya. Batinku.


Aku menggeser bokongku ke samping kanan agar membuat jarak diantara kami, namun Lily sepertinya menyadari tingkah ku dan malah semakin mendekat, terus mendekat hingga...


BRAAKK

__ADS_1


Aku benar-benar terjatuh dan mencium tanah. Untung saja tanah ini berwarna hijau alias tertutupi oleh rumput hijau yang lebat sehingga tidak mengotori gaunku.


Aku kesal lalu terduduk sambil menatap sebal ke arah wanita cantik itu. Dia tampak merasa bersalah kemudian mencoba membantuku.


"Maaf Leca, aku tidak menyadari kalau kursi ini ada batasnya," dia berkata dengan nada penuh penyesalan.


Aihh sandiwara protagonis, biasa lah. Batinku.


"Makannya pasang mata anda dengan benar nona Collans." Ucapku sambil tersenyum jengkel.


Lily hanya memegang area sekitar matanya untuk memastikan bahwa matanya itu memang sudah dipasang dengan benar. Ya dia terlihat benar-benar bodoh.


"Aku tidak menyangka bahwa aku berteman dengan orang-orang bodoh," ucap Natte dengan pedas. Dia mengganti posisi duduknya dengan menyilangkan kakinya santai.


"Yah aku bodoh semenjak aku bertemu dengan pangeran Shun..." kataku sambil tersenyum cengengesan tidak jelas.


"Orang kayak kamu mah udah bodoh dari lahir," Natte membalasku dengan ketus dan itu sangat menusuk jantung hatiku yang terdalam. Ukhhh-


"Kalian berdua bisa tidak hormati senior kita yang satu ini, selalu saja bertengkar tentang masalah kecil," seperti biasa Kecha menengahi perdebatan kami.


"Aku tidak menyangka kalian bisa dengan mudahnya menyebutkan kata 'bodoh' ke teman." Lily pun tertawa keli.


Aku menatap tajam kearah Lily kemudian beranjak berdiri untuk pergi dari situ. Seperti yang dulu pernah ku katakan, aku hanyalah seorang pemeran yang bahkan tidak muncul sebagai pemeran pembantu (terbuang) dan aku malas berurusan dengan semua pemeran utama dalam novel itu. Ini adalah jalan cerita ku sendiri, dan dia gak perlu nongol buat cari sensasi. Hush!


"Aku... " Perkataan Lily terhenti, sepertinya dia tidak tahu harus melanjutkannya dengan kata-kata apa.


"Kau membenciku Leca?" tanyanya lagi membuat langkah ku terhenti dan pandanganku berbalik ke arahnya.


"Astaga sama saya itu mah," kata Kecha sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Begini, maksud kedatangan ku kesini hanya untuk memberi tahu kalau Pangeran Shun, Pangeran Kenn dan yang lainnya sepertinya akan lebih lama tidak kemari,"


"Heeeee benarkah???" kataku dengan badan yang mulai letoy tak bersemangat.


"Iyaaa aku mengetahui dari Pangeran Kenn semalam,"


"Heh Pangeran Kenn juga ikutan?"


"Iyaaa...."


Aku terdiam mendengar ucapan Lily, aku memejamkan mataku sebentar mencoba mengingat isi novel itu sedikit. Aku berharap novelnya tetap berjalan sesuai rencana ku. Yaitu alurnya berubah drastis. Namun sepertinya untuk saat ini semuanya berjalan sesuai alur cerita.


Seingat ku, Raja Dylan meninggal saat Pangeran Kenn tidak ada di kerajaan Frost yang artinya mungkin dia akan ke neraka dalam waktu dekat heheh. Dan novel itu dimulai sejak mereka sekitar 14 tahun atau satu tahun sebelumnya dari sekarang.


Berarti sang raja mungkin akan meninggal dalam waktu antara sebentar lagi atau sebelum 5 tahun kemudian. Hmmm... Pangeran Kenn sendiri sudah ditunangkan dengan kakakku sejak usia mereka 10 tahun dan menurutku dia mulai selingkuh sejak usianya ke 14 tahun.


Ini adalah pembalasan yang sesuai untuk perselingkuhan yang kejam ini nyahahah... tentu saja aku tidak akan mau menyelamatkan nyawa si raja yang telah mengusir Pangeran Shun dari sisiku!.


Mati saja kau dengan tidak tenang dan jangan menghantui ku yang telah mengutukmu!


Mereka bertiga tampak heran dengan seringai jahat yang mencurigakan dariku, dan mulai menganggap aku kerasukan dan sebagainya.

__ADS_1


"Leca sepertinya kau harus dikirim ke tempat pengasingan," kata Natte sambil menepuk bahuku.


"Ohh tidak tentu aku masih normal, aku hanya senang karena teringat wajah tampan Pangeran Shun yang sedang malu,"


"Begitukah?." Kecha tampak tidak percaya. Yaa jelas sih gak percaya kan aku tadi tanpa sadar sudah berseringai jahat.


Jelas aja gak percaya kalau ekpresiku yang seperti itu jelas tidak mungkin lagi mikirin Pangeran Shun. Bodoh banget sih alasanku, aku gak berfikir dulu sih... ya sudahlah, aku tidak peduli mereka percaya atau tidak.


Lily mulai mendekat kearah ku dia tampak ingin berbicara dengan wajah seriusnya. Dia mulai menghela nafas panjang sebelum kemudian membuka mulai mulutnya.


"Aku dengar kau tidak bisa belajar sihir karena tidak memiliki bakat sihir, jadi apakah kau ingin belajar bela diri dan memanah bersama dengan ku?" Tanyanya yang sukses membuat ku membuka mulutku tidak percaya. Ku pikir dia akan mengatakan hal yang lain.


"Kesempatan besar!" Ucap Kecha dan Natte secara bersamaan.


Kecha mengangkat tangannya dengan wajah yang terlihat antusias. "Aku aku juga ingin ikut, tapi aku tidak diperbolehkan menyentuh senjata, katanya keluarga florist harus senantiasa anggun dan tidak boleh melakukan hal-hal yang berat seperti itu." Kecha pun hanya dapat menundukkan kepalanya sedih.


Lily tersenyum kecil. " Karena itulah aku tidak mengajakmu, aku tidak ingin cari masalah dengan keluarga Florist, tapi jika kau sangat menginginkannya sepertinya boleh saja dengan cara diam-diam,"


"Aku juga ikut, sihir bukanlah segalanya untuk melindungi diri, apalagi aku seorang ilusionis yang harus membutuhkan bela diri yang cukup handal, karena itu aku hanya ikut bela diri saja," Natte pun terlihat ingin bergabung.


Kalau seperti ini aku tidak bisa apa-apa kecuali menyetujui ajakan wanita itu, ini semua kulakukan agar aku tidak dibilang lemah. Aku harus menjadi seseorang yang kuat agar bisa melindungi orang-orang yang ku sayangi.


"Tapi apa yang bisa kuperoleh kalau hanya menggunakan senjata jarak jauh? Sepertinya berpedang lebih baik." Tanyaku sambil menatap kosong ke arah kedua tangan ku yang kini ku angkat sebagai objek pandangan mataku.


"Seandainya kita dalam sebuah pertempuran, maka kita akan lebih aman. Kontak fisik yang dekat selama pertarungan jarak dekat itu sering kali membuat kita sebagai penyerang dalam jangkauan serangan balik musuh, dan itu membuat kita memiliki resiko yang sama untuk terluka atau terbunuh," Jelas Lily.


"Jadi panah akan membuat kita para wanita lebih aman dari yang namanya tergores bila sedang bertarung, kita akan melumpuhkan lawan sebelum lawan itu menyerang kita," Ucapnya lagi.


"Kita tidak akan bertempur kan?"


"Emm...kurasa mungkin saja suatu saat jika kita harus bertarung demi kerajaan ini, itu akan sangat luar biasa jika kita ikut andil,"


Terdengar tepuk tangan Natte sambil berdecak kagum. "Wah hebat, senior Lily sangat berpikiran jauh, wajar sih mengingat usia kita yang merupakan setengah milenial,"


Yahh suatu saat aku juga pasti akan bertarung demi menyelamatkan Pangeran Shun, karena itu...


"Yahh aku rasa tidak ada salahnya ku coba." Ucapku sambil memutar pandanganku ke arah samping karena merasa malu. Mereka pun tersenyum sumringah karena mendengar jawaban itu akhirnya keluar dari mulutku juga.


.


.


.


****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2