
"Apakah laki-laki disini itu tidak pernah menangis?" Tanyaku pada pangeran Shun, tiba-tiba saja hal itu terpikir di benakku karena tidak pernah melihat pangeran Shun menangis, begitu juga yang lainnya. Aku tidak pernah melihat kejadian langka seperti itu.
"Leca tidak pernah melihat bayi laki-laki menangis?," Kaget pangeran Shun.
"Tidak maksudku orang dewasa atau remaja gituu..."
"Ohh tentu saja pernah, tapi mereka akan menutupi hal itu, para pria itu berusaha lebih kuat terutama dihadapan orang yang mereka sayangi agar orang-orang yang disayanginya itu tidak ikut merasakan apa yang dia rasakan," jawab pangeran Shun santai dan itu membuat persangkaan burukku seketika sirna.
Syukurlah, sepertinya aku salah, pangeran Shun memang tidak pernah menangis sama sekali.
"Ada lagi? Apalagi yang ingin kau tanyakan atau permintaan lainnya? Katakan saja padaku,"
"Heh? Kenapa?"
"Seperti yang kukatakan, aku tidak bisa berlama-lama berada disisimu, aku juga punya kepentingan lain dan orang-orang yang juga membutuhkanku,"
"Kalau begitu jawab dua pertanyaan ku dan kabulkan satu keinginan ku,"
"Baiklah selama itu masih bisa kulakukan,"
"Kenapa kau pergi tadi ? Apakah kau cemburu?"
"Ya, aku cemburu... Tapi tentu saja aku tidak berhak untuk memilikimu sekuat apapun cintaku kalau kamu ingin bersamanya maka kamu tetap akan bersama dia, karena itu aku pergi,"Jawab pangeran Shun sambil menutupi wajahnya dengan salah satu telapak tangannya karena malu.
Entah kenapa aku merasa sangat senang hingga hatiku berdesir dengan sangat hebat.
Cemburu dan Cinta katanya?.... Please Jangan baper Alexa cuaan!!.
"Ohh iya, ada alasan lainnya juga, sebenarnya aku menangkap gelagat mencurigakan dari seseorang yang berada di pesta dan aku pun mengikutinya hingga sampai kesini, tetapi orangnya menghilang begitu saja," ucapnya lagi dengan serius.
Tiba-tiba aku tertegun lantaran teringat akan sesuatu.
Jangan bilang.. kejadian itu hari ini juga?! Ti-tidakk mungkin! Pangeran Dylan akan...
Dengan panik aku segera beranjak dari posisi dudukku.
"Pangeran kita harus segera ke istana!"
"Kenapa?"
"Sesuatu akan terjadi kepada raja Dylan, aku harus segera menemuinya dan memberikan ini," kataku panik sambil menunjuk sebuah kotak berisi hadiah tadi.
"Baiklah..." Jawabnya langsung, kemudian dia berlari menuju istana sambil menggenggam tanganku.
"Huee kenapa gak memakai sihir teleportasi pangeran..." Keluhku sambil terengah-engah karena lelah terus berlari.
Pangeran Shun menghentikan langkahnya dan berbalik melihatku. "Aku... Kurasa aku tidak bisa melakukannya lagi sekarang, Apa Kau mau ku gendong??"
"Ta-tapi itu akan lama, kita harus segera ke sana sekarang juga!"
Pangeran Shun menghela nafas berat.
"Baiklah, katakan bahwa itu memang benar-benar keinginan mu," Ucapnya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Iya, aku perlu teleportasi sekarang, sebelum semuanya terlambat!" Jawabku masih dalam keadaan panik.
Tiba-tiba pangeran Shun menarikku ke dalam pelukannya dan itu membuatku tersentak.
Kenapa? Kenapa pangeran Shun selalu melakukan hal yang tidak bisa ku mengerti... Aku sekarang sedang terburu-buru dan tidak memerlukan sesuatu yang seperti ini.
"Kau harus cepat memberikan hadiahmu padanya," kata pangeran Shun sambil menatapku lekat dan itu membuat jantungku berdebar tak karuan.
"Hmm... Iya.." Jawabku sambil menunduk.
"Ketika sesuatu yang tidak kamu harapkan terjadi, jangan perlu terlalu banyak memikirkannya karena itu akan menyakiti mu,"
Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya dengan pandangan yang menuntut penjelasan. Karena aku tidak mengerti maksud dari perkataannya.
Dia sedikit membungkukkan tubuhnya menyeimbangkan dengan tinggi badan ku, kemudian mulai perlahan-lahan mendekatkan wajahnya kearahku, hingga menciptakan sekat yang hanya tinggal tiga centimeter lagi.
Dengan cepat aku memundurkan kepalaku kebelakang dan segera mengalihkan pandanganku darinya.
Tu-tunggu dulu, pangeran Shun ti-tidakk akan melakukan itu kan?!. Batinku bimbang.
"Aku sangat,.. merindukanmu,..." Bisiknya kemudian pelukannya semakin melonggar dan tiba-tiba menghilang dari pandangan ku begitu saja menyisakan beberapa Rukh yang berterbangan disekitar ku.
Aku membelalakkan mataku.
Seketika itu juga sebuah lingkaran sihir tercipta dibawahku, setelah itu aku langsung berada di lapangan yang sekarang masih sangat ramai.
Meskipun tidak mengerti dengan semua yang terjadi tetapi aku merasa sangat kecewa terhadap apa yang aku lakukan.
Andai saja aku tidak berpaling... Andai saja aku tidak meminta sihir teleportasi dengan segera... Aku tidak akan dengan cepat kehilangannya...
Aku hanya dapat menundukkan kepalaku membiarkan dinginnya angin malam merasuki tubuhku dan menggoyangkan pelan rambutku yang tergerai.
Karena tidak sanggup untuk melangkah lantaran hati dan pikiranku benar-benar kalut, akupun jatuh terduduk lemas di lantai sedingin es itu.
Ku cengram erat-erat jubah pemberian pangeran Shun sambil menggigit bibir bawahku dengan keras.
"Aku.. harus melakukannya... m-melakukan apa?," Ucapku sambil mencoba bangkit sambil mengingat-ingat sesuatu yang sangat ingin kulakukan.
"Alexa!!!" Pekik Natte sambil membantuku berdiri.
"Natte!!" Balasku dengan berurai air mata.
"Kenapa?? kenapa pakaianmu begitu?!!!!"
Aku hanya terisak sambil memeluk Natte dengan erat.
"Apa? Katakan saja siapa yang melakukan itu padamu?!" Panik Natte.
"Pangeran Shun...dia pergi begitu saja dariku hiks..."
"Haaaaaaaaa?!!! Pangeran sialan itu.. berani-beraninya tidak bertanggung jawab!" Geram Natte sambil melepaskan pelukannya dariku.
"Tenang saja, aku pasti akan memberikan pelajaran pada orang itu dan membalaskan dendam mu!" Ucap Natte kesal sambil menatapku prihatin dan mencoba untuk menenangkan ku.
__ADS_1
"He???" Heranku sambil merusaha menghentikan tangisku dan malah jadi cegukan.
"Katakan padaku dengan jujur kau pasti abis melakukan hal itu dengan pangeran Shun iya kan?! Lalu dia pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab..?" Tanya Natte dengan ekspresi yang mengimitasi.
Hah? Jangan bilang dia tahu kalau pangeran Shun baru saja ingin melakukan hal itu padaku tadi?!! Ohh tidak! aku merasa sangat malu...Tapi apa yang dapat aku sembunyikan pada orang yang pintar membaca suasana hatiku dan dia pasti langsung paham apa yang barusaja terjadi padaku ini.. apa sebaiknya aku terus terang saja yah...
"Ehmm...kurasa... yah... hampir saja kami melakukan hal itu kalau aku tidak menghindar, sisanya kurasa kau benar" ucapku dengan wajah memerah dan nada semakin melemah.
Natte benar, pangeran Shun tidak bertanggung jawab atas kesehatan jantungku..hiks... sakit sekali..!
"Sialan si Kepa**t itu..." Rutuk Natte kemudian melancarkan sihir pelacaknya untuk mencari keberadaan Pangeran Shun.
Dalam hitungan detik seluruh tempat ini langsung dipenuhi dengan aura sihir miliknya.
"Kalau dia baru melakukan hal itu, seharusnya masih tidak jauh dari sini!" Ucapnya sambil menautkan alisnya berusaha lebih keras mencari keberadaan pangeran Shun.
Aku sangat berharap Pangeran Shun segera ditemukan Natte, kuharap dia hanya bermain-main dan tidak menghilang begitu saja seperti tadi.
"Sial! Aku tidak menemukannya!! Kalau bertemu nanti aku pasti akan membunuhnya!!"
"He?" Aku memiringkan kepala tidak mengerti kenapa Natte tiba-tiba merasa sangat marah.
Jangan bilang dia salah faham? Batinku.
"Ayo kita pergi dari sini, bisa gawat kalau seseorang menyadari mu kalau kamu tidak berbusana dan hanya memakai jubah pemberian seorang laki-laki!,"
Sial! rupanya dia benar-benar salah faham!.
"Bukan itu Natte..." Jawabku sambil memutar bola mataku jengah.
"AAAAAAAAAAA!!" Teriak seseorang tiba-tiba.
Aku dan Natte reflek melirik ke sumber suara berasal dari ternyata seorang wanita yang terjatuh karena tertabrak seseorang.
Namun aku melihat sesuatu yang membuatku sangat terkejut, dihadapan ku kini kami semua melihat seseorang telah bersimbah darah dan kepalanya sudah terpisah dari tempatnya, kepala itu masih saja menggelinding hingga berhenti di bawah kakiku.
Beberapa orang lainnya terlihat panik sambil berteriak histeris begitu juga dengan Natte terlihat sangat ketakutan.
Aku menatap tidak percaya dengan apa yang sekarang ku lihat. Pembunuhan itu terjadi begitu cepat hingga menyebabkan ciptakan darah mengenai beberapa orang di dekatnnya, baju pangeran Shun yang sekarang ku pakai saat ini bahkan juga terkena cipratan darah itu.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...