Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 34 : Amnesia Ringan


__ADS_3

Hari ini aku berangkat ke Akademi kerajaan Aldric seperti biasanya, setelah beberapa hari absen. Tidak ada yang berbeda ataupun berubah kurasa saat ini. Hanya saja aku sedikit kesulitan untuk mengingat sesuatu yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.


Aku didampingi oleh kakakku berangkat menuju kesana, entah mengapa aku merasa dia terlihat tidak ingin berpisah denganku, karena sedaritadi terus menempel denganku. Atau hanya perasaanku saja yah yang terlalu berlebihan memikirkannya.


"Kakk aku sungguh tidak apa-apa, aku bisa ke kelas sendiri kok." Ucapku saat turun dari kereta kuda milik keluarga kami. Sementara seseorang yang kupanggil kakak itu hanya melirik sekilas dan masih diam tak menjawab.


Langkah kakinya terus berjalan seiringan denganku, kemudian saat kami sampai di persimpangan jalan, dia tetap melangkah lurus sedangkan aku berbelok.


Akhirnya ia meninggalkan ku juga. Aku menghembuskan nafas lega karena merasa bebas setelah beberapa saat tadi merasa suasana di sekitarku bagaikan diselimuti oleh hujan salju.


Aku tersenyum simpul, akhirnya aku bisa kembali ke sekolah setelah beberapa hari tidak bisa hadir. Akhirnya aku tidak berada terus dalam rumah yang penuh dengan suasana mencekam itu.


Dengan percaya diri aku pun memasuki kelas untuk sekedar menyapa mereka. "Haii teman-teman!!" Sapaku dengan suara lantang pada mereka. Namun, mereka yang kusapa malah menapku dengan tatapan mata penuh kebencian.


"Ehh apakah aku melakukan kesalahan?!" Gumamku. Ya sudahlah aku tidak peduli.


Seorang gadis kecil berwajah manis datang menghampiriku dengan raut muka yang menunjukkan ekspresi khawatir.


"Leca apa yang terjadi padamu? Ada yang berkata kalau kamu sakit lagi? Mengapa kau sering sakit lecaa?" Tanyanya dengan suara lembut dan anggun khas anak kecil.


"Hehehehe aku sudah baik-baik saja," jawabku sambil tersenyum. Dapat aku simpulkan bahwa anak itu sepertinya pernah dekat dengan ku, pantasan aku merasa tidak asing terhadapnya.


Aihh siapa ya nama anak berwajah manis ini. batinku.


Aku mencoba berfikir lebih keras namun sia-sia saja, aku belum dapat mengingat Semuanya. Meskipun seseorang yang memeriksakan kesehatanku itu berkata aku akan cepat pulih dalam kurun waktu kurang lebih 2 Minggu, namun itu bukan waktu yang sebentar bagiku yang sangat tidak sabaran.


Aku menghela nafas panjang. Baiklah aku akan menunggu sampai orang menyebut namanya saja. Baru aku akan memanggil nama mereka.


"Nona Keisha bisa kesini sebentar.." Akhirnya seseorang datang memanggilnya, dia terlihat seperti salah seorang dewan guru.


"Yaa baiklah" jawab Keisha, lalu anak itu segera pergi menemui orang yang memanggil nya. Mereka terlihat berbintang singkat kemudian Keisha kembali ke dekatku untuk duduk disamping kiriku.


Sementara itu kini gadis berambut silver yang barusaja tiba di depanku, terus menatap ku dengan tajam, dan terus memperhatikan gelagatku. Aku menjadi risih terhadap tindakannya itu.


"Anuu, kenapa kau terus melihat ku daritadi?" Tanyaku padanya. Setelah aku berucap seperti itu dia memberikan sebuah kontak mata pada Keisha.


"Sudah kuduga, ada yang aneh darimu!" katanya sambil menunjuk kearah kepalaku yang masih dibalut perban dengan telunjuknya.


Aku rasa dia dengan cepat menyadari sedikit keanehan pada diriku. Sepertinya mereka berdua memang teman dekatku dulu, karena itu aku tidak perlu pura-pura untuk menyembunyikan keadaan yang kualami saat ini, kayaknya walaupun ku memilih untuk disembunyikan, mereka dengan cepat akan mengetahuinya juga.


"Apakah kamu memiliki kelainan otak? Kamu gila ya?" Imbuhnya terlihat mengejekku. Rupanya persangkaanku salah, dia sama sekali tidak terlihat bersahabat denganku.


"Siapa kamu berani-beraninya memanggil ku gila!" Sinisku sambil bangkit kemudian menatap kearahnya.

__ADS_1


"Sudah-sudah duh kalian berdua dari dulu suka sekali berdebat," Keisha menengahi kami.


"Habisnya dia ini suka sekali berbicara dengan nada kasar, dasar tidak sopan!" Aku melipat kedua tanganku kesal, kemudian kembali terduduk.


"Kamu tiba-tiba bertanya padaku, kenapa aku terus memperhatikanmu jawabannya jelas saja kamu terlihat tambah bodoh dengan perban itu." Cerocosnya sambil kembali menunjuk-nunjuk perban yang kupakai.


Aku memegang perban yang melekat di kepalaku, kemudian aku bercermin untuk memastikan seberapa bodoh diriku terlihat dengan melekatnya benda ini. Tidak buruk, bahkan wajah imutku terlihat tidak tambah jelek sama sekali.


"Kamu bohong! Aku terlihat tetap imut begini!" Protesku yang merasa tidak terima.


Dengan wajah pias Kecha memisahkan kami berdua di tempat yang agak jauh.


"Hei tempat dudukku disitu ngapain kamu pindahin aku kesini! Harusnya kamu pindahin leca aja tuh!"


"Suuuutttthhh apa kamu gak nyadar ada yang berbeda dengan Leca,"


"Aku sadar, sangat sadar laaa,"


"Terus kenapa kamu gak bertingkah normal aja sih,"


"Bagaimana bisa aku bertingkah normal ngeliat orang bodoh yang bertambah kebodohannya."


Jujur saja dengan jarak yang seperti itu telingaku masih dapat mendengar percakapan mereka yang tidak berbisik-bisik itu dan otomatis membuatku jengkel. "Hei kalian yang disana! Aku mendengar perkataan kalian berdua loh.." ucapku sambil mengedipkan mata sebelah.


"Bisa kamu ceritakan leca kenapa kamu bisa mendapatkan luka yang seperti itu?" Tanya Keisha padaku.


Aku berfikir sebentar, sepertinya tidak masalah jika menceritakan hal ini kepada anak-anak seperti mereka. Lalu aku mengangguk singkat.


"Aku tidak terlalu mengingatnya, yang jelas itu adalah kejadian buruk yang tidak pantas ku ingat, ayahku marah karena aku tidak memiliki sihir kemudian dia melemparkan sesuatku kearahku saat emosi." Jelas ku.


Mereka berdua tampak menatapku dengan tatapan mata prihatin. Justru melihat tingkah mereka yang seperti itulah yang malah kelihatan bodoh.


"Pantesan tingkahku jadi tambah kelainan." Ujar Natte padaku. Ehh tunggu Natte?? Sepertinya aku mengingatnya, dia adalah orang yang cuek dan menyebalkan itu kan.


"Ka-kamu Natte yaa?" Tanyaku padanya diiringi Anggukan kepala darinya. Aku tersenyum sumringah karena dapat mengingat sedikit tentangnya.


Dari arah depan seorang laki-laki mulai duduk di depan ku tanpa menatap ke arahku. Dia terlihat tidak heran seperti kebanyakan orang lainnya saat melihatku. Aku bertanya-tanya siapakah anak yang sedingin balok es itu.


"Dia adalah pangeran Zio, tunanganmu sendiri." Kecha tersenyum miring saat memberitahu hal itu kepadaku.


"Aku berharap aku tidak memiliki tunangan sedingin es itu, bisa-bisa nanti hatiku juga jadi es nanti."


"Bukan hanya hatimu, dia itu adalah seorang elementary es yang lumayan hebat diusianya yang masih seperti kita, mungkin seluruh tubuhmu akan jadi patung es kalau melawan sama dia." Celetuk Natte yang membuat aku bergidik ngeri.

__ADS_1


Aku masih tidak percaya dengan perkataan mereka berdua, aku akan percaya sendiri jika bertanya langsung. Kemudian akupun menghampiri anak itu sambil membungkuk hormat.


"Maaf sebelumnya saya ingin bertanya, apakah anda adalah tunangan saya?" Tanyaku padanya.


"Ya" Jawabnya singkat. Seseorang yang ku ajak bicara itu pun hanya menatap sekilas ke arahku kemudian sibuk sendiri dengan kegiatannya.


Karena merasa diacuhkan kemudian aku pergi dari tempatnya dengan perasaan dongkol, bagaimana mungkin aku bisa dijodohkan dengan manusia berhati es itu. Huh!


Tidak lama setelah itu, seorang guru pun datang menghampiri kami. Dia mulai duduk di singgasananya kemudian berceloteh ini dan itu tentang hal yang tidak berguna bila ku pahami.


"Kalian tahu ananda sekalian? Bahwa sihir itu dibagi menjadi 5 bagian, yaitu sihir Ilusi, sihir time constrained, sihir penyembuhan, sihir elementary dan sihir abadi, diantara semua sihir sihir yang paling kuat adalah sihir abadi atau biasa disebut sihir ruang hampa."


"Dan semua manusia di dunia ini termasuk penyihir memiliki pasokan energi yang disebut mana, hanya saja mana di dalam diri seorang penyihir lebih kuat dan lebih banyak. Mana bukanlah energi yang bersumber dari makanan melainkan mana itu sendiri bersumber dari alam, setiap orang sebenarnya meski tanpa sadar bisa menyerap itu sebagai sumber kehidupan seperti oksigen, manusia biasa akan mengambil mana sewajarnya saja, berbeda dengan penyihir yang menyerap mana lebih banyak, seseorang yang kehabisan mana akan menyebabkan orang itu mati secara mendadak."


"Nah setiap penggunaan sihir itu memerlukan penyerapan mana dan energi yang cukup banyak dari penggunanya tidak terkecuali sihir abadi yang menggunakan sedikit bantuan Rukh di setiap penggunaannya, semua sihir bila dibantu oleh Rukh akan menjadi 10 sampai 100 kali lebih kuat daripada sihir aslinya...dan blablabalaa."


Setelah capek berceloteh guru itu menggiring kami semua keluar menuju lapangan yang cukup luas untuk mempraktekannya. Sementara kami yang tidak memiliki potensi sihir dipisahkan dari jarak yang aman dan hanya duduk melihat mereka yang sedang berusaha bereksperimen dengan sihirnya.


Aku melirik pada Kecha yang tampak merenung tidak memperhatikan pelajaran. " Hei kenapa kamu tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan guru?" Tanyaku padanya.


Kecha melirik ke arahku kemudian berkata dengan nada lesu. "Aku tidak memiliki sihir juga, jadi aku tidak perlu mendengarkan hal yang tidak bisa kulakukan." Kecha tersenyum sedih dengan perkataan jujurnya.


Aku sangat mengerti perasaannya yang seperti itu, padahal kami semua juga punya seseorang yang ingin kami lindungi masing-masing. Tapi aku yakin meskipun demikian, bagi kami yang tidak memiliki kemampuan sihir masih bisa melindungi orang-orang yang kami sayangi dengan cara lain.


"Tidak apa, masih ada cara untuk kita bertahan meskipun tanpa sihir, masih ada cara untuk melindungi dan membuat sesuatu meskipun tanpa sihir, tapi kita juga perlu mengetahui sihir terlebih dahulu untuk mengetahui kelemahan dan cara menghadapinya bila kita suatu saat diserang dengan sesuatu yang seperti itu." Ucapku menyemangatinya, padahal aku sendiri tadi juga merasakan hal seperti yang dirasakannya yaitu bosan jika hanya melihat.


Kecha terdiam mendengar perkataan ku. Aku merasa dia berfikir bahwa aku telah berubah menjadi sosok aneh yang lebih bijak berfikir. Aku tidak peduli dengan apapun pikirannya yang penting adalah aku sudah menyemangatinya. Aku pun kembali mengarahkan pandanganku lurus ke depan melihat satu-persatu mereka yang sedang latihan dengan semangat yang tinggi.


Dari sini aku saja aku dapat merasakan perbedaan yang besar antara para penyihir dan orang biasa seperti kami, aku merasa sedikit khawatir, mungkin bisa saja.. suatu saat keserakahan manusia ataupun penyihir itu merusak keseimbangan alam lebih cepat dibandingkan bumiku dulu.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2