
Tepat di pojok kursi paling belakang seorang gadis dari tadi terus mengamati jalannya sebuah acara kecil itu yang hanya dihadiri oleh murid dan beberapa guru.
"Ck!, anak itu sampai kapan terus membuat ulah?!" Gerutunya. Saat melihat adiknya didorong paksa ke luar pintu oleh teman-temannya.
'Merepotkan saja' Batinnya.
Kemudian setelah gadis kecil itu pergi dia segera turun tangan, dia pun terpaksa bekerjasama dengan pangeran Kenn untuk membungkam tentang kejadian ini agar tidak tersebar kemana-mana. Sementara itu Pangeran Kenn mau membantu nya karena merasa simpatik dan juga kewajiban nya.
"Untung saja mereka mudah untuk ditangani" ucap lavender sambil menatap beberapa orang yang berlalu-lalang pergi keluar aula Istana tersebut.
"Terimakasih" imbuhnya lagi pada Pangeran Kenn yang kini ada di hadapannya sembari menyunggingkan senyum kecil yang jarang dilakukan olehnya.
"Sama-sama" balasnya.
'ternyata dia ini sangat peduli terhadap adiknya atau_' batinnya terputus karena panggilan seorang wanita cantik yang tidak lama ini dekat dengan nya. Siapa lagi kalau bukan Lily Collans. Seorang gadis yang supel dan sangat menarik dimatanya. Ia memiliki hidung mancung, bibir merah muda yang merekah bagai kelopak bunga mawar, dan mata hijaunya yang besar serta terlihat indah bila dipandang, juga postur tubuh yang ideal dan yang paling penting dia memiliki perilaku yang ramah kepada semua orang.
"Maaf Pangeran...anda darimana saja? Daritadi raja mencari mu, katanya ada sesuatu yang mau dibahas"
"Ahh baiklah..ayo" kemudian Pangeran Kenn segera pergi dari sana dan meninggalkan Lavender sendirian. Lavender hanya menatap punggung mereka berdua sambil tersenyum kecil.
'Aku lumayan terbantu berkatnya..... Pangeran kedua Kenn..' batin lavender sambil tersenyum miring. Lavender kemudian pergi dari tempat itu dan menuju ke kelasnya, karena acara membaca puisi siswa baru itu sudah selesai.
.
.
.
"Pangeran!! Sihir apa yang kau punya sampai membuat banyak wanita tergila-gila padamu, terutama gadis kecil itu... ayolaahhh beritahu dong, berbagi itu kan indahh" tanya Erdwan saat mereka telah tiba di tempat yang sepi. Pangeran Shun pun duduk di pojok kursi yang berada di dekatnya. Tepatnya di bawah pohon sakura yang mahkota bunganya sedang berguguran itu.
"Diam kau, kalau bicara lagi ku bungkam mulut mu dengan tanah!" Pangeran Shun menatap Erdwan sinis.
Tiba-tiba beberapa bongkahan tanah berterbangan di udara seakan-akan bersedia kapan saja untuk berlomba-lomba masuk ke dalam mulut dan menjadi santapan Erdwan.
"Hiih sereem.." Erdwan pun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Namun Pangeran Shun tiba-tiba malah tertawa kecil sehingga membuat Erdwan bertanya-tanya.
"Tapi lucu juga sih, setertarik apa dia dengan ku sampai setiap saat setiap waktu memikirkan ku, ehem aku tau aku ini tampan,kaya, pintar dan yang paling penting adalah baik hati luar dan dalam" ucap Pangeran Shun sambil menyisirkan ujung rambut ke belakang dengan jari-jari tangannya. Sehingga Erdwan memandang nya jijik.
*Kalau Alexa ngeliat pasti udah kelabakan enggak jelas atau kejang-kejang.(●♡∀♡)
"Pangeran Shun, seperti nya anda terkena suatu penyakit berbahaya yang biasa menyerang kebanyakan anak muda"
"Penyakit apa?"
"Kepedean"
"Pintar sekali, tidak ada namanya penyakit yang seperti itu" Shun jengkel.
"Tapi itu nyata Pangeran...Sudah banyak penderita nya, contohnya anda sekarang"
__ADS_1
"Haishh kayaknya tanah aja enggak cukup buat nyumpel ucapan unfaedah mu"
"Hiihh iya iya Pangeran sehat kok"
"Ngomong-ngomong Pangeran tidak marah dengan nona Alexa?" Imbuhnya lagi.
"Buat apa?"
"Laahh bukannya tadi dia baca puisi di depan umum.."
"Cuma orang bodoh aja yang berfikir aku marah"
"Ehhh aku juga bodoh dong?!"
"Tidak... Tapi kamu sangat-sangat tidak pintar"
"Pangeran bercanda mu keterlaluan untuk orang yang sangat pintar seperti ku"
"Hmmm.... Sebenarnya anak itu tidak salah dia hanya melakukan nya tanpa disengaja dan tanpa kemauannya, tapi tetap saja siapa yang tahan jika berada disana dan ditatap seperti itu oleh orang lain...Harusnya aku tadi cukup menjelaskan di akhir bahwa dia hanyalah anak kecil"
"Kalau itu sih, aku yakin pasti dia sudah melakukan nya"
"Siapa?_" Tanya Pangeran Shun sambil melirik kearah tempat dimana Erdwan berdiri. Namun tiba-tiba saja tiga buah anak panah yang asalnya tidak diketahui datang dengan cepat menuju arah dimana Pangeran Shun tengah duduk santai.
"Awas Pangeran!" Ucap Erdwan yang langsung menyadari nya.
BRUUKK
"Apa tadi?" Tanya Pangeran.
"Tidak tahu, Pangeran tidak apa-apa?"
"Terimakasih aku tidak apa apa... berdiri lah sekarang. Aku tidak suka kalau ada yang melihat kita"
"Eheheh baiklah"
Baru saja Erdwan hendak membetulkan posisinya itu. Tiba-tiba seorang gadis kecil yang tengah kelelahan dan tampak jelas peluh di wajah imut nya itu baru saja tiba melihat mereka berdua. Tidak lain dan tidak bukan ia adalah Alexa kethzie yang melihat mereka dengan ekspresi terkejut hingga ia merasa seperti bola matanya hendak loncat keluar dari tempat nya.
"HA! PANGERAN SELINGKUH SAMA ERDWAN!" Teriaknya sukses membuat Erdwan dan Shun yang kepergok malah melongo dibuatnya. Namun mereka segera bangkit dari posisi tadi.
"Ehh nona Alexa ini tidak seperti yang anda kira" jelas Erdwan. Sementara yang diajak bicara sudah lenyap dari hadapan menggunakan jurus langkah seribunya sambil menangis dengan suara keras di jalanan.
"Leca!" Panggil Pangeran Shun berusaha untuk menjelaskan nya namun seruannya tidak didengar oleh Leca.
'Semoga anak itu tidak berfikir yang aneh-aneh' batinnya jengkel.
"Wahh gawat nih, komplikasi cinta yang pertama sudah datang... Jeng jeng.... Dan saingannya adalah.... Aku?!" Setelah berkata demikian sebuah kepalan tangan sukses mendarat ke wajahnya sementara sasaran nya itu tidak sempat mengelak.
Ught!
__ADS_1
Erdwan meringis sambil memengang ujung hidung mancungnya untuk memastikan agar hidungnya tidak masuk ke dalam karena pukulan kuat tadi.
"Ahh Sudah lah, anak kecil kayak begitu tinggal disogok pakai kue saja bisa diem" Ucap Pangeran Shun tidak mau ambil pusing.
"Yang lebih penting tadi itu apa?" Imbuhnya lalu segera berdiri di tempat yang ia duduk tadi. Pangeran Shun memeriksa tempat tadi dan mendapati tiga buah anak panah yang menancap di kursi tersebut.
"Serangan seperti ini tidak akan bisa melukaiku, seharusnya pertolongan mu tadi tidak usah kamu lakukan" kata Pangeran Shun lalu mencabut salah satu anak panah itu dan mulai memperhatikankannya. Pangeran Shun mendapati keanehan pada anak panah itu dan segera mengeceknya lebih detail.
"Maaf Pangeran tadi itu sudah insting seorang pelindung sejati"
"!!!!...Lihatlah ini bukan anak panah biasa, di ujungnya terdapat racun yang dapat membunuh orang, apa mungkin mereka hendak membunuh ku?!"
Erdwan seketika terkejut lalu menyimpulkan opininya sendiri. Menurut nya hal seperti itu sangat umum terjadi kepada seseorang yang penting atau berpengaruh.
"Mungkin saja, anda adalah seorang pangeran mahkota kerajaan Arrenthia jadi wajar saja kalau ada yang mengincar anda, kematian anda berarti kehancuran Arrenthia" Jelasnya santai.
'karena anda adalah Pangeran satu-satunya yang tersisa di kerajaan' imbuh Erdwan dalam hati.
Sementara yang dihadapannya merasa sangat kesal karena yang diajak bicara itu malah cuek saja terhadap nya.
"Tapi Pangeran, Seperti nya kini anda menjadi target incaran seseorang... maka dari itu saya akan semakin memperkuat penjagaan ku dengan ketat dan selalu mengawasi mu dimanapun"
Setelah Erdwan mengucapkan kalimat itu dengan bangga, namun ia malah mendapati respon Pangeran dihadapannya malah memasang tampang datar di wajahnya. Sementara Pangeran Shun merasa bahwa pengawalnya ini terlalu berlebih-lebihan kepada nya hanya karena masalah kecil ini.
"Apakah kamu akan mengikuti ku ke kamar tidur?!"
"Iyaa" Ucap Erdwan tanpa sadar. Dia mengucapkan sambil menutup mata dan menyentuh hidung dengan jempol nya sekilas. Karena merasa bangga akan sikapnya yang dinilainya sangat cepat tanggap.
"Hiazkk! Menjijikkan"
Sedetik kemudian Erdwan sadar bahwa perkataan nya itu salah bin tidak sopan kemudian ia mulai berbicara untuk menjelaskan nya namun Pangeran Shun nya itu sudah tidak ada lagi dihadapan nya dengan melakukan hal yang sama seperti Leca.
"Jiah menyendiri lagi.." Erdwan menghela nafas sembari menatap malas punggung tuannya yang mulai menjauh.
'Huh! Dia pasti sudah kabur karena basa-basi orang itu! Tapi aku yakin bisa melacak dia dan masih ada di sekitar sini! Aku pasti akan menangkap mu!'batin Pangeran Shun sambil terus berlari menyusuri jalan dan semak-semak sambil melacak aura pelakunya.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...