
Sementara itu di tempat lain Erdwan, Lily, Angela dan Chun sedang menyebrang danau dan hampir sampai.
"Huaa buaya gede banget!" Kaget Erdwan ketika melihat ke dalam bawah air.
"Masalahnya... di depan kita sekarang ada banyak buaya besar itu," Kata Lily memberi tahu Erdwan.
Mereka semua diam tak bergeming, hanya Chun yang santai tetap terbang di atas mereka.
"Kalian payah, Hajar dong buayanya kalau bisa," ejek Chun.
"Ta-pi ukuran buayanya gak ngotak dan banyak sekali," kata Angela sambil menatap nanar ke arah daratan yang sudah ada di dekat mereka. Pupuslah harapan mereka untuk segera sampai ke sana.
GHAARRR
Mereka langsung melirik ke arah sumber suara yang ternyata ada di dekat mereka, sontak bulu kuduk mereka langsung lompat-lompat dari tempatnya tanpa diperintahkan.
"KYAAAAAAA!" Teriak Lily dan Angela sambil berpelukan histeris.
Sedangkan Erdwan dengan sigap merangkul pinggang mereka berdua dan melompat ke daratan.
"Hump gampang!" Ucapnya sambil membusungkan dadanya bangga karena bisa menyelamatkan dua gadis yang sedang ketakutan.
"Terimakasih tuan Erdwan," kata Lily lega.
Erdwan mengangguk singkat kemudian menatap tajam ke pinggir danau, "Itu bukanlah kapal mereka?" Ucap Erdwan sambil mendekat ke arah kapal yang rusak karena suatu hantaman.
GGGGARRRRR
Tiba-tiba sekumpulan buaya keluar sambil membuka mulutnya lebar-lebar ke arah Erdwan.
"TIDAKK!" Teriak Angela tidak ingin melihat seseorang mati dihadapannya.
JLEBBB
Erdwan berhasil naik ke atas dan menusuk mulut buaya yang hampir memakannya.
"Cepat kabur selamatkan diri!" Titah Erdwan yang langsung pergi meninggalkan Lily dan Angela.
"Haduh dasar penakut," kata Chun sambil mendekat ke arah buaya-buaya itu.
Dengan cepat si buaya langsung merangkak menyusul Lily dan Angela yang hanya diam tak bergeming karena ketakutan.
"Hei buaya gendut!" Seru Chun apada mereka namun mereka tidak menghiraukan panggilan Chun lalu semakin mendekat dan dengan cepat langsung menggigit kaki Lily.
"Akhhhhh!" Pekik Lily kaget.
"Jangan ganggu teman-temanku!" Kata Chun lalu mengeluarkan sihir miliknya kepada buaya itu.
Dugg
Buaya itu terlempar jauh dari sana lalu kembali mendekat ke arah mereka lagi.
"Hah..." Lirih Lily yang merasakan sakit di seluruh kakinya yang terluka.
"Heal," gumam Lily sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri itu, perlahan lukanya mulai tertutup begitu saja mengikuti perintah dari sang penyihir.
"Hemmmm menarik, kalian akan kuhabisi dalam sekali serang saja," kata Chun.
"Kemarilah buaya-buaya panggang," tantang Chun.
Seakan mengerti dengan ucapan Chun buaya itu pun mengerumuni Chun yang sudah berevolusi menjadi burung biru yang besar dan indah, di ekornya terdapat sebuah api biru yang berkobar gagah, buaya-buaya itu segera bersiap untuk menyantap Chun sebagai hidangan mereka namun justru yang terjadi malah di luar dugaan para buaya itu.
Chun mengibaskan sayapnya lalu keluarlah api biru yang membakar buaya itu tanpa ampun, buaya-buaya itu pun hanya dapat meronta kepanasan dan dalam hitungan menit mereka benar-benar matang dan siap untuk disantap.
"Wahh Chun kau hebat," kagum Lily.
"Jelas lah," Jawab Chun bangga.
"Sekarang kalian berdua, naiklah ke punggungku," titah Chun diiringi oleh anggukan Lily dan Angela.
.
.
.
Sekarang aku dan pangeran Shun sudah bisa turun karena dia usaha kerasnya yang sudah menggunakan pedangnya untuk memotong jaring-jaring itu.
Pangeran Shun menyeringai di dekatku.
Kini aku terdiam sambil menatapnya dengan tatapan heran, padahal dia sedang terluka namun dia tidak lagi meringis kesakitan, tetapi dia malah tertawa dengan seringai mengerikan.
Aku meneguk kasar salivaku. Sejujurnya aku merasa aneh dengannya saat ini.
"Pangeran aku tidak bercanda, kau terluka dan berdarah tapi kau malah bisa-bisanya tertawa seperti itu,"
"Kesakitan sekecil ini belum seberapa nona manis," balasnya sambil membelai rambut panjangku.
Ehhh ma- manis?! aku manis katanya.
"Baiklah terserah kamu saja Pangeran sekarang berbalik lah, akan ku perban lukamu yang mengeluarkan banyak darah," kataku mencoba mengalihkan pembicaraan sambil memaksanya untuk berbalik badan.
Namun dia justru menahan tanganku, "Kau tidak perlu kotori tangan cantikmu hanya untuk mengobatiku,"
"Hah Pangeran apa yang kau katakan, kenapa kau terus menggombaliku,"
Pangeran Shun menyeringai kecil lalu mendorongku kasar hingga jatuh tersungkur ke tanah.
"HAHAHAHA" katanya sambil tertawa sinis.
Aku yang kaget karena sifatnya hanya dapat membatu sambil menatap Pangeran Shun kesal.
Apa yang terjadi dengannya?
Dia mendekat kerahku lalu sedikit mencondongkan tubuhnya membuat manik mata kami saling bertemu, jelas terlihat tatapan matanya itu tidak bersahabat, kemudian dia mencengkram rahangku dengan kasar. Entah kenapa wajahnyanya tiba-tiba terlihat sangat menakutkan.
"Biar kuberitahu, yang ada di hadapanmu sekarang bukanlah Pangeran Shun,"
__ADS_1
Hah?... Ini pasti bohong. Yang di hapanku jelas-jelas adalah pangeran Shun, bukan orang lain.
"Kau bicara apaan sih, Jangan membuatku takut pangeran," Kesalku lalu menepis kasar lengan Pangeran Shun yang mencengkram erat rahangku.
Tapi Pangeran Shun hanya diam seakan tak mempedulikan ucapanku, "Ikutlah denganku, kita pergi tinggalkan tempat ini dan jangan ikuti permainan laki-laki itu maka kau akan bebas dari belenggunya," katanya sambil mengulum senyum tipis di bibirnya.
"Siapa kau!" Teriakku sambil mendorong kasar tubuhnya.
Tapi dia tetap tidak bergeming saat ku dorong, tenaganya masih sangat kuat walaupun ia sedang terluka sekarang.
Pangeran Shun tersenyum sinis lalu menarik rambutku pelan membuat ku merasa ketakutan.
"Aku akan membantumu, berterima kasihlah padaku setelah ini," bisikknya.
Mataku membola saat tiba-tiba Pangeran Shun menyatukan bibir kami, ini terlalu tidak terduga dan dia menikmatinya. sedangkan hanya dapat diam, bukannya tidak bisa menolaknya melainkan aku tidak ingin menolaknya sama sekali.
Tapi timingnya saat ini tidaklah tepat, dia sedang terluka heeei.
"Pangeran Shun cukup,"
Pangeran Shun pun mengusap bibirku dengan jarinya lembut, kemudian tersenyum miring, "Manis, pengantinku memang yang terbaik," pujinya membuat pipiku merona.
"Waduh! Apa yang barusaja kalian lakukan dengan posisi itu ha!" Pekik Erdwan yang barusaja datang.
Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan, mungkin saat ini mukaku sudah sangat memerah.
Pangeran Shun tersentak kemudian langsung mengubah posisinya menjadi duduk, "Eh, apa yang barusan aku lakukan? Leca kau baik-baik saja? Kita sudah keluar dari jaring yah" Tanya Pangeran Shun sambil mengedipkan matanya heran.
Sontak perkataannya membuatku langsung mendelik ke arahnya. "Kau tidak ingat?"
Pangeran Shun menggelengkan kepalanya, lalu tiba-tiba meringis kesakitan. "Yang aku ingat...ugh punggungku terluka dan ini sangat sakit,"
Dengan sigap Erdwan langsung mendekat ke arah pangeran Shun dengan setengah terkejut,"Kau tidak tahu pangeran apa yang barusaja terjadi padamu?" Tanya Erdwan.
"Seingatku, aku terjatuh dan menimpa tubuh Leca, setelah itu mungkin aku pingsan," terangnya sambil memegangi keningnya.
Aku terdiam sambil membuka mulutku lebar-lebar, ini tidak mungkin, jelas-jelas dia tadi sadar seratus persen.
Sontak aku berdiri sambil tersenyum jengkel ke arah Pangeran Shun, ku kepalkan tanganku keras-keras bersiap untuk memberinya pelajaran karena sudah berpura-pura.
"Leca kau--"
"Eternal light!" Teriakku sambil melontarkan panah ke arah Pangeran Shun.
JLEBBB
Panah itu meleset tetapi hampir melukai wajah tampan miliknya.
Pangeran Shun hanya menatapku tidak mengerti, kemudian dia menggelengkan kepalanya cepat.
"Erdwan selamatkan aku!" Titah Pangeran Shun.
"Gak ah itu kan urusan Pangeran, aku hanya nyamuk, aku bisa apa coba," balas Erdwan tidak peduli kemudian fokus menghentikan pendarahan.
"Kau kan pengawal pribadiku, tugasmu melindungi aku dari ancaman bahaya,"
"Aihh iya-iya, kau ini banyak mengomel padahal lagi terluka," kesal Erdwan, pada akhirnya sambil memapah Pangeran Shun di pundaknya.
"Mau lanjut kesana," jawab Erdwan jujur.
"JANGAN HARAP," balasku kesal.
yah aku benar-benar kesal, Pangeran Shun hanya mempermainkan aku, dia barusaja tidak mengakui ku, setelah ini pasti aku akan memberinya pelajaran.
"Leca, aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba sangat marah, yang jelas sekarang kita memang harus segera mencari tempat berlindung mengingat hari sudah mulai gelap," jelas Pangeran Shun lemas.
Aku terdiam, tidak mungkin aku tega membiarkan orang terluka tidak segera diobati, "Baiklah," jawabku pasrah.
Lagian dia benar, hari ini sudah hampir malam tapi kami belum menemukan tempat yang aman buat bermalam.
"Hei kalian bertiga!" Seru Angela dari atas kami.
"Ikuti Chun, dia sudah menemukan tempat yang bagus untuk istirahat malam ini," kata Lily Collans.
"Wah curang mereka berdua naik kendaraan!" Protes Erdwan.
"Nyesel banget aku kabur tadi," imbuhnya yang terdengar jelas olehku.
"Hoho dasar penakut," ejekku pada Erdwan.
"Hehehe," balas Erdwan kemudian langsung beranjak bersama pangeran Shun di depanku.
Aku sendiri hanya menatap mereka lalu menyusul di belakang. Tanpa aku sadari beberapa cahaya tercipta di dekatku. Cahaya itu semakin terang hingga berbentuk bola-bola kecil yang menyala di udara.
Saat aku mengalihkan pandanganku ke belakang barulah aku menyadarinya, mereka diam-diam mengekoriku dari belakang.
Aku berhenti mengikuti Erdwan dan sibuk terdiam sambil menatapnya penuh takjub, apa-apaan cahaya ini, ternyata mereka hanyalah kumpulan sihir yang mengapung di udara karena mana berlebih milik seseorang.
"Nona Magise kami sudah bangkit..." Bisik seseorang di sampingku.
Mataku membola sempurna ketika mendengar kalimat itu, segera ku edarkan seluruh pandanganku ke semua tempat, tapi tidak menemukan apa-apa selain bola-bola sihir itu.
"Gawat sepertinya aku sudah ketinggalan jauh dari mereka," gumamku panik lalu segera menyusul mengikuti jejak kaki milik Erdwan.
"Hufft untung saja bola-bola ini mengikutiku," gumamku pada diri sendiri. Setidaknya mereka berguna sebagai penerangan bagiku.
"Ah iya Chaser, harusnya dia bisa kupanggil untuk menemaniku,"
"Chaser keluarlah!" Titahku sambil mengangkat panah milikku.
"Hoaam nona aku masih mengantuk," kata Chaser yang baru muncul dengan posisi duduk.
"Ohh ternyata sudah gelap," kata Chaser lagi diiringi anggukan ku.
Namun sejurus kemudian Chaser terperanjat melihatku.
"Nona, Ini kau? Kenapa tampilan mu sangat berbeda?"
__ADS_1
"Hee apa maksudmu Chaser?"
"Seharusnya kau bermata ungu seperti batu permata, berambut hitam legam sehitam langit malam dan bergaun ungu, tapi malam ini rambutmu berwarna silver, matamu berwarna emas dengan gaun berwarna putih, kau terlihat seperti hantu yang sangat cantik!"
"Hah? Masa sihh..." Ucapku tidak percaya lalu menatap ke bawah untuk melihat gaun gaun yang ku kenakan.
Ternyata benar, gaun itu berwarna putih dengan aksen warna kuning keemasan. Ditambah lagi rambutku benar-benar berubah sepenuhnya.
"Tidak mungkin," pekikku sambil menutup mulutku.
Aku terdiam, mungkin ini adalah sesuatu yang buku itu sebut sebut sebagai Perwujudan Magise, lalu emangnya apa yang membuat segel Magise itu menghilang. Oh tidak, jangan bilang saat Pangeran Shun-
"Nona, kau baik-baik saja?" Tanya Chaser.
"Kenapa kau mengenaliku yang seperti ini?"
"Kok nona bertanya seperti itu?"
"Seharusnya dengan penampilan ku yang seperti ini kau tidak mengenaliku, atau menganggap bahwa aku adalah orang asing," ucapku sambil menundukkan kepalaku pelan.
Chaser tersenyum kecil, "Meskipun kau berubah, wajah dan suaramu tetap sama Nona, kau tetap terlihat sangat cantik seperti biasanya,"
"Terimakasih Chaser, tapi aku bingung, siapa yang membuka segel ini kalau bukan Pangeran Shun," gumamku pelan.
Chaser tidak mendengarkan ku dan sibuk dengan pikirannya sendiri, "Nona, sebaiknya kita segera beranjak menyusul mereka, mereka sudah sangat jauh didepan kita,"
"Baiklah Chaser,"
Kami pun melanjutkan perjalanan kami.
"Tuan putri Magise..."
"Tuan putri, jangan abaikan kami,"
Aku tersentak kemudian melirik ke arah kiri dan kananku yang masih saja kosong. Suara-suara itu terus saja menggangguku meski aku sudah mempercepat jalanku dan sudah berada sangat jauh.
"Kita sudah sampai Nona," Seru Chaser memberi tahu.
Tapi aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan tidak menjawab ucapannya.
"Kalian berdua, lama sekali..." Tegur Erdwan pada Chaser.
"Eh. Nona Alexa mana? Kok malah bawa orang lain," kata Erdwan pada Chaser.
"Dia, dia adalah nona Alexa, hanya saja dia berevolusi!" Ucap Chaser sambil mengarahkan dua tangannya ke arahku, dia terlihat sangat membanggakanku.
Erdwan terdiam menatapku kemudian dia tiba-tiba tertawa kecil, "jangan bercanda deh, orang cantik kek dia sama sekali beda dengan bocah kek nona Alexa," jawabnya sambil memukul-mukul pundak Chaser.
"Hai Nona, yuk ikut sama aku aja sini kamu pasti aman sama kesatria pemberani seperti aku, rupanya kamu tersesat dari team mu yah" Kata Erdwan sambil merangkulku pergi dari sana.
"Stop Erdwan, ini aku Leca, Alexa Kethzie,"
"HAAAAAAAAAAAAAAAA?!" Teriaknya keras tidak percaya terhadap apa yang dia lihat.
Aku tertawa kecil kemudian menatap Erdwan serius, "Dimana Pangeran Shun, aku harus memberitakan ini kepadanya,"
Aku ingin dia tahu bahwa dia sudah berhasil melepaskan segel itu, Pangeran Shun pasti sangat senang jika tahu bahwa aku sudah bisa menjadi Magise.
"Pangeran Shun sedang diobati oleh nona Lily di dalam tenda,"
"Sip meluncur!" Teriakku lalu pergi begitu saja dari hadapan Erdwan menuju tenda yang tidak jauh dari sana.
Untunglah tempat yang dipilih Chun benar-benar kelihatan aman, jadi sepertinya kami bisa beristirahat malam ini, meskipun begitu tetap saja harus ada yang berjaga malam ini.
Setelah itu aku membuka tendaku berharap Pangeran Shun sudah selesai diobati dan dia bisa langsung mendengar berita gembira dariku saat ini.
Namun saat aku masuk ke dalam tenda aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat, Pangeran Shun memeluk Lily di depan kedua mataku saat itu.
Tiba-tiba terlintas kembali dalam pikiranku kalau mereka berdua sudah saling kenal dari dulu sebelum aku mengenalnya, bisa saja mereka berdua diam-diam berhubungan di belakangku, bukankah tadi siang mereka saling memuji? Bahkan mereka tidak segan-segan melakukan hal itu di depanku.
"Tetaplah disini, aku tidak bisa hidup tanpamu walaupun hanya sebentar," lirih Pangeran Shun pada Lily.
JEDAARR
Ahh apa ini, ini pasti bohong...
"Pangeran Shun sebenarnya..." Balas Lily.
Aku tidak mau dengar!
Sebelum Lily menyelesaikan perkataannya aku menutup telingaku keras-keras.
"TIDAKK!!" Teriakku kemudian melangkah mundur.
Bohong, ini pasti bohong kan. Pangeran Shun tidak akan pernah berhianat padaku, tidak akan pernah, selamanya dia hanya akan bersamaku tidak akan bersama yang lainnya. Tapi, tapi apa yang terjadi tadi?! Mereka berdua berpelukan didepanku, Lily mengambilnya dariku, dasar wanita iblis!.
"LILY AKU MEMBENCIMU!" Teriakku keras sekuat tenagaku.
Aku menangis, tangisan kekecewaan dan kebencian untuk pertama kalinya. Aku merasa dihianati oleh mereka yang sangat aku percaya dan aku sayangi.
Tubuhku bergetar, dadaku mulai sesak dan nafasku tersengal. Aku menjambak keras rambutku sambil berteriak frustasi.
"Hiks.. hikssss... Ini bohong kan, ini pasti mimpi! Pangeran Shun tidak mungkin akan berhianat, karena itu janjinya!"
Aku ingin segera bangun dari mimpi ini...
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...