
Suasana malam ini begitu dingin dan menusuk hingga rasanya menembus ke tulangku, padahal di luar salju tidaklah turun seperti badai. Hanya saja namanya juga kerajaan yang terkenal dengan musim dinginnya yang sangat dingin ini sudah menjadi ciri khas jadi semua orang pun wajar.
Jika kalian berada disini kalian akan melihat beberapa orang yang beraktivitas seperti biasanya, sebenarnya mereka juga merasa dingin hanya saja mereka bisa bertahan akibat mereka menggunakan mananya secara tidak sadar untuk memberi kehangatan kepada dirinya sendiri.
Semua orang disini punya mana, tetapi tidak semua orang bisa menggunakan sihirnya, dan setiap penyihir tidak bisa leluasa menggunakannya karena akan sangat berdampak.
Tetapi semua orang malam ini berbaris dengan rapih berhenti dihamparan salju, mereka membawa obor juga memanggul peti lalu dibariskan membentuk satu jajaran yang cukup panjang.
Baik penyihir ataupun tidak mereka semua bersama-sama melantunkan doa kepada mereka yang telah tiada.
Aku diam di dalam kereta kuda sambil melihat dengan seksama mereka yang sedang melakukan ritual aneh. Tidak lama setelah itu muncul sesuatu yang mereka sebut dengan Rukh putih dari peti mati itu.
Mereka menari-nari sambil berterbangan seperti kunang-kunang, cahayanya yang terang memberi penglihatan kepada orang-orang disekelilingnya.
Aku takjub dengan kejadian langka seperti ini, karena itu aku bergegas turun lalu menghampiri para Rukh itu.
Ingin sekali aku memegangnya lalu menangkapnya, sayangnya mereka bukanlah makhluk hidup yang dapat mempunyai wujud hingga membuatnya tidak dapat digenggam.
Tapi sungguh tidak disangka, mereka malah mendekat kearahku mengelilingi tubuhku seperti hendak berkata sesuatu tetapi aku sama sekali tidak mengerti dengan bahasa bisu mereka.
"Mungkin itu adalah Rukh Raja Dylan," ucap seseorang dari belakangku.
Aku menoleh yang ternyata mendapati Pangeran Kenn yang sedang tersenyum kearahku.
"Apa? Jika itu benar... Kenapa dia mendekati ku apakah dia ingin menyampaikan sesuatu?" Tanyaku heran.
"Tidak tahu, tapi dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepadamu,"
Aku tertegun, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah gagal menyelamatkan Pangeran Dylan tetapi untuk selanjutnya aku tidak boleh gagal menyelamatkan Pangeran Shun.
Aku tidak ingin kehilangannya, karena aku ada karena dia, aku ada untuk menyelamatkannya, tetapi aku harus lebih kuat dan sangat-sangat kuat agar berhasil melakukannya.
"Mungkin dia memberikan semangat kepadamu dan berkata jangan menyalahkan dirimu sendiri karena kejadian ini, kau sudah berusaha dengan baik," Ujar Pangeran Kenn sambil mengacak-acak rambutku, aku tahu dia hanya menerka-nerka saja tetapi kenapa perkataannya itu sangat menusuk.
"Pangeran Kenn... bagaimana kau tahu...?"
Bagaimana dia tahu kalau aku akan terus mengutuk diriku sendiri bahkan kalau perlu, akulah yang menggantikan hukuman Pangeran ketiga, atau akulah yang pantas berada diposisi mereka.
"Kau pernah menerima pesan dari pangeran Shun kan? Coba sebutkan apa itu..."
Aku mengerutkan keningku mencoba untuk berfikir apa yang dia katakan.
"Ketika sesuatu yang tidak kamu harapkan terjadi, jangan perlu terlalu banyak memikirkannya karena itu akan menyakiti mu," gumamku pelan, tanpa sadar setetes air mataku jatuh ketanah.
Kenapa dia mengatakan hal seperti itu, seolah-olah dia tahu apa yang akan terjadi padaku...
Pangeran Kenn tersenyum tipis kemudian duduk jongkok disampingku.
"Dari kata-kata mungkin saja dia tahu kalau sesuatu akan terjadi kepadamu,"
Aku mengangguk, Pangeran Kenn benar, lalu kenapa dia tidak segera menyelamatkan Pangeran Dylan saat itu? Atau dia tidak tahu apa-apa tentang penyerangan ini.
"Pangeran, apa Pangeran Shun tahu tentang kejadian ini?" Tanyaku langsung.
Pangeran Kenn menggelengkan kepalanya pelan, "Kemungkinan besar dia tidak tahu, karena kalau dia tahu dia tidak akan pulang meskipun nyawanya ikut berakhir disini,"
"Lalu...kenapa dia mengatakan itu, kenapa dia pulang, kenapa dia meninggalkanku sendirian? Kenapa dia pergi lari dari pertempuran semalam?!" Tanyaku sambil berusaha untuk tidak menangis, aku benar-benar ingin tahu kenapa dia melakukan itu padaku.
Pangeran Kenn tidak menjawab melainkan dia malah diam berdiri menatapku tajam.
"Asal kau tahu saja Pangeran Shun benar-benar tidak tahu tentang masalah ini, jangan berpikir negatif tentangnya,"
"Aku hanya ingin tahu kenapa dia meninggalkanku Pangeran, aku sendirian, bagaimana kalau aku yang..."
"Leca kau bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya! dia sampai di kerajaan Arrenthia dalam keadaan pingsan, kau bodoh, menguras habis sihirnya tanpa berfikir panjang tentang akibatnya!! Leca kau tidak tahu kalau usia Pangeran Shun akan semakin berkurang?? Aku heran kenapa Pangeran Shun bisa menyukai gadis ceroboh sepertimu!" Balas Pangeran Kenn dengan sedikit membentak.
Aku membulatkan bola mataku dengan sempurna. Mendengar ucapan yang mengejutkan itu hatiku benar-benar merasa seperti diterjang badai, iya aku bodoh aku sangat bodoh...
"Aku tidak ingin memberitahu tentang ini tapi harus kuberitahu, semua kejadian ini berawal dari kamu, Leca, kau membuat sihir Pangeran Shun melemah dan menghilangkan kepekaannya terhadap kekkai yang dipasang oleh pangeran Shun di sekitar istana, terutama di taman belakang istana, karena kekkainya lemah musuh dengan mudah merusaknya lalu Pangeran Shun tidak merasakan ada sesuatu yang janggal karena sihirnya fokus digunakan untuk membantumumu,"
__ADS_1
"Ti-tidakk mungkin...."
Pangeran Kenn menghela nafas, "Itu hanya dugaanku saja,"
"Pangeran... Kau benar, aku memang terlalu mengandalkan Pangeran Shun saat itu, akulah yang bersalah, lalu kenapa kau tidak menghukum ku, kumohon hukumlah aku!!"
"Tenang Leca... Maaf aku hanya terbawa emosi tadi, jangan terlalu dipikirkan, meskipun itu benar tapi kau tidak sepenuhnya bersalah karena saat itu kerajaan tidak memperketat penjagaannya,"
"Tapi... Aku merasa aku yang bersalah, aku yang pantas dihukum, sekarang bahkan aku merasa malu untuk berhadapan dengan pangeran Shun..."
Pangeran Kenn tertegun, dia mengusap air yang mengalir deras dari sudut mataku dengan tangannya.
"Jika kau benar-benar mencintai Pangeran Shun maka kau akan menuruti perkataannya bukan? Dia berkata jangan dipikirkan maka jangan dipikirkan, percayalah padanya, tuan putri Alexa..."
Aku mendongakkan kepalaku menatap wajah Pangeran Kenn yang tersenyum namun tersirat kesedihan dibaliknya.
"Baiklah..." Lirihku pelan.
"Nah sekarang bermainlah dengan para rukh itu sebelum mereka menghilang,"
"Hemm..." Jawabku singkat kemudian beranjak dari sana.
Peti yang tadi berjejer rapi sekarang sudah tiada mereka sudah dikubur di dalam tanah tetapi banyak orang yang menangis sambil menatap Rukh yang menari-nari disekitar mereka.
"Kakak..." Ucap Pangeran Zio dengan mata sembabnya sambil menggenggam tanganku tiba-tiba.
Aku sedikit terperanjat kemudian mengelus dadaku pelan, untung saja jantungku sehat dan tidak kagetan, bisa-bisa aku langsung pingsan kalau yang tadi itu hantu.
"Pangeran, ini aku loh Leca," jawabku santai sambil melambai-lambaikan tanganku di depan wajahnya, seketika dia langsung tersadar dari lamunannya.
"Kemarilah," katanya pelan, aku pun mengikuti arahannya.
"Kau lihat peti-peti tadi? Kebanyakan dari mereka yang dikubur itu adalah peti kosong,"
"Heeeee?"
"Kok gituuuu?"
Pangeran Zio mengangguk, "Karena penyihir yang sudah mati itu bisa dibangkitkan lagi tapi hanya seorang saint yang dapat menghidupkannya, seandainya saint itu ada maka aku akan mencarinya untuk menghidupkan kembali Pangeran Dylan," kata Pangeran Zio sambil menatap para Rukh itu.
Aku menggigit bibir bawahku, aku teringat sesuatu, hanya aku dan pangeran Kenn disini yang tahu kalau Pangeran Shun adalah seorang saint. Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahukan rahasia ini kepada siapapun.
"Lecaa," ucap Pangeran Zio menyadarkanku.
"Jangan melamun,"
"E-enggak kok." Jawabku bohong.
"Ahh iya aku teringat sesuatu!" Gumamku kemudian langsung berlari pergi dari tempat Pangeran Zio duduk.
Sejenak aku dapat melihat wajahnya yang dingin dan datar seperti balok es itu menatapku.
Bukannya aku bermaksud untuk kabur tapi aku benar-benar teringat sesuatu yang sangat penting.
"Antarkan aku ke istana!" Titahku pada seorang kusir.
"Baik Nona... eh tuan putri," jawabnya langsung.
Setelah cukup lama duduk di kereta kuda akupun berlari menuju gerbang istana utama.
Entahlah beruntung atau apa, ada sebuah cahaya menyilaukan yang menarik perhatianku.
Aku berhenti di depan tangga istana dan mendekati benda itu yang ternyata adalah sebuah kotak yang mengkilap diterpa cahaya lampu.
Aku meraihnya lalu tersenyum simpul, inilah yang aku lupakan selama ini, andai saja aku dulu bisa memberikannya tepat waktu pasti Pangeran Dylan masih hidup sampai sekarang.
Tanpa basa-basi akupun kembali ke tempat kereta kuda itu terhenti.
"Antarkan aku lagi ke tempat tadi," ucapku memohon sambil menunjukkan puppy eyes ku dan menelungkupkan kedua tangan ku.
__ADS_1
"Tanpa kau melakukan itu aku tetap akan mengantarmu Nona eh tuan putri," jawab kusir itu.
"Skuuyy gasskeun!!" Teriakku keras sambil masuk ke dalam kereta kuda.
"Sekuiii?" Tanya si kusir heran.
"Ahh itu adalah bahasa anak anak muda jaman sekarang yang artinya semacam ayoo,"
"Ohhhhh," jawab si kusir ber- oh ria tanpa bertanya-tanya lagi.
.
.
.
.
.
"Pangeran!" Seruku sambil menghampirinya.
Pangeran Zio yang sedang duduk sambil meringkuk pun melirik kearahku. Dia duduk dibawah pohon masih dikelilingi butiran cahaya yang bertaburan di udara.
Aku tersenyum sumringah kemudian mendekat kearahnya.
"Berdirilah Pangeran aku akan memberikan sesuatu padamu, sebenarnya ini hadiah yang kupersiapkan untuk Pangeran Dylan tapi..."
Aku tidak melanjutkan perkataanku karena Pangeran Zio sudah mendekat kearahku tanpa bertanya sepatah katapun.
Dengan cepat aku membuka kotak kecil itu dan langsung memasangkannya tepat di dada kirinya, karena dia lebih pendek dariku jadi aku dengan mudah memasangkannya tanpa harus menunduk.
Aku melihat Pangeran Zio dari atas ke bawah dengan detail, sejujurnya dia sangat tampan dan keren apalagi di samping jas hitam yang ia kenakan itu ada Bros yang membuat penampilannya seperti Pangeran, yahh dia memang Pangeran beneran sih😏... hanya saja wajahnya itu kaku banget saat berekspresi.
"Terimakasih," Katanya sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama." Balasku lagi sambil tersenyum lebar, aku senang dia bisa tersenyum seperti ini walaupun dia sedang sedih, namun dia benar-benar sangat tangguh untuk anak remaja seusianya.
"Ngomong-ngomong kau akan tinggal di istana?"
"Heee itu....karena sesuatu hal yang tidak mau aku beritahu padamu, yang helas aku tadi dihukum kalau aku tidak boleh tinggal di istana hehe," jawabku sambil menunjukan jari jempolku.
"Haa kok malah terlihat senang?"
"Yahh tidak apa-apa aku hanya merasa bebas dari keluargaku yang seperti...yah gitulah,"
Pangeran Zio tersentak, dia mengalihkan pandangannya ke arah dimana para Rukh itu terbang menuju angkasa, seperti aurora yang menghiasi langit-langit malam.
"Keluarga... yah...." Gumamnya pelan.
Tanpa kusadari malam itu seseorang mengawasi kami dari jauh, dia menyimpan perasaan kesalnya dalam diam. Cemburu, mungkin hal itu yang dia rasakan saat ini, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan dia tak sanggup untuk berkata-kata.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1