Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 97 : Peti Mati Tersembunyi


__ADS_3

Saat ini adalah satu hari sebelum hari pernikahan, aku merasa lega karena tidak ada acara megah atau apapun seperti yang kubayangkan di rumah ini karena sampai sekarang rumah besar ini masih terlihat lenggang.


Aku mengikuti saran Shun untuk mencari tahu dan aku di beri petunjuk soal ruang bawah tanah, karena ditemani Shun aku jadi tidak merasa takut melewati lorong gelap ini sendirian.


Ditambah lagi ini masih jam 02.00 yang sangat sunyi dengan suara jangkrik yang sangat mengganggu pendengaran ku. Tapi ini saat yang tepat untuk meluncurkan rencana ini karena tuan Dummy sedang tidur jadi aku bisa menyelinap ke kamarnya dan mencuri kuncinya.


"Kenapa kita kesini?" Tanyaku pada Shun.


"Kau akan tahu nanti," balas Shun.


Setelah itu tanpa hambatan kami sampai ke sebuah ruangan dalam ruangan mewah dalam tanah yang justru diukir seperti tempat pernikahan yang indah dan bagus.


"Ngak ngak mungkin kan aku nikahnya di tempat seperti ini?"


"Tentu saja tidak," jawab NekoShun.


"Buka sekarang," kata Shun yang langsung ku lakukan, aku pun membuka pintu itu dengan kunci yang kudapatkan.


Dalam ruangan itu yang terdapat hanyalah patung-patung emas berbentuk bunga bunga Seroja yang ditata rapi membuat siapa saja melihatnya jadi merasa seperti masuk ke dalam ruangan penuh harta Karun.


Aku menelan salifaku saat melihat sebuah peti mati besar yang diukir dengan cukup indah.


"Ada mayatnya di dalamnya?" Tanyaku pelan tapi Shun tidak menjawab.


"Yuk balik lagi yuk, ihh serem abis disini," kataku yang merasa bicara sendiri karena Shun tidak menanggapi ku.


Tiba-tiba Shun berubah menjadi wanita tua yang cukup menyeramkan, ketika aku berbalik itu membuatku hampir jatuh pingsan karena saking seremnya.


Tapi kemudian perlahan-lahan dia menjadi muda dan terlihat seperti anak seusiaku masih dengan rambut putih dan matanya yang kuning menyala.


"Ini adalah rumahku miaw~"


"Tapi ini bukan sepenuhnya rumahku miaw~"


"Untunglah kau menjadi wanita cantik Shun, hampir saja aku jantungan karena barusaja melihat Mak lampir di belakang ku," ucapku histeris sambil memeluknya.


"Siapa yang kau bilang Mak Lampir miaw?"


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepalaku cepat, "tidak ada tidak ada,"


"Baiklah, ayo kita membuka peti mati ini dan mencari bukti miaw~"


Aku mengangguk lalu membuka peti mati itu dan ternyata aku terkejut ketika melihat seorang wanita cantik berambut pirang tertidur didalamnya. Tidak salah lagi, itu adalah ibuku sendiri.


"Ta-tapi kan ibundaku masih hidup pas terakhir kali aku bertemu dengannya," ucapku terbata.


"Itu aku yang menghidupkannya untuk sementara waktu miaw~"


"Jadi sejak kapan ibuku mati?" Tanyaku pada Shun.


"Aku tidak tahu miaw~"


"Tapi seingatku dia sudah ada di sini sejak lama miaw~"


"Tapi kok dia tidak menjadi Rukh?"


"Itu karena dia murni keturunan manusia miaw~"

__ADS_1


"Semasa hidup nyonya Claire hanya mencintai tuan Claoudie tapi tuan Claoudie sangat membencinya dan dia tinggal bersama tuan Dummy, sisanya kau bisa menebak sendiri miaw~"


Aku mengangguk, ini berarti diantara mereka terjadi cinta segitiga tapi ibundaku meninggal entah karena apa. Dan membuat tuan Dummy bersedih.


"Dengan kata lain tuan Dummy mencintai ibuku dan bukan aku?"


"Betul sekali, karena kemiripan wajah kalian berdua mungkin dia menyukaimu sebagai nyonya Claire miaw~"


"Sudah kuduga, dia selalu menyebutkan nama Claire ketika bersamaku tanpa senagaja, dan ketika aku bertanya dia malah mengalihkan pembicaraan," ucapku curiga.


"Aku bisa membangunkan nyonya Claire jika kau ingin berbicara dengannya miaw~"


Aku mengangguk mengiyakan, aku ingin bertanya banyak hal pada ibundaku dan aku merasa harus bertanya langsung kepadanya untuk memastikan kebenarannya.


Dalam hitungan detik sebuah kumpulan cahaya seperti mana berkumpul menjadi satu dan berwujud manusia lalu masuk ke dalam tubuh ibundaku.


Kemudian dengan perlahan layaknya orang yang baru bangun tidur, mata Ibunda terbuka sendiri. Kemudian dia mencoba untuk duduk dan menggerakkan badannya yang terasa kaku.


"Ahh sudah lama sekali aku tidak dipanggil, tapi jujur saja ini mengganggu ketenangan ku," kata ibundaku sambil meregangkan tubuhnya.


"Jadi ada perlu apa kalian memanggilku?" Tanya Claire polos. Tingkahnya benar-benar sama seperti Dummy, melihat itu membuatku berfikir apakah mereka saudara?.


"Ada seseorang yang ingin bertanya padamu miaw~" kata Shun lalu melirik ke arahku.


Claire langsung terdiam ketika melihatku, dia seperti tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Matanya langsung terpejam lalu dia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya aku bermimpi,"


"Tidak, itu bukan mimpi miaw~" jawab Shun.


Claire membuka kedua matanya lalu menatapku haru dengan penuh kasih sayang, jujur aku juga terharu tapi karena dia bukan ibuku yang sebenarnya aku jadi kurang merasakan apa yang dia rasakan.


Sejurus kemudian dia langsung memelukku sehingga membuat badanku agak membungkuk dan aku membalas pelukan itu.


Dari sini aku benar-benar bisa merasakan bahwa dia merindukanku setelah sekian lama tidak bertemu. Dia memelukku sangat erat sehingga membuatku merasa sesak kemudian dia melepaskan pelukan itu dengan senyuman.


"Akhirnya putriku pergi berziarah ke kuburan ku... Senangnya," ujarnya sambil tersenyum sumringah.


"Wanita ini sangat aneh," batinku.


Aku hanya tersenyum namun tanpa sadar, air mataku keluar saat melihat dirinya.


"Cup cup anak pintarku jangan menangis," katanya sambil kembali memelukku, kali ini dengan lembut.


Padahal tubuhnya sedingin es selain itu kulit tubuhnya juga berwarna putih pusat tapi anehnya pelukan ini memberikan kehangatan untukku. Aku menyukainya, baru kali ini aku benar-benar disayangi oleh orang tua, setelah sekian lama terus dibenci oleh ayah.


"Katakan padaku apa yang membuatmu datang kemari?" Tanyanya pelan.


"Aku... dipaksa untuk menikah dengan Dummy," jelasku sambil duduk di dekatnya.


"Ahh... Sebenarnya kau memang ditakdirkan untuk Dummy kan, karena kau adalah magise, dan Magise harus bersama saint, mereka akan sama-sama menjadi raja dan ratu di kemudian hari, romantisnyaa," kata ibuku yang justru membuatku sedih.


"Tapi aku sudah menyukai saint lain," kataku pelan.


"Ehhh berarti ada dua saint yah, tidak kusangka ternyata kejadian seperti ini bisa terjadi," katanya heran.


"Lagian ibu, aku hanya ingin memintamu merestui hubunganku dengan pangeran Shun,"

__ADS_1


Claire tersenyum lalu mengangguk, "Baiklah aku akan merestuinya,"


"Benarkah?" Tanyaku diiringi dengan anggukan kecil darinya.


Tapi kemudian aku kembali murung, "Tapi besok aku akan menikah dengan orang lain, aku bahkan tidak pernah mengenalnya sedikitpun, bahkan dia juga tidak melihatku sebagai diriku," lirihku.


"Ah baiklah-baiklah jika kau ingin membatalkannya aku akan berbicara dengan Dummy," kata Claire menenangkan ku.


"Tapi ibunda pasti tau kan kalau Dummy hanya mencintaimu?" tanyaku lalu kembali berdiri.


Claire langsung tertegun lalu mengangguk, "Iyaa," jawabnya pelan.


"Lalu kenapa tidak kau yang bersamanya?"


"Tidak bisa, aku sudah mati, orang mati tidak akan bisa membahagiakan orang hidup, kami sudah berbeda dunia,"


"Tapi ibu masih hidup dihatinya bukan?"


"Aku... tidak bisa, aku juga menyukai orang lain selama ini meskipun aku tau dia tidak menyukaiku sama sekali," lirihnya.


"Apakah itu ayah?"


"Kau benar,"


"Tapi ayah selalu mempertanyakan apakah aku anaknya atau anak haram,"


"Aku juga tidak tahu kenapa dia terus mencurigai ku berhubungan dengan Dummy, padahal kalau iya pun kau tidak akan dipaksa oleh Dummy untuk menikah tapi hanya tinggal bersamanya sebagai anak," jelas Claire.


"Aku mengerti, kurasa ini sudah cukup ibu, kembalilah tidur,"


Claire tersenyum. "Setidaknya aku ingin kau mendengar cerita tentang kematian ku,"


Aku langsung mengangguk, "Aku ingin mendengarkan semuanya juga keinginanmu yang sekarang apa,"


"Aku ingin melihat kedua putriku bahagia," katanya sambil tersenyum lebar.


"Ceritanya cepat miaw~ ini sudah jam 4 pagi," kata Shun memberitahu.


Claire menarik nafas dalam lalu keluar dari peti mati itu, dia berputar-putar dengan senang di hadapan kami lalu berbalik dan tersenyum tipis, dilihat dari segi manapun dia seperti seorang bidadari yang sedang menari-nari.


Claire langsung kembali mendekati ke arah kami lalu terdiam dengan wajah yang serius.


"Semua itu diawali dari..." ucapnya menerangkan ceritanya. Sedangkan aku hanya dapat mendengarkannya.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2