
Pada akhirnya hukuman mati untuk kakakku dibatalkan karena pangeran Shun masih hidup.
Sore harinya, adalah saat pemakaman ibuku. Acaranya tidak di hadiri oleh banyak orang namun hanya sedikit orang saja.
Sore itu bertiup angin sepoi-sepoi yang lembut menggoyangkan dedaunan di sekitar kami. Kelopak bunga pun bertebaran kemana-mana yang asalnya pun aku tidak tahu dari mana.
Beberapa orang tampak terlihat berwajah muram di balik pakaian serba hitam yang dikenakannya. Termasuk ayahanda yang terlihat bersedih karena kehilangan istri tercintanya.
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam mansion dimana terdapat peti mati ibuku tergeletak disana. Aku dan beberapa orang duduk berduka sambil memanjatkan doa sebelum peti itu di bawa ke liang lahat.
"Aku akan menguburkannya di tempat yang dekat dengan keluarganya," ucap Duke Claoudie.
"Di tempat keluarganya?" tanyaku heran. Karena kami juga adalah keluarga ibuku sendiri.
"Yaa tempat dimana aku dan dia pertama kali bertemu," jawabnya melirih.
Pangeran Shun tersenyum kecil, "Itu tidak akan terjadi, karena kalian juga adalah keluarganya, sebaiknya simpan saja dalam kamar," ujarnya.
Aku mendelik ke arah pangeran Shun, kalau di pikir-pikir semuanya tampak berduka atau paling tidak, tidak menunjukkan ekspresi senang seperti dirinya.
"Ibuku meninggal kau tertawa, hebat sekali!," kesalku lalu duduk di syofa ruang tamu rumahku.
"Yah habisnya ada sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk di dukai seperti ini..." kata pangeran Shun menyeringai kecil.
"Heee apatuh?" tanyaku heran.
"Kau akan tau sendiri," balas pangeran Shun.
"Lecaa... hiks maafkan kami tidak tahu kalau kau punya ibu," sesal Kecha sambil berjalan mendekat kearahku.
Natte lalu memukul pundak Kecha, "Kau ini bodoh yah, jelas saja dia punya ibu, mana mungkin Leca bisa lahir hanya dengan ayah saja," jengkel Natte.
"Habisnya... aku pernah membawanya ke tempat ibuku dulu, aku tidak tahu dia punya masalah yang lebih rumit dengan ibunya..." imbuh Kecha. Dia pasti berfikir dia telah membuatku sedih.
"Tidak apa-apa," jawabku singkat.
Seketika itu aku langsung disambut dengan pelukan haru dari mereka.
"Aku pinjam lecanya dulu yah," kata pangeran Shun pada mereka.
"Baiklah..." Jawab Natte dan Kecha.
Pangeran Shun lalu menarikku menjauh dari sana ke luar mansion.
"Kenapa pangeran?" tanyaku pelan.
"Tidak apa-apa aku hanya ingin berdua denganmu," jawab pangeran Shun sambil tersenyum tipis.
Wajahku langsung memerah setelah mendengar ucapannya itu. Sepertinya pangeran Shun berusaha menghiburku dengan gombalannya yang tentu saja ampuh.
"Baiklah ayo kita bertemu ibumu," kata pangeran Shun lagi lalu menarikku kembali ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Ehhh aku merasa seperti di permainkan," cibirku yang merasa agak kesal.
Peti mati itu pun hendak diangkat. Namun tiba-tiba peti mati itu terbuka dengan sendirinya dan menampilkan sosok wanita cantik berambut pirang bergelombang dan bergaun serba putih.
Beberapa orang yang melihatnya langsung ketakutan dan bahkan ada yang pingsan. Berbeda dengan aku yang hanya sedikit terkejut melihat pemandangan itu.
Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa ibuku hidup lagi? Padahal disini tidak ada Nekomata tapi dia benar-benar terlihat seperti terlahir kembali setelah sebelumnya menjadi tulang belulang.
Pangeran Shun menggenggam tanganku erat. "Ini adalah kekuatan saint itu," ungkapnya sambil menatapku lekat.
"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.
"Orang yang mengambilmu dariku," kesal pangeran Shun tiba-tiba.
Tiba-tiba terlintas di benakku sosok Dummy yang notabenenya juga adalah seorang saint. Apakah dia yang melakukan ini, tapi bagaimana bisa?
Sosok Claire yang baru bangkit itu terlihat seperti hendak menangis. Dia keluar dari peti matinya dengan perlahan lalu berjalan ke arah ayahku.
"Dummy menyelamatkanku," gumamnya sambil tersimpuh.
Ayahku langsung memeluknya erat. Dia terlihat tidak bisa berkata-kata sama sekali, saking bahagianya.
"Kita berhutang padanya," imbuh Claoudie sambil mencium dahi istrinya.
Mataku langsung berkedut melihat pemandangan itu, bagaimana bisa mereka melakukan itu di hadapan semua orang yang tampak heran dan tidak mengerti dengan keadaannya.
Aku langsung menatap penuh selidik ke arah pangeran Shun yang sepertinya sudah bersiap dengan beribu pertanyaanku untuknya.
"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya, intinya ada seseorang yang berkorban untuk kebahagiaan orang lain yang dicintainya," jawab pangeran Shun yang membuatku semakin pusing.
Lavender yang sedari tadi menatap mereka langsung memeluk ibunya dengan terisak.
"Ibunda..."
"Terimakasih, sudah menjadi kakak yang baik buat adikmu," kata Claire sambil memeluk Lavender. Sedangkan Lavender menggelengkan kepalanya menyangkal ucapan ibunya, dia sendiri merasa dia sudah menjadi kakak yang jahat.
Pangeran Kenn langsung berjalan cepat ke arah pangeran Shun dan memeluknya.
"Aku juga senang kamu masih hidup," kata Pangeran Kenn.
"Terimakasih, saya merasa terhormat di khawatirkan oleh Raja Kenn,"
"Ngomong-ngomong terimakasih sudah menyelamatkan tunanganku, aku tidak tahu sekarang bagaimana perasaanku kalau melihatnya mati dihadapanku," kata pangeran Kenn.
"Iyahh sama-sama sih, tapi calon istrimu itu sangat menakutkan sebaiknya kau berhati-hati," balas pangeran Shun.
"Bukankah Nona Alexa lebih terlihat berbahaya? sebaiknya kau berhati-hati," kata pangeran Kenn sambil menatapku.
"Apa maksudmu 'berbahaya' wahai Paduka Raja?" tanyaku penuh penekanan.
Pangeran Kenn tertawa kecil, "Tidak, cuma bercanda,"
__ADS_1
Pangeran Shun ikut tertawa kecil sambil meninju dada pangeran Kenn pelan. Setelah itu dia melirik kerahku lalu mendorongku ke depan.
"Sebaiknya kau bersuka cita terhadap kedatangan ibumu, sebelum kau ikut bersamaku," ucapnya sambil menyeringai.
Dengan langkah ragu aku mendekat ke arah ibuku, sebelumnya aku belum pernah berbicara dengan baik dengan ibuku baik di dunia sebelumnya ataupun dunia yang sekarang aku berada.
"Se-selamat datang i-bu," ucapku terbata.
"Kyaah imutnya anakku!" teriak Claire histeris. Duke Claoudie sendiri langsung menyumpal telinganya dengan jari.
"Anakku sudah pasti imut," jawab ayah.
"Enak saja, ini anakku,"
"Baiklah baiklah terserahmu deh,"
"Ini anak kita berdua..." gumam Claire sambil menyunggingkan senyum penuh kasih sayang di bibirnya.
Aku langsung menatap ayahku yang sudah memerah wajahnya, sudah kuduga. Tembok sekokoh apapun akan roboh jika di runtuhkan oleh ibundaku yang cantik itu.
Acara duka hari itu berubah menjadi penuh dengan suka dan tawa. Aku merasa saat ini aku adalah orang yang paling bahagia di dunia karena memiliki mereka.
Disisi lain masih ada seseorang yang memasang senyum palsu diantara mereka, dia masih tidak ingin melupakan dan melepaskanku. Dia adalah orang yang mencintaiku secara diam-diam dan melindungiku hingga akhirnya terpaksa melepaskanku.
"Ini adalah akhir yang buruk, setidaknya bagiku," gumamnya sambil tersenyum pahit.
***
"Ck menyebalkan, sejak kapan aku di taruh di kandang sempit penuh sihir kuat ini! Aku jadi tidak bisa keluar! Cih sekarang mereka pasti bersenang-senang di luar!" Kesalnya sambil mondar mandir kesana kemari.
Tidak lain dan tidak bukan dia adalah si kelelawar vampir Adrain yang dihukum oleh lavender karena telah membunuh Chun.
Dia dihukum untuk selamanya tinggal di sangkar burung tanpa mendapatkan jatah makanan dan tidak boleh keluar kecuali untuk digunakan.
Hukuman yang cukup setimpal bukan? Atau justru kurang berat?...
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1