Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 11 : Rahasia Kecil


__ADS_3

Yosh ! Akhirnya selesai juga tugasku. Aku menyelesaikan nya semalaman tanpa tidur. Aku menaruh buku tersebut di meja belajar ku. Lalu kemudian merebahkan diriku diatas kasur sebentar.


Aku tidak boleh ketiduran hari ini! atau aku akan dihukum lagi.


Saat kulihat jam di dinding atas ruangan ku menunjukkan pukul 05.00 aku menghela nafas sejenak kemudian bangkit dari tempat tidur ku. Dengan langkah gontai aku menuju ke kamar mandi rumahku. Setelah selesai aku segera pergi mengganti baju dengan gaun berwarna merah muda yang panjang dipadukan oleh pita berwarna merah maroon yang terikat di belakang nya tentunya memakai gaunnya dibantu dengan beberapa pelayan disini.


'Ahhh aku sudah seperti putri raja saja' batinku.


Setelah selesai ganti baju akupun beralih menuruni anak tangga menuju ruang makan keluarga dan yang kudapati hanyalah ayahku saja disana. Ini membuat suasana disini benar-benar ber atmosfer dingin. Selama beberapa saat hanyalah suara dentingan antara piring dan sendok saja yang terdengar. Hingga akhirnya ayahku memutuskan untuk bangkit duluan lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aku menatap sebuah figura yang berisi lukisan anggota keluarga kami. Dan terdapat sesosok mendiang ibuku, lebih tepatnya lukisan nyonya Kethzie dulu. Aku melihat semua orang yang terdapat disana sedang tersenyum bahagia. Melihat itu malah membuat ku kesal sendiri. Itu adalah kebohongan! Di keluarga ini sama sekali tidak ada yang namanya kebahagiaan, yang ada hanyalah kesunyian dan keasingan.


Kakaku turun dari tangga ruangan atas kami. Dan segera menuju ke ruang makan. Ia menatap ku dengan tatapan yang tidak suka. Itu membuat ku bertanya-tanya.


"Kak? Apakah aku melakukan kesalahan?" Tanyaku.


"Tidak" jawabannya.


"Hanya saja aku merasakan aura seorang Saint melekat di tubuhmu"


"Aku?Saint?"


Kakaku menggeleng kan kepalanya.


"Kamu hanyalah manusia biasa, namun sepertinya kamu sudah berhubungan dengan seorang saint"


"Ber - berhubungan?!!" Pekikku heran. Ohh tidak....Jangan-jangan saat aku tertidur aku tiba-tiba dilecehkan oleh seseorang? Itu tidak mungkin kan? Aku masih kecil! Ta tapi bisa saja bagi seorang penyuka loli! Aku tidak pernah tidur sembarangan kecuali saat ping_ oh iya pasti itu! Huwaa aku ternodai.


Tubuhku mulai bergetar tak karuan saat aku menyimpulkan opiniku sendiri.


"Ehem, maksudku,.. kamu sudah berhubungan dekat dengan seorang saint, sampai ia memberikan semacam sihir pelindung kepadamu,atau semacamnya. Sihir seperti itu bersifat abadi atau tidak lenyap kecuali hingga kamu mati" jelasnya.


Ahh aku mengingatnya. Pangeran Shun memberikan semacam sihir yang dapat membagi keterampilan nya padaku. Mengingat itu membuat blush di pipiku nampak jelas.


"Saint itu apa?" Tanyaku.


"Saint adalah penyihir, bukan, dia adalah malaikat tetapi bisa berubah menjadi seorang iblis ataupun alat..."


"Ehh maksudnya?"


"Intinya dia adalah orang yang paling tidak boleh berurusan dengan keluarga kita!"


"Kakak membencinya?"


"Lumayan sih,..aku membiarkanmu karena setidaknya dia menyelamatkan mu, tapi aku memperingatkan mu untuk tidak dekat-dekat dengannya! Kau tahu, ayah sangat membenci seorang saint.. kalau dia tahu kau saat ini sedang dekat dengan nya kamu bisa... Yaah begitu lah, aku tidak bisa membayangkan nya"


DEG! entah kenapa kata-kata tersebut membuatku takut. Aku adalah seorang pengecut yang mudah sekali takut. Jika aku memulai masalah maka akan sama saja dengan aku mencari mati. KENAPA?! Kenapa hidup tenang adalah sesuatu yang sulit?? Kenapa harus berkaitan dengan pangeran Shun?!


Aku menghela nafas pelan. 'Yosh! Baiklah mungkin aku akan mencari kebenaran secara perlahan agar tidak membingungkan ku. Tapi aku mau bersekolah dulu? Ini sudah jam berapa lagian?! Aku malah kelamaan makannya!' aku melihat jam dinding dan mendapati sudah pukul 7.00.


"Aku mau sekolah dulu" ucapku. Kakaku bahkan tidak menatapku.


"Ingatlah, rahasiakan ini" ucap kakaku kemudian.


Aku hanya mengangguk ringan. Mengapa menjadi rahasia? Apakah itu sangat berbahaya jika diketahui banyak orang? atau kakak mencoba melindungi ku dari ayah? Batinku.

__ADS_1


"Ahahaha mungkin aku akan sekolah tiap hari kecuali hari Minggu" ucapku sambil mengalihkan pikiranku sendiri. Sebenarnya para bangsawan bebas menentukan hari dimana mereka sekolah ya^^ tapi aku ingin lebih sering lagi bertemu dengan Pangeran Shun. Aish! Shun lagi Shun lagi!!


"Hmmm" kakaku hanya menanggapi singkat.


Lupakanlah. Seperti nya kakakku sudah mulai tidak peduli lagi terhadap ku. Aku berjalan keluar mansion tersebut. Dan pergi menuju ke akademi kerajaan Aldric seperti biasa tentunya dengan naik kereta kuda yang mewah.


.


.


.


***


.


.


.


"Anak-anak hari ini kita akan belajar tentang membuat puisi.. jadi kalian akan bebas dan boleh mencari referensi atau tetap di ruangan, kalan akan di beri waktu sampai sore, dan ketentuan nya sudah saya tuliskan di kertas ini" jelas guru itu sambil menunjuk kertas yang berukuran seperti kertas karton. Kemudian ia menempelkan nya di dinding ruangan agar semua orang dapat melihat nya.


Ahhh.. pelajaran paling tidak kusukai. Membuat puisi adalah hal yang sangat sulit, tetapi membaca puisi itu adalah keahlian ku. Andai saja aku masih ingat puisi saat di duniaku dulu... Batinku.


"Kamu mau di ruangan atau di luar?" Tanya Kecha padaku. Kecha tampaknya hendak keluar dan ia sedang menyiapkan alat tulisnya.


"Bareng kalian dong pastinya"


"Natte mau ikut?"


"Kecha kamu bisa tunggu di dekat bangku taman utama saja? Aku mau mengantar kan tugas ku yang kemarin" ucapku. Lalu diiringi dengan anggukan kepala Kecha.


Kemudian aku langsung menuju ke pusat sekolah itu yaitu sebuah kantor sekolah dimana para guru dan staf lainnya berkumpul. Dan aku bergegas menemui guru garang yang kemarin, nyonya miss Adelle.


"Permisi Miss ini tugas ku kemarin!" Ucapku sambil menyerahkan beberapa lembaran kepada seorang wanita paruh baya itu. Usianya mungkin sekitar kepala 4. Atau sekitar lebih dari 400 tahun. Yaa orang di sini memiliki usia panjang dan awet muda, namun kalaupun ada yang terlihat tua itu karena memang dia sudah tua.


"Yap, baiklah, sebaiknya jangan kau ulangi lagi yang seperti itu" aku mengangguk. Lalu memberikan salam hormat untuk pamit keluar ruangan itu.Di tengah jalan aku bertemu dengan pangeran Shun. Yang sedang bercengkrama dengan Erdwan. Namun aku harus melewati jalan itu, maka reflek aku mulai menempel kan tanganku di dinding dan aku bersembunyi sambil merayap serta memejamkan mata, sesekali juga mataku mengintip kearahnya.


Ahhh bahkan senyuman nya saja begitu manis seperti madu. Aku ingin jadi lebahnya yang akan menjaga dan berguna untuknya. Aku membenturkan kepalaku ke dinding. 'Fokus bersembunyi! dong!'batinku.


"Seharusnya jika aku menjadi cicak dia tidak akan menganggap ku ada" gumamku sambil terus merayap ke dinding sambil memejamkan mataku meski sekali kali mengintip lagi. Jalanku menyamping hingga melewati mereka. Mereka tampak mengarahkan pandangannya kearahku.


"Nona sedang apa?" Tanya Erdwan.


"Mungkin itu teknik bela diri baru agar tidak ketahuan musuh" balas Pangeran Shun.


"Pangeran, mana ada teknik bela diri yang meniru cicak, jelas saja dia sangat terlihat"


Waduh gawat aku ketahuan! Aghhhh


Dasar cicak memang gak patut ditiru! Terus kenapa cicak bisa lolos dari musuhnya! Bukannya dengan menyamakan warna dengan dinding?!


*Itu bunglon gess・~・jangan niru cara bersembunyi Leca yaa, dia itu bodoh~


Pangeran Shun melihat ku dan mengisyaratkan agar aku kesana.

__ADS_1


"Leca! Kamu sedang apa? Mau gabung kesini?" Seru Pangeran Shun.


"Sedang menghitung kuman yang ada di dinding kok Pangeran...heheh" aku hanya cengengesan. Tanpa aba-aba langkah kakiku segera mendekat ke arah mereka dengan cepat.


EITTTTS!!


Aku menghentikan gerakan kakiku karena teringat dengan ucapan kakakku.


"Tidak bisa.. maaf Pangeran! Aku mau lanjut hitung kuman nya" Ucapku yang seketika langsung kembali ke posisi semula. Merayap di dinding namun dengan gerakan yang cepat.


"Aku harus kabuuur" ucapku.


Aku tidak tahu kenapa aku kabur saat melihat Pangeran Shun. Aku memeriksa detak jantung ku yang berdetak kencang. Bukan,bukan karena aku gugup atau sebagainya, tetapi hanya karena aku takut.


"Saint adalah iblis?" Lirihku.


.


.


***


.


.


"Ehh kenapa dia?" ucap Pangeran Shun heran.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pangeran, dia kan calon istri pangeran... Yaa meskipun tidak jelas kapan nikahnya" sindir Erdwan.


Shun yang merasa tersinggung langsung menatap Erdwan tajam lalu tersenyum menyeringai.


"Ampun tuan kuu" Erdwan langsung bergidik setelah melihat senyuman Shun yang sangat terlihat aneh itu.


"Dia tidak terlihat seceria biasanya hmm.." ucap Shun kemudian.


"Yeps.."


Lalu Pangeran Shun dan Erdwan melanjutkan kesibukan mereka.


.


.


.


*****


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2