
Selangkah kakiku melewati gerbang masuk kemudian aku langsung disambut oleh beberapa pelayan yang berpakaian rapi dan senyuman ceria bak mentari yang menyinari bumi, begitu menyenangkan bila dipandang.
Chaser pun tidak berkedip ketika melihat pelayanan-pelayanan bertubuh ideal yang cantik seperti bidadari surga itu.
Aku jadi insecure sendiri karena melihat sesuatu yang tampak menonjol dengan indah yang dimiliki oleh mereka, ini semua gara-gara Chaser yang menyamakan milikku dengan papan triplek, aku jadi iri sendiri.
Aku terus menggerutu dan jadi karena kesal sendiri mengingat kejadian tadi.
Rupanya pangeran Shun menangkap gelagat ku dan langsung peka apa yang mengganggu pikiranku.
"Tenang saja, aku suka milikmu apapun bentuknya.." kata pangeran Shun yang langsung mendapat pandangan mematikan dariku.
"Gak begitu juga kali😒!"
Pelayan itu mempersilahkan kami terlebih dahulu duduk di ruangan khusus tamu yang interior ruangannya begitu indah penuh pernak pernik yang membuat manik mata jadi ikut berwarna saat menatap nya.
Aku duduk di sofa dengan canggung, selama aku berteman dengan Kecha, aku belum pernah datang ke rumahnya sama sekali, hufftt sepertinya aku adalah teman yang buruk.
Tetapi bila aku sering datang kesini maka aku lebih buruk dari dari pada yang aku katakan tadi, karena sering bertamu ke rumah bangsawan lain tanpa undangan apapun itu dianggap tidak sopan, apalagi tanpa membawa hadiah seperti aku sekarang.
"Selamat datang nona Alexa," Kecha memberi salam kepadaku dengan melipat kakinya sambil menundukkan kepalanya.
Duhh anggun dan sopan sekali wanita yang satu ini, dia memang teman sehati sejiwa ku yang mirip dengan aku.ðŸ¤
Aku yang langsung sadar atas kedatangan Kecha kemudian membalasnya dengan perlakuan yang sama.
"Maaf ayahku tidak bisa menyambut langsung kedatangan mu soalnya dia sedang sibuk mengurusi urusan nya," Jelas Kecha sambil menunjukan muka sedihnya.
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, sebenarnya aku datang kesini cuma mau berbelanja dan sedikit belajar berdandan bersamanya dan itu tidak perlu sampai penyambutan dari ayahnya juga.
"Tidak apa-apa," balasku sambil tersenyum.
Kecha mengangguk singkat kemudian ikut duduk disampingku.
"Maaf membuatmu datang sendirian ke sini, seharusnya aku menyuruh beberapa pengawal di keluarga ku untuk menjemput mu,"
"Kecha, tidak perlu kamu melakukan hal yang merepotkan seperti itu, aku juga tidak enak kalau mendapat perlakuan seperti tadi, soalnya kan aku yang butuh, jadi aku yang seharusnya datang ke mansion mu,"
"Tapi aku sedikit khawatir soalnya aku mendengar isu-isu kalau perjalanan kesini sekarang sedang tidak aman karena ada sekte hitam yang sedang berkeliaran, namun aku senang kalau kamu bisa sampai ke sini dengan selamat tanpa terhambat sedikitpun,"
Aku melirik ke kanan dan ke kiriku, sebenarnya walaupun aku dalam bahaya pun aku tidak akan khawatir karena ada dua bodyguard yang selalu siap siaga melindungi ku.
"Hahahaha tidak apa-apa kok Kecha, tidak usah terlalu dipikirkan,"
"Kalau begitu apakah kau ingin bertemu ibuku?dia pasti akan senang bila bertemu dengan mu yang merupakan temanku si penakluk hearloom weapon Eternal Holy Glory,"
"Te-tentu aku harus bertemu dengan nyonya Countess," jawabku sungkan, sebenarnya aku malas bergerak dan mau langsung to the point ngelihat pernak pernik yang mau ku beli tapi malah di bawa jalan-jalan dulu.
Kecha menggenggam tanganku kemudian membawaku berjalan menjauh dari pangeran Shun dan Chaser yang daritadi hanya diam mematung.
Kecha membawaku ke ruangan yang terlihat sangat megah dibandingkan dengan ruangan lain yang barusan kulewati.
Tok tok tok...
Kecha mengetuk pintu ruangan itu dengan keras. Senyum di wajah manisnya tertera begitu jelas, menandakan bahwa dia sangat antusias untuk bertemu dengan ibunya.
Tanpa sadar aku tersenyum kecil melihat tingkah nya, aku senang kalau melihat seseorang yang kusayangi juga senang. Apalagi saat bertemu dengan ibunya, pasti hubungan dia antara mereka sangat dekat.
"Ibunda, bolehkah aku masuk, aku membawa seorang teman yang selalu ku ceritakan kepada ibunda loh," Ucap kecha antusias.
Namun beberapa detik kami menunggu tidak ada sebuah suara pun menyahut seruan dari Kecha.
Kecha terdiam sejenak kemudian dia memutuskan untuk membuka pintu ruangan itu tanpa menunggu untuk di persilahkan.
"I-bunda," Panggil Kecha lirih sambil menatap kosong ke arah ruangan yang tampak berantakan.
__ADS_1
Matanya terbelalak seolah-olah dia merasa terkejut karena sesuatu yang baru saja diingatnya.
Tepat di tengah-tengah tempat duduk dalam ruangan tersebut, terdapat seorang wanita cantik yang berpakaian sedikit kacau dan orang itu hanya diam seperti patung sambil sesekali bibirnya bergumam tidak karuan.
"Kenapa ibumu?!" Tanyaku panik.
Tiba-tiba Kecha mendorong ku keluar begitu saja, dengan wajah yang sangat muram, belum pernah aku melihat Kecha yang seperti itu.
"Ma-maf tapi ibuku..."
"Ibumu?"
"Ibuku itu,...."
"????"
"Ibuku itu gila,.." lirihnya sambil tersenyum hambar.
"Aku begitu menyayanginya,.. aku tidak terlalu memperhatikan apa kata orang lain kalau dia sudah tidak waras lagi, tapi aku selalu menganggap nya itu masih normal dan sering mengajaknya bercerita, dan bermain, aku..." tenggorokan Kecha tampak tercekat, matanya sudah berkaca-kaca dan dia tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya lagi.
Aku memegang bahu Kecha kemudian tersenyum tipis, aku tidak mengerti sebenarnya apa yang membuatnya menahan tangisnya seperti itu, tapi aku bisa dengan mudah membantunya untuk menyadarkan ibunya lagi, tentunya dengan bantuan bebebkuh tersayang.
Kecha terdiam, dia tampak merasa bersalah karena tidak sengaja menunjukkan kondisi ibunya yang mengenaskan seperti itu.
"Kecha, setiap penyakit pasti ada obatnya kan, apakah kau percaya hal itu?" Tanyaku padanya.
Kedua mata Kecha bergerak menatap ke arahku, aku bisa melihat dengan jelas keraguan yang tertera di manik matanya itu. Bahkan hingga seperkian detik dia tidak menjawab pertanyaan ku.
"Bagaimana kalau kami mencoba untuk menyembuhkan penyakitnya ibumu,"
"Tidak mungkin bisa... Kamu tidak perlu melakukan hal yang tidak berguna seperti itu, kami sudah melakukan banyak hal tetapi kau sendiri bisa melihat hasilnya kan," sergahnya.
"Kecha, aku memang bukan seorang healer, tapi aku memiliki Chaser dan Shun yang mungkin saja bisa membantu," Kataku sambil tersenyum jahil.
"Hmhh tapi..."
"Chaser!, Pangeran Shun, kalian bisa ikut bersama ku?" Tanyaku padanya mereka, mereka berdua pun langsung menoleh kemudian mengangguk bersamaan.
"Mana pangeran Shun?" Tanya Kecha heran.
"Itu!" Aku menunggu ke arah burung mungil berwarna biru.
Kecha terdiam sejenak mendengar perkataan ku, sepertinya dia masih tidak percaya dengan ucapanku namun itu memang kenyataannya dan tidak bisa dipungkiri lagi.
"Halo nona florist, salam kenal, aku pangeran Shun temannya Alexa.." kata Pangeran Shun menyapa Kecha.
"Pffttt.." Kecha terkikik mendengar sapaan dari pangeran Shun.
" 'Teman'nya Alexa..." Ulang Kecha dengan penekanan pada kata teman.
Aku mendengus sebal kemudian beranjak cepat dari sana meninggal mereka semua.
Kenapa pangeran begitu sadis bilang aku adalah temannya?! Padahal pas dia tahu aku tunangan pangeran Zio dulu dia kelihatan marah...huh jangan bilang dia suka sama cewek lain di Arrenthia.. tapi kok dia bilang menyukai apa adanya?! Tapi aku memang tidak menjalin hubungan apapun denganya jadi aku gak bisa protes... Huaaa aku bisa gila kalau terus memikirkan hal konyol ini!.
Kini aku, Kecha, Chaser dan Shun sudah berada di balik pintu kamar nyonya Countess kemudian Kecha membuka pintu kamarnya dengan pelan.
Mimik wajah Kecha berubah tegang, dia langsung meraih tanganku dan menggenggamnya erat, tangannya begitu dingin sehingga aku langsung tersentak saat dia meremas tanganku erat.
"Mau ngapain?" Tanya Chaser bingung.
"Kita mau sembuhin nyonya Countess," jawabku antusias.
"Hah? Kamu pikir aku dukun beranak? tabib? Healer? Dokter? Bisa-bisanya kamu nyuruh aku nyembuhin orang!" Keluh Chaser yang tampak tidak setuju.
Kecha merasa tertohok setelah mendengar ucapan Chaser, dan dia pun menundukkan kepalanya karena merasa hal yang kami lakukan ini akan sia-sia belaka.
__ADS_1
Pangeran Shun maju didepan kami, dia terbang mengelilingi sekitar nyonya Countess kemudian hinggap di bahuku.
"Hooh dia sempat mengalami trauma yang sempat mengguncangkan batin dan pikirannya, seluruh susunan mana di dalam tubuhnya tidak teratur, dan otaknya juga mengalami kelainan cara kerja karena keracunan sesuatu," jelas pangeran Shun.
"Lalu apakah bisa disembuhkan?" Tanyaku yang sebenarnya tahu benar jawabannya.
"Tidak... itu akan sulit mengingat dia memiliki trauma yang parah, tetapi aku bisa menyembuhkan nya secara keseluruhan, hanya saja saat dia sembuh nanti jangan melakukan atau pergi ke tempat yang membuatnya ingat dengan kejadian yang membuatnya trauma," Ujar pangeran Shun yang membuat binaran mata penuh harap di mataku dan mata Kecha.
"Pangeran Shun, i love you!" Teriakku sambil menggenggam kemudian meremas dengan erat badan burung itu.
"Ahhh! Sakit!" Pekik pangeran Shun yang langsung menyadarkan ku.
Kecha dan Chaser terkekeh melihat kelakuan ku yang tidak bisa mengontrol diri dengan baik.
"Padahal sebelumnya kami yang berkata untuk jaga sikap..." Gerutu pangeran Shun.
Mendengar omelannya itu aku hanya cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
"Kalian bisa keluar sebentar?" Tanya pangeran Shun kepada kami, dengan cepat aku mengangguk dan menarik mereka berdua untuk keluar.
Saat kami sedang menunggu diluar aku menempelkan telingaku pada daun pintu untuk menguping sedangkan Kecha mengomeli ku untuk tidak melakukan hal aneh yang memalukan seperti yang aku lakukan sekarang contohnya. Tapi aku tidak peduli dan tetap melanjutkan kegiatanku.
"Ini semua aku lakukan demi keegoisan ku sendiri, meskipun dia hanya tersenyum kecil namun itu sudah membuatku senang,..."
Aku sangat terkejut ketika mendengar pangeran Shun mengatakan hal seperti itu.
Siapakah yang dia maksud? Apakah itu adalah aku?!
Memang masalah apa yang membuat pangeran Shun mengatakan hal seperti itu? Jangan-jangan dia sedang dilarang untuk menggunakan sihirnya sedangkan aku malah meminta bantuannya? Ataukah sihir yang dilakukannya itu berdampak besar bagi dirinya?!... Aku bingung, jangan bilang sihir yang dia gunakan itu dapat mengurangi masa hidup nya?!!!
"holy arrai!... area heal! healing!..." kata pangeran Shun melantunkan sihirnya dengan suara pelan dari dalam ruangan, tetapi tetap saja aku dapat mendengar nya, dan saat itu juga sebuah cahaya keemasan berlomba keluar dari ruangan itu ke segala arah.
Cahaya tersebut adalah mana sihir dalam jumlah besar yang keluar dari penggunanya. Aku Kecha dan Chaser berdecak kagum melihat mana yang berterbangan itu.
"Kenapa Leca?" Tanya Kecha yang melihat aku terus mematung.
"Ti-tidak apa-apa..." Balasku sambil tersenyum kemudian membenarkan posisiku agar tidak ketahuan menguping.
"Kalian boleh membuka pintunya," teriak pangeran Shun dari dalam.
Kecha mengangguk kemudian masuk ke dalam dengan raut wajah bimbang.
Dari dalam tampaklah seorang wanita cantik sedang tertidur pulas dengan posisi duduk. Kecha menatap ibunya lekat dengan tatapan mata penuh arti. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah kami.
"Apakah dia akan benar-benar sembuh?" Tanya Kecha ragu.
"Iya, tetapi jangan melakukan sesuatu yang tadi aku katakan, karena itu akan memicu kembali ingatan tentang traumanya," Balas pangeran Shun. Kecha mengangguk pasrah.
"Kita tunggu saja apakah benar sihir milik Shun benar-benar bekerja," Usul Chaser yang diiringi dengan anggukan mantap dari Kecha dan aku.
"Silahkan.." Pangeran Shun pun mempersilahkan kami.
.
.
.
*****
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...