Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 59 : Sisi Lain Pangeran Zio


__ADS_3

Pangeran zio hanya diam membisu, namun dibalik itu, air mata di pipinya terus mengalir deras, tidak sedetikpun dia luput dari menatap tubuh kakakknya yang sudah bersimbah noda merah.


"Kakakkkk..." lirihnya lalu berlari menghampiri kakakknya.


"Kau... tidak akan kubiarkan!" teriak seseorang lalu dengan secepat kilat ia mendekat hendak menyerang pangeran Zio.


"Tidak!!" cegah lily collans yang langsung menghadang menggunakan tubuhnya, dalam hitungan detik tubuh wanita itu terlempar jauh hingga membentur tembok istana.


"Lily!" teriakku panik.


"Aku tidak apa-apa... jangan pedulikan aku,..." kata lily lemah.


Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dengan kondisi ia mengeluarkan banyak darah keningnya.


Aku memejamkan mataku sambil melangkah pelan mendekati Pangeran Zio, "Nona jangan mendekat!." Ujar Chaser memperingatkan. Namun karena tindakannya itu, dia malah lengah sehingga dia juga tumbang dan lehernya berhasil digores oleh seorang wanita cantik yang memegang belati.


"Aghhhhh!" pekikknya mengagetkanku.


Aku mengepalkan tanganku sambil membuka mataku berharap agar aku tidak terusik dengan suara teriakan apapun yang mengerikan.


"Kakak... tidak mungkin..." ucap pangeran zio yang langsung menghampiri kakakknya.


"Pangeran..." lirihku sambil mencoba memegang tangan pangeran zio untuk menenangkannya.


"Tidak! jangan sentuh aku!!" bentaknya kasar, membuatku semakin merasa bersalah.


"Kakakkkk...." Ucapnya lagi sambil memeluk tubuh kakakknya erat dan berteriak dengan keras.


Aku hanya dapat menatapnya iba sambil menahan perasaan tangisku agar tidak pecah.


Sesakit itu kah melihat seseorang yang dia sayangi pergi meninggalkannya untuk selamanya. Aku tidak begitu mengerti tetapi tanpa harus berpengalaman pun aku dapat merasakan keperihan dan rasa sakit itu.

__ADS_1


"Kakak jangan tinggalkan aku kumohon kembalilah...Tidak ada yang bisa peduli padaku lagi, tidak ada orang yang akan memberiku perintah dan kehangatan seperti yang kau lakukan...tolong jangan pergi!!" Tangisnya sambil menatap nanar ke wajah Pangeran Dylan yang sudah pucat.


Aku mengalihkan paksa pandangan Pangeran Zio ke arah ku, "Pangeran... masih banyak orang yang menyayangimu, masih banyak orang yang peduli padamu, seperti aku dan yang lainnya," ucapku sambil menatap lekat ke arahnya.


Bukannya tenang, Pangeran zio justru semakin terlihat sangat tersiksa, dia memalingkan wajahnya dariku kemudian menggertakkan giginya.


Dengan berurai air mata dia berkata pelan, "Kau hanya menyayangi dan mempedulikan Pangeran Shun, kau bahkan belum pernah sama sekali melihat ke dalam diriku yang sebenarnya..."


Perkataannya itu membuatku tertegun, dia benar... Aku memang selalu memikirkan Pangeran Shun dan jarang memikirkan perasaan orang lain, apakah aku egois dengan melakukan hal yang aku inginkan? padahal dengan melakukan hal itu, Pangeran Shun sendiri juga belum tentu menginginkannya, buktinya saja tadi dia menyuruhnya untuk menjauh dari sisinya...


"Kau berbeda dengan kakakku, kamu tidak sepertinya yang selalu memberikan kasih sayangnya dengan tulus...dia menjagaku dengan sepenuh hatinya walaupun disaat yang lain mengucilkanku tetapi dialah yang selalu ada dan menemaniku, dia memberikanku semangat dan tujuan untuk terus hidup, dia adalah sesuatu yang berharga untukku tetapi dia sekarang sudah tidak ada..." kata pangeran zio lagi. dia melirik kearahku dengan tatapan mata penuh kesedihannya.


"Selama ini, aku selalu tumbuh menjadi bayangan yang hidup dibawah naungan kakakku tetapi sekarang mereka sudah tidak ada... jadi untuk apalagi aku hidup!!" jelas pangeran zio sambil meraih tangan kakakknya dan memeluknya erat. Tangis diamnya kini mulai bersuara isakan.


"Pangeran... Maafkan aku... Aku tidak tahu mengenai dirimu tetapi aku merasa sangat bersalah atas semua yang kulakukan padamu, aku tidak pernah memperhatikan orang lain selain Pangeran Shun sebelumnya... Tetapi aku... Aku tidak bisa tidak untuk tidak memikirkannya..." Sesalku sambil berpaling ke arah lain. Karena aku yang sekarang tidak mampu untuk melihatnya.


Selama ini aku tidak pernah berpikiran baik kepadanya, selama ini aku tidak mengira bahwa orang-orang di sekitarku memiliki perasaan sensitif terhadap sesuatu dan dengan tanpa merasa bersalah aku menggores bagian itu sehingga menimbulkan luka yang berarti. Aku baru menyadari bahwa ternyata setiap orang memiliki rahasia dan penderitaan mereka tersendiri... mereka memiliki perasaannya masing-masing, bukan seperti aku yang selalu egois dan selalu mempedulikan diriku sendiri.


Ia terlihat sangat ingin melepaskan semua perasaannya yang dia rasakan, suaranya keras membelah malam dan menggema di seluruh istana, bahkan semua yang ada disini menjadi saksi atas penderitaannya.


Kugigit bibir bawahku lagi kemudian mendekat kearahnya lalu menampar wajahnya.


PLAAKKKK!


Bukan berarti tanpa maksud namun aku ingin dia sadar dan tidak larut dalam kesedihannya, "Sadarlah! sekarang dia sudah tiada, kau adalah seorang pangeran! kau harus melindungi orang-orang yang masih bernyawa dan tidak larut dahulu dalam kesedihan!" teriakku sambil mencengkram bajunya erat. Dia tersentak kemudian menepis keras tanganku.


"Aku tidak peduli!" balasnya dengan lebih keras.


"Pangeran..." lirihku kesal kemudian membuang muka.


Aku beranjak sambil mengambil Sate, "Kalau begitu aku sendiri yang akan melindungimu, doakan saja agar saat perkara ini berakhir aku tidak hanya tinggal nama saja!" kataku kemudian pergi berlari menjauh dari sana.

__ADS_1


Setiap langkahku kali ini tidak akan goyah, aku punya tujuan untuk melindungi orang-orang yang kusayangi, Pangeran Shun, Pangeran Zio, Natte, Kecha, Kakak... Dan yang lainnya. Betapa bodohnya aku karena baru sadar aku mencintai kalian semua...


"Kau bodoh! sudah kubilang jangan kesini!" Chaser memperingati.


Aku menggelengkan kepala dengan mantap kemudian bersiaga menyerang dengan busurku. Tanpa panah pun aku akan memanah, angin akan kujadikan anak panah dan atas perintahku panah itu mengubah bentuk angin menjadi anak panah yang tajam.


Aku berlari ke tempat persembunyian ketika tau seseorang mengincarku, kemudian aku menarik anak panahku dan mengarahkan ke lawan Chaser terlebih dahulu.


"Eternal wind..." ucapku pelan kemudian meluncurkan seranganku. Seranganku tadi berhasil dihindarinya dan meleset. Dengan cepat orang yang kuincar pun mendekat kearahku.


Sedetik kemudian dia menemukan tempat persembunyianku dengan mudah. Di balik topengnya dia menyeringai jahat sambil meraih paksa tanganku.


"Ternyata hanya seorang bocil!" rutuknya kemudian melemparku dengan sihir miliknya.


"Kyaa!!" teriakku sambil memejamkan mataku.


Segel ikatan abadi milikku sudah berwarna cerah dan aku yakin sekarang keadaanku benar-benar tidak akan terselamatkan. Aku merasa benar-benar seperti kertas yang terhempas dengan mudah oleh terjangan angin. Sepertinya aku bahkan tidak bisa bersiap untuk merasakan rasa sakit luar biasa yang akan segera kurasakan.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2