
Satu hari berlalu namun aku tidak melihat kehadiran Erdwan yang merupakan pengawal pribadinya pangeran Shun. Menurut pernyataan yang kakakku katakan dia sama sekali tidak mencoba untuk membunuh atau melukai Erdwan.
Chaser dan Lily sendiri berkata bahwa Erdwan mencari keberadaan pangeran Shun. Ini berarti dia bekum tahu kalau pangeran Shun telah dibunuh?.
Memikirkannya sendiri membuatku pusing, mungkin saja kakakku belum memberitahukan pada mereka kalau dia telah membunuhnya. Seandainya dia sudah memberitahu maka aku yakin kepalanya sekarang sudah tidak menyatu lagi dengan tubuhnya.
Aku menggeleng cepat. Tidak, ini bukan saatnya untuk melamun. Sekarang adalah saat dimana ayahku akan turun tahta dan aku bukanlah seorang putri lagi. Lagian aku merasa lebih tenang jika aku hanyalah seorang putri Duke biasa dan tidak pernah berurusan dengan keluarga kerajaan.
Ini sedikit merepotkan tapi harus kulakukan karena orang-orang di sekitarku menyeretku masuk ke dalamnya.
Tanpa terasa aku yang harusnya bersiap-siap untuk berdandan malah terus menyisir rambutku selama setengah jam.
Aku melirik ke arah Chaser yang sudah menungguku di luar pintu. Tidak lama setelah itu Elisa datang sambil membawakan ku gaun berwarna seragam resmi akademik Aldric yang hanya dimiliki oleh pelajar yang mencapai kelas A.
"Yaampun nona kau bahkan belum selesai menyisir rambut?" tanya Elissa setengah kaget.
"A-aku..."
"Kau harus segara bersiap-siap untuk upacara kenaikan kelasmu, terlebih lagi pangeran Kenn akan segera menjadi raja, tidak ada waktu untuk santai dan melamunkan hal yang tidak penting," kata Elissa sambil merebut sisir yang ku genggam dan menata rambutku dengan sigap.
Setelah selesai semuanya, aku pun hanya menatap ke arah luar jendela tanpa ekpresi.
"Hey Elissa, apa menurutmu pangeran Shun tidak penting?"
"Apa yang kau katakan nona, tentu saja dia penting karena dia adalah kunci perdamaian antara kerajaan Arrenthia dan kerajaan Frost,"
"Lalu dengan menghilangnya dia apa ini akan menimbulkan masalah?"
Lily terdiam, terlihat raut wajah panik terukir jelas disana. Namun dia kemudian tersenyum kikuk seolah mengatakan bahwa itu tidak baik-baik saja.
"Tentu saja ini akan menjadi masalah, namun... percayalah bahwa semua akan baik-baik saja,"
"Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan santai!" teriakku pada Elissa tanpa sadar.
Elissa hanya memejamkan matanya saat ku bentak lalu dia meminta maaf padaku.
"Maafkan saya nona, saya hanya tidak ingin melihat anda terlalu memikirkannya karena itu akan membuat anda sakit," kata Elissa sambil membungkuk.
Sepertinya aku terlalu kasar, aku tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri jika ini berkaitan dengan pangeran Shun. Tapi bagaimanapun juga aku tetap terlibat dalam insiden ini, ini tidak sepenuhnya salah kakakku, jadi aku juga akan bertanggung jawab.
"Nona Alexa sebaiknya kita segera ke aula istana," kata Chaser memberitahu.
__ADS_1
Kemudian aku berjalan keluar kamar bersama Elissa yang mengekoriku. Aku menghentikan langkahku sejenak untuk menyamakan langkahku dengan Elissa.
Elissa menoleh ke arahku dengan pandangan heran.
"Maafkan aku karena kasar kepada temanku," gumamku pelan namun aku yakin itu terdengar olehnya.
Elissa menggelengkan kepalanya, "Nona saya bahkan tidak pantas untuk di panggil sebagai teman,"
"Sekali lagi kau mengatakan itu kau akan ku hukum,"
Elissa menyilang tangannya di depan dada dengan cepat, lalu menggeleng, "Saya tidak ingin dihukum, jadi tolong anggap saya sebagai teman anda Nona," kata Elissa dengan senyuman khasnya.
*****
Kini tibalah saatnya pangeran Kenn untuk dilantik menjadi raja muda yang baru, namun sebelum itu aku, Lily dan Angela mendapatkan penghargaan sebuah pin untuk kenaikan kelas kami.
"Sekarang katakan padaku apa permainan kalian?" tanya Ayahanda kepada kami.
Lily mengangkat tangan terlebih dahulu, "Aku ingin raja yang terhormat membiarkanku bebas berkeliling kebun dan laboratorium istana, aku sangat menyukai herbal herbal disana itu sebabnya aku-"
"Baiklah kau akan kubiarkan keluar masuk dengan bebas meskipun begitu kau hatus mematuhi beberapa syarat yang sudah menjadi ketentuan disana," jawab ayahanda tegas.
Oh tidak, kalau dipikir-pikir ayahku dari sini sangatlah keren. Dia berbicara di depan semua orang tanpa merasa gugup lalu dia masih bisa berdiri dan duduk di singgasananya serta menatap ke arah banyak orang sambil mempertahankan wibawanya.
Angela menyeringai, "Aku sudah memiliki semua hal yang aku inginkan, jadi tidak usah meminta itu tidak akan jadi masalah bagiku," kata Angela dengan angkuh.
"Kalau begitu kau!" ucap ayahku sambil menatap tajam kerahku.
"Meskipun begitu raja Claoudie, saya ingin putri anda yang bernama Lavender itu mengakui perbuatan kotornya yang dia lakukan semasa ujian perburuan itu,"
Aku tersentak lalu menatap lekat ke arah Angela yang sedang menyeringai kecil.
"Baiklah," jawab ayahku tanpa ragu.
Tidak lama setelah itu dia memerintahkan putrinya Lavender untuk berdiri di depan massa dan petinggi kerajaan yang hadir untuk mengakui semua perbuatannya.
Lavender memenuhi perintah ayahnya lalu maju dan berdiri di depan banyak orang. Dengan tangan yang mengepal kuat dan suaranya yang bergetar dia mengakui kalau dia telah berbuat curang.
"Aku telah... membantai semua team dan membuat mereka terelimiminasi," ungkap Lavender.
Setelah mengucapkan kata-kata itu semuanya terdiam lalu tidak lama kemudian baru muncullah suara bisik-bisik dari mereka. Angela tersenyum puas seakan-akan dia telah berhasil mempermalukan Lavender di hadapan khalayak.
__ADS_1
Pangeran Kenn angkat tangan lalu berbicara, "Itu bukanlah kecurangan karena sudah tertera dalam peraturannya kau bisa melakukan apapun bahkan membunuh mereka, namun kau tidak membunuhnya melainkan hanya menyingkirkan mereka ke tempat lain agar kau bisa terus maju bukan?" kata pangeran Kenn membela.
"Ck sial!" Decak Angela tidak terima.
"Tapi dia hampir saja membunuhku!" Kata Angela tidak terima.
Namun perkataan Angela tidak digubris oleh pangeran Kenn yang kembali duduk di posisinya.
"Wajar saja pangeran Kenn membelanya, dia adalah tunangannya bukan?"
"Selain itu mereka juga satu team dalam perburuan Minggu lalu, mereka pasti bekerjasama,"
"Aku tidak ingin jika memiliki ratu yang menyeramkan seperti itu kelak, nona Lily terlihat lebih baik dibandingkan dirinya,"
Bisik mereka yang terdengar agak jelas olehku.
"Sa-saya juga ingin memutuskan hubungan dengan pangeran Kenn, karena saya tidak ingin memperburuk citranya yang akan menjadi seorang raja," kata Lavender gagap.
"Apa yang kau katakan!" kesal pangeran Kenn.
"Aku telah menggunakanmu sebagai alatku, selain itu aku telah membunuh pangeran Shun, aku pantas untuk dihukum mati!" tegas Lavender lagi.
Pangeran Kenn terlihat sangat terkejut mendengar perkataan Lavender. Dia tidak bisa membela gadis itu lagi sekarang karena dia pun merasa kecewa kepada tunangannya itu.
Sejujurnya aku diam karena aku tidak bisa banyak berbicara, aku juga tau kalau kakakku yang salah jadi aku tidak ingin membelanya.
"Baiklah sudah cukup, kau sudah mau mengakuinya itu sudah bagus, selanjutnya kau harus berhadapan dengan hakim untuk memutuskan seperti apa hukumanmu nanti," kata ayahanda tanpa menatap Lavender sama sekali.
"Kakak..." Lirihku pelan.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...