
Tidak masalah jika kakakku itu tidak mau mengajarkan ku sihir-sihirnya. "Humpp!" Aku menggembungkan pipiku lantaran merasa sangat kesal, karena setelah dia mengucapkan kalimat itu, langsung pergi begitu saja meninggalkan ku. Sekarang aku hanya sendirian disini.
Ayahku jarang sekali ada di rumah dan kalaupun ada, maka waktunya disini sangatlah singkat. Dia sibuk mengurus perkaranya itu sendiri. Entah apa yang dilakukannya hingga jarang berada di rumah.
Apakah dia sibuk menggalakkan bisnis nya atau mengurus wilayah kekuasaan nya? Aku tidak peduli sama sekali.
Tidak lama setelah itu Elissa datang menghampiri ku. Dia hanya tersenyum sambil berkata "Nona Alexa, apakah anda sudah selesai minum teh nya? Kalau sudah akan segera saya bersihkan"
Aku meliriknya sekilas kemudian menggeleng.
"Kau bisa duduk ditempat kakakku, dia juga sudah pergi kedalam" jawabku.
"Ti tidak mungkin, seorang pelayan seperti saya tidak boleh makan atau minum semeja dengan orang seperti anda tuan, saya merasa sungkan... Terimakasih atas tawaran nya"
"Kalau begitu ini bukan tawaran tapi perintah" ucapku santai sambil tersenyum licik. Kalau sudah begini dia pasti tidak bisa menolak ku kan. Hehe
"Tidak bisa nona, memberikan perlakuan khusus seperti itu tidak boleh dilakukan kepada pelayanan"
Baiklah dia sekarang sukses membuat ku jengkel. Aku segera beranjak turun dari tempat dudukku dan menyeretnya untuk duduk di hadapan ku. Dia sama sekali tidak menolak atas tindakan ku tersebut.
"Diam dan duduk saja temani aku" ucapku kemudian. Aku merasa senang karena pada akhirnya dia menuruti ucapan ku.
"Elissa mulai besok aku akan belajar pedang, setelah ini carilah sebuah pedang kayu buat untuk ku dan sebuah boneka sebagai objek latihan ku" titahku padanya setelah kembali duduk di kursiku semula.
Elissa menatap ku kaget namun tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulut nya meskipun dia tampak ingin mengucapkan sesuatu.
"Baiklah Nona" ucapnya sambil tersenyum.
'Apakah orang ini tidak capek tersenyum? Setiap hari setiap saat selalu tersenyum.. kalau aku adalah pria aku pasti akan suka menatap nya.. tapi majikan mu ini wanita..'
Aku menyadari bahwa pelayan di hadapan ku sedari tadi belum meminum teh secangkir pun. Aku hanya geleng-geleng kepalaku melihat tingkah malu-malu kucing nya. Ia pasti sebenarnya mau meminum tapi merasa sungkan karena itu adalah teh berkualitas tinggi yang harganya pun sangat mahal.
"Minumlah jangan hanya menatapnya saja"
"Ahh i_iya terimakasih Nona.."
.
.
.
Tepat hari ini adalah Minggu kedua saat aku membolos dari sekolah. Aku menatap tubuhku dicermin dan memperhatikan pipiku yang tampak tembem... Aih seperti nya anak kecil seperti ku cepat sekali gemuknya. Bagaimana tidak bisa tidak gemuk kalau pekerjaan ku hanya makan belajar dan tidur.
Kebetulan sekali saat ini aku akan melakukan pemanasan lari keliling mansion lima putaran dan latihan berpedang secara otodidak.
Aku mencari celana yang dapat ku pakai untuk berolahraga di lemari tapi tidak menemukan nya. Terlalu banyak deretan gaun dan rok yang sepasang dengan baju disini.
'apakah aku perlu membuat pakaian atau beli saja yaa... Hmmm kalau membuat pakaian baru pasti aku akan membutuhkan waktu lama, lagian aku tidak memiliki mesin jahit ataupun jarum meskipun bahan kainnya sendiri aku bisa mengambil dari potongan gaunku' pikirku.
"Cepat panggilkan Elissa" perintah ku pada pelayan yang kebetulan lewat di depan kamarku. Dia hanya mengangguk lalu segera pergi. Setelah beberapa saat kemudian muncul pelayan pribadi ku itu yang langsung menghampiri kum
"Ada perlu apa Nona Alexa mencari ku?" Tanyanya sopan.
Aku tersenyum sumringah, lalu tangan kananku segera menunjuk kearah luar jendela kamar. Sebelah tanganku meletakkan dipinggangku dengan bangga.
"HARI INI KITA AKAN BERBELANJA!" Ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku.
"Tapi nona bukankah kau mau_"
"Aku pasti akan melakukannya! tapi aku harus mencari pakaian yang nyaman untuk kukenakan" tukasku.
__ADS_1
"Baiklah aku akan segera mempersiapkan uangnya" ucapnya kemudian pamit.
Kemudian aku melangkahkan kakiku menuju keluar mansion dan menunggu pelayan itu datang kepadaku. Saat Elissa tiba dia memasangkan sebuah topi Floppy cream dengan aksen bunga-bunga merah muda di kepalaku.
"Anda terlihat imut Nona" ucapnya memujiku.
"Hump! Emang aku udah imut dari sana nya" Jawabku sambil berpaling dari senyum nya. Kemudian kami pun segera melangkahkan kaki menuju kereta kuda yang biasa kami tumpangi.
.
.
.
Setelah kami sampai di pasar kami berhenti di sebuah butik besar yang pengunjungnya cukup ramai. Butik itu sendiri terletak di sebelah toko kue yang sangat ramai. Lain kali aku akan mengunjungi toko itu.
"Elissa coba carikan untukku pakaian yang menggunakan celana dan enak dipakai untuk berolahraga, berburu ataupun kegiatan semacam itu" titah ku pada Elissa.
"Baiklah nona"
Pelayan itu segera pergi mencari pakaian yang cocok untuk ku sementara aku hanya menunggu sambil cuci mata melihat pakaian yang bagus-bagus. Aku enggan membelinya karena takut tidak kepakai dan terbuang begitu saja.
Tiba-tiba saja pandangan mataku tertuju pada seseorang yang memakai jubah hitam dan tertutupi kepalanya.
"Siapakah orang yang jelas sangat mencolok itu?" Batinku heran.
Lagian ngapain coba kalau bersembunyi di tengah keramaian malah berpakaian aneh seperti itu. jelas-jelas itu malah mengundang perhatian orang-orang yang melihatnya.
Kemudian aku mengikuti orang itu yang kebetulan berhenti tepat di toko kueh disamping butik ini.
'Aduhh Alexa,... Kamu cari masalah yaa.. kenapa malah ngikutin orang yang enggak dikenal' batinku kemudian.
'Heh bagaimana bisa orang sebesar itu ditabrak olehnya? Apa tidak kelihatan? Ataukah dia terdorong oleh orang lain?! Yaa mungkin saja karena pintu masuknya lumayan ramai.
"Maaf aku tidak sengaja tuan" ucap lily merasa malu sekaligus bersalah.
Ahh ini menarik untuk ku tonton... Akupun segera menarik topi yang ku kenakan hingga maju kedepan menutupi muka. Namun aku masih dapat melihat mereka dengan jelas. Tunggu-tunggu... Untuk apa aku melakukan ini?... Pikirku yang merasa heran.
Ini adalah kisah sang protagonis dalam novel, melihat kejadian ini membuat ku seperti menonton adengan syuting film secara langsung... Aku tidak boleh melewatkan nyaa seperti dulu.
"Tidak apa-apa" jawab orang itu dengan nada lembut. Aku terperangah saat mendengar laki-laki itu yang terasa familiar. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka yang kebetulan sekali keduanya sama sama hendak melangkah masuk kedalam toko kue itu. Lalu aku segera bersembunyi diantara beberapa pengunjung. Aku merasa diuntungkan karena tubuhku yang kecil dan pendek, sehingga dapat bersembunyi dengan mudah.
.
.
.
Lelaki itupun membuka tudung yang menutupi kepalanya hingga tampak wajahnya. Namun aku tidak berhasil melihat nya meskipun sudah berusaha untuk mencobanya.
"Saya ingin yang ini"
"Saya beli kue ini"
Ucap keduanya secara bersamaan. Reflek keduanya saling menoleh dan merasa terkejut.
Sang pelayan toko tersebut tersenyum kikuk saat melihat tingkah mereka.
"Sepertinya kalian jodoh" Ucapnya sambil tersenyum. Keduanya hanya saling menggelengkan kepala dengan kompak.
"Ahh silahkan nona saja yang mengambilnya" Akhirnya laki-laki itu mempersilahkan Lily terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tidak tidak... anda saja tuan" Kata Lily yang merasa sungkan.
"Nona saja yang mengambilnya, saya akan cari yang lain".
"Ahhh te_terimakasih" akhirnya Lily Collans mengambil kue yang mereka perebutkan tadi.
"Ngomong-ngomong, kue yang biasanya disukai anak kecil apa ya?" Tanya laki-laki itu. Yang membuat ku tersentak saat mendengar nya.
Kenapa jantungku yang dag Dig Dug duhh...
"Ehh mau kasih ke adiknya ya?"
"Bisa dibilang begitu"
Hufftt... Entah kenapa aku merasa lega saat mendengar jawabannya.
"Apakah dia perempuan? Kebanyakan perempuan menyukai rasa coklat atau strawberry"
"Baiklah, terimakasih"
"Iyaa.. sama-sama"
Akhirnya pria itu segera mencari dan membeli kue kering pilihannya. Setelah itu ia segera membalikkan badannya untuk berlalu pergi. Tepat saat itu aku berhasil melihat wajahnya dengan sangat jelas.
JEDARRT!.. JEDAARRRTTT!!...
Rasanya terdapat banyak petir menyambar di kepalaku, karena saking terkejutnya.
Ohh tidak! dia adalah...
"PANGERAN SHUN??!" Seru Lily pada orang itu yang ternyata adalah Pangeran Shun. Orang yang dipanggilnya itu rupanya hendak beranjak keluar dari pintu toko kue ini. Pangeran Shun pun menghentikan langkahnya karena merasa terpanggil. Sedangkan banyak pasang mata yang kini juga turut melihat kearah mereka.
"Itukah namamu tuan?" Tanya lily kepadanya.
Pangeran Shun hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, kemudian berlalu pergi. Setelah itu, Lily tampak bergumam sesuatu dan terlihat hendak mengejar Pangeran Shun, tapi ia mengurungkan niatnya.
Aku hanya menatap ke arah perginya Pangeran Shun sambil berusaha menahan dentuman jantung ku yang begitu hebat, dengan memegang dadaku menggunakan sebelah tangan yang sedari tadi terus mengepal karena gugup.
Haahh... Yaampun Pangeran Shun.. Dua Minggu tidak ketemu saja sudah terlihat sangat tampan dan imut... Sepertinya saat ini juga aku akan meleleh karena melihat senyuman manisnya itu. Walaupun senyuman itu bukan ditujukan pada ku.
Aku pun terduduk lemas sambil menutupi wajah dengan kedua tanganku saat Lily sudah pergi dari toko kue itu. Aku berusaha menahan rasa haruku yang mulai membuncah dan aku merasa kini air terjun yang sudah berusaha ku hambat mengalir deras dari kedua mataku. Beberapa orang pun melihat ku sambil bertanya-tanya "anak siapakah gerangan yang tersesat disitu?".
"Akhirnya... Akhirnya aku melihatnya..." bisikku pelan pada diri sendiri.
Beberapa hari tanpa bertemu dengan Pangeran Shun terasa sudah bertahun tahun berpisah dengan nya. Meski hanya melihat nya dari jauh saja aku sudah merasa bersyukur dan bahagia karena orang yang ingin ku lindungi ternyata baik-baik saja keadaannya.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1