Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 74 : Restu Raja Ratu


__ADS_3

"Aihhh Vampire sialan itu berani-beraninya dia mengambil darah dari orang lain!!" Geram lavender.


Dia merasakan sakit yang luar biasa di lehernya kemudian dia langsung terjatuh lemah dilantai.


"Nona kau tidak apa-apa? Kau terlihat sangat pucat..." Ucap seorang pelayan yang langsung membantu Lavender beranjak dan menidurkannya di atas kasur.


"Aku harus melakukan sihir teleportasi untuk memanggil Vampire gila itu!" Ucap Lavender dengan tergesa-gesa.


"Tapi nona bukannya belum 1000 jam tapi kau sudah ingin melakukan sihir teleportasi lagi?"


"Aku belum melakukannya dua kali karena Pangeran Kenn yang saat itu membawaku pulang,"


"Baiklah kalau begitu."


"TELEPORTASI!"


Tidak lama setelah itu muncullah seorang lelaki yang berjubah hitam penuh dengan noda darah di sekujur tubuhnya.


"Kau berani-beraninya mengambil darah orang lain! Dasar familiar bodoh!" Rutuk Lavender kasar.


Adrain mengusap bibirnya pelan kemudian menatap lavender tak peduli, lalu beralih mengitari pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu.


"Oh ternyata aku sudah dipanggil yah," Ucapnya dengan tenang sambil membersihkan noda darah yang tersisa ditangannya dengan lidahnya.


Lavender mengalihkan pandangannya ke tempat lain, tidak ingin melihat sosok mahluk serakah yang berada dihadapannya.


Tok... Tok... Tok...


KREEKKK...


Pintu pun terbuka menampilkan sosok Pangeran Kenn yang sedang membawa sebuah buku di sana.


Siapa laki-laki itu? Batinnya heran.


Tapi Pangeran Kenn tidak ingin ambil pusing dan langsung menuju ke tempat dimana lavender terduduk.


"Ini," kata Pangeran Kenn sambil menyerahkan sebuah buku itu.


"Terimakasih," Balas Lavender langsung.


Setelah itu Pangeran Kenn hendak beranjak dari sana tapi baju belakangnya ditahan oleh tangan lavender.


"Tetaplah disini," kata Lavender dengan tangan yang mulai bergetar.


"Kenapa denganmu? Putri Lavender..." Tanya Pangeran Kenn.


"Sa-kit..." Kata Lavender sambil menunjukan tanda aneh yang barusaja tercipta di lehernya.


Pangeran Ken tersentak, "Ini... Jangan bilang kalau dia itu..." Kata Pangeran Kenn sambil melirik ke arah Adrain.


Lavender mengangguk lemah, "Familiar ku, dia berulah, mengambil darah orang lain selain dariku," jawab Lavender Kethzie.


Adrain tetap tidak peduli pada pemandangan dihadapannya, dia juga merasakan sakit, tapi dia tidak berlaku manja seperti itu di hadapan orang lain. Lagian salah siapa yang meninggalkan dia dalam kondisi yang dapat saja suatu waktu merasakan haus yang tak tertahankan.


Pangeran Kenn terdiam, dia tidak tahu harus melakukan apa dan juga sebenarnya dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan gadis didepannya itu.


Lavender terdiam kemudian menyibakkan selimutnya dan berjalan ke arah cermin, dia berkaca untuk melihat sebuah tanda terkutuk yang tercipta di lehernya.


Dia membulatkan matanya lebar-lebar ketika melihat sebuah lambang yang sangat dikenalinya. Lambang bintang saint.


"Kau, siapa orang yang kau gigit?" Tanya Lavender yang justru terlihat senang.


"Tidak tahu," jawab Adrain kesal.


"Hemmmm menarik, ini adalah lambang saint yang sangat kukenal, mungkin saja itu adalah saint yang selama ini merebut ibunda Claire dariku!" Katanya dengan nada sinis.


"Uhukkk uhukk!!" Pangeran Kenn tiba-tiba saja terbatuk.


Jangan bilang di Vampire itu barusaja menggigit Pangeran Shun?! Batin Pangeran Kenn.


"Kerja bagus Adrain, sekarang ada misi baru untukmu, yaitu menyelidiki saint yang kau gigit itu!" Titah lavender sambil tersenyum jahat.


.


.


.


***


.


.


.


Kecha terdiam sambil duduk di bawah pohon sakura yang dihujani oleh salju di dekat mansion keluarganya. Dia berharap suatu saat waktu ada di pihaknya.

__ADS_1


Kecha mengingat kejadian beberapa pekan yang lalu.


Disaat semua orang sibuk berduka dia dengan polosnya berdiri dan bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan? Kenapa pesta yang harusnya meriah jadi penuh dengan limpahan darah?!


Saat itu ia merasa dia begitu bodoh dan bersalah karena tidak beda disisi merek terutama keluarga kerajaan.


Saat itu Alexa lah yang berada disana, dialah yang melindungi dan menguatkan Pangeran Zio, padahal Kecha ingin yang berada di posisi itu. Tetapi Alexa mengambilnya, lagi-lagi Alexa yang mendapatkan segalanya yang dia inginkan.


Tetapi apa yang dapat dia lakukan? Dia tidak punya sedikitpun kekuatan, dia tidak punya senjata, bahkan dia tak punya apapun yang dia gunakan untuk dapat melindungi Pangeran Zio dan yang lainnya, tidak seperti Alexa.


Sekarang Alexa menjadi seorang putri dan akan tinggal di istana bersama pangeran Zio, mereka akan semakin dekat. Kecha tidak ingin hal itu terjadi. Tapi apa yang bisa dia lakukan?! Dia hanyalah manusia biasa yang terlahir tanpa potensi sihir.


Terlebih lagi malam itu ( Di Chap.67 ), dimana dia melihat mereka berdua sangat dekat, Alexa ada disana untuk menghibur Pangeran Zio dan memberikannya sebuah jimat keberuntungan yang di dapatkan dari di mansionnya ( Chap. 52 ).


Kecha menghela nafas, "Tidak boleh, aku tidak boleh iri dengan penyelamat ibundaku!" Elak Kecha sambil meyakinkan diri.


"Tapi... tidak bisaa... Huaa aku sangat iri dengan Lecaaaaaaa!!! Biarkan aku merebut Pangeran Zioooo kumohon biarkan dia bersamakuuuuu! Aku menyukainya sejak di chapter 30!" Teriak Kecha nyaring.


"UPS mati aku!!" Kata Kecha sambil menutup mulutnya.


"Kenapa? Ada apa sayang?" Tanya ibunya yang langsung buru-buru keluar mendengar teriakannya anaknya.


"Tidak apa-apa ibunda, aku hanya abis melihat kecoa saja lewat di tanah hehe," jawab Kecha bohong.


Ibundanya itu melirik ke arah tanah bersalju yang sangat nihil untuk dilewati kecoa, dia sudah tahu bahwa Kecha berbohong dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.


.


.


.


***


.


.


.


Pangeran Shun bangun dari pingsannya, saat dia bangun di dalam ruangan itu ada kakaknya yang tidur di kursi menjanganya di saat tidur.


Dia menghela nafas panjang, pasti dia telah membuat mereka semua merasa khawatir dengan keadaannya.


Pangeran Shun tersenyum tipis kemudian beranjak menghampiri kakakknya itu.


Pangeran Orion menyipitkan matanya kemudian mengerjap sebentar. "Woaah adikku sudah bangunnn!!" Sambutnya senang sambil menyambar dan memeluk Pangeran Shun erat.


"Maaf sudah membuatmu khawatir kak,"


"Aku kira kamu tidak akan bangun lagi untuk selamanya huhu,"


"Lahh kau terlalu berlebihan,"


"Ini benar, aku tidak berlebihan, tapi percaya tidak? kau sudah tidak sadarkan diri selama satu satun!"


Pangeran Shun menggelengkan kepalanya cepat, "Jelas saja tidak percaya," jawabnya langsung.


"Kalau kau tidak percaya kau bisa temui Erdwan dan Elaine, tapi mereka sedang berada di desa Monorine untuk melakukan suatu misi yang di beri raja, mereka lah yang selama ini menggantikan pekerjaanmu di saat kau sedang koma,"


Pangeran Shun terdiam, tiba-tiba teringat dibenaknya tentang Elaine, "Ohh iya Elaine, apa dia baik-baik saja?"


"Yapss dia sangat baik, dia juga menyesal telah berbuat seperti itu kepadamu, tetapi dia diberikan hukuman yang cukup berat sihh... Itu lumayan pantas untuknya,"


"Ohh," jawab Pangeran Shun, dia tidak peduli dengan hukuman yang diberikan oleh raja kepada Elaine. Yang penting gadis itu sudah kembali menjadi Elaine yang dulu dan menerima kenyataan, itu sudah cukup baginya.


"Baiklah aku ingin berjalan-jalan, bisakah Pangeran Orion menemaniku?"


"Tentuuu."


Setelah itu mereka berdua menuju ke tempat yang dulu menjadi tempat kediaman keluarga Whiteheart yang sudah jadi puing-puing reruntuhan.


"Kenapa kau ingin kesini?" Tanya Pangeran Orion yang memang tidak tahu apapun.


"Tidak apa-apa, hanya rindu seseorang di tempat ini,"


Pangeran Orion menatap curiga ke arah Pangeran Shun, "Apakah kau menyukai Elaine?" Tanyanya dengan wajah yang ingin menuntut penjelasan.


"Tidak, aku hanya teringat dengan mendiang kakakknya, dia adalah guruku, tapi karena suatu hal yang tidak bisa aku jelaskan, dia meninggal bersama seluruh keluarganya, hanya Elaine lah yang tersisa, wajar saja jika dia menyimpan dendam padaku," jelas Pangeran Shun dengan nada melemah.


"Ahh soal itu, aku pernah mendengar rumor bahwa kau membunuh banyak orang saat berumur 6 tahun, aku tidak menyangka ternyata mereka juga adalah korbannya, aku mengerti, pasti sulit mengendalikan kekuatan sebesar itu," kata Pangeran Orion sambil menepuk keras pundak Pangeran Shun.


"Terimakasih kak, sudah menemaniku berjalan-jalan, sebaiknya kita segera kembali," ajak Pangeran Shun lalu pergi meninggalkan Pangeran Orion.


"Hei tunggu! Kau ini baru siuman tapi tenaganya udah penuh aja!" Cerocos Pangeran Orion sambil membuntuti langkah Pangeran Shun.


"Aku ingin menemui ibunya ratu dan raja, aku ingin bicara sesuatu padanya, ini perbincangan serius," kata Pangeran Shun tiba-tiba.

__ADS_1


"Haaaaa.. serius? Seperti ingin menikah saja... Yaampun Pangeran Shun jangan terlalu kaku jadi orang!" Ucap Pangeran Orion sambil tertawa kecil.


"Iya kak aku ingin segera menikah! Ini penting untuk keberlangsungan hidupku... Kumohon restuilah aku!"


"Uhukkk uhukk uhukkk uhukk uhukkk!!" Kata Pangeran Orion sambil kewalahan karena dia tersedak tiba-tiba.


"Kau tidak apa-apa kak?" Tanya Pangeran Shun khawatir, sedangkan Pangeran Orion mengangkat tangannya mengisyaratkan tanda 'stop' untuk bertanya.


Setelah beberapa saat kemudian dia malah tertawa sampai air matanya mengalir, "Bwahahahhahaahh!! yaampun Pangeran Shun kau pintar sekali membohongiku dengan hal-hal yang seperti ini!" Katanya sambil mengusap air matanya yang sudah keluar karena tertawa terbahak-bahak.


Pangeran Shun memegang keningnya yang ia rasa sedikit pusing, "Ini serius, aku tidak bercanda," ucapnya lagi.


Pangeran Orion membelalakkan matanya kemudian berlari langsung cepat menuju ruang dimana ayahnya bekerja.


BRAKKK


Suara pintu terbuka dengan kasar kemudian menampilkan sosok yang familiar bagi mereka, "AYAHH! PANGERAN SHUN INGIN MENIKAH!!" Teriaknya tanpa mengucapkan salam hormat kepada sang Raja.


Raja Arrenthia terkejut kemudian wajahnya langsung berubah pias, "Kau ini berbicara apa-apaan sih, adikkmu Pangeran Shun masih belum cukup umur untuk melakukan pernikahan!" Katanya tidak setuju.


"Tidak ayah... Dia serius katanya dia mau menikah!" Ucap Pangeran Orion mantap.


Raja Arrenthia itu memijat keningnya lalu menghela nafas panjang, "Di mana sekarang Pangeran Shun bawa dia segera kehadapan ku," titahnya.


Pangeran Shun yang sudah melihat percakapan mereka kemudian dia langsung menghampiri ayahnya dengan langkah mantap. Jujur hatinya saat ini seperti sedang diterjang badai, mungkin saja orangtuanya tidak akan langsung menyetujui alasannya melakukan hal ini.


"A-ayah aku--"


"Apa benar kau ingin menikah?!" Tanya sang ayah dengan nada tinggi.


Pangeran Shun menelan salivanya kasar, "Iyaaa... Aku ingin melakukannya karena suatu hal,"


"Karena ingin cepat-cepat punya babuy kan?..." Goda seseorang yang sudah datang membawakan beberapa cangkir teh di nampan. Dia adalah ratu Media, ratu Arrenthia sekaligus ibundanya Pangeran Shun.


Wajah Pangeran Shun merona seketika, kemudian langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Bukan itu!" Elak pangeran Shun.


"Fuufufu ibu tau kau sangat menyukai anak-anak kecil, apalagi kalau bukan itu alasannya," goda ratu Media lagi.


"Aku setuju kalau kau ingin menikah, tapi lebih baik kau menikah dengan wanita yang lebih tua darimu beberapa tahun, supaya bisa mendewasakan sifat kekanak-kanakan mu," kata Pangeran Orion sambil menepuk-nepuk bahu Pangeran Shun.


Pangeran Shun menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu siapa calonnya, tapi aku ingin menikah dengan seorang wanita yang memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit," ujar Pangeran Shun yang langsung membuat mereka semua berwajah datar.


"Sangat mustahil untuk menemukan wanita seperti itu, apakah kita harus mengadakan sayembara? Ohh iya sebentar lagi ada pesta kesembuhan dan kedewasaan Pangeran Shun tahun, apa mungkin saat di dua acara itu saja kita mengadakan sayembara?"


Pangeran Shun menghela nafas berat, "Tidak usah ibunda, aku akan mencarinya sendiri, oh iya selain itu aku juga akan menikah dengan seorang wanita yang sudah melamarku beberapa tahun yang lalu,"


Mereka semua terkejut, kemudian menggelengkan kepalanya pelan, "Ternyata kau sungguh tamak, tidakkah kau mau berbagi satu untukku?" Tanya Pangeran Orion sambil menatap Pangeran Shun penuh harap.


"Tidak," jawab Pangeran Shun tegas.


"Jadi apa yang akan kau lakukan terlebih dahulu?" Tanya sang ayahanda.


"Aku akan kembali ke kerajaan Frost kemudian bersama dengan wanita itu aku akan mencari wanita yang ku incar,"


"Lahh kalau begitu mana mungkin dia mau dimadu," seloroh Pangeran Orion.


"Jika dia seperti itu maka... Aku hanya akan menyuruh wanita yang ku 'incar' sebagai pengawal pribadiku saja,"


"Terserah deh," kata Pangeran Orion tidak mau berdebat.


Raja Arrenthia justru terlihat semakin dipusingkan dengan keinginan putra bungsunya, tetapi dia tidak ingin menolak permintaannya, Pangeran Shun pasti memiliki maksud tersembunyi yang kuat untuk menikahi gadis-gadis itu. Ia percaya kalau anak bungsunya itu bukan seorang pria hidung belang yang mencari kesenangan saja.


"Baiklah jika keinginanmu seperti itu, tetapi ingat kalau kamu adalah seorang putra mahkota, setelah menikah berarti kau sudah siap untuk menjadi seorang raja Arrenthia menggantikan posisiku nanti,"


"Satu hal lagi, kau boleh pergi mencari gadis itu kalau kau sudah menyelesaikan misi terakhirmu yang kuberikan, yaitu kalian bertiga ( Erdwan, Elaine dan Shun ) menuju kerajaan Avanxenia." Imbuh Raja.


Mimik wajah Pangeran Shun berubah menjadi sumringah kemudian langsung mendekat kearah ayahnya sambil mencium punggung tangan sang raja, sebagai bentuk terimakasih dan rasa hormat.


"Aku tidak percaya ini, aku dilangkahi adikku sendiri," gerutu Pangeran Orion.


"Ayolah umurmu masih muda sayang, hanya beda beberapa bulan saja dari pangeran Shun," hibur Ratu Media sambil mengacak-acak rambut Pangeran Orion pelan.


Sesulit apapun aku mencarinya, aku tidak akan menyerah, aku yakin pasti akan segera mendapatkannya, ini adalah caraku berusaha mempertahankan hidupku dan membahagiakan orang-orang yang menaruh harapan besar padaku, aku pasti tidak akan mengecewakan kalian!. Batin Pangeran Shun.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2