
"Tetapi sebaiknya hal itu kita lakukan nanti, sebaiknya kita harus memilih permata yang diinginkan Alexa untuk dijadikannya hadiah kepada raja Dylan," Usul pangeran Shun.
Aku mengangguk sambil mengacungkan ibu jari ku, karena mengingat waktu kami sangat sedikit sekali dan harus menghadiri acara penyambutan musim dingin atau festival tahunan musim salju.
Sepertinya sekarang bahkan sudah turun salju diluar, karena aku merasakan udara dingin yang menusuk hidung dan tulangku, bila aku berbicara juga sering terlihat kepulan asap putih di hadapanku yang merupakan nafasku sendiri.
Kami pun berjalan cukup jauh dari ruangan tadi menuju ke ruangan yang berwarna dominan putih berukir cat emas yang terkesan sederhana namun cukup besar dan mewah.
Di sampingnya terdapat lemari kaca panjang yang di dalam lemari tersebut berisikan banyak pernak-pernik dan perhiasan indah serta memukau mata.
Aku terus berdecak kagum namun suasana disini begitu dingin sehingga membuatku menggesek-gesekkan tanganku dengan cepat.
"Apakah kau mau kuhangatkan dengan bulu serigalaku?" Tanya Chaser karena melihat ku menggosok gosokkan lenganku karena kedinginan.
"Tidak, terimakasih," tolakku langsung. Segeraku raih pangeran Shun lalu menaruhnya di pipiku, supaya dia dapat merasakan hawa dingin ditubuhku.
"Aku bukan boneka, dan aku seorang pria hei!" teriaknya sambil memberontak.
"kamu hanyalah seekor burung!." Tukasku sambil memajukan bibirku karena pangeran Shun berhasil lari dari genggamanku.
Langkah kami pun terhenti pada sebuah kotak kecil seperti peti.
"Ini adalah permata istimewa turun temurun milik keluarga Florist, seseorang yang menyimpan atau memakainya dipercaya akan membawa kehidupan mereka dalam kedamaian dan ketentraman, kami akan memberikan benda ini kepadamu namun bukan untuk kau hadiahkan." Ujar Nyonya Countess sambil membuka peti kecil tersebut dengan penuh hati-hati.
Aku tersenyum senang, benda seperti itu mungkin sangat berguna bagi pangeran Shun yang memiliki tujuan searah dengan kegunaan permata jimat itu. Mungkin saja itu bisa merubah takdir buruk yang akan menimpanya.
Seketika aku menggelengkan kepalaku sendiri, huh sejak kapan aku percaya hal begituan!.
"Aku tidak butuh sesuatu yang seperti itu, mungkin jika benda itu diberikan kepada Alexa aku akan senang," tolak pangeran Shun lembut.
Aku tersentak. "Kok aku sih?!" protesku kesal.
"Lagian kalau diberikan kepadaku emang aku bisa memakainya?" tanya pangeran Shun balik.
Aku menggeleng kepala dengan cepat. "Tentu saja tidak bisa," jawabku sambil cengengesan.
"Tapi bentuknya terlalu indah, aku tidak pantas untuk memakainya." Ucapku karena merasa kurang percaya diri memakai benda seperti liontin yang cantik itu, lagian aku sudah cukup hanya memakai satu aksesoris yang berwarna ungu kesayangan ku.
"Hem... Benda ini untuk disimpan juga tidak apa-apa, tetapi bila dipakai akan lebih baik lagi, jadi sebaiknya kamu simpan saja nona Alexa," kata nyonya Countess terkesan sedikit memaksa.
"Tidak aku..."
"Bagaimana kalau aku sedikit merubah bentuknya." Pangeran Shun mengusulkan sesutu yang membuat aku dan yang lainnya menaikkan sebelah alis kami.
"Seperti ini...." Kata pangeran Shun yang langsung mengambil benda tersebut di paruhnya.
Seketika benda itu berubah menjadi dua buah jepit rambut berwarna ungu polos yang indah.
Aku tercengang hingga tidak dapat mengatupkan mulutku.
"Pakailah ini, nona Alexa." Katanya sambil membawa benda itu ke tanganku.
Berkali-kali aku berkedip namun aku tidak bisa berhenti untuk tidak kagum akan keajaiban aneh ini, begitu juga yang lainnya.
Kalau pangeran Shun yang memaksanya tentu saja aku tidak bisa menolak.
"Hemp... menarik, sepertinya familiar mu itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa." Ucap nyonya Countess karena telah berhasil mengubah bentuk benda berharga tersebut.
__ADS_1
Aku mengangguk saja, dia tidak mengetahui bahwa itu adalah pangeran Shun, dan kebanyakan mengira burung itu adalah seorang familiar.
Karena hal itulah aku dimasukkan ke kelas penyihir meskipun aku tidak punya sihir sama sekali, dan hal itu menjadi beban berat bagiku karena aku harus melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan... Seperti ucapanku dulu, untung saja ada Chun dan Chaser yang selalu ada untuk menolong ku.
Beralih ke sekarang, kini aku memakaikan dua jepit rambut kecil itu di dekat telinga kiriku, aku melirik sekilas melihat reaksi mereka yang tersenyum lega melihat pemberian ini akhirnya kuterima.
Selanjutnya kami beralih mencari hadiah untuk raja Dylan.
Aku terus mencari-cari apa yang sebaiknya kuberikan sambil bertanya-tanya dalam hati 'apakah seorang raja seperti dia menyukai perhiasan?'.
Lagi-lagi pangeran Shun menolongku dengan merekomendasikan beberapa benda yang mungkin akan disukai oleh pria seperti pangeran pertama sekaligus raja, Dylan.
Kini aku hanya tinggal memilih antara cincin, Bros atau mahkota yang akan kuberikan.
Aku menggelengkan kepalaku kepada cincin dan mahkota, karena itu bukanlah benda layak yang sebaiknya dihadiahkan olehku, sehingga aku memilih Bros saja.
Bros itu sangat terlihat tidak mencolok dan hanya berbentuk huruf D saja, mungkin itu cocok untuknya.
Aku menghembuskan nafas panjang, sebaiknya aku menambahkan efek sihir kepada Bros ini supaya menambah nilai tambah hadiahku.
"Apakah berlian ini bisa di tambahkan sihir? Atau mantra pelindung untuk yang memakainya?" tanyaku pada nyonya Countess.
"Tentu," jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Mantra apa yang ingin kau tambahkan aku akan mencatatnya dan memberikan benda itu kepada penyihir untuk disihir," kata seorang pria yang tiba-tiba sudah ada disamping Kecha.
"Aku sudah menduga kau pasti akan meminta hal seperti itu, jadi aku membawa pelayan ku kesini," jelas Kecha.
Aku membulatkan mulutku sebagai tanda mengerti atas penjelasan singkat Kecha.
"Pelindung dari serangan seperti sihir dan benda tajam, melipat gandakan kekuatan sihir si pemakai dan menambah kekebalan tubuh si pemakai," jawabku sambil menautkan alisku karena berusaha keras untuk berfikir.
"Kau jangan meremehkan barang buatan kami!," ketus Kecha sambil mengambil Bros kecil yang ku pegang.
"Baiklah sekarang tinggal merias Ratu kecil kita," Kata nyonya Countess sambil menarik paksa tanganku.
"TIDAAAKK!!." Teriakku panik sambil memberontak tetapi sulit lantaran dua lenganku sudah di tahan dan mereka meyeretku untuk pergi.
Ini terlalu cepat, aku belum menyiapkan mental ku dulu hiks...
.
.
.
Kira-kira sudah sekitar dua jam berlalu aku duduk dengan tegang di atas kursi rias milik salah satu anggota keluarga Florist. Aku memutar bola mataku sesekali mencuri pandang ke arah Kecha, Chaser dan pangeran Shun namun aku tidak begitu jelas mendengar percakapan mereka, aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan, mereka hanya menatapku sesekali sambil bergosip ria kemudian tertawa renyah.
Sedangkan wajahku disini terus dicampur oleh bahan-bahan kimia hingga membuat wajahku seketika berubah drastis. Meskipun ini tidak menyiksaku ku tetapi ini cukup merepotkan ku.
Setelah proses make up nya selesai nyonya Countess tersenyum puas dengan karya seninya yang melekat di wajah imutku.
Aku dihadapkan pada sebuah cermin besar yang memantulkan bayanganku. Sehingga aku merasa pangling sambil berdecak kagum.
"Be-benarkah ini aku?." Tanyaku pada nyonya Countess.
Nyonya Countess mengangguk singkat sambil tersenyum lebar kearahku.
__ADS_1
Aku tersenyum puas, dan aku merasa yakin sekali jikalau aku berbalik pangeran Shun pasti akan jatuh cinta sampai tergila-gila padaku.
Make up di sini, maksud ku di dunia ini bahkan jauh lebih baik hasilnya dari pada dunia tempat ku hidup beberapa tahun lalu.
Semuanya benar-benar mahal dan berkualitas mungkin saja pembuatannya di tambah sedikit sihir yang dapat meningkatkan efek yang di hasilkan oleh make up nya.
Aku tersenyum sumringah kemudian berdehem tiba-tiba sambil berbalik dengan angkuh, dan sedikit menebarkan pesona luar biasa yang aku miliki.
"AKU ADALAH CALON QUEEN OF ARRENTHIA, ALEXA KETHZIE!... ehem," ucapku dengan lantang.
Dalam hitungan detik ruangan itu langsung dipenuhi oleh suara gemuruh tawa yang renyah dari mereka semua.
"Bwahahahhahaahh"
"Ishh itu adalah cita-cita ku, jangan meremehkan cita-cita ku hump!" kataku sambil melipat kedua lengan ku di depan dada.
"Iya cita-cita jangan ketinggian juga Alexa, nanti jatuh malah nangis..." komentar Kecha padaku.
"Kechaaaa...." Lirihku karena sedih tidak mendapatkan sedikitpun dukungan darinya. Karena artinya kalau Kecha tidak mendukung maka yang lainnya juga tidak ada sama sekali.
"Sudah-sudah, jadi bagaimana hasil kerja ku, bagus tidak?" tanya nyonya Countess kepada kami.
Duhh kok aku yang jadi bahan penilaian jadi gugup begini yah, kalau menurut mereka jelek yang akan dihina kan nyonya Countess bukan aku... Batinku gusar.
"Bagus sekali..." Kecha langsung berkomentar.
"Bagus banget aku tidak menyangka nona bisa jadi secantik itu meskipun masih cebol badannya," kata Chaser.
Mendengar itu senyuman di wajahku langsung memudar dan langsung mendengus sebal, sepertinya dia ketularan dengan Chun sikapnya karena suka mengejek orang.
"Hemm..kurasa tidak buruk," imbuh Pangeran Shun.
Aku menyipitkan mataku menatap sinis kearah pangeran Shun, aku tidak menyangka dugaan ku salah besar. Padahal aku mengira dia akan langsung klepek-klepek kepadaku, tetapi semua harapan itu sirna entah kemana.
"Kau harus memakai gaun ini, biar menambah pesonamu" kata Kecha sambil menunjukan sebuah gaun berwarna biru yang sangat bagus.
"Aku tidak pantas memakainya.." tolakku sopan karena merasa tidak enak telah banyak merepotkan mereka.
"Ohh ayolah tidak boleh ada yang namanya penolakan..." sergah Kecha.
"Tapi..."
"Anggap saja ini sebagai balas budiku padamu karena telah menyelamatkan ibuku,"
"Hem... Baiklah...." Akhirnya aku hanya bisa menyetujui hal itu dengan pasrah.
.
.
.
*****
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...