
"Leca.." panggil Pangeran Zio kepadaku. Dia tampak mulai berjalan mendekatiku yang sedang duduk-duduk santai di bawah pohon.
Aku melirik ke arahnya dan pandangan kami pun bertemu. Dia tersenyum kecil melihat ku saat itu, sementara aku hanya diam. Aku bingung dengan sikapnya yang seperti itu.
Jujur saja aku masih belum mengingat anak laki-laki itu, tetapi bila dia adalah tunanganku aku cukup merasa senang karena memiliki tunangan yang tampan meskipun dia masih kecil, apalagi kalau besar nanti. Ohh ayolah aku tidak bisa membayangkannya seberapa tampan anak itu.
Zio semakin melangkah maju ke arah ku. Aku merasa sesuatu mendorong punggungku dari belakang. Saat ku lihat ternyata empunya adalah Kecha yang sedang nyengir kuda sambil memberikan semangat padaku.
Aku memejamkan mataku sebentar, kemudian bangkit menghampiri Pangeran Zio. "Kenapa?" Tanyaku tanpa basa-basi.
Zio menarik tanganku dengan keras sehingga membuatku hampir terjatuh namun dia langsung menahan tubuhku agar tidak jatuh, tanpa sadar kejadian itu membuat pipiku langsung merona merah muda.
Huh bagaimana aku bisa malu hanya karena tingkah laku bocil?. Batinku.
Dengan cepat Pangeran Zio mendekatkan mulut mungilnya ke telingaku.
"Apapun yang terjadi aku akan selalu menyukaimu dan kamu harus selalu menjadi boneka milikku yang penurut." Bisiknya pelan.
Aku tersentak karena Zio tiba-tiba melakukan sesuatu yang tidak terduga olehku, dia menggigit telingaku pelan dan menggepit dengan bibirnya di tempat umum seperti itu. Meskipun kejadian itu singkat namun itu sangat terasa. Untung saja tidak ada yang melihat kelakuannya. Kalau ada pasti aku akan merasa sangat malu sekarang.
Setelah itu pangeran Zio memanggil Miss Adelle dan beberapa murid untuk mengikutinya, kemudian dia mengambil tanganku dan menuntun ku menuju ke sungai kecil yang tidak jauh dari sana.
Pangeran Zio menyentuh air sungai itu hanya dengan satu jarinya dan saat itu terciptalah sesuatu yang berada di luar nalar ku. Dengan cepat permukaan air itu langsung membeku meskipun tidak keseluruhan sungai, namun itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilakukan anak seusianya, apalagi yang barusan ia lakukan adalah percobaan pertamanya menggunakan sihir.
Aku terperangah tanpa mengatupkan kembali mulutku saking tidak percayanya terhadap apa yang kini kulihat begitu juga yang lainnya.
Miss Adelle tersenyum bangga melihat anak murid kebanggaannya itu tanpa pikir panjang dia langsung menghampiri kami dan memberikan pujian kepadanya.
"Luar biasa, apa yang kamu lakukan sampai bisa mengeluarkan sihir seperti itu." Tanya Natte Pada Pangeran Zio.
"Aku hanya memfokuskan pikiran ku dan menyalurkan energi dan mana yang kurasa cukup pada air ini." Ujarnya sambil melangkah ke atas sungai yang sudah membeku itu.
Saat dia mulai melangkah ke air tersebut lebar permukaan air yang membeku itu makin meluas. Dia pun meraih tanganku dan membawanya untuk berdiri bersamanya di atas air.
"Perlu diingat kalau aku hanyalah seorang pemula, jadi es ini masih lemah untuk dipijak oleh banyak orang." Jelas Pangeran Zio saat melihat beberapa orang lainnya ikut bermain diatas es itu juga.
Pangeran Zio pun segera menarikku ke pinggir saat menyadari es yang kami pijak itu mulai retak karena tidak mampu menahan beban.
Natte juga ikut menyingkir ke pinggir bersama kami sedangkan yang lainnya tidak menyadari meskipun sudah diperingati.
BYUURRR
__ADS_1
Mereka semua pun terjebur bersamaan dalam sungai kecil itu, tidak terkecuali aku, Natte, Zio dan Miss Adelle, kami hanya bisa menatap mereka dengan tatapan kasian sekaligus berusaha keras menahan tawa karena kelalaian mereka.
Untung saja sungai yang dipilih Zio itu dangkal dan tidak ber'arus deras, sehingga mudah bagi mereka untuk menepi.
Natte memutar bola matanya jengah saat melihat seorang gadis kecil mulai mendekat kearah kami dengan tatapan memelasnya. "Dasar bodoh, sudah saja tadi diperingati masih saja ngeyel." Cerocos Natte pada Kecha yang sudah menangis kedinginan di dekat kami.
"Gggtt...ggttt... Habisnya aku tidak melihat retakan apapun di situ hiks ggtt...." Ucapnya membela diri sambil menggigil kedinginan.
"Baiklah anak-anak, itu hukuman kecil bagi kalian yang tidak mendengarkan peringatan, sekarang kalian boleh Istirahat dan membersihkan diri dan mengganti baju di asrama senior kalian." kata Miss Adelle yang terlihat bodoamat dengan siswanya yang sekarang sudah menggigil itu. Miss Adelle memberi kode agar kami mengikuti arahan wanita itu untuk mengekorinya.
Aku dan beberapa murid lainnya menatap tidak suka pada guru itu namun kami semua tetap mengikutinya. Bagaimana tidak? Guru itu bahkan tidak memberi perhatian dan menanyakan kondisi mereka yang sedang menggigil kedinginan.
"Kalian para putri-putri kecil berganti di asrama senior perempuan kalian dan begitu juga sebaliknya." Kata seorang pengawal yang memandu kami. Disampingnya juga ada pengawal lain yang tampak menggiring anak laki-laki untuk memasuki asrama akademi kerajaan khusus putera.
Miss Adelle tampak melangkah ke arah lain dan kami bertiga pun mengikutinya dari belakang. Namun langkah Miss Adelle berhenti kemudian berbalik menghadap kami yang tidak ikut terjebur tadi. "Kalian bertiga bisa bebas istirahat di luar." Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan kami.
Kami hanya bisa diam untuk beberapa saat dan saling memandang melemparkan tatapan mata bingung. Lebih tepatnya kami semua tidak tahu mau kemana akhirnya kami hanya memilih untuk duduk di bangku yang tidak jauh dari sana.
"Pangeran, anda dipanggil oleh tuan muda ke-dua." ucap salah seorang pengawal yang menghampiri Pangeran Zio.
"Ada perlu apa?" Tanya Zio pada pengawal tersebut.
"Saya tidak tahu Pangeran, saya hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan kepada saya."
"Semut itu pekerja keras yaa, selalu melakukan pekerjaan mereka bersama-sama." Ucapku sambil berjongkok melihat barisan semut yang berada di tanah.
Natte menundukkan kepalanya mengikuti arah pandang ku ke bawah."Ya bahkan manusia saja kalah dengan kekompakan mereka yang tidak memiliki akal." Katanya kemudian ia mulai berdiri.
Aku diam melihat tingkah anak itu yang mulai menginjak-injak barisan semut. Saat sadar aku segera menghentikan kelakukan Natte.
"Natte apa yang kamu lakukan? Semut itu jadi pada mati kan.."
"Setidaknya coba lihat mereka, jika ada yang terluka yang lainnya sibuk membantu dan memberinya pertolongan." Natte menunjuk ke arah kumpulan semut hitam itu yang kini sudah tidak berjajar rapi lagi.
Aku pun mengangguk mengiyakan perkataannya. "Lalu apa yang membuat para manusia bodoh itu tidak bisa peduli dan kompak seperti mereka?" Tanya Natte ketus.
"Sadarlah Natte, kamu juga manusia." Ucapku dengan muka datar tak berminat dengan kiasannya.
"Yaudah lah terserah, orang bodoh kayak kamu gak bakalan mengerti maksud ku." Natte pun melipat kedua tangannya dan menekuk wajahnya kesal.
Aku hanya dapat pasrah saja dengan ucapnya yang menurutku benar, otakku itu emang dibawah rata-rata sih. Jadi gak bakalan paham dengan kata-katanya.
__ADS_1
"Giliranmu sudah Natte?" Tanyaku yang langsung mendapat gelengan kepala darinya.
"Katanya sih aku seorang ilusionis,..tapi aku gak tau mau nunjukin apa nanti, sepertinya aku harus mempertajam kemampuan imajinasi ku." Kata Natte sambil terlihat mencoba sihirnya.
Natte memejamkan matanya kemudian menyebutkan dengan pelan sesuatu yang ada dipikirannya. Tidak lama setelah itu datang beberapa kupu-kupu yang mendekati kami, lebih tepatnya mendekati Natte dan terlihat menari-nari di dekatnya.
Saat Natte membuka matanya dia tersenyum puas. Sepertinya sihir itu berhasil dilakukannya.
"Ternyata tidak sulit aku hanya perlu melakukan hal seperti yang dilakukan Pangeran Zio, aku mencoba untuk fokus dan menyalurkan mana dan energiku secara perlahan untuk menciptakan kupu-kupu imajinasi dalam pikiranku." Jelas Natte sambil mencoba memegang kupu-kupu itu, namun tentu saja tidak bisa, karena itu hanyalah ilusi semata. Dia pun hanya tersenyum puas sambil melihat sihir buatannya itu.
Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya dengan tatapan sedih, entah kenapa aku jadi ingin sebuah keajaiban terjadi padaku dan aku bisa melakukan sihir seperti yang dapat mereka lakukan. Namun hal seperti itu tidak akan bisa terjadi padaku yang sama sekali tidak memiliki potensi sihir.
Aku menghela nafas panjang kemudian mengalihkan perhatian ku pada sosok laki-laki yang kini mulai menghampiri kami.
"Adik kecil, namamu Alexa kan?" Tanyanya padaku. Aku mengangguk singkat lalu segera bangkit dari posisi jongkokku untuk memberinya hormat seperti yang lebih dulu dilakukan oleh Natte.
Natte yang sudah mengetahui bahwa ingatanku sedikit bermasalah pun langsung berbisik di samping ku setelah aku selesai membungkuk kepadanya. "Dia adalah raja Frost ke 11 Dylan GilbertFrost, ku dengar dia barusaja kembali dari kerajaan Arrenthia."
Raja muda itu tersenyum kecil melihat tingkah kami yang saling berbisik-bisik dihadapannya. Kami langsung menyadari tingkah konyol kami kemudian mulai berdiri tegak seperti semula dengan kepala yang menunduk menunjukkan rasa hormat kami terhadapnya.
Meskipun begitu rasanya jantungku sangat berdegup kencang karena tiba-tiba didatangi oleh seorang raja muda sepertinya. Aku rasa dia memiliki keperluan yang cukup penting denganku. Aku hanya dapat menghela nafas panjang sambil menggigit bibir bawahku untuk menetralisir rasa panik yang muncul dibennakku.
'Kenapa sampai-sampai seorang raja seperti dia datang menghampiriku langsung?'Batinku resah.
.
.
.
*****
.
.
.
Bersambung...
Author:
__ADS_1
Maaf kalau upnya terlambat dan banyak typo, authornya agak sibuk hari ini dan sempat gak ada ide mau nulis apa hehe🙏